
Setelah sampai di dalam kamar Laras langsung menidurkan Safira di box bayi. Dia pun langsung Berjalan ke arah sang suami yang saat itu sedang duduk disebuah kursi sambil melepaskan sepatunya. Setelah duduk di samping Fian, Laras langsung menggenggam tangan suaminya.
"Mas, maaf kalau tadi siang aku sudah menyakiti Wulan," ucap Laras sambil menggenggam tangan sang suami.
"Aku tidak mempermasalahkannya, yang aku heran kenapa akhir-akhir ini kamu lebih berani dan bisa membela diri," jawab Fian sambil menoleh ke arah Laras.
"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu. Mungkin semua ini efek dari rasa lelahku yang selalu dihina dan dibenci orang-orang terdekatmu," ucap Laras sambil menghembuskan nafas panjang.
"Aku harap kamu tidak perlu terlalu memikirkan apa yang terjadi, aku tidak mau kamu sakit karena terus memikirkan orang-orang yang membencimu," jawab Fian sambil tersenyum dan mencium kening sang istri.
"Iya, insya Allah aku akan tetap tenang dan tidak memikirkan apapun yang bisa membuatku stress," jawab Laras sambil tersenyum.
"Kalau begitu aku mandi dulu, karena sejak tadi sore aku belum sempat menjalankan ibadah sholat magrib," ucap Fian sambil berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi.
Laras yang duduk seorang diri di dalam kamar. Langsung berdiri dan berjalan ke arah box bayi. Terlihat tubuh kecil putri kesayangannya yang terlelap dalam tidurnya.
"Bubu senang Shafira sudah ada di dekat Bubu, semoga Allah memberikan kesehatan dan umur panjang agar Bubu bisa terus merawat dan menemani Shafira," ucap Laras sambil tersenyum memandang wajah sang putri.
"Amiin, kita pasti akan bisa merawat Safira dengan baik dan sampai dia tumbuh menjadi seorang gadis cantik dan solehah, " jawab Fian yang sudah berdiri di belakangnya.
"Kamu sudah selesai mandinya Mas, " tanya Laras saat melihat sang suami sudah berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Sudah, sekarang cepat kamu mandi karena waktu Isya sudah tiba bukankah tadi kamu juga belum shalat, " jawab Fian sambil berjalan mendekati sang istri lalu memeluknya dari belakang.
Mendengar perintah sang suami Laras pun bergegas berjalan ke arah kamar mandi. Di tempat berbeda Wulan yang hari itu benar-benar dibuat malu oleh Laras merasa sangat sakit hati. Dia berusaha mencari cara bagaimana untuk membalaskan dendamnya kepada istri dari Sang Mantan Kekasih.
"Aku tidak boleh tinggal diam dengan apa yang Laras perbuat kepadaku hari ini, Aku pastikan hidup mereka tidak akan bahagia selamanya, " ucap ulang yang saat itu sudah berada di dalam kamarnya.
Saat Wulan sedang termenung memikirkan Bagaimana cara untuk membalas Laras. Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya. Setelah mempersilahkan masuk, terlihat sang ibu Berjalan ke arahnya dengan tergesa-gesa.
"Nak, apa benar jika Ratna ditemukan tewas di di rumahnya? " tanya sang ibu kepada Wulan yang saat itu sedang duduk di tempat tidurnya.
"Apa! Ibu yakin kalau Ratna meninggal, siapa yang memberitahu ibu jika Ratna telah ditemukan tewas di rumahnya," jawab Wulan dengan terkejut seolah dia tidak mengetahui jika sang sahabat masa kecil telah meninggal dunia.
"Jadi benar kamu tidak tahu jika Ratna telah meninggal dunia? " tanya Ibu Surti kepada sang putri.
"Begini Nak, tadi ada Polisi datang ke sini mencarimu dan Mereka bilang mereka ingin memanggilmu ke kantor polisi untuk menjadi saksi atas kematian Ratna beberapa bulan yang lalu, " jelas bu Surti sambil menatap wajah sang putri tercinta.
