
Sementara itu di kota B, seorang gadis sedang gelisah menunggu kekasihnya. Sudah hampir satu jam ia menunggu, tapi tidak nampak juga batang hidung sang kekasih. Ia mulai kesal juga khawatir, kesal karena terlalu lama menunggu, khawatir jika terjadi apa apa dengan sang kekasih. Karena dari tadi ia menghubunginya hanya suara operator yang menjawabnya. Karena kegelisahannya, ia pun berjalan mondar mandir dengan kedua tangan bersedekap di dada, matanya tak henti memandang ke arah jalan raya."Sebenernya kau ada i mana sih Kak,,, tidak biasanya kau seperti ini,,," gumamnya lirih yang terlihat jelas rona kekhawatiran di wajah cantiknya. Hingga ia tak menyadari seseorang sudah berada di sampingnya.
"Ekheemm,,," pria itu berdehem sebentar untuk memancing Naya menatap kearahnya, menyadari jika ada orang yang mendekatinya. Namun Naya seakan larut dalam dunianya sendiri tanpa menghiraukan orang tersebut.
"Kenapa belum pulang Naya? Ini sudah terlalu malam? Apa nunggu Dokter Rendra ya?" Akhirnya pria itu memecah lamunan Naya dengan pertanyaannya. Sedetik gadis itu menoleh kearah sumber suara.
"Kak Bayu,,, maaf Kak kalau tadi saya tidak menyadari kehadiran Kakak,,, iya saya menunggu Dokter Rendra, dari tadi ponselnya mati terus, saya khawatir, karena tadi saya sempat hubungi rumah sakit katanya sudah sejam yang lalu ia sudah keluar dari rumah sakit." Tutur Naya dengan polosnya tanpa menutupi apa pun yang ia pikirkan sekarang. Padahal ia tahu, laki laki yang berdiri di sampingnya sekarang ini telah menyukainya sejak pertama kali ia memasuki kampus ini. Itu ia ketahui dari sahabatnya, Alifia yang merupakan sepupu dari Bayu. Karena diantara Naya dan Alifia tidak pernah ada rahasia. Mereka selalu terbuka dengan masalah masalah yang tengah mereka hadapi, hingga mencari solusi untuk masalah itu berdua.
Bayu hanya manggut manggut mendengar penuturan Naya. Ia mencoba tersenyum semanis mungkin di hadapan gadis itu meski hatinya sedang bergemuruh menahan rasa cemburunya. Sungguh beruntung Rendra, itu pikir dari Bayu. Namun ia juga tidak akan mau kalah untuk memperjuangkan cintanya pada sahabat sepupunya yang sudah ia pendam saat pertama kali melihat Naya memasuki gerbang kampus.
Pesona Naya mampu menghipnotis semua mata para lelaki saat itu. Tak terkecuali dirinya. Meski sebagai seorang playboy ia juga banyak diidolakan oleh cewek cewek di kampus itu, karena tidak hanya tampan, tapi Bayu juga merupakan anak pemilik dari perusahaan yang bergerak di bidang farmasi obat obatan juga pemilik dari kampus tersebut. Maka tidak heran jika ia jadi idola para cewek di kampus ini meski ia terkesan sombong juga arrogan.
"Ini sudah terlalu larut malam Naya, bagaimana kalau aku antar pulang, karena jam jam segini sudah susah mencari taxi online." Tawar Bayu yang mencoba menunjukkan simpatinya pada Naya.
"Tidak usah Kak, terima kasih,,, saya menunggu dia saja, bagaimana kalau dia kesini saya sudah pulang bersama Kak Bayu, pasti dia akan kecewa." Dengan senyuman tipisnya, Naya melihat kearah Bayu sebentar lalu melihat kearah jalan raya lagi.
"Baiklah kalau gitu, aku akan pulang duluan ya, atau perlu aku temani disini, gimana nanti kalau ada pria berandalan yang datang menggodamu, daerah sini tidak aman Naya kalau sudah malam, banyak ayam kampus berkeliaran mencari om om yang bisa dijadikan target mereka."
Naya yang mendengar kata Bayu hanya mengerutkan alisnya. Ia tak paham dengan istilah ayam kampus, matanya pun menyusuri tiap sudut jalan, namun tidak menemukan adanya seekor ayam pun, justru ia melihat banyak cewek cewek cantik yang berlalu lalang di jalan itu. Bayu yang melihat tingkah Naya hanya tersenyum.
__ADS_1
"Kamu memang gadis yang lugu Naya, mutiara berharga tetap akan berkilau di dalam lumpur sekalipun, dan aku tak akan pernah melepas kesempatan untuk memilikimu, selamanya aku tak akan melepasmu." Gumam Bayu dalam hatinya yang terus memandangi Naya dengan penuh cinta juga damba.
