
"Tidak, aku hanya sedikit kram di perutku," jawab Laras sambil mengusap perutnya.
"Memang Bos kecil mau apa biar Ayah belikan sekarang juga," ucap Fian sambil mengusap perut Laras dengan lembut.
"Memang jika anak ini lahir kamu mau dipanggil Ayah?" tanya Laras sambil memegang tangan Fian yang ada diperutnya.
"Tidak, aku pernah bercita-cita jika kelak punya anak aku ingin di panggil Abi," jawab Fian sambil tersenyum.
"Berarti aku Umi dong, nggak ah aku nggak mau di panggil Umi," jawab Laras sambil langaung berbalik menghadap ke suaminya.
"Kenapa Umi adalah nama yang sederhana tapi sejuk jika di ucapkan," Ucap Fian sambil tersenyum kepada Laras.
"Nggak aku mau dipanggil dengan panggilan Ibu, karena terkesan sangat sederhana dan sesuai untukku yang belum paham tentang agama islam," jawab Laras sambil menatap mata Fian.
"Ah pasaran, bagaimana kalau panggilan Bubu?" saran Fian kepada Laras.
"Bubu, terdengar lucu dan unik, Abi dan Bubu," jawab Laras sambil seolah berpikir tentang nama itu.
***
Di tempat terpisah Arman yang baru saja tiba di rumahnya langsung meminta Sophia membuatkan secangkir kopi. Sambil melepas lelah Arman pun bersandar di sofa ruang tamu. Tidak berapa lama Sophia tiba dengan membawa sebuah nampan berisikan secangkir kopi untuk sang suami.
"Ini kopinya Pa," ucap Sophia sambil meletakkan nampan diatas meja.
"Terima kasih Ma," jawab Arman yang kemudian minum kopi yang telah di suguhkan untuknya.
"Papa memangnya kemana pergi pagi-pagi sekali?" tanya Sophia dengan penasaran.
"Papa dari rumah Fian," jawab Arman sambil meletakkan cangkir dia atas meja.
"Apa yang Papa lakukan disana, jangan ada pertengkaran lagi, kasihan Laras dia sedang hamil muda," ucap Sophia dengan rasa khawatir.
"Iya Ma, Papa sudah tahu kehamilan Laras, Papa kesana hanya mau mengucapkan terima kasih saja kepada Fian," jawab Arman sambjl bersandar di sofa.
"Mengucapkan terima kasih, kenapa dia bisa tiba-tiba berubah," batin Sophia sambil melamun.
"Fian juga meminta Papa menjadi pengawas di beberapa proyeknya," ucap Arman kepada Sophia sambil berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.
"Pengawas, kenapa Fian meminta Papa menjadi pengawas. Papa tidak melakukan hal yang tidak-tidak 'kan selama di rumah Fian?" tanya Sophia sambil mengerutkan dahinya.
Arman tidak menjawab pertanyaan sang istri dia langsung membaringkan tubuhnya ke tempat tidur. Hanya dalam beberapa menit Arman sudah terlelap dalam tidurnya. Sophia yang masih khawatir dengan kedatangan sang suami ke rumah Fian langsung menghubungi Laras.
"Aku harus mencari tahu apa yang dilakukan Papa di rumah Laras, awas saja kalau dia buat keributan di sana," ucap Sophia sambil mulai menekan nomor telepon sang putri.
"Halo, Assalamualaikum," ucap Sophia saat panggilannya terhubung.
"Waalaikumsalam," jawab Laras saat mendengar suara sang ibu.
"bagaimana kabarmu Nak?" tanya Sophia kepada putri tunggalnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik Ma, tumben Ibu menelponku malam-malam, memang ada apa Ma?" ucapku dengan penasaran.
"Tidak, Mama hanya mau bertanya apa benar tadi pagi Papa ke rumahmu sampai sore hari?" tanya Sophia kepada Laras.
"Iya benar," jawab Laras dengan heran kenapa Sophia menanyakan hal itu kepadanya.
"Dia tidak membuat kekacauan apapun 'kan selama di rumahmu?" tanya Sophia kepada Laras.
