
"Fian," ucap Siska saat melihat adik bungsunya sudah berdiri di belakangnya.
"Lepaskan mereka sekarang!" bentak Fian sambil menarik tangan Siska dengan kasar.
"Jadi sekarang kamu lebih membela manusia miskin ini!" bentak Ardi kepada Fian sambil menghentikan pukulannya kepada Bejo.
"Aku membela mereka karena kalian yang salah, dan kamu Siska jangan pernah menyakiti istriku. Kalau sampai di terluka walaupun itu goresan kecil, aku pastikan kamu dan seluruh keluargamu akan menyesal," ancam Fian sambil mendekatkan wajahnya kepada Siska.
"Asal kamu tahu, tanah ini bukan milikmu jadi jangan merasa berkuasa kalau kamu masih mau terus disini!" teriak Ardi sambil menatap Fian dengan tajam.
"Kalian mau tanah ini, baik aku akan beli tanah ini. Berapa yang kalian mau?" tanya Fian sambil berjalan ke arah Bejo yang memegangi wajahnya.
"Kamu tidak akan bisa membeli tanah ini, walaupun kerja sampai kamu punya anak cucu kamu tidak akan mampu," ledek Ardi sambil tertawa menghina.
"Saya beli tanah ini 2 milyar, bagaimana apa kalian bersedia melepaskan tanah ini?" tawar Fian sambil berdiri dengan tegap.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskan tanah ini," bentak Ardi sambil berjalan meninggalkan bengkel Fian diikuti Siska yang berjalan di belakangnya.
"Jika kalian berubah pikiran datang saja kemari, aku akan siapkan uangnya!" teriak Fian saat melihat kedua saudaranya pergi.
Fian langsung membawa Bejo, dan Laras ke rumah sakit dengan ditemani Mbok Ijah. Fian dan Mbok Ijah membagi tugas untuk ke ruang dokter. Fian mengantar Laras ke dokter kandungan, sedangkan Mbok Ijah mengantar Bejo di dokter umum.
"Bagaimana kondisi kehamilan Istri saya, Dok?" tanya Fian sambil terlihat panik.
"Tidak ada masalah Pak, hanya saja Bu Laras harus banyak istirahat," jawab sang dokter sambil menulis sebuah resep.
"Usia kehamilan saya sudah berapa bulan, Dok?" tanya Laras sambil mengusap perutnya yang masih rata.
"Sekitar 12 minggu, ini resep vitamin untuk ditebus, saya harap Bapak dan Ibu bisa menjaga pola makan dan jangan lupa minum vitaminnya ya Bu," jawab sang dokter sambil memberikan resep kepada Fian.
__ADS_1
"Baik Dok, kalau begitu kami pamit keluar dulu terima kasih," ucap Fian sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Dokter.
Di depan ruangan Dokter kandungan, Mbok Ijah dan Bejo ternyata sudah menunggu Fian dan Laras. Mata dan mulut yang sudah memar dan membiru terlihat jelas di wajah Bejo. Nasib baik Bejo tidak mengalami luka serius di tubuhnya.
"Bagaimana Mbok kondisi Bejo?" tanya Fian saat melihat wajah karyawan setianya.
"Alhamdulillah baik Pak, Bejo hanya perlu istirahat beberapa hari saja," jelas Mbok Ijah sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Mana resep untuk Bejo?" tanya Fian kepada Mbok Ijah.
"Ini Pak," jawab Mbok Ijah sambil menyerahkan sebuah resep dari Dokter umum.
"Kalian disini saja, saya mau tebus resep ini dulu. Mbok titip Laras dan Bejo sebentar ya," pesan Fian sambil berjalan ke arah apotik di ujung rumah sakit.
Laras melihat ke arah Bejo dengan rasa bersalah. Dia berpikir jika apa yang terjadi kepada Bejo adalah karena kesalahannya. Sambil menahan air mata Laras mulai meminta maaf kepada karyawan suaminya itu.
"Bejo saya minta maaf, karena kesalahan saya kamu harus babak belur," ucap Laras sambil menunduk penuh dengan penyesalan.
