Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 44


__ADS_3

"Bagaimana kalau kita pergi bersama Papa, Mama dan Shafira, pasti akan lebih seru daripada berdua," usul Laras sambil tersenyum kepada Fian.


"Kalau menurut Mama lebih baik kalian berdua pergi sendirian saja, ya anggap saja ini bulan madu kedua kalian, iya 'kan Pa?" jawab Sophia sambil bertanya kepada Arman yang sedang menikmati sebungkus sate.


"Iya Mama benar, lebih baik kalian pergi berdua saja lagipula Papa juga harus mengurusi proyek baru yang baru saja Fian dapatkan," ucap Arman sambil minum segelas air putih di hadapannya.


Sophia dan Arman seolah tahu apa yang ada di pikiran Fian sehingga mereka dengan suka rela menolak ajakan putri semata wayangnya itu. Laras yang mendengar jawaban orang tuanya seketika terlihat murung. Namun, dengan sabar Sophia menjelaskan jika seorang suami istri jauh lebih enak pergi berdua agar bisa menumbuhkan rasa sayang yang lebih kepada pasangannya.


"Mama benar, aku memang ingin menumbuhkan rasa sayang dan cinta ku kepadamu, ya anggap saja ini honeymoon kedua kita," jawab Fian sambil tersenyum kepada Laras.


"Fian apa kamu sudah mencari tempat tinggal untuk kalian selama di sana?" tanya Sophia kepada menantunya itu. 


"Belum Bu, mungkin besok saya akan cari melalui internet," jawab Fian.


"Ya lebih baik kamu mencari sebelum kalian sampai di sana agar kalian bisa beristirahat dengan nyaman saat di Bali," ucap Sophia kepada Fian.


"Oh ya tadi kamu belum jawab pertanyaan kami saat di teras," ucap Arman yang langsung teringat akan sebuah pertanyaan yang belum sempat Fian jawab.


"Pertanyaan, pertanyaan apa yang Papa maksud?" tanya Laras sambil terlihat bingung.


"Papa tadi bertanya tentang Ratna perempuan yang sempat kau sebut saat kamu teriak, tentang apakah dia meninggal dalam keadaan hamil," jawab Arman sambil menoleh ke arah Laras yang terkejut.


"Papa tidak boleh tahu masalah Mas Fian dan Ratna, karena aku yakin Papa akan langsung kembali membencinya jika tahu yang sebenarnya," batin Laras sambil mengambil gelas yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Begini Pak, sebelumnya saya minta maaf. Ratna itu sebenarnya …." belum selesai Fian menjawab pertanyaan arman Laras langsung memotong ucapan Fian. 


"Ratna itu pembantu kami, dan kebetulan saat meninggal dia dalam keadaan hamil, dan sebelum meninggal dia meminta kami untuk membantunya menyiapkan pernikahannya dengan laki-laki yang menghamilinya itu," jawab Laras yang langsung membuat Fian menoleh ke arahnya.


"Anak muda jaman sekarang selalu mengedepankan nafsu daripada logikanya, pasti yang membunuh pacarnya sendiri karena sebenarnya dia tidak mau bertanggung jawab," ucap Sophia sehingga langsung membuat Fian tersedak.


"Hati-hati kalau minum Mas," ucap Laras sambil menepuk bahu sang suami.


"Iya maaf mungkin karena aku baru ingat jika aku harus menelpon Bejo, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Fian sambil berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.


"Bagaimana apa Mama benar jika yang membunuh itu pacar Ratna?" tanya Sophia yang masih penasaran.


" Bukan Ma, yang membunuh seorang wanita dan sampai sekarang saja Polisi belum tahu apa motif dari pembunuhan itu," jawab Laras sambil menoleh ke arah Shopia.


"Sudah Ma tidak perlu dibahas lagi, lagi pula tidak baik membicarakan aib orang yang sudah meninggal,” jawab Laras sambil tersenyum saat melihat tingkah Sophia.


"Laras benar, lebih baik  Mama buatkan Papa kopi dan bereskan piring-piring ini," ucap Arman sambil memegang tangan Sophia.


