Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 34


__ADS_3

Sambil berdiri dari tempat duduknya dan membawa kopi buatan Eko, Fian meminta Eko untuk segera menolong Ratna. Fian berjalan meninggalkan dapur dan berjalan melewati Ratna tanpa melihat ataupun meliriknya. Saat Eko mulai membantunya Ratna langsung memukul tangannya dengan sangat keras.


"Tidak perlu, aku bisa bangun sendiri!" bentak Ratna sambil memukul tangan Eko.


"Nah ketahuan 'kan kalau kamu hanya pura-pura jatuh," ucap Eko sambil tertawa.


"Bukan urusanmu, sudah sana pergi aku males lihat mukamu disini," usir Ratna dengan mendorong tubuh Eko.


"Sabar Neng, ini Abang juga mau pergi," jawab Eko sambil berjalan meninggalkan Ratna yang masih dalam keadaan marah.


"Aku harus cari cara agar Fian bisa jatuh ke dalam pelukan selamanya," ucap Ratna sambil mengepalkan tangannya.


Waktu berlalu begitu cepat, setelah semua tugasnya selesai Fian langsung mengunci ruangannya dan segera pulang ke rumah mertuanya. Saat dia baru tiba di depan rumah mertua, terlihat sang istri sedang duduk menunggunya dengan setia. Samb tersenyum Fian pun melangkahkan kakinya menghampiri Laras yang sudah berdiri menyambut kedatangannya.


"Assalammualaikum," ucap Fian sambil tersenyum.


"Waalaikunsalam, akhirnya kamu pulang juga Mas," jawab Laras sambil mencium tangan suaminya.


"Iya maaf aku terlambat, karena aku tadi mampir beli ini untuk istri tercintaku," ucap Fian sambil menunjukkan kantong plastik hitam di tangannya.


"Pasti martabak manis keju susu," tebak Laras sambil menerima kantong plastik dari Fian.


"Iya, tapi kali ini ada martabak telor juga buat Papa sama Mama," jawab Fian sambil membelai rambut Laras 


Fian sangat tahu dan paham apa saja yang disukai sang istri. Bahkan soal hal sepele pun dia sangat paham. Hal itulah yang membuat Laras selalu merasa nyaman saat ada di dekat suaminya.


"Kalau begitu kamu makan dulu ya, aku sudah siapkan kopi dan makanan untukmu," ajak Laras sambil memeluk tangan sang suami.


"Lebih baik aku makan dan shalat dulu, karena badan ku sudah benar-benar lengket karena keringat," jawab Fian kepada Laras yang masih memeluk tangannya dengan erat.


"Nak Fian sudah pulang?" tanya Sophia yang baru saja keluar dari dapur.


"Iya Bu, Sayang lepaskan tidak enak dilihat Mama," ucap Fian sambil melepaskan pelukan Laras di tangannya.


"Biarin, aku maunya seperti ini," jawab Laras sambil terus memeluk tangan Fian.


"Sudah tidak apa-apa mungkin Laras dan si kecil sangat merindukanmu," jelas Sophia sambil tersenyum.


"Maaf ya Bu, kalau begitu kami masuk dulu," jawab Fian dengan rasa malu.


Di dalam kamar Fian langsung membuka kemejanya yang sudah kusut. Terlihat tubuh kekar Fian hingga membuat Laras begitu terkesima. Tanpa sadar Laras mulai mendekati Fian dan langsung memeluk sang suami dengan mesrah.


"Apa kamu lagi ingin melakukan itu saat ini?" tanya Fian yang terkejut dengan perlakuan Laras.


"Entah kenapa sejak tadi aku merasa rindu sekali kepadamu, apa bisa kita melakukannya saat ini juga," ucap Laras sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap Fian.


Mendengar permintaan Laras, Fian pun langsung menggendong sang istri menuju ke tempat tidur. Dia mulai menciumi seluruh wajah hingga leher sang istri. Sambil mulai melucuti satu persatu pakaian Laras.


