
Fian yang saat itu sedang bermain dengan Shafira di dalam kamar, tiba-tiba dikejutkan oleh suara ketukan pintu. Setelah menyerahkan Shafira kepada sang istri, Fian langsung berjalan ke arah pintu. Bejo pun menjelaskan maksud dan tujuannya menemui Fian di kamarnya.
"Suruh mereka menunggu di ruang kerja ku sebentar," jawab Fian kepada Bejo.
"Ada apa Mas?" tanya Laras saat melihat sang suami sudah menutup pintu kamar.
"Kamu jaga Shafira dulu aku mau ke ruang kerja sebentar, karena ada Polisi yang datang mencariku," jelas Fian sambil mengganti kaos dengan sebuah kemeja.
"Polisi, memang ada apa mereka mencarimu," tanya Laras sambil terlihat khawatir.
"Aku juga belum tahu Sayang," jawab Fian lalu mencium kening Laras dan Shafira.
"Kalau gitu aku ikut menemui mereka," ucap Laras sambil berdiri.
"Sayang di bengkel semua karyawan sedang sibuk, jadi lebih baik kamu di kamar saja aku tidak mau Shafira mendengar suara berisik yang nantinya akan membuatnya sakit," jelas Fian sambil memegang pundak Laras.
"Tapi Mas …." belum selesai Laras menjawab Fian sudah meletakkan jari telunjuknya di bibir sang istri.
"Tidak akan terjadi apa-apa kepadaku," ucap Fian sambil tersenyum lalu mencium bibir sang istri.
Setelah mencium bibir Laras, Fian segera bergegas menuju ruang kerjanya. Dari kejauhan terlihat dua orang Polisi lengkap dengan seragam dinas mereka sedang duduk di dalam ruang kerja Fian. Setelah menjabat tangan kedua Polisi tersebut Fian langsung duduk di hadapan mereka.
"Maaf kalau boleh saya tahu kenapa Bapak-bapak mencari saya?" tanya Fian penasaran.
"Maaf jika kedatangan kami kesini menganggangu kesibukan Bapak, tujuan kami datang kesini untuk memberikan surat panggilan kepada Bapak agar bersedia hadir dan menjadi saksi atas kasus meninggalnya Ratna," ucap sang polisi sambil memberikan sebuah surat kepada Fian.
"Memang penyelidikan kasus ini masih berjalan?" tanya Fian sambil meletakkan surat yang dia terima.
"Benar Pak, pihak keluarga meminta kami mengusut kasus kematian Ratna dengan tuntas, selain warga sekitar ada dua saksi yang kami undang untuk hadir di persidangan besok pagi," jelas sang polisi kepada Fian.
"Kalau boleh tahu siapa namanya Pak?" tanya Fian yang mulai penasaran.
__ADS_1
"Bapak Alfian dan Nyonya Wulan beliau adalah sahabat terdekat sang korban, menurut penjelasan beberapa saksi beliau siang itu datang ke rumah
Almarhum Ratna, tepat 30 menit setelah Bapak dan istri pergi dari rumah itu," jelas seorang polisi yang ada di hadapannya.
"Wulan, maaf apa Bapak bisa menunjukkan dimana rumah Wulan?" tanya Fian penasaran saat nama Wulan di sebut oleh kedua polisi tersebut.
Setelah menunjukkan identitas Wulan kepada Fian. Sontak saja hal itu membuat Fian terkejut. Dia tidak percaya jika selama ini Ratna adalah sahabat baik baik Wulan.
"Apa Bapak mengenal perempuan ini?” tanya salah satu Polisi kepadanya saat melihat reaksi Fian.
"Iya saya mengenal baik perempuan ini, dia adalah mantan kekasih saya," jawab Fian sambil menyerahkan kembali foto Wulan kepada para Polisi.
"Baik kalau begitu kami pamit dulu Pak, saya harap Bapak bisa meluangkan sedikit waktu untuk menjadi saksi di persidangan," ucap Polisi sambil mulai berdiri dari tempat duduknya.
