
Mendengar penghinaah Siska kepada Laras membuat Fian langsung menampar Siska dengan keras. Ardi yang sejak tadi berteriak memaki Siska seketika terdiam saat melihat Fian menampar Siska dengan begitu keras. Semua orang yang ada di situ seakan tak percaya jika Fian bisa bertindak begitu kasar kepada Siska seorang Kakak yang sudah merawatnya sejak kecil.
"Selama ini aku diam karena aku merasa kamu adalah Kakak yang harus selalu ku hormati, serta sejak aku berusia lebih tahun kamu sudah merawatku bahkan saat orang tua kita meninggal kamu yang selalu memperhatikanku, dan kini terpaksa aku menamparmu karena mulutmu ternyata lebih busuk dari sebuah sampah rumahan," ucap Fian sambil menatap Siska dengan tatapan kecewa.
"Itu karena kamu sudah di butakan oleh cinta, cinta pada perempuan yang salah!" bentak Siska sambil berteriak saat Fian berjalan keluar dari rumahnya.
"Aku harap ini terakhir kali kamu mengganggu kehidupan Fian dan Laras, jika aku dengar kamu mengusik mereka lagi jangan salahkan aku jika kamu dan seluruh anakmu aku seret keluar dari rumah ini," ancam Ardi kepada Siska.
"Buka mata Abang, aku yakin Abang sudah dipengaruhi perempuan anj**ng itu," ucap Siska sambil memegang pergelangan tangan Ardi.
"Tidak ada yang mempengaruhiku, bahkan Laras saja tidak bicara apapun kepadaku semua ini aku ketahui dari Fian adik kandungku sendiri. Aku hanya berpikir realistis saja, jika memang Laras bisa membuat Fian bahagia dan merawat Fian saat hari tuanya nanti kenapa harus kita pisahkan lagipula belum tentu kita bisa merawat Fian di masa depan, coba pakai akal sehatmu dengan baik sebelum kamu membenci seseorang," jelas Ardi sambil mengarahkan telunjuknya tepat di pelipis Siska.
Setelah puas menasehati sang adik Ardi bergegas menyusul Fian yang sudah terlebih dahulu meninggalkan rumah Siska. Namun, sayangnya saat Ardi sudah berada di ruang kerja hanya ada Rosa yang duduk seorang diri. Fian yang sudah kecewa dengan Siska langsung menyeret Laras masuk ke dalam kamar.
“Kemana Laras dan Fian?” tanya Ardi kepada Rosa.
“Mereka masuk ke dalam kamar, sesaat setelah mengikutimu Fian menarik tangan Laras dan membawanya ke dalam kamar,” jelas Rosa kepada sang abang.
“Aku tegaskan kepadamu mulai hari ini jauhi Kak Siska dan jangan pernah memintaku untuk berbuat baik kepadanya, karena dia tidak pantas untuk mendapatkan kebaikan dari kita,” ucap Fian dengan tegas hingga membuat sang istri menunduk.
“Sebenarnya ada apa Mas, bukankah kamu sendiri yang menggajarkan aku untuk berbuat baik kepada semua orang. kenapa sekarang kamu justru melarangku berbuat baik kepada Kakakmu sendiri,” tanya Laras dengan rasa penasaran.
“Asal kamu tahu, dia sudah menghinamu di depan Abang dan anak-anaknya, aku tidak menyangka jika Kakak ku memiliki mulut yang begitu busuk seperti sebuah sampah,” jawab Fian dengan nada emosi yang menggebu-gebu.
__ADS_1
“Sabar Mas, kamu duduk dulu disini aku akan minta Mbok Ijah buatkan teh hangat untukmu, " ucap Laras sambil kepada sang suami sambil tersenyum.
Setelah meminta Fian duduk d sebuah kursi Laras langsung berjalan ke arah pintu. Saat dia membuka pintu Laras terkejut karena Ardi sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Abang," ucap Laras saat melihat Ardi yang sudah berdiri di hadapannya.
“Maaf, apa Abang boleh bertemu dengan Fian?" tanya Ardi kepada Laras dengan rasa canggung.
"Tentu saja boleh Bang, silahkan masuk," jawab Laras sambil mempersilahkan Ardi masuk.
