Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 60


__ADS_3

Setelah pertengkaran itu Siska sama sekali tidak menyapa ataupun berinteraksi dengan Fian dan Laras. Hingga suatu hari saat Ardi datang ke rumah Siska. Disaat yang bersamaan Siska langsung mengadukan apa yang dilakukan Laras dan Fian. Mendengar ucapan Siska Ardi yang memang gampang di hasut langsung berjalan ke bengkel Fian. 


"Fian ada masalah apalagi antara kamu, Siska dan Laras," tanya Ardi sambil duduk di hadapan Fian yang sibuk dengan laptopnya. 


"Masalah apa maksud Abang?" tanya Fian yang berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Ardi.  


“Dia bilang kalian sudah mencaci maki dia dengan kata-kata kotor serta menghinanya di hadapan karyawan kalian," ucap Ardi yang langsung membuat Fian tertawa.  


Saat Fian akan menjawab ucapan Ardi, tiba-tiba Rosa Kakak ketiga Fian datang dengan membawa bingkisan untuk Laras. Rosa yang memiliki sifat polos hanya tersenyum saat melihat sang adik dan Abang tertuanya sedang berbincang-bincang di ruang kerja Fian. Setelah memberikan bingkisan kepada Fian langsung mencium tangan Abang tertuanya, begitu juga dengan Fian yang termasuk anak terkecil di keluarga itu. 


"Kebetulan kak Rosa datang, kita akan bicarakan ini dengan Laras karena dia juga ada di dalam cerita yang di katakan Siska kepada Abang," ucap Fian sambil membawa kantong plastik berwarna hitam yang diberikan Rosa kepadanya.


Fian pun keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju ke kamarnya untuk menemui Laras. Terlihat Laras yang saat itu masih berbaring di tempat tidur. Perlahan Fian mulai mendekati sang istri yang masih tertutup selimut tebal.  


"Sayang," ucap Fian sambil mengusap dahi Laras dengan lembut. 


"Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Fian kepada Laras sambil mencium kening sang istri. 


"Sakit," jawab Laras lirih sambil meneteskan air matanya.


"Astagfirullahaladzim, apa kamu sudah minum obat? " tanya Fian yang terlihat panik.


Laras hanya menjawab pertanyaan Fian dengan anggukan kecil sambil menutup matanya. Fian hanya menatap wajah sang istri dengan penuh rasa sayang dan iba. Melihat keadaan Laras Fian bermaksud mengurungkan niatnya untuk mengajak sang istri untuk menemui Kakak dan Abang tertuanya.


"Sayang, ini ada kue untukmu dari Kak Rosa," ucap Fian sambil memberikan sebuah kantong plastik berwarna hitam kepada Laras yang saat itu sudah duduk dan bersandar di tempat tidur.


"Apa di luar ada Kak Rosa?" tanya Laras sambil membuka kantong plastik tersebut. 


"iya,Bang Ardi juga ada di ruang kerjaku,” ucap Fian sambil duduk di hadapan Laras dan menyuapkan sedikit kue kepada sang istri. 

__ADS_1


“Bang Ardi, apa dia marah kepada kita karena telah membentak Kak Siska?” tanya Laras dengan wajah panik.


“Tidak, Bang Ardi tidak marah kepadamu. Aku keluar dulu untuk menemui mereka," ucap Fian sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Mas, apa aku boleh ikut keluar bersamamu?" tanya Laras saat Fian mulai melangkahkan kakinya kearah pintu.  


"Tapi Sayang, kondisimu 'kan masih sangat lemah," jawab Fian dengan tatapan khawatir. 


"Insya Allah aku baik-baik saja Mas," jawab Laras sambil tersenyum dengan wajah yang masih terlihat pucat.  


Mendengarkan ucapan sang istri Fian tidak bisa berbuat apa-apa selain menyetujuinya. Karena Fian paham betul bagaimana sifat istrinya jika apa yang dia inginkan saya tidak di penuhi. Bagi Fian Laras adalah anak kecil yang selalu diingatkan dalam segala hal, baik pola makan, obat. Namun, ada satu hal yang sangat di benci Fian dari sosok sang istri yaitu kebiasaan Laras yang sangat membenci sayur dan buah.


"Assalamualaikum," ucap Laras dan Fian secara bersamaan.


"Waalaikumsalam," jawab Rosa dan Ardi. 


"Tidak Kak, aku hanya kelelahan sedikit," jawab Laras sambil tersenyum setelah mencium tangan sang kakak ipar. 


"Laras memang sakit Kak, dia terkena tumor rahim dan leokosit," jawab Fian hingga membuat Ardi dan Rosa terkejut. 


"Astagfirullah, lalu kenapa tidak istirahat saja," ucap Rosa sambil menatap Laras yang duduk di samping Fian. 


