
"Assalammualaikum," ucap Fian sambil membuka pintu kamarnya.
"Waalaikumsalam, Om Syam sudah pulang Mas?" tanya Laras sambil menghampiri suaminya yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Sudah, beliau baru saja pulang," jawab Fian sambil duduk di tempat tidurnya sambil terlihat lesu.
"Kamu kenapa Mas, apa Om syam kesini karena dia juga membenciku?" tanya Laras sambil memberikan secangkir air putih kepada Fian.
"Tidak, Om Syam bukanlah orang seperti itu beliau adalah Paman yang baik," jawab Fian sambil menerima gelas pemberian Laras lalu meminumnya.
"Lalu kenapa kamu terlihat banyak pikiran setelah berbicara dengan beliau, coba kamu ceritakan siapa tahu beban dalam hatimu bisa sedikit berkurang," ucap Laras sambil memijat tangan suaminya.
"Dia memintaku untuk pindah dari tempat ini dalam waktu 7 hari," jawab Fian sambil terus memegang gelas yang ada di tangannya.
"Ya Allah 7 hari, kenapa begitu tiba-tiba Mas," ucap Laras sambil terkejut mendengar ucapan suaminya.
"Aku juga tidak tahu, tapi tadi Om Syam bilang jika seluruh saudara Ayahku akan menjual tanah ini karena mereka masih punya hak atas tanah ini," jelas Fian kepada Laras sambil menatap ke depan dengan pandangan kosong.
"Astagfirullahaladzim," ucap Fian sambil mengusap pundak Fian dengan lembut.
"Aku lelah dengan semua keadaan ini, kenapa Allah memberiku begitu banyak cobaan yang datang secara bersamaan, apa mungkin ini adalah karma dari dosa masa laluku," ucap Fian yang terlihat mulai meneteskan air matanya.
"Kamu harus bisa sabar ya Mas, insya Allah semua akan baik-baik saja bagaimana kalau sekarang kita shalat dhuha terlebih dahulu sepertinya waktunya masih ada," jawab Laras sambil menoleh ke arah jam dinding.
"Sayang bagaimana jika suatu saat aku sakit dan seluruh hartaku habis, apakah kamu akan tetap memperlakukanku seperti sekarang?" tanya Fian sambil menoleh ke arah Laras dengan pandangan sayu.
"Aku memintahmu untuk menikahiku karena aku mencintaimu bukan harta ataupun apa yang ada di dirimu saat ini, jadi apapun yang terjadi kepadamu tidak akan membuat ketaatan dan perlakuanku berubah kepadamu," jawab Laras sambil tersenyum dan mencium kening suamnya.
Mendengar ucapan Laras ada rasa tenang di dalam hati Fian. Setelah menjalankan shalat dhuha mereka pun segera melepas lelah dengan berbaring di atas tempat tidur. Laras yang saat itu membelakangi suaminya tiba-tiba merasakan sebuah pelukan di area perutnya.
"Dulu aku merasa nyaman saat kamu memelukku, tapi sekarang pelukan itu tidak senyaman dulu lagi. Apa aku bisa terus hidup bersamamu dengan luka yang masih ada di dalam hatiku," batin Laras sambil terus memejamkan mata seakan menghindari ajakan sang suami.
"Sayang, apa kamu sudah tidur," bisik Fian tepat di telinga Laras.
"Belum," jawab Laras singkat tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Izinkan aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang suami untukmu," ucap Fian sambil merapatkan pelukannya.
Perlahan Laras mulai membaikkan tubuhnya ke arah sang suami sambil menutup matanya. Luka yang menggaga seakan membuatnya tidak mampu memenuhi permintaan Fian. namun, status seorang istri membuatnya harus melakukan apa yang diminta oleh suaminya.
Perlahan Fian mulai mendekatkan wajahnya ke arah sang istri untuk mulai mengecup bibir mungil Laras. Laras yang saat itu menutup mata terlihat mengerutkan matanya seolah sedikit menjauhi bibir suaminya. Melihat sikap Laras yang seolah masih belum bisa menutup lukanya Fian langsung berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar menuju ke ruang kerjanya.