Kehamilan Laras yang sudah memasuki usia 7 bulan tidak membuatnya terlihat gemuk. Justru perut buncitnya membuatnya terlihat sangat menarik di mata Fian. Sore itu mereka mulai melakukan percumbuan yang sangat liar. 


Entah kenapa dalam hati Laras ada rasa rindu dan takut akan kehilangan Fian. Walaupun dia berusaha membuang rasa itu. Namun, entah kenapa rasa itu semakin kuat di hati Laras.


"Apa kamu sudah puas?" tanya Fian sambil memberikan lengannya untuk kepala Laras.


"Sudah, aku benar-benar sangat puas," jawab Laras sambil bersandar di dada Fian dengan hanya menggunakan selimut.


"Kenapa hari ini kamu bisa se liar itu?" tanya Fian yang penasaran dengan apa yang terjadi kepada istrinya hari ini.


"Tidak tahu, sejak tadi pagi aku sangat merindukanmu, aku merasa jika aku akan kehilanganmu," jawab Laras sambil memandang wajah Fian.

__ADS_1


"Aku pastikan kami tidak akan pernah kehilangan aku karena perempuan lain," ucap Fian sambil mencium bibir mungil Laras.


Malam itu mereka makan malam bersama dengan Arman dan Sophia. Banyak hal yang Laras dan Sophia ceritakan kepada Arman dan Fian tentang kegiatan mereka seharian di rumah. Kehangatan hubungan antara menantu dan mertua sangat terasa saat Fian dan Arman tertawa setelah mendengar cerita dari sang istri.


***


Keesokan harinya saat Fian sibuk dengan beberapa laporan yang ada di laptopnya. Tiba-tiba Bejo masuk ke ruang kerja Fian dengan keadaan panik. Setelah duduk Bejo mulai meminta izin untuk pulang ke kampungnya, karena semalam dia mendapat kabar jika sang istri akan segera melahirkan anak ketiganya.


"Kapan kamu akan pulang?" tanya Fian sambil menutup laptopnya.


"Kalau bisa pagi ini Pak, karena semalam istri saya sudah dibawa ke rumah sakit," jawab Bejo sambil terlihat sangat panik.


"Baik kalau begitu kamu boleh pulang sekarang dan ini ada sedikit hadiah untuk istri dan anakmu," ucap Fian sambil memberikan sebuah amplop coklat kepada Bejo.


"Tidak Pak, saya tidak mau merepotkan Pak Fian," jawab Fian sambil menolak amplop pemberian Fian.


"Saya tidak merasa direpotkan, dan ini saya berikan juga bukan untukmu, jadi tolong terima dan berikan kepada istrimu," perintah Fian kepada Bejo.


Mendengar jawaban Fian, Bejo langsung menerima amplop pemberian Fian walaupun dengan rasa sungkan. Pekerjaan Fian yang sangat padat membuatnya sangat kelelahan. Hingga dia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan tidur untuk beberapa jam sambil menunggu jam pulang.


Rasa lelah dan pusing membuatnya terbangun setelah pukul 10 malam. Menyadari dirinya yang tidur cukup lama Fian bergegas mengambil ponselnya. Terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari Laras.


"Astagfirullahaladzim, aku harus menghubungi Laras dia pasti khawatir dengan keadaanku," ucap Fian sambil menekan nomor telepon sang istri.


"Halo, Assalamualaikum," ucap Fian saat panggilan telepon sudah terhubung.


"Waalaikumsalam, ya Allah kamu kemana saja Mas, daritadi aku telepon tapi tidak kamu angkat?" tanya Laras dengan nada khawatir.


"Maaf Sayang, aku ketiduran tapi aku akan segera pulang," jawab Fian sambil berdiri dari tempat tidurnya.


"Apa disana tidak hujan badai?" tanya Laras saat mendengar sang suami akan pulang.


