KASIH TIADA BATAS

KASIH TIADA BATAS
bab 36 Putri Kinara


__ADS_3

"Aku ada dimana sekarang?"


Nara memandang sekelilingnya yang hanya ada cahaya yang menyilaukan mata. Dengan setengah menyipitkan matanya, lalu mengangkat tangan ke wajahnya, berusaha menghalangi cahaya yang begitu terang mengenai matanya, Nara melangkah ke sumber cahaya itu.


Sejenak ia terpaku dengan pemandangan di depannya. Taman yang begitu indah dengan aneka bunga yang bermekaran, menyebarkan harumnya ke seluruh penjuru tempat itu. air yang mengalir begitu jernih diantara taman taman membuat hati begitu tenang dan damai, menikmati indahnya pemandangan yang terhampar di depan matanya.


Dengan senyum yang terus mengembang mengagumi ciptaan yang Kuasa. Nara pun duduk di sebuah batu dan mencelupkan kakinya ke air yang mengalir seperti sungai kecil. Menggerak gerakkannya perlahan, menciptakan gelombang gelombang air dengan sedikit percikan percikan yang bercahaya tertimpa sinar surya.


Dinginnya air dan harumnya bunga bunga membuat Nara terlupa sesaat akan derita hatinya. Tanpa sadar ia terlarut dalam buai angannya.


"Assalamualaikum,,,"


Suara itu pun menyadarkan Nara dari lamunannya. Ia pun menoleh kearah sumber suara. Nampak di depannya seorang gadis kecil yang sangat cantik sedang tersenyum kearahnya. Matanya yang begitu bening mampu membius Nara untuk berlama lama memandang gadis kecil ini dengan senyumannya.


" Waalaikum salam,,,kamu siapa sayang,,?"


Tanya Nara sambil merengkuh tubuh gadis kecil itu lalu mendudukkan di sampingnya.


"Bunda tidak mengenali aku kah,,,?"


Tutur lugu gadis kecil ini sambil memandang sendu kearah Nara.


Nara pun terkejut dengan penuturan gadis kecil di depannya saat ini.


"Maksud kamu apa sayang, kenapa kamu memanggilku Bunda?"


Dengan lembut Nara membelai rambut gadis kecil ini dengan tatapan penuh kasih sayang dan senyum yang selalu menghiasi bibirnya.


"Bunda,,, aku adalah putri Bunda yang baru saja lahir dari rahim Bunda, bersama dengan saudara laki laki ku, namun sayang,,, aku tak diberi kesempatan untuk merasakan kasih sayang Bunda di dunia fana. Makanya aku menemui Bunda disini, untuk memberi tahukan bahwa aku adalah putri Bunda, yang pernah tumbuh di rahim Bunda."


"Jadi maksudmu, Bunda melahirkan bayi kembar, dan satunya tak dapat terselamatkan sayang,,, dan itu kamu,,,?"


Gadis kecil itu hanya menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan Nara.


Nara pun segera memeluk putri kecilnya dengan erat, seakan tak ingin melepaskannya. Buliran bening pun mengalir dari kedua matanya. Hatinya terasa sakit menerima kenyataan yang baru saja di dengarnya langsung dari putri kecilnya.

__ADS_1


"Maafkan Bunda sayang,,, ini semua salahku, yang tak bisa menjagamu dengan baik, hingga peristiwa itu tak akan mungkin terjadi, dan pasti kamu masih hidup dalam rahim Bunda sampai saat ini. Dan pasti bisa terlahir ke dunia fana. Ini semua salah Bunda, maafkan aku sayang,, hiikksss,,, hiikksss,,,,"


Gadis kecil itupun melepas pelukan Nara, diusapnya lembut airmata Nara, dengan senyum yang manis ia pun mencium tangan Nara.


"Ini bukan salah Bunda, meski aku tak dapat bersama dengan Bunda di alam fana, tapi aku akan selalu ada dihati Bunda, kasih sayang yang selama ini Bunda berikan padaku, itu sudah cukup bagiku Bunda, putrimu ini akan selalu menunggu kesempatan lagi untuk bisa berkumpul lagi dengan Bunda juga Papa dan kakak ku nantinya."


"Sayang,,, selamanya kamu adalah putri Bunda, akan terus ada di hati Bunda, sampai" kita bersama nantinya, Putri Kinara."


Gadis kecil itupun memeluk Nara dengan eratnya. Kini airmatanya tak bisa disembunyikan lagi. Ia pun menangis dalam pelukan Nara.