"Tidak Ma, justru Mas Fian dan Papa terlihat sangat akrab, dan Mas Fian juga minta Papa untuk menggantikannya di proyek," jawab Laras sambil tersenyum.
"Alhamdulillah kalau begitu Mama lega mendengarnya, kalau begitu kamu istirahat karena hari sudah mulai malam. Salam untuk Fian ya Sayang," ucap Sophia sambil menutup ponselnya.
Setelah mendengar jawaban Laras Sophia terlihat begitu tenang. Setelah menutup ponselnya dan meletakkannya di atas meja Sophia langsung berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makan malam. Keesokan harinya setelah mandi dan bersiap-siap Fian langsung menuju ke ruang kerjanya untuk menunggu kedatangan Ayah mertuanya.
***
Fian sengaja mengajak Laras ke proyek karena hari ini Bejo dan seluruh karyawan yang lain sedang menikmati hari liburnya selama satu minggu kedepan. Kini yang ada di rumah itu hanya Mbok Ijah yang sedang sibuk dengan pekerjaannya di dapur. Saat sedang sibuk dengan pekerjaannya tiba-tiba Mbok Ijah di kejutkan dengan suara ketukan pintu dari gerbang bengkel.
"Selamat pagi Mbok," ucap seorang perempuan cantik dan memiliki tubuh yang sangat indah.
"Selamat pagi, Maaf Mbaknya mau cari siapa ya?" tanya Mbok Ijah sambil mengamati perempuan tersebut.
"Saya mencari Pak Fian, kata teman saya Pak Fian sedang membutuhkan asisten rumah tangga. Apa benar?" tanya perempuan itu dengan ramah.
"Iya, tapi teman Mbak namanya siapa, apa mungkin saya kenal?" tanya Mbok Ijah sambil terus mengamati perempuan yang ada di hadapannya.
"Tidak,teman saya bekerja sebagai admin di proyek pembangunan di daerah Jakarta barat dan kebetulan dia diberitahukan langsung oleh Pak Fian," jawab sang perempuan dengan sangat hati-hati.
"Nama saya Ratna, kalau begitu saya pamit dulu, besok saja saya kemari lagi" jawab perempuan yang bernama Ratna dan langsung meninggalkan bengkel Fian.
Setelah Ratna pergi Mbok Ijah langsung menutup dan mengunci kembali pintu gerbang. Dia masih terlihat sangat curiga dengan perempuan bernama Ratna. Penampilan seksi, kulit mulus tapi mau melamar kerja sebagai seorang ART.
"Kenapa aku jadi curiga kepada perempuan itu," ucap Mbok Ijah sambil berjalan ke arah dapur.
Keesokan harinya Ratna kembali datang kembali untuk bertemu dengan sang pemilik bengkel. Namun, kali ini dengan penampilan yang terlihat sederhana sangat mirip dan cocok jika dia melamar sebagai asisten rumah tangga. Ratna menjelaskan tentang tujuannya datang ke rumah sang pengusaha konstruksi tersebut.
"Mbak Ratna tahu darimana kalau saya sedang membutuhkan asisten rumah tangga," tanya Fian kepada Ratna.
"Saya tahu dari pembantu Bapak," jawab Ratna dengan tersenyum malu.
"Mbok Ijah," ucap Fian seolah meyakinkan apa benar Mbok Ijah yang telah meminta Ratna kemari.
"Iya Pak, beliau bilang kalau Pak Fian membutuhkan seorang pembantu pengganti," jawab Ratna sambil terlihat membusungkan dadanya.
"Iya saya memang butuh pembantu pengganti, tapi apa kamu bisa memasak?" tanya Fian yang mulai risih dengan sikap Ratna dihadapannya.
"Bisa Pak, saya dulu pernah bekerja di warung makan, jadi insya Allah saya bisa masak," jawab Ratna dengan sangat bersemangat.
"Kamu tunggu disini sebentar ya," perintah Fian sambil berjalan keluar dari ruangannya dan berjalan ke arah kamarnya untuk memanggil Laras.
__ADS_1
***
"Assalamualaikum," ucap Fian sambil membuka pintu kamarnya dengan perlahan.
