
Saat sampai di rumah sakit laki-laki itu langsung menggendong tubuh Tasya melewati koridor rumah sakit, saat sampai di ruang UGD charrol langsung disambut oleh perawat dan bankar rumah sakit, tubuh gadis itu langsung dibawa masuk kedalam ruangan itu.
"anjing, kenapa gw ngga guna gini sih"teriak Charrol sambil menampar dinding rumah sakit hingga tangan nya berdarah.
"apa gunanya gw jadi pacarnya Tasya hah?"teriak Charrol lalu terduduk lemas air mata bercucuran. Untuk pertama kalinya laki-laki yg dikenal dengan kedinginan nya menangis karena kekasih nya yg terbaring lemah.
Tak lama kemudian Jona dan yg lainnya pun sudah sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju UGD. Puja sedari tadi menelpon orang tua Tasya, namun belum diangkat-angkat. Lalu gadis itu menelpon Afril.
"halo Ja"ujar Afril dari seberang telpon.
"halo fril"kata Puja dengan suara panik.
"Lo kenapa Ja, Lo ngga papa kan?"tanya Afril khawatir.
"gw ngga papa, tapi"jawab Puja.
"tapi apa?"tanya Afril.
"kita udah berhasil nemuin Tasya, bahkan Tasya sekarang udah sama kita"ujar Puja.
"Lo serius, Alhamdulillah"sahut Afril senang.
"tapi"puja enggan mengatakan nya.
"tapi apa ja?"tanya Afril.
"Tasya ketembak, terus dia masuk ruang UGD"jelas Puja.
"apa?"pekik Afril, membuat semua orang yg ada di rumah Charrol pun kaget.
__ADS_1
"lebih baik kalian ke RS deh"kata Puja.
"oke"sahut Afril. lalu memutuskan sambungan telepon nya.
"kenapa fril?"tanya Sherin.
"Tasya udah berhasil ditemuin"kata Afril.
"Alhamdulillah"sahut semua orang serempak.
"tapi"ucapan Afril membuat semua orang mengubah ekspresi senangnya menjadi tegang.
"tapi apa sayang?"tanya mamah ulan.
"tapi Tasya masuk ruang UGD"jawab Afril membuat semua orang kaget dan mamahnya Tasyapun hampir pingsan.
"kok bisa?"tanya ayah.
"Tasya"teriak mamanya dengan tangis nya.
"lebih baik sekarang kita ke RS"ujar papa, mereka semua pun mengangguk dan beranjak pergi.
Ditempat lain
Charrol sedang duduk di lantai rumah sakit, wajah lesu tatapan kosong, membuat sahabat-sahabatnya ikut sedih. Kifli tak sengaja melihat tangan Charrol yg sembab dan mengeluarkan darah.
"char, tangan Lo kenapa?"tanya Kifli sambil berjongkok dan memegang bahu laki-laki itu.
"ngga papa"jawabnya singkat.
__ADS_1
"char, kayanya tangan Lo perlu diobatin deh"kata Jona.
"iya char"sambung Saka.
"gw bilang tangan gw ngga papa ya ngga papa"bentak charrol membuat mereka semua kaget dan heran, namun mereka berusaha memakluminya. Karena sadar dengan ucapannya yg kasar charrol jadi tak enak hati pada mereka.
"sorry guys"lirih nya, Kifli yg ad didekatnya pun langsung memeluk sahabatnya itu.
"ngga papa, kita paham kok"sahutnya.
"iya char, kita cma khawatir sama luka Lo aja"sambung Saka.
"dan sekarang lebih baik Lo obatin deh"ujar Jona, laki-laki itu hanya mengangguk pelan.
Charrol langsung bangkit dari duduknya yg dibantu oleh Kifli, laki-laki itu langsung berjalan menuju tempat pengobatan yg ditemani oleh Kifli. Kini tinggal Jona, Saka dan Puja yg berada di depan ruang UGD.
Tak lama kemudian, charrol dan Kifli pun datang dengan tangan Charrol yg dibaluti perban. Sudah hampir 1 jam mereka di depan ruangan itu, namun dokter tak kunjung keluar-keluar. Kini orang tua Tasya dan orang tua charrol pun sudah sampai di rumah sakit, yg diikuti ketiga gadis itu.
"gimana Tasya nak?"tanya mama ulan pada charrol.
"Tasya lagi ditangani sama dokter tante"jawab charrol.
"kenapa bisa jadi begini kejadiannya?"tanya ayah. Mendengar pertanyaan itu Puja langsung buka suara.
"Tasya bisa ke gini, karena nolongin Puja Yah"jawab Puja sambil tertunduk merasa bersalah.
"ngga om, kejadian nya ngga ke gitu"bantah Zefan, iya tak ingin jika Puja disalahkan.
"udah-udah papah, ngga mau nyalahin siapa-siapa disini, yg terpenting keselamatan Tasya"ujar papa Reno, membuat Puja sedikit lega, meskipun masih merasa bersalah.
__ADS_1
Mereka semua pun menunggu dengan perasaan harap-harap cemas.