KASIH TIADA BATAS

KASIH TIADA BATAS
Bab 55 apa salahmu


__ADS_3

Suasana terasa hening, tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka. Hanya tatapan Raffi yang selalu tertuju pada mantan istrinya. Sedangkan Nara hanya bisa menundukkan wajahnya, menghindari tatapan Raffi yang seakan akan ingin memakannya hidup hidup.


Setelah kejadian tadi pagi, Raffi memang membawa Rasya pulang ke rumahnya. Ia ingin memberi hukuman pada Nara yang lebih mementingkan orang lain dari pada putranya. Meskipun itu bukan sepenuhnya salah Nara.


Namun di mata Raffi, apa pun alasannya, seharusnya Nara bisa memprioritaskan Rasya lebih utama dibandingkan dengan hal yang lain.


Sungguh kemarahan Raffi tidak bisa dibendungnya saat mengetahui Nara justru ikut ke Balai Desa mendampingi Bima. Padahal dirumah Rasya sedang menangis sejadi jadinya. Bu Ida tidak bisa menghentikan tangis Rasya meski segala cara sudah ia lakukan. Raffi yang tadinya menahan diri untuk tidak muncul menemui mereka, jadi tidak tega mendengar tangis Rasya yang begitu memilukan terdengar di telinganya. Sebagai seorang Ayah, yang ikatan batin diantara keduanya juga begitu dekat, membuat Raffi melangkahkan kakinya ke rumah mantan istrinya yang selama sebulan ini hanya bisa di pandanginya.


Saat sampai di halaman Rumah itu yang begitu indah dengan tanaman bunga yang dulu di rawat oleh Naya, ia mendapat sambungan tlp yang mengatakan Nara sedang berada di Balai Desa, mencoba membantu Bima yang sedang ada masalah.


Kemarahan Raffi semakin memuncak mendengarnya. Kemudian ia menutup panggilan itu sebelum orang yang menghubunginya menutup ponselnya.


"Berani sekali kamu mementingkan pria lain, sedangkan putra kita menangis memilukan di rumah, rupanya aku terlalu berbaik hati padamu selama sebulan ini." Geram Raffi yang mencengkeram tangannya erat.


Kebetulan saat itu Bu Ida membawa Rasya keluar dari dalam rumah, berniat mengajak Rasya ke bangku taman. Namun langkahnya terhenti saat melihat Raffi sedang berjalan ke arah mereka.


"Mas Raffi,,," lirih Bu Ida tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Beliau pun memastikan pandangannya takut jika pandangannya itu kabur. Dengan mengucek mata sebentar lalu melihat ke arah Raffi lagi.


"Assalamualaikum Bu,,," sapa Raffi setelah berada tepat di depan Bu Ida.


Dengan sedikit gelagapan, Bu Ida pun menjawab salam Raffi," waalaikum salam Nak Raffi, kapan datang?"


"Boleh saya gendong Rasya Bu?" Alih alih menjawab pertanyaan Bu Ida, Raffi justru mengambil Rasya dari tangan wanita itu.


Bu Ida dengan sedikit canggung memberikan Rasya pada Papanya. Entah apa yang dimiliki oleh Raffi, mendapat sentuhan tangan Raffi, seketika tangis Rasya segera berhenti.


"Kamu kangen ya sama Papa, ini Papa sayang,,, Rasya tidak bole nakal ya, kasihan Bu Ida, jagoan Papa harus pintar tidak boleh cengeng." Tutur Raffi sambil menciumi pipi gembul Rasya.


Cukup lama mereka berada di taman dengan Rasya yang masih bercengkrama dengan Raffi. Sedang Bu Ida hanya bisa tersenyum bahagia melihat interaksi keduanya. Hingga ada seseorang datang memberikan laptop pada Raffi.

__ADS_1


"Ini Tuan,,," Kata pria itu yang sebelumnya mengangguk hormat pada Raffi juga Bu Ida.


"Baik,,, kamu boleh pergi." Kata Raffi sambil menyerahkan Rasya pada Bu Ida.


"Bu,,, saya mau pergi ke Balai Desa dulu, memberikan ini pada Bima, " Raffi mengangkat laptop itu sebentar. Sedang di luar halaman sudah menunggu sopir Raffi.


"Iya Nak Raffi." Balas Bu Ida yang berusaha menenangkan Rasya yang seakan enggan untuk berpisah dari Papanya.


Belum jauh langkah Raffi meninggalkan mereka. Tangis Rasya kembali memecah indahnya pagi. Membuat Raffi memutar tubuhnya melangkah ke arah mereka lalu menggendong Rasya lagi. Dan debay itupun terdiam dalam gendongan Papanya.


"Lebih baik Ibu ikut Nak Raffi saja dengan Rasya, mungkin Rasya sudah merindukan Nak Raffi." Ucap Bu Ida yang mengambil alih laptop dari tangan Raffi.


"Baiklah Bu, jika itu mau Ibu."


Mereka pun melangkah menuju mobil Raffi, lalu melaju kearah Balai Desa setelah semua masuk ke dalam mobil.