“Ya Allah lagi-lagi aku gagal menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri, sampai kapan aku harus berperang melawan luka yang masih belum menggering,” ucap Laras saat Fian sudah keluar dari kamar.
***
Malam harinya Fian sengaja tidak mengajak Laras pulang ke rumah mertuanya. karena dia ingin menyelesaikan masalahnya dengan sang istri tanpa di dengar oleh orang tua Laras. Setelah mandi dan menjalankan shalat isya’ Fian langsung berbaring di samping sang istri yang sedang menyaksikan sebuah acara di televisi. Sambil memegang tangan Laras, Fian meminta sang istri untuk mematikan televisinya.
“Ada apa Mas?” tanya Laras sambil menoleh ke arah Fian sesaat setelah mematikan televisi.
“Apa sudah tidak ada rasa darimu untukku, sehingga engkau selalu menolak keinginan ku untuk bercinta?” tanya Fian sambil menggegam tangan Laras dan bersandar di pundak istrinya.
“Bukan tidak ada cinta, hanya saja setiap aku beusaha menjalankan kewajibanku imajinasi percintaanmu dengan Ratna selalu muncul dalam pikiranku walaupun aku sudah berusaha untuk terus menepis semua bayangan itu tapi masih saja sulit, jadi aku harap kamu bisa sedikit bersabar,” jawab Laras tanpa menoleh ke arah Fian.
“Sampai kapan aku harus bersabar, sedangkan aku sendiri adalah laki-laki normal yang juga mempunyai nafsu kepada lawan jenis. Aku mohon jangan buat aku jatuh ke dosa zina untuk yang kedua kali,” ucap Fian sambil memainkan jari sang istri dengan tangannya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Fian ada rasa iba dalam hati Laras. Perlahan Laras mulai mendekatkan wajahnya untuk mulai mengecup bibir sang suami walaupun dengan sangat terpaksa dan penuh perlawanan akan rasa sakit yang masih ada di hatinya. Mendapat kecupan hangat dari bibir sang istri Fian yang sudah menahan hasratnya langsung memeluk Laras dan mulai mengulum bibirnya dengan buas hingga membuat Laras susah bernafas.
kecuapan dan sentuhan lembut yang Fian berikan tidak membuat Laras merasakan kenikmatan. Justru menambah sakit dalam hatinya. Namun, dengan terpaksa dia terus berusaha melayani sang suami atas dasar sebagai kewajiban seorang istri.
"Apa kamu menikmatinya," bisik Fian saat mereka sudah selesai melakukan hubungan suami istri.
"Iya aku sangat menikmatinya, tapi pelukanmu tidak senyaman dulu lagi," jawab Laras yang tidak ingin membohongi hatinya sendiri.
"Aku pastikan pelukanku akan kembali nyaman seperti dulu, tap aku mohon kamu bersedia membuka hatimu untukku," ucap Fian sambil memeluk Laras yang sedang bersandar di dadanya yang kekar.
"Aku akan selalu berusaha membuka hati untukmu dan menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri yang baik untukmu," jawab Laras sambil menatap wajah Fian dan tersenyum manja.
Ujian yang dilalui Laras dan Fian tidaklah mudah, ditambah kehadiran sosok Ratna di tengah hubungan mereka membuat keduanya seakan hampir menyerah. Namun, rasa sayang yang besar dan senyuman Shafira membuat mereka berusaha untuk terus melangkah. Walaupun rasa sakit akan tusukan kerikil tajam terasa sangat begitu sakit.
***
Hari ini Fian berharap semua berjalan dengan normal tanpa ada masalah seperti dulu lagi. Saat Fian sedang bersiap untuk menuju ruang kerjanya tiba-tiba terdengar suara ketukan. Terdengar suara teriakan Bejo memanggil namanya.
“Pak, Pak Fian,” ucap Bejo sambil mengetuk pintu kamar Fian.
“Apa yang terjadi sampai kamu mengetuk pintu kamarku sepagi ini?” tanya Fian sambil menutup pintunya agar Bejo tidak melihat Laras yang belum menggunakan hijab dan niqobnya.
