Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 33


__ADS_3

Setelah makan siang Fian langsung mengajak sang istri untuk beristirahat. Sambil berbaring Laras mulai bercerita kepada Fian tentang pertanyaan Ratna kepadanya. Fian yang mendengar cerita Laras sedikit curiga dengan pertanyaan pembantu barunya itu.


"Apa kamu tidak merasa ada yang aneh dari pertanyaan Ratna?" tanya Fian sambil menatap wajah Laras.


"Aku rasa tidak, kalau menurutku pertanyaan Ratna ada benarnya," jawab Laras kepada Fian.


"Lalu kamu cemburu dan takut aku berpaling," ucap Fian dengan penasaran.


"Seperti yang kamu ajarkan, apa yang memang Allah tentukan menjadi milik kita akan selamanya menjadi milik kita, tapi jika sebaliknya walaupun kita pegang dan perjuangkan tetap tidak akan menjadi milik kita," jawab Laras sambil tersenyum.


"Masya Allah, dan aku yakin jika aku adalah milikmu dan kamu memang di takdirkan untukku," jawab Fian sambil mencium kening sang istri.


"Insya Allah," jawab Laras sambil menatap mata Fian dengan tatapan penuh cinta.


Sesaat mereka mulai saling bercumbu dengan mesra. Rasa cinta tulus dari Fian mampu merubah sosok Laras yang tidak mengenal islam menjadi sosok yang sangat paham akan islam. Saat mereka sedang menikmati cumbuan demi cumbuan tiba-tiba Laras berteriak.


"Aduh Mas!" teriak Laras sambil memegangi perut buncitnya.


"Kamu kenapa Sayang, lebih baik kita ke rumah sakit sekarang," ajak Fian sambil bangun dari tempat tidurnya.


"Tidak perlu Mas aku tidak apa-apa," ucap Laras sambil tersenyum bahagia.


"Tapi tadi kamu kesakitan," ucap Fian sambil memakai kaosnya.


"Kamu duduk sini dulu," perintah Laras sambil menepukkan tangannya ke tempat tidur dengan perlahan.


Setelah Fian mendekat dan duduk di samping sang istri. Laras langsung meraih tangan sang suami dan meletakkannya di perut buncitnya. Awalnya Fian tidak merasakan keanehan apapun di perut istrinya.


"Bagaimana Mas, apa kamu bisa merasakannya?" tanya Laras sambil menatap Fian.


"Tidak aku tidak merasakan apa-apa," jawab Fian sambil terlihat bingung.


"Anakku Sayang, lihat tangan Abi sudah sedang mengusap tubuhmu dengan lembut," ucap Laras sambil terus memegang tangan Fian yang mengusap perutnya.


"Allahuakbar! aku merasakan ada tendangan sebuah kaki kecil," tiba-tiba Fian berteriak bahagia saat kaki kecil calon anaknya mulai bisa menendang.


"Iya 'kan, dia sudah bisa mendengarkan kita Mas," jawab Laras dengan mata berkaca-kaca.


Tanpa terasa air mata Fian mulai menetes di pipinya. Dia benar-benar bahagia dengan apa yang dia rasakan saat ini. Kuasa Allah begitu besar sehingga mampu memberikan sebuah kehidupan di dalam perut.


"Kalau begitu mulai sekarang aku akan rajin-rajin membaca Al-qur'an di dekatmu, agar anak kita bisa menjadi anak yang sholeh dan sholeha," ucap Fian sambil duduk di bawah dan mencium perut Laras.


"Insya Allah, aku yakin anak kita akan menjadi anak yang sholeh dan sholeha karena dia memiliki Ayah yang hebat sepertimu," jawab Laras sambil mencium kening suaminya dan mengusap air mata Fian dengan lembut.


"Kamu harus janji makan yang bergizi, jangan lupa minum vitaminnya serta banyak istirahat," pesan Fian kepada Laras sambil mencubit hidung sang istri.


"Iya Sayang, aku akan jalankan semua yang kamu perintahkan," jawab Laras yang terlihat sangat bahagia.


"Hai Sayangnya Abi, hari ini kamu mau apa? Biar Abi belikan saat ini juga," tanya Fian kepada calon anak yang ada di dalam kandungan Laras.


"Benar kamu mau penuhi semua kemauanku?" tanya Laras kepada Fian.


"Iya, aku janji akan penuhi semua permintaanmu," jawab Fian sambil berdiri dan duduk di samping Laras.


"Aku ingin menginap di rumah orang tuaku beberapa hari karena aku sangat merindukan masakan Mama," ucap Laras sambil sedikit sungkan dan takut.


"Sekarang kamu tunggu sini, aku akan mengemasi barang-barang kita dan selama satu minggu kita akan tinggal di rumah orang tuamu," jawab Fian sambil berdiri dan berjalan ke arah lemari pakaian.


"Kamu yakin Mas kita akan tinggal di rumah Mama selama sati minggu, lalu bagaimana dengan bengkelmu?" tanya Laras seolah masih belum percaya dengan apa yang diucapkan sang suami.

