
Fian yang penasaran langsung keluar dari kamarnya dan langsung membuka pintu gerbangnya. Terlihat Siska yang sedang berdiri di depan bengkelnya sambil bertolak pinggang. Fian yang baru saja bangun dari tidurnya langsung menanyakan maksud kedatangan sang kakak.
"Ada apa sih Kak, malam-malam berteriak di depan rumah orang," tanya Fian sambil mengucek matanya.
"Mana Istrimu!" bentak Siska sambil mencari keberadaan Laras.
"Dia pulang ke orang tuanya, tadi siang aku yang antar," jawab Fian sambil duduk di sebuah kursi besi.
"Baru juga nikah sudah main pulang-pulang saja, dasar istri tidak punya tanggung jawab kepada suami!" teriak Siska sambil berdiri di hadapan sang adik.
"Aku yang menyuruhnya pulang untuk menjenguk orang tuanya, sebenarnya ada perlu apa kakak kesini!" bentak Fian sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Bilang sama Istrimu kalau selesai pakai air itu matikan, lihat tuh seharian ini di rumahku tidak mengalir air sama sekali, tadi aku tanya sama pembantumu dia bilang kamar kalian di kunci!" bentak Siska sambil bertolak pinggang.
"Oh masalah air, kakak tenang saja besok aku akan minta anak buahku untuk membuat air sendiri buat bengkel ini, sekarang kakak silahkan pulang karena aku mau istirahat," jawab Fian sambil menyuruh sang kakak keluar.
"Masalah air saja bawel," gerutu Fian sambil menutup pintu gerbangnya.
Fian memang masih menumpang air dari rumah Siska jadi apabila dipakai secara bersamaan air tersebut akan mengalir sangat kecil. Karena itulah Siska marah kepada Fian dan istrinya, dia merasa karena kecerobohan Laras dia hari ini hanya mendapat sedikit air. Siska bukanlah orang yang kaya seperti Fian, dia hanya berjualan mainan anak-anak dan petasan sedangkan sang suami hanya seorang kuli panggul di sebuah pasar.
keesokan harinya Fian meminta salah satu anak buahnya untuk mencari tukang bor sumur, setelah menjelaskan dimana sang tukang harus membuat sumur Fian pun langsung menjalankan mobilnya menuju ke proyek. Setelah hampir seharian dia berada di proyek Fian langsung mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Laras. Namun, sebelum ke rumah Laras dia menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah toko buah yang nantinya akan diberikan kepada sang istri. Laras yang saat itu sedang beristirahat langsung bergegas keluar setelah mendengar suara sebuah mobil berhenti didepan rumahnya.
"Mas Fian, apa jangan- jangan dia akan menjemputku hari ini," batin Laras sambil berdiri di depan pintu.
"Assalamualaikum," ucap Fian sambil berjalan memasuki halaman rumah Laras.
"Waalaikumsalam," jawab Laras sambil berjalan ke arah sang suami dengan tersenyum bahagia.
"Bagaimana kabarmu," tanya Fian sambil mengulurkan tangannya.
"Baik Mas," jawab Laras sambil mencium tangan sang suami.
"Sepertinya kamu demam," tanya Fian penasaran sambil memegang dahi sang istri.
"Iya, sepertinya hari ini aku tidak enak badan," jawab Laras sambil menggandeng tangan sang suami.
"Bagaimana kalau sekarang kita ke rumah sakit," ajak Fian sambil terus memegang dahi sang istri.
"Tidak perlu Mas, kedatanganmu saja sudah membuatku jauh lebih baik," ucap Laras sambil tersenyum.
Saat mereka akan duduk di kursi depan tiba-tiba Arman yang saat itu mendengar suara Fian langsung berjalan keluar. Arman yang melihat Laras sedang bercanda dengan Fian langsung menarik tangan sang putri dan menyeretnya masuk ke dalam rumah. Fian yang melihat kekerasan yang dilakukan Arman langsung mengejar Arman masuk ke dalam.
__ADS_1
"Jangan pernah berbuat kasar kepada Laras, aku memintanya tinggal disini bukan untuk kamu siksa," ucap Fian sambil menarik tangan Laras.
"Kamu tidak perlu ikut campur dengan urusan ku, dia ini putriku jadi aku berhak melakukan apapun kepadanya!" bentak Arman sambil melotot ke arah Fian.
"Dia memang putrimu, tapi ingat aku adalah suaminya, jadi aku yang lebih berhak mendidiknya daripada kamu," jawab Fian sambil menunjuk wajah sang mertua.
"Pak sudah, biarkan mereka bertemu Fian benar mereka sudah menikah jadi restui saja pernikahan mereka," ucap Sophia sambil menenangkan sang suami.
"Diam kamu!" bentak Arman sambil melepaskan tangan Sophia dari bahunya hingga membuat Sophia terjatuh.
"Lihat sikap anda, kepada Istri anda sendiri saja anda tidak tahu bagaimana cara memperlakukannya dengan baik, apalagi kepada putri anda," ucap Fian sambil tersenyum sinis.
"Dasar kurang ajar kamu!" teriak Arman sambil memukul wajah Fian hingga dia terjatuh di lantai.
"Bapak!" teriak Laras sambil berlari membantu sang suami.
Arman yang sudah sangat marah terus berusaha menarik Laras untuk menjauh dari Fian. Namun, dengan kuat Laras terus memegang lengan Fian sambil terus menangis dan memohon agar sang ayah mau merestui mereka. Arman yang sudah dirasuki oleh amarah langsung menarik tubuh Laras dengan kasar.