“Kak Siska Pak,” jawab Bejo dengan panik.
“Kenapa Kak Siska, apa yang terjadi padanya?” tanya Fian yang langsung khawatir dengan sang Kakak.
“Kak Siska membawa dua orang tukang untuk merubah bengkel ini menjadi tempat usahanya,” jawab Bejo dengan panik.
“Apa, ayo kita kesana sekaang,” ajak Fian kepada Bejo dengan buru-buru.
Saat Fian tiba di bengkel terlihat Siska sedang memberi arahan kepada dua laki-laki yang ada di sampingnya. perlahan Fian mulai mendekati Siska yang sedang sibuk dengan dua orang suruhannya. Fian dengan kasar langsung menarik tangan sang kakak menuju ke ruang kerjanya.
“Apa yang Kakak lakukan disini?” tanya Fian dengan tatapan marah.
“Tidak ada, aku hanya ingin memberi arahan kepada tukang itu untuk segera melakukan tugasnya,” jawab Siska dengan ketus sambil melipat tangannya.
“Tugas apa maksud Kakak?” tanya Fian dengan penuh rasa kebingungan.
“Memang Om Syam tidak bilang kalau kamu tidak mendapat hak apa-apa dari warisan almarhum Ayah dan tanah ini yang seharusnya menjadi milikmu kini sudah berbalik atas namaku,” jelas Siska sambil tersenyum sinis kepada sang adik.
“Tapi Om Syam bilang kalau ini masih atas nama Nenek dan mereka akan menjualnya,” jawab Fian yang terlihat semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
“Fian, Fian kamu memang bodoh jadi tidak heran kalau kamu bisa di bohongi Laras yang hanya menggejar hartamu,” ucap Siska sambil menghina Fian dan duduk di kursi.
“Jaga ucapan Kakak! Kakak boleh menghina aku tapi jangan sekali-kali mulut kotor mu menghina Laras," bentak Fian sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Siska.
Siska yang mendengar ucapan Fian hanya tersenyum sinis lalu keluar dari ruang kerja sang adik. Fian yang merasa tidak mengetahui apapun yang direncanakan keluarga besar almarhum ayahnya langsung berjalan ke kamar. Setelah berpamitan dengan Laras, Fian langsung mengemudikan mobilnya ke rumah sang paman.
"Assalamualaikum," ucap Fian saat tiba di rumah sang paman.
"Waalaikumsalam," jawab seorang wanita yang ternyata adalah istri dari pamannya.
"Maaf Bi, apa Om Syam ada di rumah?" tanya Fian sambil mencium tangan sang Bibi.
"Ada, mari masuk dulu," jawab sang Bibi dengan ramah.
__ADS_1
"Tidak usah Bi, biar Fian duduk di teras saja sekalian menghirup udara segar," jawab Fian sambil duduk di teras rumah sang paman.
Saat Fian sedang menikmati sebatang rokok di tangannya sambil menatap ke arah ramainya jalan raya yang ada di depannya. Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki yang memanggil namanya. Sosok Syam yang di carinya kini tepat berdiri di hadapannya.
"Ada apa kamu ke rumah Om pagi-pagi?" tanya Syam kepada sang keponakan.
"Assalamualaikum Om," jawab Fian sambil berdiri dan mencium tangan sang paman.
"Ada apa kamu pagi-pagi ke rumah Om?" tanya Syam yang telah duduk di samping Fian.
"Saya datang kesini mau menanyakan pernyataan Om tentang tanah yang saya tinggali, apa benar jika sebenarnya tanah itu atas nama saya dan sekarang berganti menjadi nama Kak Siska?" tanya Fian sambil mematikan rokok yang ada di atas meja.
"Siapa yang bilang seperti itu?" tanya Syam sambil menghembuskan nafas besar.
"Tadi pagi Kak Siska datang ke rumah dan dia membawa dua orang tukang untuk renovasi tempat itu, saat saya tanya dia menjawab seperti apa yang saya tanyakan kepada Om Syam saat ini," jawab Fian sambil menatap sang paman dengan tajam.
