
"Kak Rendra!" Dengan mata yang berkaca kaca gadis itu menghambur ke pelukan Rendra. Sudah hampir 2tahun mereka tidak bertemu, membuatnya merindukan dokter yang sudah merawat dan menjaganya selama ia sakit dulu. Ditambah hubungan kakaknya dengan Dokter itu, membuat Rana tidak sungkan lagi meluapkan rasa yang kini menyesak di dadanya. Setelah tahu jika hubungan Naya dengan Rendra sudah berakhir meski rasa cinta mereka masih tetap sama, mungkin kini semakin besar. Semua itu karena ulah seorang wanita yang diyakini Rana adalah wanita yang kini berdiri di samping dokter tampan itu. Dan ia sangat tidak menyukainya.
"Rana!" Rendra membalas pelukan gadis kecil itu, ia juga sangat merindukan calon adik iparnya juga pasiennya dulu. Karena Ranalah yang menjadi alasannya bisa mendekati Naya. Gadis yang berhasil mencuri hatinya.
Lifia yang melihat kedekatan mereka menjadi jengah. Ingin sekali ia menarik tubuh Rana dari pelukan Rendra. Namun ia sadar diri, jika situasi juga tempat yang tidak memungkinkan untuknya bertindak. Ia pun memasang senyum palsunya. Menarik tangan Rendra melepas pelukan keduanya.
"Hai, kenalkan aku Lifia, tunangan Rendra." Lifia tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, namun tidak dihiraukan oleh Rana. Ia justru mencibir Lifia.
"Oh,,, kamu? Wanita yang tidak tahu malu sudah menjebak calon kakak ipar ku? Wajah sih cantik, tapi sayang kelakuan minus, kasihan sekali Kak Rendra jika harus berakhir di tangan wanita licik sepertimu!"
Lifia memandang tajam pada Rana yang terlihat meremehkannya. Kini mereka saling beradu pandang dengan intens. Seorang anak kecil berani menilai dirinya. Membuat Lifia benar benar geram, ingin sekali menampar gadis bermulut tajam itu. Namun ia menahan dirinya, tak ingin terlihat buruk dimata Rendra juga kedua orang tuanya. Ia pun tersenyum pada Rana.
""Gadis kecil, aku tahu kamu sangat menyayangi kakakmu, aku juga tidak berdaya dengan semua ini, tapi ini bukan salahku, karena perjodohan sejak kami lahir yang tidak bisa di putuskan begitu saja. Maafkan aku jika menyakiti kalian!" Lifia berpura pura sedih, lalu mendekati Rana berusaha memeluknya namun dihindari Rana.
"Gadis tengik, kamu salah jika menjadi musuhku! Akan ku pastikan Rendra melupakan kakak tercintamu itu! Karena di dalam perutku sudah ada bayi kami!" Bisik Lifia sambil mencibirkan bibirnya mengejek Rana yang seakan terpaku mendengar ucapan Lifia barusan.
Sorot matanya tajam kearah Rendra. Kemarahan yang tidak dapat dikendalikannya membuat Rana gelap mata. Ia pun menjambak rambut Lifia yang masih mensejajarkan wajahnya dengan wajah Rana. Membuat wanita itu menjerit kesakitan.
Mendengar jeritan Lifia yang kencang membuat seluruh mata tertuju pada mereka.
"Ada apa kak?" Naya yang tadinya asyik bercengkrama dengan Rasya juga Yulia bertanya pada Nara sambil menengok , mencari arah sumber suara berasal.
Mereka semua berdiri dari kursinya. Lalu berjalan kearah Raffi yang kini menatap kearah Rana juga Lifia.
__ADS_1
"Kak Raffi ada apa?" Raffi meraih pinggang Nara sambil tersenyum.
"Hanya pertunjukan kecil saja sayang, kamu tidak perlu khawatir. Biarkan Rana yang menyelesaikannya. Jangan halangi kesenangannya!" Nara hanya membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Di depan sana, ia melihat Rana sedang menjambak rambut seorang wanita yang ia tahu siapa itu.
"Alifia? Rana? Apa apaan mereka?" Naya ingin melangkahkan kakinya namun di tahan oleh seorang pria yang sangat di hindarinya saat ini.
Mengingat malam itu di apartemen saat Rendra ingin membawanya kabur, namun B menghadangnya, hingga mereka beradu pukul membuat keduanya terluka. Namun Alifia datang bersama orang tua Rendra, membawa Rendra pulang kembali ke rumahnya.
Meninggalkan Naya berdua dengan B yang terluka. Mau tidak mau Naya yang merawat luka B. Saat mengoleskan salep di wajah B pandangan mereka saling bertemu. Membuat keduanya salah tingkah.
