Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 27


__ADS_3

Fian dan Laras seketika tertawa melihat tingkah Bejo. Sambil menahan tawa Fian langsung memanggil Bejo dengan sedikit berteriak. Bejo yang saat itu sedang serius dengan mobil di depannya langsung terkejut.


"Bejo!" panggil Fian dengan sedikit tertawa.


"Iya Bos, maaf tadi saya kagum lihat pintu mobil bisa di buka pakai remot control," jawab Bejo saat sudah berdiri di hadapan Fian dan Laras sambil tersenyum malu.


"Ya sudah sekarang kamu pilih satu warna dari 3 mobil ini," perintah Fian sambil tersenyum.


"Saya Bos? Bukankah mobil-mobil ini untuk orang tua Mbak Laras," tanya Bejo sambil terlihat bingung.


"Iya memang buat orang tua Laras, tidak apa-apa 'kan jika saya minta kamu untuk memilih satu warna mobil buat mereka," jawab Fian sambil menggandeng tangan Laras.


"Baik Bos," jawab Bejo sambil sedikit malu.


Setelah Laras dan Bejo memilih warna mobil. Fian langsung mengajak Laras ke bagian administrasi. Sedangkan Bejo diminta untuk tetap menunggu mereka di loby showroom.


"Ayo Jo, kamu bawa mobil yang berwarna silver itu," ucap Fian sambil menyerahkan kunci kepada Bejo.


"Baik Bos," jawab Bejo sambil menerima kunci dari sang atasan.


"Bejo kamu langsung masukan saja mobil ini ke halaman rumah," perintah Fian kepada Bejo saat sudah sampai di depan rumah Laras.


"Assalammualaikum," ucap Fian dan Laras secara bersamaan.


"Waalaikumsalam," jawab Sophia sambil sedikit berteriak.


"Ibu!" teriak Laras saat melihat sang ibu keluar dari dapur.


"Masya Allah Laras, apa kabar Sayang," jawab sang ibu sambil memeluk putri semata wayangnya.


"Alhamdulillah baik Bu," jawab Laras sambil mencium pipi sang ibu.


"Alhamdulillah, ayo masuk," ajak Sophia sambil menggandeng tangan Laras.


"Bejo ayo masuk," ajak Fian kepada Bejo yang baru saja turun dari mobil.


"Kalian tunggu sini dulu ya, biar Ibu buatkan teh hangat," ucap Sophia Seluruh tamunya.


"Bu, biar Laras bantu membuat teh di dapur ya," pinta Laras sambil berdiri.


"Iya ayo," jawab Sophia sambil menggandeng tangan Laras.


Saat sedang berada di dapur Sophia meminta Laras untuk menceritakan apa saja yang terjadi selama dia tinggal di rumah Fian. Laras memang istri yang sholeha dia tidak menceritakan kejahatan keluarga Fian kepadanya. Dia justru menceritakan kebaikan Fian dan seluruh kebaikan kakak-kakak Fian kepadanya.


"Ibu, alhamdulillah sekarang Laras hamil," ucap Laras setelah menceritakan kebaikan keluarga Fian.


"Alhamdulillah, berarti sebentar lagi Ibu jadi nenek," jawab Sophia dengan wajah bahagia.


"Iya Bu, kandungan Laras sudah masuk usia 3 bulan," jawab Laras sambil mengusap perutnya.


"Kamu jaga baik-baik, jangan pernah membantah apapun yang diperintahkan Fian," ucap Sophia sambil mengusap perut Laras yang masih terlihat rata.


"Iya Bu, ya sudah ayo kita berikan teh ini," ajak Laras sambil tersenyum.


Laras dan Sophia pun berjalan ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi beberapa cangkir teh hangat. Setelah membantu sang ibu menyuguhkan teh di atas meja Laras duduk di samping sang suami. Saat sedang menikmati secangkir teh hangat Fian tiba-tiba menanyakan keberadaan ayah mertuanya.


"Maaf Ayah kemana Bu?" tanya Fian sambil meletakkan gelas yang ada di tangannya.


"Bapak sedang ada kerjaan di luar, mungkin nanti malam baru pulang," jawab Sophia kepada Fian sambil tersenyum ramah.


"Sayang bagaimana kalau kita pulang sekarang, karena hari sudah mulai sore," ajak Fian kepada Laras.


"Iya Mas," jawab Laras singkat sambil berdiri.

__ADS_1


"Mbak Laras, Pak Fian saya tunggu di mobil ya, mari Bu," ucap Bejo kepada majikannya sekalian berpamitan kepada Sophia. 


"Iya Mas silahkan," jawab Sophia kepada Bejo.


"Bu, kami titip kunci mobil ini untuk Ayah dan ini ada sedikit rejeki untuk Ibu dan Ayah," ucap Fian sambil memberikan sebuah kunci mobil dan amplop berwarna coklat.


