
"Jika kedatangan saya mengganggumu lebih baik saya pergi dari sini," ucap Arman sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Oh tidak Pak, kebetulan saya hari ini memang sedang ingin di bengkel seharian, silahkan duduk," jawab Fian sambil mempersilahkan Arman kembali duduk.
"Terima kasih," jawab Arman sambil kembali duduk di kursinya.
"Maaf kalau boleh saya tahu apa tujuan Bapak menemui saya?" tanya Fian saat dia sudah duduk di hadapan sang Ayah mertua.
"Maksud saya kesini, untuk mengucapkan terima kasih atas mobil dan uang yang kamu berikan kepada keluarga saya," jawab Arman dengan sedikit ragu.
Arman memang memiliki sifat egois serta gengsi yang tinggi. Dia memiliki prinsip tidak mau direndahkan dan dihina orang lain karena kemiskinannya. Itulah yang membuat Arman sering membenci orang disekelilingnya bahkan kepada menantunya sendiri.
"Sama-sama Pak, kebetulan saya ada sedikit rejeki jadi bisa memberikan sedikit hadiah untuk Bapak dan Ibu, maaf sebelumnya apa saya boleh bertanya sesuatu kepada Bapak," tanya Fian dengan sedikit tidak enak dan grogi dalam dirinya.
"Apa, silahkan," jawab Arman dengan sedikit kaku.
"Apa Bapak tidak sibuk, maaf bukan maksud saya menghina Bapak, saya hanya ingin menawarkan pekerjaan kepada Bapak sebagai pengawas di proyek baru yang sedang saya tangani saat ini, apa Bapak bersedia?" tanya Fian kepada Arman dengan perasaan takut jika mertuanya tersinggung dengan pertanyaannya.
"Kenapa kamu memberikan kepada saya, bukankah selama ini kamu sering ke proyek sendiri?" tanya Arman dengan penasaran.
"Laras saat ini sedang hamil, dan sekarang dia sedang dalam fase muntah parah jadi tidak mungkin saya meninggalkan Laras dalam kondisi lemah," jelas Fian sambil memainkan bolpoin di tangannya.
"Apa! Laras hamil?" tanya Arman sambil terkejut.
Mendengar kehamilan sang putri Arman langsung tersenyum bahagia. Arman begitu sangat menyayangi Laras. Bukan hanya karena dia anak tunggal, tapi juga karena dia paham apa yang dilakukan kepada Laras selama ini salah. Karena terlalu mementingkan pekerjaan dan kehidupan dunia dia jadi lupa bagaimana mendidik sang putri hingga membuatnya menjadi perempuan murtad.
"Apa boleh saya bertemu dengan putri saya?" tanya Arman kepada Fian yang hanya terdiam melihat sang mertua.
"Boleh Pak, mari saya antar ke kamar," ajak Fian kepada Arman dengan ramah.
Mereka pun akhirnya berjalan ke kamar Laras. Terlihat Laras yang sedang tidur di atas tempat tidurnya sambil mengusap perutnya dengan lembut. Sambil meneteskan air matanya Arman mulai mendekati sang putri yang terlihat lemas.
"Assalamualaikum," ucap Fian dan Arman secara bersamaan.
"Waalaikumsalam, Papa,," jawab Laras sambil terkejut saat melihat Arman sudah ada di dalam kamarnya.
"Kamu kenapa Sayang, apa kamu sakit," tanya Arman sambil membelai kepala Laras dengan lembut.
"Tidak Pa, Laras sehat Mas Fian juga sangat memperlakukan Laras dengan baik," jawab Laras dengan ketakutan sambil melirik ke arah sang suami.
"Papa tahu Nak, maafkan Papa karena selama ini sudah salah menilai Fian," jawab Arman sambil menggenggam tangan sang putri.
Sambil meneteskan air mata Laras langsung memeluk sang ayah. Dia tidak menyangka jika dibalik kerasnya hati Arman masih menyimpan sisi lembut kepadanya. Fian yang sejak tadi berdiri sambil melihat Laras dan Arman hanya bisa tersenyum.
