Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 21


__ADS_3

Setelah meremas dan membakar surat kaleng tersebut Fian langsung masuk ke kamarnya. Terlihat olehnya Laras yang saat itu sedang khusyuk melaksanakan shalat sunnah dhuha. Fian yang saat itu ingin berpamitan memutuskan untuk menunggu sang istri di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


"Kamu belum berangkat ke proyek Mas," tanya Laras yang baru saja selesai menjalankan shalat sunnahnya.


"Belum, aku sengaja menunggumu sampai selesai shalat," jawab Fian sambil meletakkan ponselnya kedalam saku kemejanya.


"Kenapa, apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan kepadaku," tanya Laras sambil melipat mukena nya.


"Tidak, duduk sini sebentar," jawab Fian sambil menepuk tempat tidurnya.


Setelah melipat dan meletakkan peralatan shalatnya diatas meja Laras langsung menghampiri suaminya. Terlihat wajah yang bersih dan cantik karena terlalu seringnya terkena air wudhu. Sesaat Fian memandang sang istri yang ada di hadapannya hingga dengan spontan dia langsung mendekap tubuh Laras. 


"Ada apa Mas?" tanya Laras dengan penasaran.


"Aku hanya ingin memelukmu, aku baru sadar jika ternyata aku begitu mencintaimu," jawab Fian sambil memeluk Laras dengan erat.


"Aku juga sangat mencintaimu Mas, aku janji kalau aku akan selalu meletakkan namamu di setiap doaku," jawab Laras sambil memeluk tubuh sang suami.


"Aku bersyukur bisa memilikimu, Maha suci Allah yang telah memberiku seorang istri sholeha sepertimu," ucap Fian sambil mencium kening Laras.


"Aku seperti sekarang juga karena bantuanmu, kamulah yang menjadikanku wanita yang begitu mencintai Allah, rasul dan islam," jawab Laras sambil tersenyum kepada Fian.


"Jangan kemana-mana, nanti aku akan minta Mbok Ijah menemanimu sampai aku pulang dari proyek," pesan Fian yang kemudian mencium bibir sang istri.


"Iya aku akan tetap dikamar ini sampai kamu pulang," ucap Laras sambil memegang wajah sang suami dengan kedua tangannya.


Setelah pamit kepada sang istri, Fian menyempatkan diri ke dapur untuk bertemu dengan Mbok Ijah. Setelah menyampaikan pesan kepada Mbok Ijah, Fian langsung berjalan ke arah mobil yang sudah terparkir di depan bengkelnya. Terlihat jelas wajah khawatir Fian akan keselamatan sang istri.


"Bejo jaga bengkel dan Laras sampai aku pulang, ingat jangan biarkan siapapun atau apapun diberikan kepada Laras tanpa sepengetahuanku," pesan Fian kepada Bejo yang sedang berdiri di luar mobilnya.


"Siap Bos," jawab Bejo sambil sedikit membungkuk.


Sepanjang perjalanan rasa khawatir terhadap sang istri semakin begitu kuat. Timbul banyak tanggapan dan pertanyaan tentang siapa pelaku dari pengirim paket dan pesan singkat itu. Fian yang merasa tidak konsentrasi saat menjalankan mobilnya memutuskan untuk menghentikannya di pinggir jalan.


"Ya Allah hamba pasrahkan keselamatan istri dan calon anak hamba kepadamu," doa Fian sambil menengadah tangannya.

__ADS_1


Setelah berdoa Fian melanjutkan kembali perjalanan yang tertunda. Hari ini dia tidak dapat menemani sang istri dirumah, karena ada beberapa urusan yang harus dia selesaikan. Saat dia sedang berusaha berkonsentrasi dengan kemudinya tiba-tiba terdengar suara ponsel yang berdering dari saku celananya.


"Siapa yang menghubungiku," ucap Fian sambil menepikan mobilnya dan mengambil ponselnya.


"Halo, Mas aku mohon tolong aku Mas!" terdengar suara teriakan minta tolong dari seberang ponsel.


"Halo, siapa ini?" tanya Fian dengan nada panik.


"Cepat ucapkan selamat tinggal kepada Istri kesayanganmu," jawab seorang laki-laki yang ada di panggilan tersebut.


"Apa maksudmu, jangan macam-macam kamu!" bentak Fian kepada laki-laki tersebut.


Laki-laki tersebut langsung menutup ponselnya tanpa memberi jawaban yang pasti kepada Fian. Fian berusaha menghubungi kembali nomor yang baru saja masuk ke ponselnya. Namun, ternyata nomor tersebut sudah dalam kondisi tidak aktif.