"Polisi, Kenapa harus aku yang dijadikan sebagai saksi atas kematian Ratna sedangkan aku sendiri tidak tahu jika Ratna itu meninggal loh Bu, " jelas Wulan sambil terlihat sangat Gugup saat mendengar nama Polisi disebut oleh sang ibu.
"Ibu tidak tahu, tapi yang pasti mereka meninggalkan surat panggilan ini untukmu dan mereka minta lusa kamu datang ke kantor Polisi untuk bersedia menjadi saksi atas kematian Ratna, " jelas Ibu Surti sambil menyerahkan sebuah amplop kepada Wulan.
Setelah menyerahkan amplop tersebut kepada sang putri. Surti langsung berdiri dan segera keluar dari kamar Wulan. Wulan pun langsung membuka isi surat yang baru saja diberikan oleh sang ibu kepadanya.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus segera pergi dari kota ini, karena aku tidak mau Polisi mencurigaiku sebagai pembunuh Ratna, " batin Wulan sambil melipat kembali surat yang ada di genggaman tangannya.
Keesokan harinya Wulan yang saat itu sudah ketakutan akan panggilan yang dia dapat dari kantor Kepolisian. Langsung berkemas-kemas untuk segera meninggalkan kota kelahirannya menuju ke sebuah pulau yang jauh. Surti yang curiga dengan gelagat Sang Putri langsung masuk ke dalam kamar Wulan
"Kamu mau ke mana Nak, " tanya Surti sambil duduk di tempat tidur Wulan.
"Wulan mau pergi ke Medan, "jawab Wulan sambil mengemasi pakaiannya.
"Medan, apa kamu mau pergi ke rumah Bibi Maya? Memangnya ada apa Kenapa tiba-tiba kamu ingin pergi ke sana, " tanya Surti yang seolah bingung dengan apa yang dilakukan oleh Wulan saat ini.
"Semalam Kak Anita menelpon Wulan, dia meminta Wulan untuk segera berangkat ke Medan untuk membantunya merias pengantin, karena beberapa anak buahnya sedang melakukan cuti, " ucap Wulan sambil berhenti memasukkan pakaian ke dalam tas dan duduk di samping sang ibu.
"Oh begitu, Ibu memang dengar dari Bibi kalau Kak Anita usahanya semakin hari semakin maju, tapi kalau kamu ke sana sekarang bagaimana dengan panggilan polisi yang memintamu datang untuk menjadi saksi atas kematian Ratna, " jawab Surti sambil memegang tangan Wulan.
"Kalau Polisi itu datang lagi bilang saja Wulan sedang pergi keluar kota, nanti ketika semua urusan Wulan selesai akan langsung datang ke kantor polisi dan menjadi saksi atas kematian Ratna, " jawab Wulan sambil tersenyum kepada sang ibu.
"Maafkan Wulan Bu, Wulan tidak bermaksud membohongi Ibu, tapi jika Wulan tetap nekat bersedia menjadi saksi atas kematian Ratna aku takut jika nantinya justru akulah yang akan dipenjara, " batin Wulan sambil menatap mata sang ibu.
"Wulan, Apa yang kamu pikirkan Nak? " tanya Surti Hingga membuat Wulan terkejut dan sadar dari lamunannya.
"Tidak Bu, sebenarnya Wulan berat meninggalkan Ibu di sini tapi kasihan jika Anita harus mengelola bisnisnya sendiri, Wulan janji akan segera pulang menemui Ibu, " Jawab Wulan sambil tersenyum lalu mencium kedua pipi sang ibu.
__ADS_1
Setelah berbincang-bincang sesaat bulan pun langsung berpamitan untuk segera pergi meninggalkan rumahnya. Terlihat terasa berat dari mata Surti saat melepaskan putri bungsunya pergi ke luar pulau Seorang diri. Namun, karena permintaan sa dia pun berusaha untuk ikhlas melepas Wulan pergi ke pulau seberang.