
Setelah menjemput Shafira dari rumah orang tua Laras dan menggantar mereka ke bengkel. Fian langsung mengemasi beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam sebuah tas koper. Dia segera berjalan ke arah ruang kerjanya dan memanggil bejo yang saat itu sedang sibuk dengan beberapa pekerjaannya.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Bejo saat sudah berdiri di hadapan Fian.
"Aku akan pergi untuk sementara waktu tolong jaga bengkel dan keluargaku," perintah Fian sambil memandang fotonya bersama Laras dan Shafira.
"Kalau saya boleh tahu memang Pak Fian akan kemana, apa ini ada hubungannya dengan pekerjaan," tanya Bejo dengan penasaran.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu akan kemana. Semua ini terjadi karena kesalahan yang aku lakukan," jawabnya sambil menahan air matanya.
"Assalammualaikum," ucap Laras yang tiba-tiba masuk dengan menggendong Shafira.
"Waalaikumsalam," jawab Bejo dan Fian secara bersamaan.
"Bejo bisa tolong antarkan saya ke rumah orang tua saya?" tanya Laras tanpa melihat sang suami yang ada di ruangan itu.
"Kamu mau kemana Sayang?" tanya Fian sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Laras.
"Bejo kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ku, apa kamu bisa menggantarkan ku pulang sekarang," Laras kembali menanyakan hal yang sama kepada Bejo.
Bejo yang ada di ruangan itu hanya terdiam hingga tiba-tiba Fian menarik Shafira dari gendongan Laras dan meminta Bejo memberikan Shafira kepada Mbok Ijah. Sambil kebingungan Bejo langsung menggendong Shafira dan membawanya ke dapur. Fian pun langsung menarik tangan istrinya dan menariknya ke dalam kamar.
"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Fian saat mereka sudah di dalam kamar.
"Bukankah kamu sudah mendengar jika aku akan pulang ke rumah orang tuaku," jawab Laras dengan nada kesal tanpa menoleh ke sang suami.
"Kenapa? Apa karena aku akan pergi," tanya Fian sambil berdiri di hadapan Laras.
Laras sama sekali tidak menjawab pertanyaan Fian. Dia langsung berdiri dan berjalan menjauhi laki-laki yang sudah menemaninya selama ini. Apa yang di lakukan Ratna dan Fian sangat membuat hati dan cinta Laras lenyap tanpa sisa yang ada hanya rasa kesal, marah dan jijik.
"Kenapa kamu tidak mau menatapku, apa hanya kesalahan kecil kamu begitu marah kepadaku hingga tidak mau memberikan maaf buatku?" tanya Fian sambil membentak Laras dan menarik tangannya hingga menatap wajah Fian.
"Kesalahan kecil, apa perselingkuhan hingga zina dan menghasilkan benih di dalam janin kamu bilang kesalahan kecil, sekarang jelaskan kepadaku apa kurangku selama ini," jawab Laras sambil menatap Fian.
"Berapa kali aku jelaskan kepadamu aku di jebak oleh pelacur itu, aku menemuinya karena aku tidak mau membocorkan rahasia malam itu kepadamu," ucap Fian kepada Laras sambil memohon.
"Dan sekarang kesalahan itu sudah menjadi benih di dalam rahim seorang perempuan yang kamu anggap sebagai pelacur, nikahi dia dan ceraikan aku," jawab Laras dengan tegas sambil berjalan ke arah pintu kamar.
"Tidak! Aku tidak akan menceraikanmu, Aku mohon berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya biarkan aku tetap mendampingimu. Aku mohon maafkan aku Sayang," ucap Fian sambil memohon dan berlutut di kaki Laras.
"Kemarin aku sempat bilang kepadamu lakukan tugasmu sebagai seorang laki-laki, dan aku juga bilang jika aku ikhlas menerima madu darimu tapi tidak ingin menjadi wanita munafik, karena jujur aku tidak bisa menelan madu pahit itu. Tetaplah di rumah ini biar aku yang pulang ke orang tuaku," jawab Laras sambil berjalan keluar kamar.