"Ya Allah apa benar Laras dalam bahaya, lebih baik aku hubungi Laras dulu," ucap Fian sambil menekan nomer sang istri.


Berkali-kali Fian menghubungi nomor sang istri. Namun, tetap tidak ada jawaban. Bahkan Bejo orang kepercayaannya pun tidak dapat dihubungi.


"Kenapa tidak ada yang mengangkat telepon dariku," ucap Fian sambil terus mencoba menghubungi Laras dan Bejo.


Setelah melakukan pertemuan dan pengecekan kepada proyek yang sedang ditanganinya. Fian langsung meminta orang kepercayaannya di tempat itu untuk mengecek beberapa proyek yang lain. Sedangkan dia langsung bergegas mengemudikan mobilnya ke arah rumahnya.


"Anjas!" teriak Fian kepada salah satu orang kepercayaannya.


"Iya Bos," jawab Anjas sambil berlari ke arah Fian yang berdiri di depan mobilnya.


"Sekarang kamu berangkat ke beberapa proyek yang lain, wakilkan saya dalam pertemuan dan pengecekan karena hari ini saya harus segera pulang," jelas Fian sambil berjalan ke pintu mobilnya.


"Siap Bos," jawab Anjas singkat.


Fian yang sudah panik bergegas mengemudikan mobilnya. Muncul bayangan sang istri yang sedang menangis ketakutan. Timbul sebuah pertanyaan tentang keselamatan Laras saat ini.


"Ya Allah hamba mohon jaga dan lindungi Istriku," batin Fian sambil mengemudikan mobilnya dengan cepat.


"Kring … kring," kembali terdengar suara ponsel dari saku celananya.

__ADS_1


"Nomor yang tadi," ucap Fian sambil menerima panggilan tersebut.


"Mas! Cepat tolong aku!" lagi-lagi terdengar suara perempuan minta tolong.


"Halo ini siapa, jangan permainkan saya ya!" Fian kembali membentak suara tersebut.


"Nanti malam aku akan kirimkan jenazah istrimu," jawab laki-laki yang sama sambil tertawa terbahak-bahak dan langsung menutup ponselnya.


"Ya Allah semoga ini hanya keisengan seseorang saja," ucap Fian yang sangat ketakutan.


Sesaat Fian bersandar di kursi mobilnya sambil minum air mineral di sampingnya. Dia ingin sedikit menenangkan diri sebelum melanjutkan perjalanannya ke rumah. Entah kenapa Firasat buruk akan keselamatan sang istri terasa sejak tadi pagi.


"Harusnya tadi pagi aku mengajak Laras ikut denganku ke proyek, lagi pula dia bisa duduk di kantor atau mobil. Tapi proyek bukanlah tempat yang aman untuknya, apa lebih baik untuk sementara aku mengajak Laras tinggal ke rumah orang tuanya," batin Fian sambil memegang kepalanya dengan dua tangannya.


Setelah merasa sedikit tenang, Fian mulai melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah. Dari kejauhan terlihat dua orang berdiri dengan ditemani salah satu karyawannya. Fian yang sudah khawatir langsung memarkirkan mobilnya di dekat mereka berdiri hingga membuat ketiga laki-laki tersebut terkejut.


"Ada apa, apa yang sudah terjadi kepada Laras?" tanya Fian dengan begitu panik.


"Maksud Pak Bos apa?" tanya sang karyawan dengan bingung begitu juga dengan dua laki-laki asing itu.


"Bejo, mana Bejo aku harus segera menemuinya," tanya Fian sambil mengarahkan pandangannya ke arah seluruh bengkel.


"Dia sedang ma …." belum selesai sang karyawan menjawab Fian langsung masuk meninggalkan mereka ke dalam bengkel untuk mencari Bejo.


"Bejo! Bejo," teriak Fian sambil masuk ke area bengkel.


"Iya Bos!" teriak Bejo sambil berlari ke arah atasannya.


"Apa yang sudah terjadi selama saya tidak ada disini!" bentak Fian kepada Bejo sambil terlihat begitu panik.


"Tenang Bos, tenang," ucal Bejo sambil berusaha menenangkan Fian.


"Tenang! Kamu pikir aku bisa tenang disaat istri ku dalam bahaya," bentak Fian kepada Bejo sambil berteriak.


"Dalam bahaya," jawab Bejo sambil terlihat bingung. 

__ADS_1


__ADS_2