Naya yang mendapat tatapan mata dari Bayu pun sedikit salah tingkah. Kenapa Bayu menatapnya seperti itu, yang tidak mengedipkan matanya meski sejenak.
"Kak Bayu,,, mana ayamnya, dari tadi aku tidak melihat seekor pun, kata Kakak tadi banyak?" Dengan sedikit gugup Naya mencoba mencairkan suasana yang dirasa cukup dingin baginya.
"Nay,,, Nay,,, kamu itu lugu sekali sih, jadi pingin nyubit kamu deh,,, " kata Bayu sambil terkekeh pelan.
Ia bisa menyadari kepolosan juga keluguan Naya karena usianya juga masih terlalu belia untuk ukuran masuk universitas, karena seharusnya diusia Naya sekarang bukannya ia masih duduk di bangku kelas 1 SMA.
Sedangkan Naya hanya memandang Bayu dengan penuh tanya. Yang membuat pria itu semakin terkekeh di tempat duduknya.
Bayu pun menarik nafasnya perlahan untuk menghentikan tawanya. Kemudian dia menunjukkan pada Naya ke sebuah cafe yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Karena letak taman kampus lebih tinggi dari jalan raya maka dengan jelas Naya bisa melihat ke bawahnya. Naya pun melihat kearah yang ditunjuk oleh Bayu. Keningnya mengkerut dengan kedua alis yang bertaut, belum mengerti juga maksud Bayu. Yang dilihatnya hanya ada seorang cewek sedang bergelayut manja sama om om yang usianya jauh lebih tua dari cewek tersebut. Ia pun menatap kearah Bayu lagi dengan pandangan penuh tanya. Dengan kedua tangannya dibuka selebar bahu dan diangkatnya sedikit, pertanda ia masih belum mengerti.
Namun belum sempat Bayu menjelaskan padanya. Mata Nara kini tertuju pada seseorang yang sedang memeluk seorang wanita masuk ke dalam mobilnya. Seketika tubuhnya seakan luruh ke lantai, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Tidak,,,, itu tidak mungkin,,, Rendra tidak akan berbuat seperti itu,,, tidak aku pasti salah lihat,,, itu tidak benar."Gumamnya lirih namun dapat di dengar oleh Bayu.
"Nay,,, kau kenapa,,, Naya,,,?" Bayu memegang kedua pundak Naya, mencoba menyadarkan gadis itu dari lamunannya yang kini tengah terduduk lemas di kursi taman dengan derai airmatanya.
__ADS_1
Melihat air mata Naya membuat hati Bayu bagai teriris, perlahan ia menghapus airmata Naya, lalu duduk disamping gadis itu dan menyandarkan kepala Naya di bahunya. Sambil memeluk pundak Naya. Mencoba memberikan ketenangan untuk gadis itu sekarang.
Entah untuk berapa lama mereka saling terdiam dengan posisi seperti itu. Naya yang terus berlinang airmata tidak menyadari jika Rendra sudah berdiri di samping mereka dengan mengepalkan tangannya. Tanpa banyak kata, ia menarik hem Bayu hingga Bayu berdiri dan melepaskan tangannya dari Naya. Belum sempat Bayu menjelaskan pada Rendra, sebuah pukulan sudah mendarat di wajah tampannya. Membuat sudut bibirnya sobek dan mengeluarkan darah, tubuhnya pun terhuyung ke belakang.
Nara yang terkejut spontan menghadang Rendra yang ingin memukul Bayu lagi.
"Minggir sayang,,, biar aku beri pelajaran cowok tak tahu diri ini,,," geram Rendra yang sudah bersiap untuk memukul Bayu lagi.
"Kalau Kak Bayu tidak tahu diri, lantas kamu apa, pengkhianat,,, iya,,,?" Kata Naya bagai petir disiang hari bagi Rendra, ia terpaku sambil menatap penuh tanya pada Naya sekarang.
"Oh Tuhan,,,, apa Naya melihat semuanya,,,?" gumam Rendra yang cemas dan kalut hatinya saat ini.
"Kenapa diam?" Lirih Naya namun bagai silet di telinga Rendra.
"Sayang,,, aku bisa jelaskan,,, sekarang kita pulang." Rendra mencoba meraih tangan Naya namun dihempaskan oleh gadis itu. Hatinya terlalu sakit sekarang, hingga ia tak ingin lagi mendengar atau pun melihat wajah Rendra lagi.
Bergegas ia bangkit dari situ dengan sorot mata penuh amarah pada Rendra, sambil memapah tubuh Bayu yang sebenarnya masih bisa berjalan sendiri. Namun itu hanya dijadikan alasan Naya menjauh dari Rendra.
"Siaalll,,, " umpat Rendra sambil mencengkram rambutnya kasar.
__ADS_1
bersambung,,,,,,