Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 37


__ADS_3

"Ratna tutup mulutmu!  Berkali-kali aku bilang padamu kalau aku tidak akan pernah menikahimu apalagi menceraikan Laras," bentak Fian sambil menoleh ke arah Ratna.


"Apa maksudmu bicara seperti itu, lalu bagaimana dengan nasib anak ini Mas?" tanya Ratna sambil mendekat ke arah Fian.


"Sejak awal kamu sudah menjebakku dan membuatku masuk ke dalam perangkapmu, jadi sampai kapanpun aku tidak akan mengakui anak ini," jelas Fian sambil menggenggam tangan Laras yang hanya bisa terdiam sambil meneteskan air mata.


"Berhenti! Sekarang jelaskan apa maksud semua ini Mas," bentak Laras kepada Fian dan Laras.


"Kamu harus percaya kepadaku Sayang, aku ini di jebak oleh Ratna," jawab Fian sambil menoleh ke arah sang istri.


"Sudah berapa lama hubungan kalian berjalan?" tanya Laras dengan pandangan kosong.


"Enam bulan lalu saat Mbak Laras akan di operasi," jawab Ratna sambil menatap Laras.


"Ratna aku bilang tutup mulutmu!" bentak Fian kepada Ratna.


"Jadi noda darah yang kamu bilang luka karena besi tajam yang menancap di kakimu adalah darah percintaan kalian, dan disaat aku menahan takut dan sakit kamu justru menikmati tubuh perempuan ini," ucap Laras sambil mengusap air matanya.


"Sayang aku mohon dengarkan aku, semua ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan," jelas Fian yang berusaha meyakinkan Laras.


"Apa masih pantas aku mendengar penjelasan laki-laki yang sudah berbohong kepadaku, bahkan kalian berdua sudah merencanakan pernikahan di belakangku, apa itu yang kamu sebut kesalahpahaman?" tanya Laras tanpa melihat Fian sama sekali.


"Mau tidak mau Mbak Laras harus merestui pernikahan kami, karena aku saat ini sedang mengandung anak Mas Fian, ya 'kan Mas," ucap Ratna sambil memeluk Fian dengan manja.


"Aku jijik melihat tingkah kalian berdua, dan kamu Mas sekarang kamu ikut pulang denganku karena ada masalah yang harus kita selesaikan," ucap Laras sambil berdiri dan berjalan ke luar.


"Tidak hari ini adalah waktunya bersamaku, lebih baik kamu pulang saja naik taksi," jawab Ratna sambil memeluk tangan Fian dengan erat. 


Laras tidak menjawab ucapan Ratna kepadanya, dia hanya tersenyum sinis tanpa melihat Ratna sedikit pun. Fian yang memang sangat mencintai Laras langsung segera memakai kemejanya dan segera berjalan ke arah mobilnya. Sepanjang perjalanan mereka terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun.

__ADS_1


"Bawa aku ke hotel di tempat pertama kita menikah," ucap Laras tanpa melihat Fian.


"Di Bali maksudmu, lalu bagaimana dengan Shafira?" tanya Fian dengan kebingungan.


"Aku sudah meminta Mama menjemput Shafira, aku bilang kita ingin berbulan madu," jawab Laras sambil menahan emosinya.


Dua jam berlalu mereka pun kini telah berada di hotel tempat pertama kali mereka menjadi sepasang suami istri. Saat di dalam kamar Laras menatap seluruh ruangan yang pernah menjadi saksi percintaan mereka. Beruntung hari itu kamar yang pernah mereka pesan masih dalam keadaan kosong.


"Sekarang katakan padaku apa kamu benar-benar mencintai Ratna," tanya Laras sambil duduk di tempat tidur.


"Tidak, aku benar-benar tidak mencintainya Sayang, aku hanya dijebak malam itu dan dia mengancamku akan melaporkan hubungan terlarang itu jika aku tidak menuruti kemauannya," jawab Fian sambil duduk di samping Laras.


"Jika kamu tidak mencintainya bagaimana bisa ada janin di dalam rahimnya, kenapa kamu memintaku menutup aurat sedangkan engkau sendiri tergoda dengan wanita yang membuka aurat," ucap Laras sambil berdiri di hadapan suaminya.


"Demi Allah Sayang aku benar-benar di jebak dan aku terpaksa menuruti semua keinginannya," ucap Fian sambil berusaha meyakinkan Laras.


Perlahan-lahan Laras mulai melepaskan seluruh pakaiannya hingga tidak ada satu benang pun yang menutupi tubuhnya. Fian yang melihat sikap istrinya terlihat sangat bingung dengan apa yang dilakukan Laras di hadapannya. Sambil berjalan perlahan Laras mulai mendekati Fian dan duduk di pangkuannya dan mulai mengulum bibir Fian dengan rakus.


