Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 56


__ADS_3

Setelah mencium sang putri dan istrinya, Fian langsung bergegas berangkat ke proyek. Hari ini Fian sengaja datang ke proyek untuk menemui Arman karena ingin membicarakan masalah hubungannya dengan Ratna. Namun, saat Fian sudah berada di proyek Arman yang ingin ditemui justru tidak ada dilokasi.


"Sepertinya Pak Arman ada di rumahnya, lebih baik aku kesana sekarang agar masalah ini segera selesai," batin Fian saat sudah berada di dalam mobilnya.


***


"Assalamualaikum," ucap Fian sambil mengetuk rumah mertuanya dengan perlahan.


"Waalaikumsalam!" jawab Arman sambil sedikit berteriak dari dalam dapur.


"Ada apa kamu ke rumahku?" tanya Arman saat melihat sang menantu ada di hadapannya.


"Maaf jika kedatangan saya mengganggu Bapak, tapi ada hal yang ingin saya jelaskan kepada Bapak dan Ibu," jawab Fian kepada sang mertua.


"Baik kalau begitu silahkan masuk, kebetulan ada yang ingin saya sampaikan juga kepadamu," perintah Arman sambil mempersilahkan sang menantu masuk dan duduk di sofa.


"Ma! Mama, tolong buatkan kopi untuk Fian," teriak Arman kepada Sophia yang saat itu sedang sibuk memasak di dapur.


"Iya, sebentar!" jawab Sophia sambil berteriak dari dalam dapur.


Tidak berapa lama Sophia keluar dengan membawa sebuah nampan berisi dua cangkir kopi panas untuk suami dan menantunya. Setelah meletakkan kopi di atas meja, Fian meminta sang ibu mertua untuk duduk sebentar agar dia bisa mendengar penjelasan yang akan Fian berikan.


"Kalau begitu silahkan Bapak jelaskan dulu apa yang ingin Bapak jelaskan kepada saya," ucap Fian kepada Arman.

__ADS_1


" Bapak ingin mengundurkan diri dari jabatan yang kamu berikan, dan Saya minta ceraikan putri saya karena dunia akhirat saya tidak terima jika putriku kamu khianati dengan perempuan murahan seperti mantanmu itu," tegas Arman kepada sang menantu.


"Pa, apa Papa yakin dengan apa yang Papa ucapkan?" tanya Sophia kepada Arman.


"Aku yakin, kamu tunggu disini ada surat yang harus kamu tanda tangani sekarang juga," ucap Arman sambil berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.


"Kamu di sini dulu ya, Ibu mau masuk ke kamar dulu," ucap Sophia sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Fian.


***


"Surat apa itu Pa?" tanya Sophia saat melihat Arman membawa sebuah map hijau yang dia ambil dari dalam lemari pakaian.


"Surat cerai Laras dan Fian, Papa ingin Fian menandatangani surat ini sekarang juga karena akan segera Papa serahkan kepada pengadilan besok pagi," jawab Arman sambil berjalan ke luar kamar.


"Surat cerai, kapan dia membuat surat itu?" batin Sophia sambil duduk termenung di atas tempat tidurnya.


"Saya tidak akan pernah menceraikan Laras, asal Bapak tahu hubungan saya dan Wulan sudah berakhir jauh sebelum saya mengenal Laras. Memang dia sering menghubungi saya bahkan meminta saya untuk kembali kepadanya namun saya tidak menanggapinya dan Laras juga tahu akan hal itu ," jelas Fian kepada Arman sambil meletakkan surat cerai di atas meja.


"Kamu pikir bisa membohongi saya dengan ucapan manismu  seperti kamu membohongi Laras," jawab Arman sambil tersenyum sinis kepada sang menantu.