"Ah itu sih maunya Papa," jawab Sophia sambil berdiri dan mulai membersihkan meja makan.


"Kalau begitu Laras masuk ke kamar dulu ya Ma, Pa mau lihat Shafira dan Mas Fian," ucap Laras sambil berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.


Setelah Laras pamit masuk ke dalam kamarnya. Arman yang masih duduk di meja makan langsung berdiri dan berjalan ke arah teras. Sophia yang saat itu sedang merapikan meja makan langsung teringat sikap aneh menantu laki-lakinya.

__ADS_1


"Sepertinya ada yang aneh dari sikap Fian saat aku membicarakan kekasih Ratna, apa jangan-jangan sebenarnya Fianlah kekasih Ratna dan Laras tahu tentang hal itu. Ahj tapi tidak mungkin karena aku yakin menantuku adalah laki-laki yang paham agama jadi tidak mungkin dia berzina apalagi tega menyakiti Laras," batin Sophia sambil duduk di kursi sambil memegang sebuah sapu.


"Bagaimana keadaanmu Mas," tanya Laras saat sudah berada di dalam kamar.


"Alhamdulillah sudah lebih baik, Sayang kamu duduk sini sebentar deh," ucap Fian sambil menepuk tempat tidurnya dengan pelan. 


"Ada apa Mas?" tanya Laras sambil duduk di samping sang suami.


"Terima kasih ya Sayang karena kamu sudah membantuku menutupi perbuatanku dengan Ratna," jawab Fian sambil memegang tangan sang istri.


"Aku istrimu jadi sudah sepatutnya aku menutupi aib suamiku, karena aku pernah melihat sebuah cerama di salah satu video yang berbunyi istri adalah pakaian untuk suaminya, begitu juga sebaliknya," jawab Laras sambil tersenyum.


"Masya Allah semakin lama kamu semakin sholeha, aku bangga dan bersyukur bisa menikah dengan perempuan sebaik dan secantik kamu," ucap Fian sambil mencium tangan sang istri. 


"Aku bisa seperti sekarang juga karena kamu Mas, kamu selalu mengajarkanku tentang agama islam dan mengenalkanku kepada Allah hingga aku bisa menjadi perempuan yang jauh lebih baik dari sebelumnya," jawab Laras sambil mengusap pipi Fian dengan lembut.


"Maafkan aku ya Sayang sudah sering menyakitimu dan belum bisa menjadi suami yang baik untukmu," ucap F|ian sambil mencium kening Laras.


'Aku akan selalu memaafkanmu, dan asal kamu tahu suami yang baik bukan hanya dilihat seberapa banyak dia memberikan materi dan kebahagiaan di dunia, tapi suami yang baik adalah suami yang mampu membimbing istrinya menuju jalan yang diridhoi Allah dan kamu sudah melakukan itu, jadi dosa bagiku jika meninggalkanmu hanya karena masalah perselingkuhan yang tidak kamu sengaja," jawab Laras sambil tersenyum manis di hadapan Fian.


Ada rasa malu dan bahagia dalam hati Fian saat mendengar jawaban Laras. Laras seorang perempuan yang dia kenal sebagai seorang wanita murtad dan tidak tahu tentang apa serta bagaimana islam kini justru menjadi wanita yang sangat paham dan mengerti islam yang sebenarnya. Namun, dibalik ketegarannya Fian dapat merasakan luka yang sangat perih di hatinya.


"Maha suci Allah telah menjadikanmu sebagai perempuan yang sangat sholeha, sebenarnya aku malu ada di hadapanku tapi rasa sayangku kepadamu membuatku terus bertahan sampai saat ini," batin Fian sambil tersenyum ke arah Laras dan memeluknya.

__ADS_1


"Maafkan aku ya Sayang aku sudah menyakiti perempuan soleha sepertimu, kamu adalah wanita sempurna bagiku," ucap Fian sambil memeluk Laras dan mencium rambutnya.


__ADS_2