Laras pun bergegas ke arah dapur untuk mengambil Shafira dari Mbok Ijah. Fian yang saat itu benar-benar merasa bersalah terus berusaha mengejar dan membujuk Laras agar tidak pergi meninggalkannya. Fian benar-benar tidak peduli dengan banyak orang yang ada di bengkel itu.
***
Perpisahan Laras dan Fian membuat banyak orang yang menyayangi mereka terluka. Termasuk Mbok Ijah dan Bejo. Namun, tidak dengan Siska dia justru bahagia atas keputusan sang adik ipar untuk meninggalkan Fian.
Hampir 6 bulan lamanya Laras tinggal bersama dengan orang tuanya. Banyak doa dan harapan yang dia panjatkan untuk kebaikan pernikahannya. Sejak Laras tinggal di rumah orang tuanya Fian tidak pernah menemuinya ataupun menjeguk putrinya.
"Ya Allah jika memang pernikahan ku harus berakhir maka akhirilah, tapi jika engkau mentakdirkanku memiliko madu dari suamiku berikan hatiku keikhlasan," doa Laras di setiap sepertiga malamnya.
Hingga suatu hari saat Laras sudah mendapat jawaban dari setiap doanya. Dia menemui sang suami di rumah mereka. Namun, kedatangan Laras kali ini tidak membawa Shafira bersamanya.
"Assalammualaikum," ucap Laras sambil membuka ruang kerja suaminya.
"Waalaikumsalam," jawab Fian sambil menoleh ke arah suara.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Laras sambil berdiri di hadapan suaminya.
__ADS_1
"Lebih baik kita bicara di kamar saja, aku tidak mau seluruh karyawan mendengar pembicaraan kita," jawab Fian sambil berdiri dan berjalan ke arah kamar mereka.
Saat mereka berjalan ke arah kamar, terlihat Mbok Ijah dan Bejo memandang mereka dengan penuh haru. Mereka berharap jika majikannya tidak akan berpisah hanya karena si pelakor Ratna. Segala doa mereka panjatkan untuk kebahagiaan Laras dan Fian.
"Mbak Laras," ucap Bejo saat melihat Laras berjalan ke arah kamar dengan Fian.
"Alhamdulillah, semoga mereka bisa bersama lagi," jawab Mbok Ijah sambil menatap mereka dengan kesedihan.
"Ini semua gara-gara Ratna, Pak Fian dan Mbak Laras akan berpisah," ucap Bejo dengan rasa kesal.
"Benar perempuan ular itu tidak bisa dimaafkan, awas saja kalau dia berani kesini akan aku goreng dia," ucao Mbok Ijah sambil mengayunkan spatula yang ada di tangannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Fian kepada Laras saat mereka berada di dalam kamar.
"Aku ikhlas di poligami, aku ikhlas jika harus menerima Ratna menjadi adikku sekaligus istri keduamu," jawab Laras sambil menunduk.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu ini, kalau aku tidak yakin karena setiap sepertiga malamku bukan poligami yang ada di hatiku, justru Allah memintaku untuk bertobat dan memperbaiki hubunganku denganmu," ucap Fian sambil menatap Laras yang masih menunduk.
"Insya Allah aku yakin Mas, kapan kita bisa melamar Ratna untukmu," tanya Laras sambil mengenggam tangannya.
"Baik jika itu yang kamu inginkan kita bisa pergi ke sana sekarang," jawab Fian sambil berdiri dan berjalan keluar kamar dengan diikuti Laras yang terlihat masih ragu untuk melangkah.
***
"Assalammualaikum," ucap Laras dan Fian secara bersamaan.
"Waalaikumsalam, Mas Fian!" jawab Ratna sambil berteriak dan memeluk tubuh laki-laki yang ada di hadapannya.