"Plakk," tiba-tiba Arman memukul Laras hingga membuatnya terbentur ke sebuah tembok.
"Dasar bajingan," ucap Fian sambil mendorong tubuh kekar sang mertua ke sebuah tembok yang ada dibelakangnya.
"Aku peringatkan kepadamu jangan pernah menyakiti istriku, atau aku tidak segan-segan untuk membunuhmu!" teriak Fian sambil terus mencekik Arman menggunakan lengannya.
"Ibu mohon Nak, lepaskan suami Ibu," ucap Sophia sambil menangis di hadapan Fian.
Fian yang tidak tega melihat air mata Laras dan Sophia langsung melepaskan Arman yang sudah lemas karena kesulitan bernafas. Laras yang saat itu berdiri di samping Fian tiba-tiba merasa pusing. Hingga tanpa disadari tiba-tiba pandangan Laras menjadi gelap hingga membuatnya jatuh pingsan dihadapan sang ibu.
"Laras, bangun Sayang," ucap Fian sambil memukul-mukul pipi Laras dengan pelan.
"Nak, lebih baik kita bawa Laras ke rumah sakit sekarang," ajak Sophia kepada Fian.
"Jangan coba-coba menyentuh tubuh putriku!" bentak Arman kepada Fian.
Fian tidak mempedulikan bentakan dari sang ayah mertua. Dia terus berusaha menggendong tubuh Laras yang sedang tidak sadarkan diri dan meletakkannya di kursi mobil bagian belakang dengan ditemani oleh Sophia. Sejenak Fian menoleh ke arah Arman yang masih mematung di depan pintu.
"Pak ayo cepat masuk ke mobil!" perintah Sophia sambil berteriak.
Sepanjang perjalanan Arman dan Fian tidak saling berbicara. Hingga saat tiba di rumah sakit Laras yang masih tidak sadarkan diri langsung dibawa ke UGD. Fian dan orang tua Laras hanya bisa menunggu di koridor rumah sakit.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan putriku aku akan langsung menuntutmu," ancam Arman sambil menoleh ke arah Fian yang sedang duduk termenung.
__ADS_1
"Sudah Pak, ini bukan salah Fian tapi ini kesalahan kita, kita yang sudah membuat Laras seperti sekarang," ucap Sophia sambil menangis di hadapan sang suami.
"Kok Ibu jadi membela bajingan ini," tanya Arman heran.
"Ibu bukan membela, tapi apa yang dikatakan Fian benar bukan usia yang dilihat,tapi bagaimana cara suami bersikap yang bisa membahagiakan istri. Ibu mohon Pak restuilah pernikahan Laras dan Fian," ucap Sophia sambil memohon kepada sang suami.
Arman yang mendengar ucapan sang istri hanya terdiam dan membalikkan badan membelakangi Fian dan Sophia. Saat mereka sedang cemas menunggu kabar dari Dokter yang sedang memeriksa Laras. Tiba-tiba seorang suster keluar dari ruangan UGD.
"Maaf apa ada keluarga Nyonya Laras!" teriak seorang suster sambil menyebut nama Laras.
"Saya suaminya sus," jawab Fian sambil berlari ke arah sang suster.
"Saya ayahnya," ucap Arman sambil berdiri di samping Fian.
"Tenang Bapak, kondisi pasien baik-baik saja hanya memerlukan perawatan beberapa hari saja, Bapak Fian Dokter Mega menunggu anda di dalam," jawab sang suster sambil tersenyum ramah.
"Kenapa harus laki-laki itu, harusnya aku karena aku 'kan Bapaknya," ucap Arman dengan kesal.
"Sudah Pak, nggak enak di dengar orang," jawab Sophia sambil mengajak Arman duduk di sebuah kursi.
Di dalam ruang UGD Fian melihat Laras yang sudah mulai sadarkan diri. Laras yang saat itu terbaring di tempat tidur terlihat begitu pucat. Senyum yang diberikan Laras kepadanya terlihat sangat dipaksakan.
"Bagaimana kondisi Istri saya Dok," tanya Fian sambil membelai rambut sang istri.
"Nyonya Laras baik-baik saja Pak, dia hanya perlu dirawat selama 3 hari untuk memulihkan kondisinya," jelas Dokter Mega dengan ramah.
"Memangnya Istri saya sakit apa Dok," tanya Fian panik.
"Selamat ya Pak, Istri anda saat ini sedang hamil 3 minggu," jawab Dokter Mega sambil tersenyum.
"Hamil," tiba-tiba terdengar suara Arman yang ternyata sudah berada di dalam ruang UGD.
3 hari berlalu dengan cepat, kini Laras di izinkan pulang ke rumah. Fian yang saat itu baru saja menyelesaikan biaya administrasi rumah sakit dikejutkan dengan kedatangan Arman dan Sophia secara tiba-tiba sambil membawa seorang laki-laki paruh baya. Fian yang penasaran langsung menanyakan kepada Sophia tentang siapa laki-laki tersebut.
"Siapa laki-laki ini Bu," tanya Fian kepada Sophia.
"Tenang Nak, Bapak sudah merestui kalian berdua dan hari ini Bapak yang akan menjadi wali nikah kalian dengan didampingi Bapak Ahmad sebagai penghulu," jelas Sophia sambil tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah," ucap Laras bahagia.
"Tapi pernikahan ini tidak bisa dilakukan sekarang," jawab Fian sambil menoleh ke arah Laras.
__ADS_1