__ADS_1


"Yakin, urusan bengkel gampang, disini ada Bejo dan aku juga bisa datang kemari setiap pagi lalu sore hari aku pulang ke rumah Mama," jawab Fian sambil memasukkan bajunya dan Laras kedalam koper.


"Mas, terima kasih kamu sudah menjadi suami terbaik untukku," ucap Laras sambil memeluk Fian dari belakang.


"Kamu tidak perlu berterima kasih, aku melakukan ini karena aku yakin kalau kamu adalah jodoh yang sengaja Allah kirimkan untukku," jawab Fian sambil menoleh ke arah Laras.


Setelah mengemasi seluruh pakaiannya Fian dan Laras langsung bergegas keluar dari kamar. Ratna yang melihat Fian membawa koper sambil menggandeng tangan Laras langsung sedikit mendekat. Untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Bejo untuk satu minggu ini saya akan menginap selama satu minggu di rumah mertua saya, jadi saya minta kamu menjaga bengkel ini dengan baik," pesan Fian kepada Bejo.


"Baik Pak, tapi apa setiap pagi Bapak akan kemari?" tanya Bejo kepada Fian dengan perasaan tidak enak.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Fian penasaran.


"Saya mau mohon izin untuk mencari rumah kontrakan sampai Bapak dan Mbak Laras kembali," jawab Bejo sambil menunduk.


"Kenapa seperti itu?" tanya Laras dengan penasaran.


"Karena tidak mungkin saya tinggal di rumah ini berdua dengan Ratna, maaf bukannya saya tidak amanah tapi saya hanya ingin menghindari Fitnah dan zina," jelas Bejo sambil menunduk.


"Sayang kamu tunggu aku di kamar ya, karena ada yang mau aku bicarakan dengan Bejo sebentar," perintah Fian kepada Laras.


"Ternyata mereka akan pergi ke rumah orang tua Laras," batin Ratna sambil menguping pembicaraan Fian dan Bejo.


Setelah Laras masuk ke dalam kamarnya. Fian langsung meminta Bejo untuk ikut ke dalam ruang kerjanya. Fian memerintahkan Bejo untuk mencari rumah kontrakan untuk Ratna untuk pembayaran tiap bulan dia yang akan menangunggnya.


"Kenapa harus Ratna yang tinggal di rumah kontrakan Pak," tanya Bejo dengan penasaran.


"Dia orang baru disini, dan saja juga belum percaya dengannya lagi pula saya rasa justru lebih baik di tinggal di rumah kontrakan seperti Mbok Ijah," jelas Fian kepada Bejo.


"Tapi bagaimana cara kita menjelaskannya kepada Ratna?" tanya Bejo dengan sedikit bingung.


"Itu urusanku, tugasmu sekarang cari rumah kontrakan dan panggil Ratna untuk menghadapku sekarang," jawab Fian sambil bersandar di kursi.


"Tapi kenapa Pak, apa saya ada salah sehingga Bapak mencarikan kontrakan untuk saya," tanya Ratna dengan nada sedikit kesal.


"Tidak, tapi tidak mungkin kamu tinggal disini berdua dengan Bejo, apalagi saya dan Laras akan pergi selama seminggu," jawab Fian kepada Ratna.


Ratna yang tidak mempunyai pilihan lain langsung menyetujui perintah Fian. Dia pun langsung diantar oleh Bejo ke rumah kontrakan yang sudah di siapkan. Terlihat sebuah kamar kontrakan yang cukup luas dengan satu tempat tidur, lemari, kamar mandi dan sebuah ac di dalamnya.


"Ini kuci kamarmu, kalau begitu aku permisi dulu," ucap Bejo sambil menunduk dan meninggalkan Ratna.


"Ah gara-gara perempuan buncit itu aku harus tinggal di kamar sempit ini," ucap Ratna sambil duduk di tempat tidur sambil melihat sekeliling kamar itu.


***


Fian dan Laras akhirnya tiba di rumah Arman. Arman yang saat itu sedang menikmati secangkir kopi langsung menghampiri mobil Fian. Sambutan Arman kepada Fian kali ini berbeda dengan saat Fian pertama kali datang.


"Assalamualaikum Pak," ucap Fian sambil menjabat tangan ayah mertuanya.


"Waalaikumsalam, ayo masuk," ajak Arman sambil memeluk pundak Laras.


"Kamu dan Papa masuk saja dulu, biar aku yang bawa tasnya," jawab Fian kepada Laras.


Setelah cukup lama berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar suara adzan yang cukup kencang. Fian yang mendengar suara adzan langsung pamit ke Laras dan mertuanya untuk berangkat ke masjid. Kebetulan rumah Laras dan masjid hanya berjarak 3 rumah saja.


"Fian, Papa ikut kamu ke masjid," tiba-tiba Arman berdiri dan menawarkan diri untuk ikut ke masjid.


"Masya Allah, akhirnya Papa mau ikut ke masjid bersama Mas Fian," batin Laras sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


Sejak Laras kecil dia tidak pernah melihat sang ayah menjalankan sholat, apalagi sampai masuk ke dalam masjid. Ini adalah pertama kalinya sang Ayah menjalankan shalat. Jadi tidak heran jika Laras dan Sophia sangat bahagia.