"Apa kabar Ratna," sapa Laras yang tiba-tiba berdiri di hadapan Ratna.
"Mbak Laras, mari silahkan masuk," jawab Ratna sambil melepaskan pelukannya dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.
"Tidak, aku tidak merasa terganggu dengan kedatangan Mbak Laras," jawab Ratna dengan muka ketus.
"Mas, sekarang cepat jelaskan kepada Ratna apa tujuan kita datang kesini," perintah Laras sambil menoleh ke suaminya.
"Sebelumnya aku minta maaf atas kesalahan yang sudah pernah kita lakukan waktu itu, karena semua itu memang benar-benar diluar akal sehatku dan kedatangan kami kesini untuk melamarmu menjadi istri kedua untukku,"Jelas Fian kepada Ratna sambil terlihat gugup.
"Iya, setelah kami berpikir selama beberapa bulan ini aku memutuskan untuk megikhlaskan Mas Fian menikahimu," ucap Laras sambil menatap Ratna yang terlihat bahagia.
"Apa kamu serius ingin menikahiku?" tanya Ratna sambil tersenyum bahagia.
"Iya, insya Allah aku akan melamarmu dalam waktu dekat ini," jawab Fian dengan ragu.
"Lalu apa aku akan menjadi istri kedua?" tanya Ratna yang langsung membuat Fian dan Laras saling berpandangan.
"Iya, karena aku dan Mas Fian tidak akan berpisah, jadi aku harap kamu bersedia menjadi istri kedua," jawab Laras dengan tegas.
"Tidak! Aku tidak mau menjadi istri kedua, yang aku mau hanya aku istri satu-satunya dari Mas Fian tanpa ada kamu ataupun Shafira," bentak Ratna dengan ketus.
"Kamu benar-benar keterlaluan Ratna, Laras sudah berbaik hati mengizinkan aku bertangung jawab atas kandunganmu, tapi justru kamu ingin menyingkirkan dia, aku tidak setuju. Sayang ayo kita pulang," ajak Fian sambil mengegam tangan Laras.
"Tunggu Mas, baik aku akan segera mengurus surat perceraianku dan Mas Fian agar kalian bisa segera menikah," jawab Laras yang langsung membuat Fian terkejut.
"Sayang, apa kamu gila! Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu," ucap Fian dengan penuh emosi.
"Begitu dong, 'kan terdengar enak jadi aku tidak perlu sembunyi-sembunyi ataupun di cap sebagai seorang pelakor," jawab Ratna sambil tersenyum sinis.
Tidak ada yang bisa Laras lakukan saat ini, hanya tetesan air mata yang mulai jatuh ke pipinya bersamaan dengan hancurnya hati seorang istri. Dia yang berfikir jika Fian bisa menjadi imam yang baik untuknya ternyata tega menghianatinya. Walaupun menurut Fian itu hanyalah sebuah kecelakaan tapi istri mana yang tidak merasa sakit akan hal itu.
__ADS_1
"Kalau begitu kami pamit dulu, insya Allah satu minggu lagi kami akan datang untuk melamarmu di dapan keluarga besarmu," ucap Laras sambil berdiri lalu berjalan keluar.
"Kenapa kamu bilang kalau kita akan bercerai," tanya Fian kepada Laras yang saat itu berusaha terlihat tegar di hadapan Fian.
"Aku tidak ada pilihan lain, jika dia lebih bisa membahagiakanmu kenapa aku harus menjadi penghalang," jawab Laras sambil tersenyum.
"Kamu benar-benar tidak waras, aku antar kamu ke rumah orang tuamu," ucap Fian sambil mulai mengemudikan mobilnya.
***
"Kenapa kita ke hotel ini Mas, bukannya kamu janji akan mengantarku pulang?" tanya Laras dengan kebingungan
"Izinkan aku untuk menjalankan kewajibanku sebagai suami untukmu," ucap Fian sambil memarkirkan mobilnya.
