Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 40


__ADS_3

"Kalau begitu lebih baik Bapak istirahat, lagi pula sekarang juga sudah malam kasihan Mbak Laras jika terlalu lama ditinggal sendirian," ucap Bejo kepada Fian.


"Besok tolong kamu handle semua urusan bengkel, dan tolong jangan ceritakan hal ini kepada seluruh karyawan," pesan Fian sambil berdiri dan berjalan ke kamarnya.


***


Keesokan harinya setelah shalat subuh, Fian langsung keluar kamar dan membeli semangkuk bubur ayam. Setelah menyiapkan mangkuk dan menyerahkan satu bungkus bubur kepada Bejo, Fian langsung berjalan ke arah kamarnya. Terlihat mata sembab, muka pucat yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Assalamualaikum Sayang," ucap Fian sambil duduk di atas tempat tidurnya.


"Waalaikumsalam, kamu sudah bangun Mas," jawab Laras yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Iya, sekarang kamu makan dulu ya Sayang," ucap Fian sambil mulai menyuapi istrinya dengan lembut.


"Mas, aku semalam mimpi bertemu dengan Ratna, aku melihat dia menangis sambil menatapku dan aku sempat mendengar dia mengucapkan kata maaf dan terima kasih,"ucap Laras sambil mengunyah bubur yang ada di mulutnya.


"Kita doakan saja dia tenang disana dan aku harap kamu bisa memaafkan apa yang sudah pernah dia lakukan kepada kita," jawab Fian sambil tersenyum dan terus menyuapi Laras dengan lembut.


"Ratna semoga kamu bisa tenang di alam sana, aku sudah memaafkan dan mengikhlaskan apapun yang pernah terjadi di antara kita," batin Fian sambil terus menyuapi Laras.


"Mas bagaimana kalau hari ini kita jemput Shafira," ucap Laras secara tiba-tiba.


"Untuk sementara biarkan Shafira di rumah Kakek dan Neneknya sampai kamu sehat, soal kebutuhan Shafira aku sudah mentransfer Papa dan Mama," jawab Fian sambil tersenyum.


"Tapi Mas …."belum selesai Laras menjawab Fian langsung mencium bibir mungil sang istri.


"Berikan aku waktu untuk memperbaiki semuanya, dan membangkitkan gairahmu yang hilang karena kesalahanku," ucap Fian setelah mengecup bibir mungil Laras.


"Hati ibarat sebuah cermin, apabila sudah pecah akan sulit untuk kembali utuh," jawab Laras sambil menatap sang suami.


"Tapi sebuah cermin yang sudah pecah masih bisa diperbaiki dengan cara disusun menggunakan lem," jawab Fian sambil tersenyum.


"Iya, tapi bekas pecahan itu pasti masih ada bahkan mungkin ada beberapa pecahan yang hilang," ucap Laras sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tidak masalah, aku akan berusaha menyusun dan mencari pecahan yang telah hilang," jawab Fian sambil kembali ******* bibir Laras.


Setelah meletakkan mangkuk bubur diatas meja Fian langsung ******* bibir Laras dengan lembut. Perlahan dia mulai membaringkan tubuh istrinya di tempat tidur. Laras yang masih merasa risih dan terus terbayang akan apa yang sudah suaminya lakukan kepada Ratna berusaha untuk tetap melayani Fian seperti biasa.


"Maaf Mas, aku belum bisa," ucap Laras sambil duduk di pinggiran tempat tidur.


"Iya tidak apa-apa, lebih baik kamu tenangkan dirimu aku mau ke dapur dulu untuk meletakkan mangkuk ini," ucap Fian sambil berdiri di samping tempat tidur dan memakai kembali kaos yang sudah sempat dia lepaskan.


"Assalamualaikum Pak," sapa Mbok Ijah dengan ramah.


"Waalaikumsalam Mbok, bisa tolong buatkan saya secangkir kopi dan bawa ke ruang kerja saya?" ucap Fian kepada Mbok Ijah yang sedang menyapu lantai.


"Iya Pak bisa, oh ya Pak beberapa bahan makanan sudah habis apa Mbak Laras hari ini tidak ke pasar?" tanya Mbok Ijah sambil memasak air.


"Hari ini Mbok saja yang ke pasar, karena Laras sedang tidak enak badan nanti uangnya akan saya berikan saat di ruang kerja," jawab Fian sambil berjalan ke ruang kerjanya.