"Mobil, ya Allah terima kasih Nak Fian semoga Allah membalas kebaikanmu dan melancarkan kehamilan Laras hingga bersalin," ucap Sophia sambil menerima kunci dan amplop yang di berikan Fian.


"Amin, kalau begitu saya pamit dulu ya Bu," ucap Fian sambil mengulurkan tangannya.


"Iya Nak Fian, sekali lagi terima kasih banyak atas pemberiannya," jawab Sophia sambil menjabat tangan Laras.


"Bu Laras pamit ya, kapan-kapan kami akan main lagi kesini," ucap Laras sambil mencium tangan sang ibu.


"Iya Sayang, ingat pesan Ibu hati-hati dan terus belajar jadi istri yang baik buat suamimu," pesan Sophia sambil mencium kening sang putri.


"Iya Ibuku Sayang," jawab Laras sambil tersenyum.


*** 


Setelah mereka sampai di rumah Fian, bengkel sudah dalam kondisi sepi. Bejo yang saat itu membantu Fian mengendarai mobil langsung turun dan membuka pintu gerbang. Bejo yang sudah berada di dalam bengkel terkejut saat melihat mobil yang dia pilih terparkir di dalam bengkel.


"Bos! Sepertinya dealer salah kirim, apa perlu saya antar ke rumah Mbak Laras," tanya Bejo sambil terlihat kaget.


"Tidak Jo, lebih baik kamu panggilkan Mbok Ijah di rumahnya, dan telepon seluruh karyawan untukbke sini setelah shalat magrib," perintah Fian sambil mengajak Laras masuk ke dalam kamar.


"Baik Bos, aneh katanya untuk orang tua Mbak Laras, tapi kenapa dikirim kesini," ucap Bejo dengan sedikit berbisik.


"Sayang sebelum kamu istirahat tolong ambilkan amplop coklat dilaci pojok ya," perintah Fian kepada sang istri sambil melepaskan sepatunya.


"Mau di ambilkan berapa Mas?" tanya Laras saat sudah mengegam beberapa amplop.


"Ambil 15 saja sesuai dengan jumlah karyawan yang ada di sini," ucap Fian sambil mengeluarkan amplop dari dalan tasnya.


***


"Ini ada titipan dari Fian dan Laras," ucap Sophia kepada Arman sambil menyerahkan sebuah kunci dan amplop.


"Kunci mobil, jadi mobil itu …." belum selesai Arman berbicara Sophia langsung menjawabnya.


"Iya mobil itu hadiah dari Fian untukmu, dan isi amplop ini adalah uang yang berjumlah 15juta rupiah," jelas Sophia dengan wajah sedikit sewot.


"Kamu yakin ini dari Fian?" tanya Arman seolah tidak percaya.


"Yakin, Fian dan Laras sendiri yang mengantarnya kesini," jawab Sophia sambil keluar dari kamarnya.


Tubuh Arman seketika lemas seperti tak memiliki tulang. Hingga membuatnya terduduk lemas di tempat tidur. Sesaat Arman termenung di dalam kamarnya memikirkan apa yang telah diterimanya hari ini.


"Ya Allah ternyata orang yang sangat aku benci justru begitu baik kepadaku," batin Arman sambil duduk di tempat tidur.


***


Di tempat terpisah Fian, Laras dan seluruh karyawannya berkumpul di ruang kerja Fian. Sesaat Fian mengucapkan terima kasih kepada seluruh karyawannya karena sudah bekerja dengan sangat rajin. Tiba-tiba Fian mengeluarkan beberapa amplop coklat dari dalam tasnya.


"Ini ada sedikit bonus untuk kalian semua, semoga bisa membantu memenuhi kebutuhan kalian," ucap Fian sambil berdiri dan membagikan amplop kepada seluruh karyawannya.


"Bejo ini amplopmu, terima kasih karena kamu dan Mbok Ijah sudah membantu saya menjaga Laras," ucap Fian sambil memberikan amplop yang cukup besar kepada Bejo.


"Sama-sama Bos," jawab Bejo sambil menerima amplop dari sang majikan.


Setelah memberikan amplop kepada seluruh karyawannya. Fian mengajak sang istri untuk beristirahat di dalam kamar. Seluruh karyawan berkumpul di bale yang mereka buat untuk membuka amplop masing-masing.


"Alhamdulillah aku dapat 5 juta," ucap Eko dengan penuh rasa syukur.

__ADS_1


"Aku juga dapat 5 juta," jawab karyawan yang lain.


"Berarti masing-masing dari kita dapat 5 juta," ucap yang lainnya.


"Sepertinya Mbok Ijah dan Bejo dapat bagian lebih banyak," salah satu dari mereka tiba-tiba membandingkan dengan amplop yang diterima Bejo dan Mbok Ijah.


"Wajarlah karena selama ini 'kan dia yang jadi kepercayaan Bos Fian dan Mbok Ijah juga dipercaya menjaga Mbak Laras," jawab Eko kepada temannya itu.