"Tapi 'kan …." belum selesai Laras berbicara Mbok Ijah langsung menghentikan ucapan Laras.
"Sudah Mbak, yang penting Mbak Laras dan Bejo baik-baik saja. Mbak Siska sama Pak Ardi dari dulu memang jahat," jawab Mbok Ijah sambil mengusap pundak Laras.
"Nanti saya akan bilang ke Mas Fian untuk mengizinkan kamu pulang ke kampung sampai kamu sembuh," ucap Laras sambil mengusap air matanya.
"Terima kasih Mbak, tapi tidak mungkin saya pulang dengan kondisi seperti ini saya takut kalau keluarga saya akan khawatir," jawab Bejo sambil menoleh ke arah Laras.
"Kalau begitu kamu istirahat saja di bengkel, biar Mbok Ijah yang merawatmu sampai sembuh. Mbok mau 'kan?" ucap Laras sambil bertanya kepada Mbok Ijah.
"Iya Mbak, insya Allah Mbok akan rawat Bejo sampai sembuh," jawab Mbok Ijah sambil tersenyum.
__ADS_1
Fian yang sedang mengambil obat duduk termenung di sebuah kursi tunggu. Dia tidak menyangka kedua Kakaknya bisa berbuat anarkis kepada orang lain. Bahkan dia bingung kenapa keluarganya sangat membenci Laras.
"Kenapa Bang Ardi, dan Kak Siska bisa anarkis dan setega itu, dan kenapa mereka begitu sangat membenci kehadiran Laras," batin Fian sambil duduk melamun.
Setelah hampir 20 menit Fian menunggu obat sambil melamun. Kini obat dan vitamin untuk Laras dan Bejo telah diberikan petugas apotek kepadanya. Fian pun langsung mengajak Laras dan yang lain untuk segera pulang dan beristirahat.
"Mbok, tolong antar Bejo ke kamarnya, setelah itu Mbok masak agar Bejo dan yang lain bisa segera makan siang," perintah Fian kepada Mbok Ijah.
"Baik Pak," jawab Mbok Ijah singkat.
"Bejo kamu boleh libur sampai kondisimu benar-benar sehat, dan saya akan memberikan bonus kepadamu dan Mbok Ijah sebagai tanda terima kasih saya," ucap Fian kepada Bejo dan Mbok Ijah.
"Alhamdulillah, terima kasih Pak," jawab Mbok Ijah dan Bejo secara bersamaan.
Mbok Ijah dan Bejo langsung berjalan ke arah dapur. Laras dan Fian pun langsung masuk ke dalam kamar mereka. Fian membantu Laras berbaring di tempat tidur dan duduk di samping sang istri.
"Maafkan aku ya, karena aku terlambat membantumu," ucap Fian sambil menggenggam tangan Laras.
"Tidak Mas, justru aku yang minta maaf karena kehadiranku justru membuat keluarga besar mu membencimu," jawab Laras sambil menatap mata sang suami.
"Tidak, aku yang memilihmu, aku yang menjalani hidupku. Sampai kapanpun aku akan tetap disampingmu," ucap Fian sambil mencium bibir Laras dengan lembut.
"Apa boleh aku bertanya sesuatu kepadamu Mas?" tanya Laras dengan muka penuh ketakutan.
"Boleh, apa yang kamu ingin tanyakan kepadaku," jawab Laras sambil berjalan ke samping sang istri dan bersandar di pundak Laras.
"Kenapa keluargamu begitu membenciku Mas, apa karena mereka tahu kalau aku adalah manusia murtad?" tanya Laras yang langsung membuat Fian terkejut.
Fian sendiri sebenarnya tidak tahu alasan keluarganya membenci Laras. Dia juga tidak tahu darimana Siska dan Ardi mengetahui jika Laras pernah meninggalkan islam. Fian mulai memeluk Laras dengan erat seolah ingin memberikan ketenangan kepada istrinya itu.
__ADS_1
"Sabar ya Sayang, aku yakin suatu saat mereka akan menerima kehadiranmu di tengah-tengah keluarga besarku," ucap Fian sambil mencium rambut Laras.