
Tak berselang lama haris memulai misi penembakannya
"DAVINA NOVALIA....
Suara haris terdengar jernih namun sedikit bergetar
"Mungkin aku tak mampu menjadi seindah pelangi selepas hujan...
Tak mampu sesejuk angin menyapu mentari...
Juga tak kuasa menjanjikan semua akan selalu berjalan baik baik saja....
"Aku hanya seperti mata air menemukan muara...
Seperti musafir yang menemukan arah pulang,
Dan meyakini bahwa senyummu adalah tujuan terakhirku.... "
Vivi nampak tertegun berkaca kaca menatap haris menunjukkan ketulusannya...
Masih diiringi petikan gitar firman kemudian haris melanjutkan
"Hari ini izinkan aku memintamu menemaniku dalam setiap keadaanku...."
Haris meletakkan toanya kemudian melangkahkan kakinya mendekat kemudian berlutut dihadapan vivi yg nampak mengusap air matanya
__ADS_1
"DAVINA NOVALIA ... kalau kamu terima aku kamu boleh ambil bunga yang ada di tangan aku, tapi...." ucap haris terputus
"Kalau kamu ga mau,
aku ikhlas kamu boleh ambil boneka beruang itu" lanjutnya sambil menengokkan kepalanya memelas kearah boneka raksasa yang ada di pelukan vyan
Vivi terpaku menatap haris dengan tatapan dalam.
Vyan memberi aba aba pada teman temannya dengan berteriak
"Terima... terima... terima... terima" terdengar riuh tepukan tangan sambil meneriakkan dukungan untuk haris agar vivi menerima cinta nya.
Sejenak vivi menatap pada ketiga sahabatnya.... kaira, luna dan anya dengan antusias mengangguk anggukan kepalanya agar vivi menerima haris.
Suasana hening vivi nampak menggigit bibir bawahnya dan perlahan melangkahkan kaki selangkah demi selangkah sejenak vivi berhenti dihadapan haris semua mata menatap intens pada mereka,
sementara kaira, luna dan anya nampak menatap tegang tanpa berkedip sedikitpun kearah vivi.
Vivi semakin mendekat pada vyan dan boneka raksasanya,sementara wajah haris pucat pasi tanpa berani membuka matanya,
Vyan bergerak selangkah mundur menjauhi vivi sambil memegang erat boneka besar dipelukannya,
Tangan vivi mulai bergerak hendak meraih boneka itu.... namun seketika vivi membalikan badan kemudian melangkah cepat menghampiri haris sambil mengambil buket bunga ditangan haris,
Haris nampak terkesiap karena sedari tadi ia tak berani membuka mata, wajahnya menengadah keatas menatap vivi yang nampak tersenyum haru dihadapannya,
__ADS_1
Haris bangkit berdiri perlahan sambil menatap lekat vivi kemudian haris merentangkan kedua tangannya dan sedikit membungkukkan badan menyambut vivi dalam pelukannya,
Seketika riuh tepuk tangan pun terdengar, kaira, luna dan anya nampak berkaca kaca menatap haris dan vivi,
"Aku takut banget kamu nolak aku vi" gumam haris masih erat memeluk vivi
"Kalo kakak ga yakin sama perasaan aku kenapa kakak lakuin ini" ucap vivi sambil mengeratkan pelukannya
Tapi tiba tiba haris melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu vivi
"Sebelum maju tadi aku udah yakin vi... tapi sikap kamu tiba tiba bikin aku hopeless" haris menjelaskan dengan antusias
Vivi mengembangkan senyum
"Sebenernya aku takut ini semua ga serius kak... kaya frank gitu" ucap vivi polos
"Maksud kamu... aku ngerjain kamu gitu? Bukannya aku udah total banget ya vi" ucap haris sambil memandangi dirinya dari atas kebawah
"Kakaknya si udah tapi itu..."
Vivi menunjuk tulisan tulisan di karton yang masih terpampang
Kaira yang mendengar percakapan tersebut segera menyela
"Nah kan... apa kata gue..." kaira menatap gemas vyan yang masih mematung dengan bonekanya
__ADS_1
"Hampir aja gatot yan, gara gara elo nih"
luna ikut memarahi vyan sambil menarik vyan bergabung ditengah, sementara vyan nampak menggaruk garuk tengkuknya tak mengerti