"Huffff,,," Hela Raffi untuk menenangkan dirinya. Ia mengusap wajahnya kasar lalu menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa. Nara masih saja tertunduk di sofa depan Raffi.


"Katakan apa kesalahanmu,,," tiba tiba saja Raffi memecah kesunyian diantara mereka.


"Maafkan aku Kak,,, tidak seharusnya aku meninggalkan Rasya terlalu lama, meski ada Bu Ida di rumah. Aku memang teledor, ku mohon maafkan aku, padahal Mas sudah mengizinkan aku merawat Rasya." tutur Nara dengan sedikit bergetar karena menahan tangisnya. Matanya sudah berkaca kaca.


"Bagus kalau kamu mengerti akan hal itu, lalu kesalahanmu yang lain?" Kini Raffi sudah bangun dari sandarannya. Sedikit mendekatkan tubuhnya ke arah Nara.


Dengan jelas ia bisa tahu jika Nara sedang menahan tangisnya.


"Maafkan aku sayang,,, tapi ini kulakukan untuk kita." gumam Raffi dalam hati.


"Kesalahanku yang lain,,,?" Tanya Nara yang bingung dengan perkataan Raffi. Karena ia merasa tidak memiliki kesalahan yang lain selain meninggalkan Rasya terlalu lama. Membuat putranya itu menangis begitu lama, beruntung ada Raffi yang bisa mendiamkannya. Kalau tidak, mungkin keadaan Rasya tidak akan baik baik saja. Itu semua dia ketahui dari Bu Ida, hingga ia tahu penyebab Raffi marah kepadanya.

__ADS_1


Raffi yang mendapat pertanyaan balik dari Nara hanya tersenyum sinis." Rupanya aku terlalu memanjakanmu selama sebulan ini, hingga kau lupa apa larangan dan hukumanku." Raffi mendekatkan wajahnya kearah Nara, lalu membisikkan kata itu. Membuat darah Nara berdesir terkena hembusan hangat nafas Raffi.


"Tapi Kak,,, aku merasa tidak membuat kesalahan yang lain." Kekeh Nara yang kini memandang kearah Raffi. Hingga tatapan mereka saling beradu. Membuat degup jantung keduanya berpacu lebih cepat.


"Ya Allah,,, tolong kondisikan jantungku,,, aku tak sanggup untuk menahannya. Aku sangat merindukannya." gumam Nara dalam hati lalu menundukkan wajahnya lagi untuk menenangkan dadanya yang tengah bergejolak.


Semua kegelisahan Nara bisa ditangkap juga dimengerti oleh Raffi. Karena ia juga merasakan hal yang sama. Justru keusilan Raffi kini muncul. Ia semakin mendekatkan tubuhnya kearah Nara. Yang membuatnya memundurkan tubuhnya hingga terpentok ke sandaran sofa.


"Apa aku perlu mengatakan apa kesalahanmu sayang,,," nafas Raffi kini sudah tidak beraturan lagi saat ia menyatukan kening mereka. Nara mulai menyadari akan kesalahannya. Ia segera mendorong dada Raffi agar menjauh dari Nara.


Namun Raffi tak bergeming dari tempatnya.


"Maafkan aku Kak,,, aku tahu apa kesalahanku,,," ucapnya sambil menggigit bibir bawahnya juga meremas gaunnya. Berusaha untuk menghilangkan rasa takutnya sekarang. Karena ia tahu jika Raffi marah karena ia membantu Bima tadi pagi. Sedangkan Raffi sudah memberitahunya, jangan ada hubungan apa pun dengan pria lain selama mereka berpisah. Kalau Nara melanggar itu semua, maka Raffi akan mengambil Rasya kembali.


"Bagus kalau kamu sudah mengerti, jadi aku tidak perlu susah susah menjelaskannya padamu, siapkan semua barang Rasya, besok ia akan ikut denganku kembali ke kota." Raffi beranjak bangkit dari duduknya berniat meninggalkan Nara, namun langkahnya terhenti karena Nara sudah bersimpuh memegangi kakinya.


"Kak,,, jangan lakuin itu, aku mohon,, jangan pisahkan kami,,,hikkss,, hikksss,," air mata yang tadi ditahannya pun terjun bebas membasahi pipi Nara.


Raffi pun merundukkan tubuhnya mengangkat lembut tubuh Nara. Hingga mereka saling berhadapan, Raffi mengangkat dagu Nara lembut, lalu mengusap lembut air mata Nara.


"Aku bisa menuruti semua keinginanmu, tapi hukuman tetap harus aku berikan padamu,,," dengan senyum penuh kelicikan ia pun mencium lembut bibir Nara. Ciuman yang semakin lama semakin menuntut. Hingga,,,


"Jangan Kak,,, kita bukan muhrim lagi." Tolak Nara yang membuat Raffi semakin memperdalam ciumannya.


"Kita bikin adik untuk Rasya,,," bisiknya yang membuat Nara melotot sempurna.


"Jangan Kak,,, Aaahh,,,"


bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2