Biasanya setiap satu minggu sekali Laras yang selalu ke pasar. Namun, sudah hampir 6 bulan sejak kepulangan Laras ke rumah orang tuanya. Mbok Ijahlah yang menggantikan tugas Laras, bahkan saat dia sudah di rumah pun Mbok Ijah yang masih harus berbelanja.


"Mbok Ijah!" teriak Siska saat melihat Mbok Ijah berjalan di depan rumahnya.


"Majikanmu sudah bercerai ya?" tanya Siska dengan sangat sombong.


"Astagfirullahaladzim, nggak baik Mbak bicara seperti itu, apalagi Pak Fian adalah Adik kandung Mbak Siska," jawab Mbok Ijah sambil menasehati Siska.


"Dasar perempuan tua miskin di tanya malah ceramah!" bentak Siska hingga membuat Mbok Ijah terkejut.


Mbok Ijah tidak menjawab ucapan Siska kepadanya. Dia langsung melanjutkan perjalanannya ke pasar. Siska yang kesal langsung cemberut dan masuk ke dalam rumahnya sambil terlihat kesal.


"Dasar perempuan tua peyot, pagi-pagi sudah membuat orang kesal," gerutu Siska sambil masuk ke dalam rumahnya.


"Kenapa sih Ma, pagi-pagi sudah ngedumel nggak jelas?" tanya Evi saat melihat mamanya menggerutu sambil masuk ke dalam rumah.


"Itu si Ijah pembantunya Om Adek, ditanyain baik-baik bukannya jawab malah ceramah," jawab Siska sambil menoleh ke arah Evi

__ADS_1


"Oh karena itu, ya sudah Mama mandi dulu sana biar tenang, barang dagangannya biar Evi yang rapikan di etalase," ucap Evi sambil berjalan keluar rumah.


Saat Siska masuk ke dalam kamar untuk mengambil handuk. Tiba-tiba dia mendengar suara ponsel yang diletakkan diatas meja. Siska yang sudah berada di depan pintu langsun berbalik dan mengambil ponsel tersebut.


"Halo," ucap Siska setelah panggilan tersebut mulai tersambung.


"Apa benar ini dengan Ibu Siska?" tanya seseorang dari seberang.


"Iya saya sendiri, maaf ini dari siapa ya?" tanya Siska sambil penasaran.


Laki-laki yang menghubunginya langsung menjelaskan maksud dan tujuannya menghubungi Siska. Siska yang tadinya terlihat kesal kepada Mbok Ijah langsung terkejut mendengar penjelasan laki-laki tersebut. Air matanya langsung menetes tanpa bisa dihentikan lagi.


"Innalillahiwainnailaihirojiun!" teriak Siska yang langsung terjatuh dan tak sadarkan diri.


"Ma! Mama, bangun Ma. Mama kenapa?" ucap Evi sambil menepuk pipi Siska dengan tangannya.


Setelah beberapa menit membangunkan sang Mama. Namun, tidak ada respon Evi langsung berlari ke arah rumah sang paman. Samb menangis Evi mulai mengetuk pintu gerbang bengkel Fian.


"Om, Om Adek!" teriak Evi sambil mengetuk pintu gerbang dan menangis.


"Ada Apa, kenapa kamu menangis," tanya Fian yang kebingungan melihat Evi menangis.


"Mama Om, Mama pingsan sudah 2 menit Evi bangunin tapi Mama justru tidak sadarkan diri," jelas Evi sambil menangis.


"Yang lain mana?" tanya Fian saat dia tidak melihat beberapa saudara Evi yang lain.


"Abang kerja dan Adik sekolah," jawab Evi sambil terus menangis.


Fian pun meminta Evi untuk menunggunya sebentar. Dan segera masuk ke kamar untuk memberitahu Laras tentang keadaan kakaknya. Mereka bertiga pun langsung bergegas menuju ke rumah Evi dengan khawatir.


"Kak, Kakak," ucap Fian sambil menggoyangkan badan Kakaknya.


"Sebenarnya apa yang terjadi sampai Mama mu pingsan?" tanya Laras kepada Evi yang duduk disamping Siska sambil menangis.

__ADS_1


"Evi juga tidak tahu Tante, tadi setelah menerima telepon Mama langsung menjerit dan pingsan," jawab Evi sambil menangis sesenggukan.


"Telepon?" ucap Laras mengerutkan dahinya.


__ADS_2