Terdengar suara hujan dan gemuruh dengan disertai angin kencang. Laras yang tidak ingin terjadi apa-apa kepada Fian memintanya untuk tetap berada di bengkel sampai hujan berhenti. Hingga dengan terpaksa Fian harus tetap berada di rumah itu seperti apa yang diinginkan Laras.


"Ya Allah kenapa perutku tiba-tiba lapar, aku ke dapur dulu siapa tahu masih ada sisa makanan di sana," ucap Fian sambil berjalan keluar kamar.


Saat Fian berjalan ke arah dapur, tiba-tiba dia mendengar suara berisik di dalam dapur. Perlahan Fian berjalan mengendap-endap. Rasa takut dan was-was mulai menyelimutinya.


"Apa jangan-jangan ada pencuri masuk," batin Fian sambil berjalan dengan perlahan.


"Pak Fian," ucap Ratna saat melihat majikannya masuk ke dapur dengan perlahan.


"Kenapa kamu masih ada disini, bukannya kamu sudah saya minta untuk tinggal di kontrakan?" tanya Fian saat melihat Ratna.


"Maaf Pak, tadi memang saya akan kembali ke kontrakan, tapi karena hujan badai jadi saya putuskan untuk menginap disini. Bapak sendiri mau apa ke dapur dan tumben belum pulang ke Mbak Laras?" tanya Ratna penasaran.


"Alasannya sama seperti kamu, dan malam ini saya lapar jadi saya mau buat mie instan," jawab Fian sambil berjalan ke arah kursi dan duduk di hadapan Ratna.


"Kalau begitu biar saya buatkan Pak, kebetulan saya juga mau buat mie instan," Ratna sambil mulai memasak mie.


Malam ini Ratna terlihat begitu cantik dengan balutan baju tidur tipis dan tanpa lengan. Kulit yang sangat putih dan mulus terpampang jelas menunjukkan jika dia sangat merawat kulitnya. Sesaat Fian terpana melihat kemolekan tubuh asisten rumah tangganya, dada yang terlihat menonjol membuatnya sangat ingin merasakan kenikmatan di malam yang dingin.


"Astagfirullahaladzim," ucap Fian sambil mengelus dadanya.


"Ini Pak mie instannya," ucap Ratna sambil memberikan mangkok kepada Fian.


"Terima kasih ya Ratna," ucap Fian tanpa menoleh ke sang asisten rumah tangga.


"Sama-sama, kalau begitu saya tinggal ke kamar sebentar sambil menunggu air untuk teh Pak Fian matang," pamit Ratna sambil berjalan ke arah kamar.

__ADS_1


"Malam ini dia harus masuk ke dalam pelukanku," ucap Ratna saat sudah berada di dalam kamar.


Beberapa saat kemudian Ratna kembali ke dapur untuk membuat secangkir teh hangat untuk Fian. Sambil tersenyum dia meletakkan teh tersebut di hadapan sang majikan. Setelah minum secangkir teh tiba-tiba Fian merasakan sakit dikepalanya.


"Mari saya antar ke kamar Pak," ucap Ratna sambil membantu Fian ke kamarnya.


Entah kenapa malam ini Fian merasakan nafsu birahinya sangat tinggi. Hingga tanpa sadar membuatnya langsung mencumbu Ratna yang saat itu berada di kamarnya. Tiap lekuk tubuh Ratna menjadi tempat terhangat untuk Fian malam ini.


Perlahan-lahan mereka pun mulai hanyut dalam permainan nafsu yang tidak dapat dibendung. Rintihan kenikmatan terdengar jelas malam itu, beruntung malam itu tidak ada seorang pun yang ada di bengkel hingga tidak ada yang tahu tentang hubungan terlarang antara Fian dan Ratna. Kamar Fian dan Laras menjadi saksi bisu kebuasan Fian dalam menikmati tubuh sang asisten rumah tangga.


"Astagfirullahaladzim, kenapa kamu tidur di kamarku," ucap Fian sambil terkejut saat melihat tubuhnya dan Ratna sudah telanjang dan hanya tertutup selimut.