Setelah memesan kamar Laras dan Fian langsung berjalan ke arah kamar. Fian yang sudah sangat merindukan Laras langsung mencium bibir sang istri dengan buas. Cumbuan Fian lakukan di seluruh bagian tubuh Laras dengan penuh kelembutan.
Laras yang masih berstatus sebagai istri sah seolah terlihat tidak memiliki gairah. Walaupun berkali-kali dia mencoba membalas apa yang Fian lakukan terhadap tubuhnya. Entah karena sakit hati atas perselingkuhan Fian dan Ratna atau karena jijik dengan tubuh Fian yang sudah pernah menjamah Ratna.
***
Di tempat terpisah Ratna yang merasa sudah berhasil mendapatkan Fian tersenyum dengan bahagia. Dia merasa jika keinginannya untuk menjadi istri sah sang kontraktor kaya akan segera terwujud. Hingga saat dia sedang menikmati kebahagiaannya tiba-tiba Wulan yang sudah menaruh dendam atas pengkhianatan sang sahabat langsung mendorong Ratna yang saat itu sedang berdiri di ruang tamu hingga perutnya membentur meja.
"Ah!" teriak Ratna sambil memegangi perutnya.
"Rasakan, itu pembalasan untuk sahabat pengkhianat sepertimu," jawab Wulan sambil tertawa.
"Dasar bajingan kamu Wulan, anakku!" teriak Ratna saat melihat darah menetes diantara kakinya.
"Wah ternyata hanya dengan sekali dorongan kamu gagal menikah dengan Fian, lalu bagaimana jika aku menusukmu perutmu dengan pisau ini apa kamu dan bayimu akan mati bersamaan," ucap Wulan sambil mengusapkan pisau ke perut Ratna.
"Aku mohon Wulan jangan bunuh aku dan anakku, ampuni aku Wulan," jawab Ratna sambil memelas.
"Ampun, aku juga tidak tega membunuhmu karena kamu adalah sahabat baikku," ucap Wulan sambil terus mengusap pisau ke perut sahabatnya.
"Iya kamu benar, kita adalah sahabat baik," jawab Ratna sambil berusaha untuk tersenyum.
"Tapi itu dulu, jauh sebelum kamu mengkhianatiku, jangan kamu pikir kamu bisa bahagia di atas penderitaanku Ratna," ucap Wulan sambil menarik rambut Ratna.
Terlihat rasa takut dan khawatir di wajah Ratna. Berkali-kali dia memohon ampun kepada sang sahabat atas kesalahannya. Namun, Wulan yang sudah terlanjur benci dan menyimpan dendam kepada Wulan sama sekali tidak menggubris semua ucapan Ratna.
"Sampai jumpa sahabatku," jawab Wulan sambil berjalan meninggalkan rumah sahabatnya.
Fian dan Laras yang sudah puas melakukan hubungan suami istri. Tiba-tiba terkejut dengan suara ponsel Fian yang di letakkan di atas meja.
"Ratna," ucapnya sambil menoleh ke arah Laras.
"Lebih baik kamu angkat, mungkin saat ini dia sedang membutuhkanmu," perintah Laras sambil tersenyum dan berjalan ke arah kamar mandi dengan menggunakan selimut.
"Halo Asalammualaikum," ucap Fian setelah menerima panggilan tersebut.
"Apa! Baik aku akan segera kesana," jawab Fian sambil terlihat panik.
"Ada apa Mas?" tanya Laras yang terkejut mendengar teriakan suaminya.
"Lebih baik kita ke rumah Ratna sekarang," ajak Fian sambil langsung menggunakan pakaiannya.
"Memangnya apa yang terjadi kepada Ratna," tanya Laras dengan rasa penasaran dan khawatir.
"Lebih baik kamu cepat bersiap-siap, nanti aku jelaskan di perjalanan," perintah Fian kepada Laras yang masih menggunakan handuk.
__ADS_1