"Tidak ada gunanya saya membohongi Bapak, di dalam tas ini ada beberapa surat penting salah satunya surat rumah  yang sudah saya balik nama menjadi nama Laras dan surat perusahaan yang menyatakan jika 50% saham adalah milik Laras dan 30% milik Shafira sebagai ahli waris dan 20% lagi adalah milik saya, sebenarnya saya ingin memberikan semua ini nanti ketika saatnya tiba, tapi saya rasa Bapak harus tahu masalah ini. Kenapa saya sudah mempersiapkan semua aset saya untuk anak dan istri saya karena saya takut tidak bisa menjaga mereka lebih lama," jelas Fian sambil memberikan berkas-berkas penting kepada Laras.


Arman langsung mengambil berkas yang diberikan Fian kepadanya. Perlahan dia mulai membuka halaman demi halaman dan membacanya. Arman terlihat sangat terkejut melihat apa yang saat ini ada di tangannya.

__ADS_1


"Saya tidak melarang ataupun meminta Bapak unťuk tetap bekerja di perusahaan konstruksi saya, tapi kapan pun Bapk ingin kembali bekerja silahkan karena perusahaan itu juga milik putri Pak Arman," ucap Fian sambil memasukkan kembali berkas-berkas tersebut di dalam tasnya.


"Sekarang cepat tanda tangan surat cerai itu," perintah Arman kepada Fian.


"Mas Fian tidak akan menandatangani surat cerai itu, dan semua aset yang Mas Fian sebutkan itu masih hak milik Mas Fian bukan Laras," tiba-tiba terdengar suara Laras hingga membuat Arman dan Fian terkejut dan menoleh ke arah suara.


"Sayang, bagaimana kamu bisa tahu aku ada disini?" Tanya Fian yang terkejut saat melihat Laras sudah berdiri di depan pintu.


"Tidak penting aku tahu darimana, yang pasti kamu sudah membohongiku bukankah kamu bilang akan ke proyek untuk bertemu seseorang, lalu kenapa kamu ada di sini?" Jawab Laras sambil berjalan mendekati sang suami.


"Maaf Sayang aku tidak bermaksud membohongimu, aku hanya ingin menjelaskan ke Papa mu jika aku dan Wulan memang tidak ada hubungan apa-apa," jawab Fian sambil memegang tangan Laras.


"Biar aku yang menjelaskannya kepada Papa ku," ucap Laras sambil menoleh ke arah Arman dan berjalan mendekati sang papa.


Perlahan Laras mulai mendekati Arman yang berdiri di hadapan Fian. Terlihat jelas rasa cemas dan khawatir dari wajah Arman saat melihat Laras mulai mendekatinya sambil menggendong Shafira. Sambil tersenyum Laras mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan apa hubungan antara Wulan dan Fian sebenarnya.


"Papa hanya tidak mau kamu dikhianati oleh laki-laki ini Nak," jelas Arman sambil terlihat gugup di hadapan sang putri.


"Papa tidak perlu repot-repot membuatkan aku surat cerai, karena itu hanya akan membuat tangan Papa capek sedangkan kami tetap tidak akan pernah bercerai walaupun Mas Fian ada hubungan dengan Wulan, tapi sayangnya Mas Fian adalah laki-laki setia dia tidak pernah memukul, membentak bahkan mengkhianati Laras walaupun sebentar, karena itulah Laras katakan kepada Papa kalau kami tidak akan pernah berpisah," jawab Laras sambil mengambil surat cerai yang ada di atas meja lalu merobeknya.


"Bagaimana Laras tahu jika aku ada di rumahnya," batin Fian sambil berdiri dan terdiam di belakang sang istri.


Setelah merobek surat itu Laras langsung menggandeng sang suami dan mengajaknya untuk pulang. Saat di dalam mobil Laras terlihat sibuk dengan ponsel yang ada di genggaman tangannya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah memberitahu jika Mas Fian ada di rumah," tulis Laras kepada sebuah pesan singkat.


"Sayang kamu tahu darimana jika aku ada di rumah orang tuamu?" Tanya Fian kepada Laras yang hanya di balas senyuman oleh sang istri.


__ADS_2