Saat Naya ingin bangkit dari duduknya, kakinya tersandung hingga hilang keseimbangan, jatuh menimpa tubuh B yang saat itu masih terbaring di sofa. Entah kesialan Naya atau keberuntungan B. Bibir keduanya pun saling menempel cukup lama karena mereka terkejut dengan kejadian ini. Naya yang masih diatas tubuh B ingin bangkit, namun ditahan oleh lengan kekar yang sudah memeluk tubuhnya.
Meskipun tanpa perlindungan dari B, ia juga akan baik baik saja, karena tak mungkin Rendra menyakitinya. Ia hanya takut menjadi lemah saat berdua dengan Rendra, dan melakukan hal yang bisa menyakiti hati kakaknya, orang yang selama ini selalu menjaga nya. Hingga akal sehatnya kembali dan merutuki kebodohannya sendiri.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak meminta ini padamu!"
Penyesalan dan rasa bersalah jelas terlihat di mata B. Naya hanya menganggukkan kepalanya, lalu beranjak melangkah ke kamarnya.
"Bodoh,,, bodoh,,, bodoh,,,! Kau memang bodoh Naya! Bagaimana kalau kak Rendra tahu, ia pasti kecewa padamu, kamu seperti gadis murahan saja, Aaarrrgghh,,,!" Umpatnya sambil menjejakkan kaki ke lantai lalu menjatuhkan tubuhnya diatas kasur dengan posisi telungkup, menyembunyikan wajahnya di bantal.
Sejak saat itu, Naya jadi malu setiap bertemu dengan B. Berusaha menjaga jarak dari bodyguard tampannya. Dan sebisa mungkin tidak ada kontak fisik ataupun pembicaraan. Mereka seperti orang asing tiap kali berdua. Dan B bisa memakluminya.
__ADS_1
"Biarkan Rana yang menyelesaikan masalahnya sendiri, atau kamu ingin mendapat julukan sebagai pelakor, jika mendekati mereka. Semua orang tahu apa hubungannya masalah ini denganmu. Biarkan saja, Rana bisa mengatasinya!"
Naya hanya terdiam, menatap kearah Nara yang juga menganggukkan kepalanya. Naya pun melangkah pergi meninggalkan ruang itu menuju ke taman hotel untuk menenangkan pikirannya. Bodyguard setianya juga turut mengikuti langkahnya meski dari kejauhan.
"Aku tahu hatimu pasti sakit sekarang, tapi hatiku lebih sakit lagi melihatmu bersedih dan mendiamkan aku Naya!" B terus menatap punggung Naya yang duduk di kursi taman.
"Wanita tak tahu malu, murahan, bangga sekali kamu bicarakan aibmu padaku, kamu kira kakak ku akan tersakiti, kau salah besar, justru kakakku sudah menemukan pangeran hatinya yang baru, yang lebih baik dari pria brengsek seperti kekasihmu. Uppss,, salah,,,!" Rana menutup mulutnya. Tersenyum mengejek pada Alifia.
"Aku ralat kata kataku, bukan kekasihmu tapi kau yang tak tahu malu mengejar calon kakak ipar ku. Wanita sepertimu pantas disebut apa ya?"" Rana seakan berpikir sebentar, lalu menjentikkan tangannya dengan ceria.
"Rubah pelakor licik,,, ya rubah licik itu kamu kak Alifiaaaa!"
Alifia yang sudah merah padam dengan hinaan Rana padanya tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Ia pun mengangkat tangannya berniat memukul Rana. Namun,,,
"Hentikan!!" Bentak Rendra yang menarik tubuh Rana, menyembunyikan tubuh gadis kecil itu di belakang tubuhnya.
"Kau membelanya Rendra?" Bentak Alifia tak percaya jika Rendra berani bersikap kasar di depan umum. Nafasnya naik turun menahan amarah di dadanya.
"Pergi kamu dari kehidupan ku, atau aku tidak akan berbelas kasih padamu lagi! Ancamanmu tidak akan berhasil Nona Alifia, apa perlu bukti itu ku tunjukkan padamu sekarang? Sebelum kau menyakiti orang orang yang kusayangi, aku akan menghancurkanmu dulu! Cepat Pergi! Pergi!!"
Suara Rendra menggelar di ruang tersebut. Membuat semua orang menatap kearahnya. Begitu pun kedua orang tuanya. Yang hanya bisa membuang nafasnya berat melihat tingkah putranya yang sudah tak terkendali.
"Plakkk,,!!"""
__ADS_1
bersambung🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