"Terima kasih," jawab Ardi sambil masuk ke dalam kamar Laras.
Setelah mempersilahkan Ardi masuk Laras segera keluar untuk menemui Mbok Ijah di dapur. Ardi yang sudah di dalam kamar sang adik seketika terdiam saat melihat Fian duduk termenung sambil memegangi dagunya. Ada penyesalan dalam diri Ardi saat melihat Fian termenung sambil menatap tembok dengan pandangan kosong.
"Iya Bang, ada apa," jawab Fian sambil mengusap butiran air matanya yang mulai menetes di pipinya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ardi sambil duduk di hadapan Fian.
"Aku tidak apa-apa Bang, aku hanya rindu orang tua kita," jawab Fian sambil tertunduk lemas.
"Aku tahu perasaanmu, Abang minta maaf karena selama ini Abang sudah terpengaruh oleh ucapan Siska," ucap Ardi sambil melepas kaca mata plus yang sedang digunakan.
"Aku menikahi Laras bukan karena dia cantik, kaya ataupun pintar jika boleh jujur aku menikahinya bukan hanya karena cinta, tapi karena aku ingin membantunya menjadi muslim yang baik. Jika dosa dan kemurtadan seseorang kalian jadikan alasan untuk menjauhinya, lalu bagaimana orang-orang murtad dan pendosa yang lain ingin belajar agama dan mencari jalan yang lurus, bukankah ilmu harus dibagi," jelas Fian hingga membuat Ardi terdiam.
__ADS_1
Sesaat Ardi hanya terdiam memikirkan ucapan Fian. Baginya apa yang diucapkan Fian ada benarnya, seharusnya sesama manusia harus saling merangkul kepada siapapun yang ingin belajar tentang islam bukan malah menjauhinya. Termasuk Laras dia berhak mendapat dukungan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya dia dan seluruh keluarganya justru membenci Laras hanya karena Laras pernah meninggalkan islam.
"Ya Allah, ampuni aku, karena aku sudah menjadi manusia yang egois bahkan sudah menjauhi manusia yang ingin mengenalmu," batin Ardi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Saat Ardi dan Fian saling terdiam karena apa yang telah terjadi selama ini. Tiba-tiba Laras yang sejak tadi berada di dapur datang dengan membawa sebuah nampan yang berisi dua buah cangkir kopi. Sambil tersenyum Laras mulai menyuguhkan cangkir diatas sebuah meja kecil yang ada di kamarnya.
"Silahkan diminum Bang," ucap laras sambil mempersilahkan Ardi dan Fian.
“Terima kasih,” ucap Ardi sambil mulai mengambil gelas yang tidak jauh dari tempat duduknya.
“Laras, ada yang ingin Abang bicarakan kepadamu,” ucap Ardi setelah meminum kopi buatan Laras dan meletakkannya kembali diatas meja.
“Silahkan Bang,” jawab Laras sambil duduk di samping sang suami.
“Apa benar kamu dulu seorang muslim?” tanya Ardi dengan rasa penasaran hingga membuat Laras terdiam.
“Ya Allah, apa aku harus mengorek lagi masa laluku yang kelam dan memalukan,” batin Laras sambil menoleh ke arah Fian yang hanya terdiam.
“Ceritakan Sayang, kamu tidak perlu takut seburuk apapun masa lalumu dan sebenci apapun mereka kepadamu itu tidak akan membuatku berhenti mencintaimu,” ucap Fian sambil tersenyum seolah tahu apa yang ada di pikiran sang istri saat ini.
“Iya Laras jika kamu tidak menceritakan semua asal usulmu di masa lalu bagaimana Abang bisa mengenalmu dan membelamu di hadapan keluarga besar kami,” sahut Ardi sambil tersenyum ramah.
Baru kali ini Ardi tersenyum ramah kepada Laras. Wajah seram yang selama ini terlihat dalam diri Abang iparnya berubah menjadi wajah yang sangat menenangkan Laras. Sesaat Laras terdiam melihat wajah sang Abang ipar yang tersenyum kepadanya.
__ADS_1
“Apa benar yang aku lihat saat ini, apa hanya ini hanya sebuah tipuan,” batin Laras dengan tatapan curiga.