"Terima kasih dengan nama yang sudah Bunda berikan padaku, Putri Kinara, bahkan nama Bunda pun ikut dalam namaku. Aku bahagia sekali, Bunda sangat menyayangiku. Mulanya aku ingin egois, menahan Bunda disini untuk menemaniku. Tapi melihat kasih sayang Bunda padaku, pasti kakak kembarku pun membutuhkannya. Kasihan dia, menanti hadirnya Bunda. Aku ikhlas melepas Bunda sekarang, kembalilah pada kakak ku Bunda, dia membutuhkan Bunda sekarang."


Putri pun menghapus airmata Nara dengan lembut, begitupun sebaliknya. Nara menghapus airmata Putri lalu mencium kening, hidung dan kedua pipi putrinya itu, sambil menakupkan kedua tangannya di pipi Putri.


"Putriku,,, meskipun kita berbeda alam, namun doaku akan selalu bersamamu sayang,,,"


Putri hanya mengangguk sambil tersenyum manis menjawab semua perkataan Bundanya.


Ia pun bangkit dari duduknya, lalu menarik lembut tangan Nara untuk berdiri dan mengikuti langkahnya.


Hingga saat mereka tiba disebuah pintu yang begitu terang, mereka pun berhenti.


Putri pun memeluk Nara dengan erat, untuk beberapa saat mereka saling berpelukan, hingga sayup terdengar suara tangis bayi yang membuat mereka tersadar. Putri pun melepas pelukannya dan tersenyum pada Nara.


Di depan Nara nampak sosok pria yang sangat dirindukannya sedang tersenyum dan membuka kedua tangannya ke arah Nara.


"Kakak,,,"


Bisiknya lirih, seakan tak mempercayai apa yang dilihatnya sekarang. Airmata pun mengalir membasahi pipinya.


Sedangkan pria itu hanya tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan Nara.


"Pergilah Bunda,,, Papa sudah menantikan Bunda."


Nara pun membelai rambut Putri, lalu mencium keningnya dan seluruh wajah putrinya itu, lalu memeluknya erat, dalam hati ia tak tega meninggalkan putrinya sendiri, namun di hatinya yang lain ia juga tak tega harus meninggalkan putranya yang membutuhkannya. Hingga ia tersadar tubuh putrinya semakin lama semakin menghilang dari dekapannya.

__ADS_1


"Putriku,,,"


Nara pun terkulai lemah sambil terisak tangis melepas kepergian putrinya.


"Nara,,, sayang,,,"


Mendengar suara itu pun menyadarkan Nara, ia kemudian bangkit lalu berlari berhambur ke pelukan suami yang sangat dirindukannya.


"Kakak,,,"


Hanya kata itu yang dapat terucap dari bibirnya, sungguh ia bahagia bisa bertemu dengan Raffi lagi. Hingga tak ada kata yang bisa melukiskan betapa bahagia hati nya saat ini.


Dengan airmata yang terus membanjiri pipinya.


Ia pun memeluk erat tubuh suaminya dan tak ingin terlepas lagi.


"Sayang kita pergi sekarang, putramu sangat membutuhkanmu saat ini, dengarlah suara tangisnya."


Bisik Raffi di telinga Nara lembut, membuat Nara merasakan hangatnya nafas suaminya. Ia pun melepas pelukannya. Lalu memandang lekat wajah yang sangat dirindukannya itu.


"Apakah ini pertanda kita juga akan berpisah lagi, Kak ?"


Raffi pun tersenyum dan menghapus air mata istrinya dengan lembut, lalu mencium keningnya.


"Berdoalah, semoga kita segera berkumpul lagi seperti dulu sayang,,,aku pun sangat merindukanmu. Namun sekarang yang terpenting adalah putra kita. Kembalilah,,, akan ku bawa kau pergi dari sini, biarkan putri kita damai disini, jangan usik dengan beban di hatimu untuknya. Yakinlah suatu saat kita akan bersama lagi."


Tutur Raffi lembut sambil menghapus air mata Nara yang tak mau berhenti. Lalu membelai lembut rambut Nara dan membawa Nara dalam pelukannya.


Tanpa disadari oleh Nara, Raffi membawanya melangkah menjauhi tempat itu menuju sinar terang yang menyilaukan matanya. Hingga ia tersadar saat tubuh Raffi pun perlahan lahan mulai menghilang dari dekapannya.


"Kakak,,,"


Teriak Nara sekuat kuatnya dengan sisa tenaga yang dia miliki. Dan ia pun tersadar dari mimpi panjangnya.


"Selamat datang Bunda,,,"

__ADS_1


Suara Rama yang berada di samping Nara dengan menggendong putra Nara.


bersambung 🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2