Kehadiran Fian di tengah-tengah keluarga Laras membawa perubahan yang besar. Tidak hanya untuk Laras, tapi juga untuk Arman dan Sophia. Selain perekonomian mereka yang berangsur meningkat, agama mereka pun mulai terbentuk seiring berjalannya waktu.


"Kalau begitu kita shalat di rumah bersama yuk Ma," ajak Laras kepada Sophia.


Setelah menjalankan ibadah sholat magrib mereka pun menikmati makan malam bersama. Fian yang baru saja selesai dengan makanannya langsung menjelaskan tujuan mereka datang kemari. Mendengar penjelasan Fian, Arman dan Sophia sangat bahagia.


"Ma cepat bersihkan kamar Laras, Papa akan ke toko untuk mengganti lampunya yang sudah mulai redup," ucap Arman sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Sudah Pa tidak perlu diganti biarkan saja," ucap Fian dengan rasa tidak enak jika harus melihat mertuanya sibuk mempersiapkan tempat untuk mereka menginap.


"Sudah kalian disini saja, biar Mama bersihkan kamar kalian, dan Papa akan membeli lampu ke warung," jawab Arman dengan sangat berantusias.


"Terima kasih Pa," ucap Fian dan Laras secara bersamaan.


"Iya sama-sama, Ma. Ingat jangan sampai ada debu yang menempel di kamar itu, karena aku tidak mau Laras dan Fian terganggu apalagi Laras sedang hamil besar," pesan Arman kepada Sophia sambil berjalan keluar.


"Iya Pa! kalau begitu Mama tinggal dulu ya kalian tunggu saja di teras," ucap Sophia sambil berdiri dan membereskan piring kotor lalu bergegas masuk ke dalam.


***


Fian dan Laras bangun seperti biasa 5 menit sebelum adzan subuh berkumandang. Setelah mandi dan bersih-bersih mereka duduk di teras sambil menunggu adzan berkumandang. Sophia dan Arman yang saat itu baru bangun dari tidurnya langsung terkejut saat melihat beberapa nasi bungkus tersaji di meja makan.


"Ini kalian yang beli?" tanya Sophia dengan sedikit terkejut.


"Iya, tadi sepulang dari masjid Fian melihat penjual nasi bungkus di depan gang jadi Fian beli kebetulan Laras juga bilang sudah lapar," jelas Fian dengan tersenyum ramah.


"Ya Allah Maaf ya Mama memang tidak pernah masak pagi, tapi Mama akan usahakan masak sebelum adzan subuh biar cucu Mama tidak kelaparan," jawab Sophia sambil duduk di samping suaminya.


"Nanti kamu ke pasar dan beli bahan makanan yang banyak, besok kamu mau makan apa Nak?" tanya Arman kepada putri kesayangannya.


"Apa saja Pa, Alhamdulillah sejak usia kehamilan 6 bulan Laras bisa menerima semua makanan tanpa mual," jawab Laras sambil tersenyum.


"Iya, alhamdulillah Laras makannya sekarang sudah banyak, sekarang justru dia tidak bisa berhenti makan," ledek Fian hingga membuat seluruh keluarga tertawa.


"Ma, Laras boleh ya ikut ke pasar?" tanya Laras sambil merengek seperti anak kecil.


"Kalau Mama sih tidak masalah, tapi bagaimana dengan Fian," jawab Sophia dengan ragu.


"Apa kamu yakin bisa ke pasar sama Mama?" tanya Fian memastikan keadaan sang istri.


"Insya Allah aku sehat, aku janji kalau aku lapar atau capek aku akan langsung istirahat," jawab Laras sambil memeluk pundak Fian.


Setelah berbincang-bincang cukup lama Fian dan Arman langsung berangkat ke tempat kerjanya. Arman berangkat ke proyek, sedangkan Fian langsung ke bengkel. Entah kenapa Fian hari ini merasa sangat tenang meninggalkan Laras di rumah orang tuanya.


"Assalamualaikum," ucap Fian yang baru saja sampai di bengkel.


"Waalaikumsalam," jawab seluruh karyawan dengan bersamaan.


Fian yang baru saja tiba langsung menuju ke ruang kerjanya. Setelah mengecek semua laporan yang diberikan Bejo dan Pak Arman Fian langsung menuju ke dapur untuk membuat kopi. Ratna yang melihat kedatangan sang majikan terlihat sangat senang, dia pun segera masuk ke dalam kamar untuk segera berhias dengan harapan bisa menarik perhatian majikannya.


"Assalamualaikum," ucap Fian kepada Eko.


"Waalaikumsalam, baru sampai Pak?" tanya Eko kepada Fian yang baru saja masuk.


"Iya, kamu sedang apa Ko," tanya Fian yang melihat Eko sangat sibuk.


"Buat kopi Pak, apa Bapak mau saya buatkan juga?" tanya Eko kepada Fian.

__ADS_1


"Boleh, terima kasih ya," jawab Fian sambil duduk di kursi.


"Aduh!" tiba-tiba terdengar Ratna yang berteriak.


__ADS_2