"Siska, dasar bodoh kenapa dia harus ke tempat Fian sekarang," batin Syam sambil terlihat melamun.
"Silahkan diminum dulu tehnya, maaf ya hanya disuguhi teh hangat saja," ucap sang bibi yang baru saja keluar dari dalam rumah dan langsung meletakkan teh di meja kecil yang menjadi pembatas antara Syam dan Fian.
"Terima kasih Bi," jawab Fian sambil mengangguk dan tersenyum ramah.
"Iya sama-sama, kalau begitu Bibi tinggal ke dapur ya," ucap sang bibi sambil tersenyum dan berjalan masuk ke dalam rumah.
“Tidak itu tidak benar, tanah itu memang akan kami jual dan akan dibagikan ke seluruh ahli waris yang ada," jawab Syam sambil terlihat gugup.
"Tapi kenapa Om Syam terlihat sangat tegang dan gugup," tanya Fian yang sangat penasaran dengan sikap pamannya itu.
"Tidak, saya biasa saja hanya saja udara hari ini begitu panas sehingga membuat Om tidak nyaman," jawab Syam sambil mengibas-ngibaskan kerah bajunya.
"Baik kalau memang tanah itu akan dijual biarkan saya yang membelinya, karena jujur sulit untuk saya pergi dari rumah itu, setelah banyak kenangan yang terjadi sejak saya kecil hingga menikah,” ucap Fian sambil kembali menyalakan sebatang rokok.
“Tidak, Om tidak akan menjualnya kepadamu,” jawab Syam dengan gugup.
“Kenapa? Berarti apa yang dibilang Kak Siska benar kalian memang ingin menyingkirkan aku hanya karena aku menikah dengan Laras seorang perempuan yang kalian anggap murtad dan pendosa,” tebak Fian sambil menghisap rokok yang ada di tangannya.
Sejak kecil Fian adalah putra kesayangan almarhum Adriansyah. bahkan sifat tegas dan dingin Fian sama persis seperti sifat sang ayah. Sebagian keluarga melihat Fian seperti melihat sosok Adriansyah, bahkan mereka beranggapan sosok Adriansyah hidup dan menjelma pada diri Fian.
“Baik Om akan jual tanah itu kepadamu, tapi hanya tanah yang kamu tempati saja,” jawab Syam sambil menoleh ke arah sang keponakan yang masih asyik dengan rokok yang ada di tangannya.
“Terima kasih, saya akan kirimkan uang sesuai dengan harga yang Om minta tanpa saya tawar sedikit pun, tapi surat tanah itu harus Om berikan di depan seluruh keluarga besar dan sudah berubah nama menjadi nama istri saya,” jelas Fian sambil menoleh ke arah Syam yang terlihat begitu kesal.
“Tidak! Om tidak setuju jika tanah itu diubah menjadi nama perempuan murtad itu,” bentak Syam sambil menatap Fian dengan tatapan tajam.
“Kenapa, bukankah saya sudah membeli tanah itu. Jadi terserah saya nama siapa pada tanah yang saya beli,” jawab Fian sambil tersenyum sinis.
Syam yang sudah sangat kesal dengan tingkah sang keponakan langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumah dengan keras. Fian hanya tertawa melihat sikap pamannya yang begitu terlihat kesal ketika dia tahu jika nama Laras akan ada di surat tanah itu. Sambil tersenyum Fian langsung berdiri dan berjalan ke arah mobilnya untuk meninggalkan rumah sang paman.
“3 hari lagi saya datang kembali kesini bersama Laras, saya harap Om sudah mengumpulkan seluruh keluarga besar dan seorang notaris,” tulis Fian pada sebuah pesan singkat pada salah satu aplikas dan dikirimkan kepada Syam sebelum dia meninggalkan rumah pamannya.
“Dasar anak yang tidak bisa di atur, sifatnya sangat persis seperti Adriansyah,” ucap Syam setelah membaca pesan dari keponakannya.
__ADS_1