"Tidak apa-apa Kak, Insya Allah saya masih kuat," ucap Laras sambil berusaha menunjukkan senyuman kepada kedua Kakak iparnya.


“Baik sekarang kita ke topik pembicaraan, tadi Bang Ardi bertanya kepadaku ada masalah apa antara aku, Laras dan Kak Siska," ucap Fian yang membuat Rosa terkejut dan bingung dengan apa yang dibahas Ardi dan Fian. 


"Sayang, Bang Ardi tadi bertanya apa benar kita memaki Kak Siska di depan karyawan dengan kata-kata yang tidak pantas, boleh 'kan jika aku menjawab pertanyaan Bang Ardi dengan sejujur-jujurnya," tanya Fian kepada sang istri yang hanya di jawab dengan senyuman dan anggukan oleh Laras. 


"Selama ini, baik aku dan Rosa tidak ada yang tahu bagaimana hubunganmu dan Siska, karena kami tinggal jauh dari kalian jadi sekarang Abang hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini," ucap Ardi sambil bersandar di tempat duduknya. 

__ADS_1


Saat Fian akan menjelaskan permasalahan sebenarnya kepada Ardi dan Rosa, tiba-tiba Bejo masuk dengan membawa beberapa botol minuman dingin dan di berikan kepada Fian dan seluruh orang yang ada di ruangan itu. Setelah sang kayawan keluar Fian mulai menjelaskan secara gamblang apa saja yang dilakukan Siska dan apa saja yang di ucapkan Siska kepada Laras.  Mendengar ucapan Fian, baik Rosa dan Ardi terlihat begitu malui. Karena orang yang mereka bela selama ini adalah seorang penipu dan penyebar fitnah yang kejam. 


“Kenapa kamu tidak balas ucapan Siska," jawab Ardi dengan emosi. 


"Laras sudah membalasanya, dan Laras juga sudah meminta maaf kepada ku karena sudah memaki Siska dengan kata-kata kotor," ucap Fian kepada Ardi. 


"Ya Allah, Kakak tidak tahu apa yang ada di pikiran Siska hingga dia membenci Laras seperti itu," imbuh Rosa yang terlihat bingung dengan apa yang di lakukan Siska.  


"Kamu seperti tidak tahu Siska saja, sejak kecil dia itu tukang Fitnah dan pembohong, kalau seperti itu lebih baik aku usir dia dari rumah itu," ucap Ardi sambil berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerja Fian. 


"Mas, tolong halangi Bang Ardi kasihan jika Kak Siska harus di usir dari rumah itu," perintah Laras yang langsung dijawab dengan anggukan oleh sang suami.  


"Siska! Siska keluar kamu, jangan bersembunyi di dalam rumahmu," teriak Ardi saat sudah berdiri di depan rumah Siska.


Melihat tidak ada respon dari penghuni rumah, Ardi yang sudah tersulut emosi langsung mendobrak pintu rumah Siska hingga membuat seluruh penghuni rumah itu terkejut. 


"Dasar kamu tidak tahu diri, sifat jelekmu sebagai tukang fitnah masih merasuki hati busukmu, aku tidak mau tahu kamu dan anak-anakmu cepat pergi dari rumah ini!" bentak Ardi sambil menendang sebuah kardus yang berisi jualan Siska. 


"Kenapa aku harus pergi dari sini, ini rumah orang tuaku. Lagipula dalam adat Padang seorang perempuan lebih berhak atas harta orang tuanya begitu juga dengan Aceh, " jawab Siska sambil bertolak pinggang. 


"Hai, bangun jangan mimpi! Kamu saat ini tinggal di mana, ini Jakarta bukan tanah kelahiran kita dan disini secara agama dan negara laki-laki 'lah yang lebih berhak. Sekarang aku tidak mau tahu cepat kamu pergi dengan anak-anakmu dan bawa cucumu yang tidak jelas asal usulnya ini, " jawab Ardi sambil berusaha menarik tangan Siska hingga membuat seluruh anak Siska ketakutan dan menangis.


"Bang, sabar Bang kamu harus pikirkan jika Kak Siska pergi dari sini mereka akan tinggal dimana, apalagi sekarang dia seorang janda," ucap Fian yang tiba-tiba datang dan langsung menarik tangan Ardi. 


"Aku tidak peduli! Perempuan iblis ini harus segera pergi dari rumah ini," bentak Ardi sambil menatap mata Fian dengan tajam.


"Kamu tidak perlu sok perhatian kepadaku,  aku tahu ini semua karena hasutan istri murtadmu itu 'kan!" bentak Siska hingga membuat Fian terdiam.


"Plak!"

__ADS_1


__ADS_2