"Waalaikumsalam, ada apa Mas?" tanya Laras saat melihat sang suami masuk ke dalam kamar.
"Apa kamu hari ini bisa membantuku mengambil keputusan," jawab Fian kepada Laras yang sedang duduk di kursi meja riasnya.
"mengambil keputusan, maksudmu?" tanya Laras penasaran.
Fian lalu menceritakan tentang rencana Mbok Ijah yang akan meminta cuti cukup lama karena ada acara sunatan cucunya. Jadi Fian meminta kepada Mbok Ijah untuk mencari asisten rumah tangga. Kini dia membutuhkan Laras untuk mengambil keputusan apakah Ratna cocok untuk menjadi asisten rumah tangga pengganti atau tidak.
"Assalamualaikum," ucap Laras sambil membuka pintu ruang kerja Fian dengan ditemani suaminya.
"Waalaikumsalam, selamat siang Bu," jawab Ratna saat melihat Laras masuk bersama Fian.
"Panggil saja saya Mbak, usia saya tidak setua itu," perintah Laras sambil duduk di kursi Fian.
"Baik Mbak, perkenalkan saya Ratna dan saya datang kesini mau melamar pekerjaan," jelas Ratna sambil mengulurkan tangannya.
"Iya saya tahu, tapi apa kamu sudah tahu pekerjaan di sini seperti apa?" tanya Laras sambil menjabat tangan Ratna.
"Sudah Mbak, masak, cuci baju, dan pekerjaan rumah tangga lainnya," jawab Ratna sambil tersenyum ramah.
"Iya, tapi kamu yakin jika kamu sanggup mengerjakan semua itu," tanya Laras memastikan niat dan semangat kerjanya.
"Insya Allah saya sanggup Mbak, tapi …." jawab Ratna sambil seolah ragu dengan apa yang akan dia katakan.
"Tapi apa, katakan saja kepada kami," perintah Fian sambil berdiri di samping Laras.
"Saya disini tidak ada saudara dan tempat tinggal, apa boleh jika saya tinggal bersama Bapak dan Mbak Laras di rumah ini," jawab Ratna dengan ragu.
"Mas, sepertinya di belakang ada satu kamar kosong 'kan?" tanya Laras kepada Fian sambil menoleh ke arah sang suami.
"Ada, kamar itu dulu bekas di tempati Eko, kalau kamu mau kamu bisa tinggal disitu," jawab Fian kepada Ratna yang terlihat bahagia.
"Iya Pak saya mau, kapan saya bisa mulai bekerja dan membawa pakaian saya ke sini," tanya Ratna dengan semangat.
"Besok kamu bisa mulai bekerja, agar Mbok Ijah bisa mengajari kamu terlebih dahulu sebelum beliau pulang kampung," jawab Laras sambil tersenyum ramah.
Ratna adalah seorang perempuan berusia 23 tahun tepatnya 2 tahun lebih muda dari Laras. Tidak heran jika banyak para kaum adam yang ingin menikmati kecantikan wajahnya dan kemolekan tubuhnya yang sangat menggoda. Namun, semua itu tidak membuat Laras takut ataupun khawatir tentang hubungannya dan sang suami.
"Apa kamu tidak takut aku tergoda dengan kemolekan tubuh Ratna?" tanya Fian saat Laras berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Jangan pernah mengkhawatirkan apa yang belum tentu terjadi," jawab Laras sambil menoleh ke arah Fian dan tersenyum.
Fian yang sangat bahagia mendengar jawaban sang istri langsung tersenyum. Dia langsung menghampiri Laras dan mulai menggendong tubuh kecil sang istri. Mereka pun berjalan ke arah kamar dengan posisi Laras yang masih di gendongan sang suami.
"Aku tidak membutuhkan perempuan lain untuk memuaskanku di ranjang, karena aku sudah cukup puas dengan pelayananmu kepadaku selama ini," ucap Fian sambil meletakkan Laras di atas tempat tidurnya.
__ADS_1
"Apa kamu yakin jika kamu sudah sangat puas dengan pelayananku selama ini," tanya Laras sambil tidur di hadapan sang suami.