"Baik Pak, besok saya dan istri saya akan datang ke persidangan itu," jawab Fian sambil berdiri.
Setelah bersalaman kedua Polisi tersebut langsung meninggalkan bengkel Fian. Fian yang masih penasaran dengan foto yang di perlihatkan Polisi kepadanya hanya bisa duduk sambil termenung. Setelah beberapa saat termenung Fian langsung berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.
"Mereka hanya meminta kita datang ke persidangan untuk menjadi saksi atas meninggalnya Ratna," jawab Fian sambil melepaskan kemejanya.
"Tapi bukannya kita tidak ada hubungannya dengan kematian Ratna?" tanya Laras seolah khawatir dan takut.
"Sayang mereka juga tahu itu, jadi kamu jangan khawatir ya," jawab Fian sambil tersenyum.
"Tapi aku tetap takut Mas," ucap Laras sambil terlihat panik.
"Ada satu hal yang membuatku penasaran," ucap Fian sambil duduk di tempat tidur.
"Ada apa Mas?" tanya Laras sambil duduk di sebelah sang suami.
"Tadi Polisi menyebut ada saksi lain selain kita, tapi saat aku mereka memberikan foto dan identitasnya aku terkejut karena saksi kedua adalah Wulan," jelas Fian kepada Laras sambil menatap ke depan.
__ADS_1
"Wulan? Kenapa harus dia yang menjadi saksi, memang apa hubungan mereka," tanya Laras penasaran.
"Mereka bilang Wulan adalah sahabat baik Ratna, dan menurut beberapa saksi Wulan sering datang ke rumah Ratna, bahkan sesaat sebelum Ratna ditemukan tewas di rumahnya," jawab Fian sambil menoleh ke arah Laras.
"Apa jangan-jangan Ratna memang diminta untuk merusak rumah tangga kita, dan jangan-jangan Wulan adalah pembunuh Ratna?" tebak Laras sambil menatap mata Fian.
“Hus jangan sembarangan bicara, nanti akan menjadi fitnah jika ucapan kita salah dan tanpa bukti yang jelas,” ucap Fian sambil berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah box bayi untuk melihat Shafira yang sedang tertidur pulas.
Saat Fian sedang melihat wajah polos Shafira yang sedang tertidur. Laras justru termenung setelah mendengar penjelasan yang disampaikan Fian kepadanya. Dia masih berpikir apa mungkin kematian mantan pembantunya ada hubungannya dengan Wulan.
"Apa mungkin Wulan tega membunuh sahabat baiknya, dan jika memang benar kenapa dia bisa melakukan hal sekeji itu?" batin Laras sambil termenung di tempat tidurnya.
"Sayang, siang ini aku akan ke proyek tolong siapkan beberapa berkas yang ada di laci bawah," perintah Fian sambil memakai kemejanya.
"Sayang," panggil Fian kepada sang istri yang sedang larut dalam lamunannya.
Laras yang saat itu sedang melamun sama sekali tidak menjawab ucapan sang suami. Sambil tersenyum Fian menghampiri Laras dan duduk di sampingnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan hingga kamu tidak mendengarkan ucapanku," bisik Fian hingga membuat Laras terkejut.
"Maaf Mas, aku hanya berpikir apa mungkin Wulan pelaku pembunuhan Ratna," jawab Laras sambil terkejut.
"sudah tidak perlu kamu pikirkan masalah itu, sekarang tolong siapkan berkas yang ada di laci kecil itu karena aku mau ke proyek," ucap Fian sambil berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
"Kenapa kamu ke proyek saat jam makan siang Mas?" tanya Laras yang penasaran.
"Aku hanya ingin bertemu dengan seseorang sebentar lalu pulang kembali," jawab Fian yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Papa, apa mungkin Mas Fian menemui Papa," batin Laras sambil menyiapkan berkas yang diminta oleh suaminya.
“Apa sudah kamu siapkan berkas yang aku minta?” tanya Fian saat dia baru selesai dari shalatnya.
__ADS_1