
Keesokan harinya Fian mengajak Laras untuk pulang ke rumah mereka sekaligus bengkel yang menjadi usaha Fian selama ini. Saat Fian dan Laras baru saja tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan seorang laki-laki paruh baya. Laki-laki yang biasa di panggil Om Syam ini adalah Kakak dari almarhum Ayah Fian.
"Assalamualaikum," ucap Syam sambil masuk ke area bengkel.
"Waalaikumsalam," jawab Fian dan Laras secara bersamaan sambil menoleh ke arah suara.
"Om Syam, apa kabar Om," ucap Fian sambil berjalan mendekati Syam dan mencium tangannya.
"Alhamdulillah baik," jawab Syam sambil memperhatikan para karyawan yang sedang sibuk.
"Assalamualaikum Om," ucap Laras sambil mencium tangan Syam.
"Waalaikumsalam," jawab Syam dengan tatapan penuh benci.
"Fian Om lihat usahamu berkembang pesat, bisa kita bicara sebentar," ucap Syam kepada sang keponakan.
"bisa Om mari kita ke ruang kerja saya," ajak Fian sambil mempersilahkan Syam masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Kamu tidak perlu ikut, karena saya hanya ingin bicara berdua dengan keponakan saya," ucap Syam saat melihat Laras mengikuti mereka.
"Sayang lebih baik kamu istirahat di kamar dulu, nanti aku bantu kamu memasukkan beberapa pakaian," ucap Fian sambil mendekati Laras yang sempat terkejut dengan ucapan paman suaminya itu.
"Iya Mas, Om saya permisi masuk ke dalam kamar dulu ya," jawab Laras sambil berpamitan kepada Fian dan Syam.
"Fian sekarang jelaskan kepada Om kenapa harus perempuan itu yang kamu pilih menjadi istri," tanya Syam saat sudah sampai di ruang kerja Fian.
"Maksud Om Laras?" tanya Fian yang masih bingung dengan ucapan Omnya itu.
__ADS_1
"Iya, Om dengar dari Siska dia adalah seorang perempuan murtad, kalau masalah miskin sih Om tidak masalah tapi ini masalah agama," jelas Syan kepada Fian yang duduk di hadapannya.
"Maaf bukannya saya berani atau tidak sopan kepada Om, tapi memangnya kenapa kalau Laras itu pernah keluar dari islam?" tanya Fian dengan rasa penasaran.
"Kamu tahu 'kan jika keluar dari islam itu adalah dosa besar dan murtad karena kita sama saja tidak percaya kepada Allah dan menyekutukan Allah," jelas Syam kepada keponakannya.
"Iya saya tahu, tapi apa salah jika kita membantu seseorang yang ingin bertaubat, lagi pula Laras yang sekarang sangatlah paham akan islam bahkan bisa dibilang dia lebih pandai daripada Fian," ucapnya sambil menatap mata Pamannya itu.
"Tapi yang namanya pendosa tetaplah pendosa!" bentak Syam sambil memukul meja dengan keras.
"Tidak ada satu manusiapun yang bisa menyebut manusia lain sebagai pendosa, biarkan dosa yang dia lakukan menjadi urusannya dengan Allah kita tidak perlu ikut menghakiminya, lagipula selama nyawa belum sampai di kerongkongan insya allah dosa kita masih bisa diampuni," jelas Fian dengan sangat santai.
"Siska benar perempuan itu telah menghasutmu, bahkan kepada Om saja kamu berani melawan," jawab Syam yang terdengar sangat kesal.
"Saya tidak melawan Om, saya hanya meluruskan dan satu lagi tidak ada yang menghasut saya untuk melawan Om dan yang lain," ucap Fian sambil berdiri dan berjalan mendekati Syam.
"Terserah kamu bagaimana sebaiknya, kedatangan Om kesini selain ingin membicarakan hubunganmu dengan perempuan itu …." belum selesai Syam menjelaskan maksud kedatangannya Fian langsung menjawabnya.