"Tapi menurutku tetap tidak adil, selama ini kita juga ada di sini dan menjaga Mbak Laras," jawab salah satu karyawan yang memiliki sifat iri kepada Bejo.


"Beda, kejadian kemarin itu sudah hampir menghilangkan nyawa Bejo dan Mbok Ijah, jadi ya mungkin menurut Bos Fian itu tidak sebanding dengan apa yang mereka berikan kepada Mbak Laras," jelas Eko kepada teman kerjanya itu.


Keesokan harinya Bejo menemui Fian di ruang kerjanya. Setelah duduk di hadapan Fian Bejo langsung memberikan kunci mobil dan surat-surat penting lainnya. Fian yang sedang sibuk dengan laptopnya langsung menatap Bejo dengan bingung.


"Kenapa semua barang ini kamu kembalikan," tanya Fian dengan sedikit bingung.


"Maaf Bos bukannya saya menolak, tapi uang 10 juta dari Bos sudah lebih dari cukup buat saya dan keluarga," ucap Bejo sambil tersenyum malu.


"Uang 10 juta itu murni dari saya, tapi mobil ini bukan dari saya Jo," jawab Fian sambil mendorong kunci tersebut ke arah Bejo.


"Maksud Pak Bos bagaimana," tanya Bejo penasaran.


"Mobil itu sengaja dibeli karena permintaan Laras, dia ingin memberikanmu hadiah mobil itu sebagai tanda terima kasih dan permintaan maafnya kepadamu," jelas Fian kepada sang karyawan.


"Ya Allah, saya benar-benar tulus membantu Mbak Laras, semua itu sudah menjadi tanggung jawab saya sesuai amanah ya Bapak berikan kepada saya," jawab Bejo sambil terkejut.


"Lebih baik kamu terima mobil itu, karena saya yakin Laras akan sedih jika kamu menolak mobil itu, dan saya tidak mau terjadi apapun kepada Laras serta anak saya," jelas Fian seolah mencari alasan agar Bejo mau menerima pemberiannya.


Sejenak Bejo terdiam memikirkan apa yang diucapkan Fian kepadanya. Ada rasa ragu saat dia menerima mobil tersebut. Namun, disisi lain dia tidak mau membuat kedua Bosnya sedih dan tersinggung.


"Baik Pak saya terima, tolong sampaikan ucapan terima kasih saya kepada Mbak Laras," ucap Bejo sambil menerima kunci mobil dari atasannya.


"Iya nanti akan saya sampaikan kepada Laras," jawab Fian sambil tersenyum bahagia.


"Kalau begitu saya permisi dulu Pak, sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas bonus dan hadiahnya," ucap Bejo sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Oh Ya tolong sampaikan kepada seluruh karyawan dan Mbok Ijah saya akan memberikan waktu libur selama satu minggu untuk kalian agar bisa berkumpul bersama keluarga," perintah Fian kepada Bejo saat dia akan berjalan keluar ruangan.


"Baik Bos akan saya sampaikan sekarang juga," jawab Bejo sambil sedikit menundukkan kepalanya.


Setelah Bejo keluar dari ruang kerjanya Fian kembali sibuk dengan laptopnya. Tidak berapa lama terdengar suara ketukan pintu dari luar ruang kerjanya. Terlihat Bejo kembali datang untuk menemuinya.


"Permisi Pak, diluar ada tamu yang mencari Pak Fian," ucap Bejo kepada Fian saat sudah berdiri di hadapannya.


"Siapa Jo, sepertinya saya tidak ada janji dengan seseorang hari ini?" tanya Fian penasaran.


"Maaf Pak saya diminta untuk tidak memberitahukan kepada Bapak tentang siapa tamu yang datang," jawab Bejo kepada Fian.


"Kalau begitu suruh dia masuk ke ruangan saya sekarang," perintah Fian kepada Bejo.


"Baik Pak," ucap Bejo sambil berjalan keluar dari ruang kerja Fian.


"Siapa yang datang hari ini," batin Fian sambil terlihat berpikir.


Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar ruang kerjanya. Fian yang saat itu sedang sibuk dengan laptopnya terkejut dengan kedatangan Arman. Sambil tersenyum Fian langsung mempersilahkan mertuanya untuk duduk.


"Assalamualaikum," ucap Arman sambil masuk ke dalam ruang kerja Fian.


"Waalaikumsalam, Ayah," jawab Fian sambil terkejut.


"Maaf jika Ayah mengganggu kesibukanmu hari ini," ucap Arman sambil duduk di kursi.


"Tidak, saya tidak merasa terganggu Yah, oh ya saya panggilkan Laras dulu," ucap Fian sambil berjalan ke arah pintu.

__ADS_1


"Tunggu, Ayah tidak ingin menemui Laras kedatangan Ayaha kesini justru ingin bertemu denganmu," jawab Arman saat melihat Fian akan keluar dari ruang kerjanya.


"Kenapa Pak Arman tiba-tiba ingin bertemu denganku," batin Fian sambil menoleh ke arah Arman


__ADS_2