"Alhamdulillah, maha suci engkau ya Allah kini hubunganku dan mertuaku bisa lebih baik dari kemarin," batin Fian sambil tersenyum.
__ADS_1
"Fian, apa tawaran sebagai pengawas di proyek masih berlaku?" tanya Arman sambil melepaskan pelukan Laras.
"Iya Pak," jawab Fian sambil sedikit terkejut.
"Pengawas proyek, maksud Papa?" tanya Laras dengan penasaran.
"Fian meminta Ayah menjadi pengawas di proyek, karena dia ingin terus menjagamu selama kamu hamil," jelas Arman sambil tersenyum kepada Laras.
"Iya Sayang, kehamilanmu sekarang sedikit bermasalah apalagi dengan muntah dan lemas yang selalu terjadi membuatku sedikit khawatir, jadi aku minta Papa untuk menggantikanku di proyek sampai kamu bersalin," jawab Fian sambil berjalan mendekati Laras yang duduk di atas tempat tidur.
Kehamilan Laras yang sudah memasuki usia 4 bulan memang membuatnya sedikit lemas. Bahkan hampir seharian dia merasakan mual dan muntah yang sangat hebat. Sehingga membuat Laras terlihat pucat dan lemas.
"Kalau begitu kamu istirahat saja dulu, karena Papa mau pulang," ucap Arman sambil mengulurkan tangannya kepada Laras.
"Iya Pa, salam buat Mama," pesan Laras sambil mencium tangan Arman.
"Fian saya pamit dulu, insya allah besok saya kemari lagi," ucap Arman sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Baik Pak, besok saya akan mulai perkenalkan Bapak kepada seluruh pekerja di proyek, mari saya antar ke depan Pak," ucap Fian sambil menoleh ke arah Arman yang sudah berdiri di samping tempat tidur.
"Sudah tidak perlu, kamu temani Laras saja sepertinya dia sangat membutuhkan kamu di sampingnya," jawab Arman sambil mengulurkan tangannya ke Fian.
"Baik kalau begitu, Bapak hati-hati di jalan dan titip salam buat Bu Sophia,l ucap Fian sambil menjabat tangan Arman dan menciumnya.
Melihat keakraban Fian dan Arman, Laras begitu sangat bahagia. Sambil tersenyum dia mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat berisi. Dia berharap apa yang dilihatnya hari ini menjadi awal yang baik untuk kehidupannya dengan Fian.
"Sayang, kenapa kamu tersenyum sendiri?" tanya Fian sambil menggenggam tangan sang istri.
"Ah apa Mas?" tanya Laras yang mulai tersadar dari lamunannya.
"Kenapa kamu melamun dan tersenyum sendiri seperti tadi?" tanya Fian sambil tersenyum melihat tingkah Laras.
"Aku hanya bahagia melihatmu dan Papa bisa bersatu dan terlihat akrab seperti tadi, semoga ini awal dari kebahagiaan kita ya Mas," ucap Laras sambil tersenyum dan menggenggam tangan Fian.
"Amin, sudah pukul 1 siang aku mau shalat dzuhur dulu, apa kamu juga mau shalat berjamaah," tanya Fian sambil berdiri.
"Mau, tapi badanku belum kuat untuk berdiri," jawab Laras dengan muka sedih.
"Sayang, islam tidak pernah memberatkan umatnya dalam beribadah, kalau kamu tidak mampu berdiri kamu bisa shalat dengan cara duduk, atau dengan berbaring seperti sekarang," jawab Fian sambil mengusap rambut Laras dan tersenyum.
"Iya aku mau Mas, tapi bantu aku untuk ambil air wudhu ya," ucap Laras sambil mengulurkan tangannya.
Fian memapah Laras ke kamar mandi dengan perlahan-lahan. Setelah berwudhu Fian langsung membantu sang istri duduk di tempat tidur sambil bersandar. Setelah selesai shalat Fian langsung berjalan ke arah dapur untuk makan siang.
"Mbok tolong siapkan makanan untuk saya," perintah Fian sambil duduk di sebuah kursi.