"Om tidak peduli dengan nama perempuan itu, kedatangan Om kesini ingin memintamu untuk segera mengosongkan tempat ini," ucap Syam hingga membuat Fian terkejut.
"Mengosongkan tempat ini," batin Fian yang terkejut dengan apa yang diucapkan Syam.
"Kenapa saya harus meninggalkan tanah peninggalan almarhum orang tua saya, apa kalian akan menjualnya," tanya Fian yang masih tidak mengerti tentang ucapan Syam.
"Ya kami akan menjualnya asal kamu tahu tanah ini belum atas nama Ayahmu tapi masih atas nama almarhum Nenek, jadi saya dan beberapa saudara Ayahmu yang lain masih berhak atas semua tanah disini," jelas Syam dengan pandangan tajam.
"Berapa Om Syam mau jual, saya akan membelinya," jawab Fian seolah menantang Syam.
__ADS_1
"Aku tidak akan menjual tanah ini kepadamu," jawab Syam sambil berdiri dari tempat tidurnya.
"Kenapa? Jika aku mampu biar aku yang membayar tanah ini atau Om mau aku tambah harga 2 kali lipat dari harga yang seharusnya?" tanya Fian sambil berjalan ke arah lemari dan mengeluarkan sebuah cek.
"Simpan saja uangmu, dan cepat kosongkan tempat ini, saya kasih kamu waktu 7 hari untuk mengosongkan tempat ini," ucap Syam sambil berjalan keluar ruangan.
"Kenapa tiba-tiba tempat ini di jual," batin Fian sambil memegang dagunya.
Fian langsung memanggil Bejo dan memintanya untuk segera mencari tanah atau gudang kosong untuk bengkelnya. Fian juga meminta Bejo dan anak buahnya untuk segera merapikan tempat yang dia dapat agar bisa ditempati sebelum 7 hari.
"Memang kenapa bengkel di pindahkan Bos?" tanya Bejo sambil terlihat penasaran.
"Tempat ini akan dijual oleh Om ku," jawab Fian sambil mulai membuka laptopnya.
"Kenapa tidak Bos yang beli saja tanah ini?" usul Bejo kepada atasannya.
"Mereka tidak mau jika aku membeli tanah ini, jadi lebih baik sekarang kamu cari tanah atau gudang kosong untuk bengkel ini dan untuk tempat tinggalmu nanti kamu bisa mencari kosan biar saya yang membayarnya," jawab Fian sambil terus memainkan laptopnya.
"Kalau saran saya lebih baik gudang saja, karena kalau tanah kosong akan membutuhkan waktu yang lama untuk renovasi, kita bisa mencari gudang kosong di pinggir jalan raya tapi Bos Fian tidak perlu beli kita sewa saja," jelas Bejo kepada Fian.
"Beli saja malah ribet kalau harus sewa," jawab Fian dengan tenang.
"Lebih baik Bos beli tanah dan bangun pelan-pelan, jadi dengan begitu Bos bisa membuat rumah sekaligus bengkel di dalam satu tanah yang Bos beli," ucap Bejo hingga membuat Fian kembali berpikir.
"Kamu benar, ya sudah cepat cari dan kabari aku secepatnya," ucap Fian sambil menutup Laptopnya dan keluar dari ruang kerjanya.
Sebelum Fian kembali ke kamarnya dia terlebih dahulu ke dapur untuk menemui Mbok Ijah. Fian meminta Mbok Ijah untuk berhenti menjadi asisten rumah tangganya. Namun, permintaan itu ternyata ditolak oleh sang asisten rumah tangga.
__ADS_1
"Kenapa Mbok tidak mau keluar dari pekerjaan ini?" tanya Fian dengan penasaran.
"Selain saya sudah suka bekerja di sini dengan Pak Fian dan Mbak Laras, saya juga berpikir siapa yang akan memakai tenaga saya jika saya berhenti, lalu bagaimana saya akan memenuhi kebutuhan hidup saya nanti," jelas Mbok Ijah sambil duduk di hadapan sang majikan.