"semalam Pak Fian pusing, lalu saya berinisiatif untuk mengantar Bapak ke kamar, tapi saat saya mau pergi Bapak justru memeluk saya," jawab Ratna sambil menutup selimut ke arah dadanya.


"Ya Allah, kenapa aku bisa jatuh ke dosa zina untuk kedua kalinya," ucap Fian sambil mengusap wajahnya.


"Tapi Pak Fian menikmati permainan saya tadi malam 'kan?" tanya Ratna sambil mendekatkan dadanya ke tangan Fian.


"Diam kamu! Sekarang cepat pergi dari kamarku dan ingat jangan sampai ada yang tahu masalah ini," ancam Fian sambil membentak Ratna.


"Apa Pak Fian tidak mau menjadi bayi lagi seperti semalam," ledek Ratna sambil membuka dadanya yang tertutup selimut.


"Aku bilang cepat pergi! Jangan sampai aku melakukan kekerasan kepadamu," bentak Fian sambil berteriak.


Ratna pun akhirnya keluar dari kamar Fian dengan wajah penuh kepuasan. Beruntung hari masih pagi jadi belum ada karyawan yang datang. Fian yang sudah merasa bersalah kepada Laras langsung terduduk lemas.


"Ya Allah, apa yang sudah terjadi kepadaku hingga aku melakukan dosa zina untuk kedua kalinya. Sekarang bagaimana aku menjelaskan kepada Laras," ucap Fian sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Di tempat terpisah Ratna justru merasakan kepuasan. Selama ini dia hanya membayangkan bagaimana rasanya bercinta dengan pria seperti Fian. Dan semalam adalah jawaban dari bayangannya selama ini.


"Oh Pak Fian, kamu benar-benar pria yang tangguh dan perkasa, rasanya aku ingin melakukannya lagi denganmu," ucap Ratna sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil membayangkan wajah Fian.


Saat Fian masih termenung dengan kesalahannya. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara ponsel yang ada di atas meja. Panggilan telepon dari sang istri yang terlihat di layar ponselnya.


"Laras, apa yang harus aku katakan kepadanya sekarang," ucap Fian sambil memegang ponselnya yang masih berdering.


"Halo Assalamualaikum," ucap Fian setelah menerima panggilan itu.


"Waalaikumsalam, apa kamu sudah bangun Mas?" tanya Laras kepada Fian.


"Iya Sayang, aku baru saja bangun memangnya kenapa?" tanya Fian dengan khawatir.


"Semalam aku dilarikan ke rumah sakit, dan pagi ini aku akan menjalani operasi sesar," jawab Laras hingga membuat Fian terkejut.


"Kamu sekarang di rumah sakit mana, dan pukul berapa kamu di operasi?" tanya Fian sambil berdiri dan memakai seluruh pakaiannya.


"Rumah sakit harapan, menurut informasi dari Dokter aku akan menjalani operasi pukul 9 pagi," jawab Laras yang terdengar seperti menahan rasa takut.


"3 jam lagi, aku akan kesana sekarang," ucap Fian sambil menutup ponselnya.


Fian yang berbaring ditempat tidur terlihat sangat tegang dan panik. Arman dan Sophia yang ada di dekat Laras berusaha untuk menenangkannya. Hingga Fian datang Laras yang saat itu ada dipelukan Fian tetap merasa ketakutan.


"Kamu harus kuat, kamu tidak boleh takut aku yakin semua akan baik-baik saja," ucap Fian kepada Laras sambil memeluknya.


"Mas kenapa aku merasa takut, kenapa pelukanmu tidak lagi membuatku nyaman seperti dulu," ucap Laras sambil terus memeluk tubuh Fian.


Fian tidak menjawab pertanyaan sang istri. Hanya air mata yang menetes menjadi lambang penyesalannya. Fian terus memeluk erat tubuh Laras sambil meneteskan air matanya.


"Maafkan aku Sayang, maafkan," batin Fian sambil terus memeluk Laras dengan erat. 

__ADS_1


__ADS_2