
"Oh Tuhan, kenapa sakit banget, kenapa rasa ini tak mau pergi dari hatiku, sakit sekali, hikss,,,hiksss,,." Air mata terus mengaliri pipi yang sedikit chubby itu. Andai waktu bisa di putar kembali, sungguh ia tak ingin bertemu dengan lelaki itu dan memberikan hatinya. Sungguh rasa ini begitu menyiksanya sekarang.
Berita yang baru saja di dengarnya membuat gadis ini hancur tak bersisa, seakan darah tak mengaliri tubuhnya lagi, ia jatuh terkulai di samping bangku taman. Seakan ada tangan tak kasat mata telah menarik paksa jantungnya keluar dari raganya.
"Kak Rendra,,, kenapa bisa begini kak,,, ?" Ia tenggelamkan wajahnya di kedua lututnya dengan tubuh yang bergetar hebat karena tangisnya.
"Apa yang harus aku lakukan kak? Haruskah aku pergi sekarang? Tapi untuk bertahan hatiku sudah tak sanggup lagi, hiksss,,, hikkss,,,Oh Tuhan! Kenapa sesakit ini? Kenapa?"Naya memukul mukul dadanya yang terasa sesak, berharap semua akan lebih baik lagi setelah meluapkan semua beban yang menghimpit di sana. Namun semua tak berlangsung lama karena setelah itu kesadarannya pun hilang berganti dengan kegelapan.
Sebelum tubuh Naya membentur lantai, B dengan sigap telah menopangnya. Ditatapnya lembut wajah gadis yang terlihat berantakan itu. Segera ia bopong masuk ke dalam mobilnya. Lalu membawa tubuh gadis itu ke apartemen mereka setelah memberi kabar Raffi terlebih dulu.
"Maafkan aku, tidak bisa menjagamu Naya, maafkan aku,,," lirihnya menyesali kecerobohannya beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
Karena tak tahan dengan sakit perutnya, B meninggalkan Naya sendiri di bangku taman. Tanpa di ketahui siapa pun, Lifia mendatangi gadis itu dan
"Plakkk,,,Plakk,,!" Dua kali tamparan melayang di kedua pipi Naya.
Naya yang sedang melamun terkejut atas kehadiran Lifia dan apa yang telah gadis itu lakukan padanya.
"Kamu apa apaan sih Fia, apa salahku?" Bentak Naya yang tak terima dengan tingkah sahabatnya meski kini mereka bagai musuh bebuyutan.
"Kamu jelas jelas tahu apa kesalahanmu Naya, nggak usah sok polos di hadapanku, dasar pelakor! Kamu kan yang menyuruh adik sialanmu itu untuk mempermalukan aku di depan umum, agar semua orang tahu, kalo aku disini yang bersalah bukan kamu yang sudah merebut tunanganku!" Bentak Fia di depan muka Naya sambil menunjuk wajah gadis itu.
Naya yang tidak terima atas tuduhan Fia mulai geram, ia pun menepis tangan Fia dari mukanya. Matanya menyorotkan amarah yang selama ini ia simpan untuk sahabatnya itu.
__ADS_1
"Denger ya, meskipun aku membencimu, aku tidak akan menyuruh orang lain untuk menyakitimu, kalau aku mau, saat ini juga aku bisa membuatmu kehilangan semuanya. Jangan mengusikku dan menguji batas kesabaranku Fia, jika tidak ingin kehilangan duniamu, ingat!!! Satu kata dariku meminta Kak Rendra putus darimu, maka ia akan melakukannya saat itu juga, jadi jangan usik batas kesabaranku, mengerti kamu!"
Naya pun bangkit dari duduknya, berniat meninggalkan tempat itu dengan amarah yang masih membakar hatinya. Bagaimanapun juga ia masih menganggap Fia sebagai sahabatnya, dan tak ingin menyakiti hati gadis itu lebih dalam lagi. Karena ia merasa bersalah telah hadir diantara Fia juga Rendra yang ternyata telah di jodohkan sedari kecil meski Rendra tak menyetujuinya.
"Haa,,,haa,,,haa,,," tawa Lifia terdengar lantang memecah keheningan di taman tersebut.
"Kau percaya diri sekali Naya, apa kau yakin Rendra masih mencintaimu sedangkan sekarang aku telah mengandung anaknya. Ha,, ha,, ha,, sudahlah aku tak ingin bahagia lagi saat melihatmu meratapi nasib cintamu, aku pergi, ingat!! aku sedang hamil anak Rendra, kekasih hatimu, kalau kamu tahu diri, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan bukan Nona Naya??!"
Lifia pun melangkah meninggalkan Naya yang masih mematung mendengar berita yang benar benar membuatnya syok. Tubuhnya luruh dengan derai air mata yang kini mengalir deras dari pelupuk matanya. Ia ingin tak mempercayai Alifia, tapi ia juga ragu, bisa saja Rendra melakukan kesalahan tanpa disadarinya, teringat malam itu saat Rendra dalam pengaruh obat.
"Hikkss,,hiikkss,,, Kak Rendra,,, inikah akhir cerita kita?" Lirihnya dengan mendekap kedua lututnya. "Oh Tuhan,, kenapa sakit sekali?"
__ADS_1
bersambung ,