__ADS_1
"Baik Pak, oh iya Pak katanya besok seluruh karyawan termasuk saya diliburkan satu minggu ya?" tanya Mbok Ijah sambil mulai menghidangkan makan siang untuk majikannya.
"Iya Mbok, saya harap semua bisa menikmati uang itu bersama seluruh keluarga besar," jawab Fian sambil mulai minum air putih yang ada di dalam gelas.
"Kalau saya tidak pulang bagaimana Pak, apa diizinkan," tanya Mbok Ijah sambil meletakkan sayur asem di atas meja.
"Kenapa Mbok tidak pulang, dan masih mau terus bekerja," tanya Fian dengan penasaran.
"Rencananya saya mau ambil libur 3 hari, tapi keburu Pak Fian kasih liburnya sekarang, jadi rencana saya libur sekarang tidak saya ambil dan akan saya ambil satu minggu kemudian," jelas Mbok Ijah sambil terus sibuk dengan tugasnya.
"Memang ada apa sampai Mbok ambil liburnya dua minggu lagi?" tanya Fian sambil mulai menyendok nasi.
"Cucu saya sunat Pak, jadi mumpung dapat bonus 10 juta dari Pak Fian Mbok mau bikin pengajian di rumah," jelas Mbok Ijah yang hampir selesai menyiapkan makanan untuk Fian.
"Terserah Mbok saja, oh ya tolong siapkan makan siang untuk Laras biar nanti saya yang bawa ke kamar," perintah Fian kepada Mbok Ijah sambil mulai memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
Setelah selesai makan siang dan menikmati sebatang rokok di tangannya. Fian pun bergegas kembali ke kamarnya untuk mengantar makan siang kepada Laras. Namun, sebelum dia berjalan ke kamarnya dia berpesan kepada Mbok Ijah untuk mencari pengganti selama dia pulang ke kampung.
"Sebelum pulang tolong cari orang buat gantikan Mbok Ijah sementara, yang penting dia pandai memasak seperti Mbok," pesan Fian sambil mengangkat nampan yang ada di hadapannya.
"Baik Pak, insya Allah saya akan carikan pengganti yang amanah dan pintar masak," jawab Mbok Ijah sambil tersenyum.
***
"Assalamualaikum," ucap Fian sambil membuka pintu kamarnya.
"Waalaikumsalam Mas," jawab Laras yang sedang duduk di tempat tidur.
"Kamu makan dulu ya, hari ini aku meminta Mbok Ijah masak makanan kesukaanmu," ucap Fian sambil mulai menyendok makanan dan diberikan kepada sang istri.
Suapan demi suapan di berikan Fian dengan lembut. Laras yang biasanya susah sekali makan kini lebih bisa menerima nasi yang masuk ke mulutnya walaupun masih dengan porsi sedikit. Setelah menyuapi sang istri dan memberikan vitamin yang diberikan sang dokter, Fian langsung pamit untuk ke ruang kerjanya.
"Kamu istirahat ya, aku mau kembalikan piring ini ke dapur dan langsung kembali ke ruang kerjaku," ucap Fian sambil mengusap bibir Laras yang basah karena air minum.
"Mas, apa kamu tidak bisa menemaniku di sini," ucap Laras sambil sedikit merengek.
"Iya aku akan temani kamu di kamar ini seharian penuh, apapun akan aku berikan untuk istri dan anakku tersayang," ucap Fian sambil tidur di samping Laras dengan posisi memeluk Laras dari belakang.
"Mas, bagaimana Jika anak kita perempuan?" tanya Laras dengan tiba-tiba.
"Tidak masalah, mau laki-laki ataupun perempuan buatku tidak masalah yang terpenting dia sehat dan semoga kelak dia bisa menjadi hafidz qur'an dan bisa mengamalkan apa yang diajarkan oleh agama dengan baik," jawab Fian sambil terus memeluk Laras dengan erat.
"Aduh!" teriak Laras dengan tiba-tiba sambil memegangi perutnya.
"Kamu kenapa Sayang, apa karena aku terlalu keras memelukmu?" tanya Fian dengan panik dan bingung.
__ADS_1