"Apa ada yang tidak kamu suka dariku, apa mungkin aku masih kurang dalam memuaskan nafsumu hingga kamu tega mengkhianatiku," tanya Laras sambil menatap suaminya.


"Kamu sudah sangat pandai memuaskan ku Sayang, aku janji akan meninggalkan Ratna setelah kita pulang dari sini," ucap Fian sambil memeluk Laras.


"Kamu laki-laki yang sangat bertanggung jawab, dan beragama kuat, lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan," jawab Laras sambil menatap mata Fian dengan tajam.


"Apa maksudmu?" tanya sang suami seolah tidak mengerti.


"Nikahi Ratna, jadilah laki-laki yang bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan," jawab Laras dengan tatapan syahdu.


"Tidak, aku tidak akan menikahi Ratna dan aku juga tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Fian sambil berdiri dan berjalan ke kamar mandi.

__ADS_1


"Aku tidak menyuruhmu meninggalkanku, aku hanya memintamu menikahi Ratna!" teriak Laras kepada Fian.


"Apa kamu sudah gila, dan apa kamu pikir muda untuk seorang laki-laki melakukan poligami, tidak sampai kapanpun aku tidak akan melakukan apa yang kamu perintahkan," jawab Fian sambil berjalan keluar dari kamar mandi.


"Bukankah kamu sudah bisa berbuat adil, dan bukankah kamu sendiri yang menginginkannya," ucap Laras sambil yang tetap duduk di tempat tidurnya.


"Sayang aku tidak pernah menduakanmu, dan asal kamu tahu aku bukan nabi yang bisa selalu adil kepada istri-istrinya, jadi aku mohon jangan paksa aku untuk melakukan itu," jawab Fian sambil mendekat ke arah Laras.


"Lalu bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandungannya," tanya Laras penasaran.


"Aku memintanya untuk meninggalkan kota ini, dan aku juga akan tetap menafkahi anak itu," jawab Fian dengan entengnya.


"Kamu pikir mudah menjalani kehamilan tanpa seorang suami, tadinya aku berpikir kamu akan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab ternyata aku salah," ucap Laras sambil tersenyum sinis dan meninggalkan Fian.


Sejenak Fian terlihat bingung dengan permintaan Laras yang memintanya menikahi Ratna. Karena dia merasa jika seorang laki-laki memiliki dua orang istri akan sulit untuk berlaku adil, dan jika memang dia mampu berlaku adil tetap akan ada hati yang tersakiti. Sedangkan dia sendiri tidak ingin semua itu terjadi dalam hidupnya.


"Aku akan bertanggung jawab kepada Ratna, tapi tidak menikahinya," ucap Fian saat melihat Laras sudah keluar dari kamar mandi.


"Lalu seperti apa, apa dengan kamu menafkahinya, menemuinya dan melakukan hubungan badan dengannya setiap hari tanpa ada ikatan pernikahan?" tanya Laras sambil menuang air ke dalam sebuah gelas.


"Aku tidak akan menemuinya, hanya saja aku akan selalu mengirimkan uang untuknya," jawab Fian sambil memeluk Laras dari belakang.


"Lalu bagaimana jika dia memintamu untuk menemuinya," tanya sang istri sambil menoleh ke arahnya.


"Aku akan menolaknya," jawab Fian dengan entengnya.


"Sekarang saja kamu tidak bisa menolaknya, apalagi nanti, aku yakin jika kamu tidak menikahinya kamu akan terus melakukan dosa zina," ucap Laras sambil meletakkan gelas di atas meja.


"Laras benar, jika aku tidak menikahinya aku akan selalu melakukan dosa zina karena aku memang tidak bisa menolak kemauannya untuk menemuinya," batin Fian samb melihat Laras yang sedang berjalan ke arah sebuah kursi.

__ADS_1


"Kita tidak ada pilihan lain Mas, kamu harus segera menikahinya, kamu pernah bilang kepadaku apa yang sudah ditentukan Allah untuk menjadi milik kita akan selalu menjadi milik kita dan begitu juga sebaliknya. Mungkin sekarang Allah memberikan ku takdir berbagi suami aku tidak bisa menolaknya Mas, insya Allah aku ikhlas kamu menikahi Ratna," jelas Laras sambil berjalan mendekati suaminya dan mencium kening Fian.


"Izinkan aku menjauh dari kalian sebelum aku menentukan jalan mana yang akan aku pilih," jawab Fian sambil tersenyum.


__ADS_2