KASIH TIADA BATAS

KASIH TIADA BATAS
bab 38 kesadaran Raffi


__ADS_3

Sementara itu, disebuah rumah tua yang terdapat di sebuah pulau terpencil, nampak seorang Ibu sedang mengobati luka seorang pria tampan. Meskipun ia belum sadarkan diri sampai sekarang, namun Ibu itu tidak putus asa dan patah arang. Dengan telaten ia terus merawat pria itu dan menganggapnya sebagai putra sendiri. Mungkin karena ia tak bisa memiliki putra, makanya ia bersyukur sekali saat pertama kali menemukan seorang pria yang pingsan terbawa arus lautan dalam keadaan mengenaskan namun detak jantungnya masih ada.


Segera ia memanggil suaminya untuk membawa tubuh pria itu ke dalam gubuk mereka. Ya,, disini mereka hanya tinggal berdua dan beberapa tetangga saja, karena mereka bertugas melindungi hutan yang ada di pulau itu dari jamahan para penebang hutan liar. Karena wilayah ini merupakan milik dari sebuah perusahaan ternama di negara itu.


Ibu itu pun dengan telaten membersihkan tubuh pria itu dengan menggunakan handuk kecil yang sudah di basahi tadinya.


"Kapan kamu akan sadar, Nak? Andai aku bisa membawamu berobat ke kota, mungkin kamu akan secepatnya sembuh, tapi apa daya kami, tak memiliki biaya untuk mengobatimu, hanya obat tradisional yang bisa kami gunakan untuk menyembuhkan mu. Cepatlah sadar, pasti orang orang yang menyayangi dan mencintaimu sedang menunggu kedatangan mu, pasti mereka mengira kalau kamu sudah tiada."


Ibu itu terus berbicara seakan akan pria ini mendengar apa yang ia bicarakan.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Ibu ini pun memberikan obat yang terbuat dari tumbuh tumbuhan obat di hutan itu.


Seperti biasa, dengan kesabaran dan ketulusannya, ia begitu telaten merawat pria ini.


Dan saat ia ingin meminumkan obat lagi, nampak tangan pria ini pun bergerak gerak. Lalu tak lama kemudian, matanya pun mulai terbuka perlahan.


Melihat itu, Ibu tadi merasa senang bukan kepalang, ia pun segera berlari ke luar memanggil suaminya.


"Aki,,, liat ke dalam, anak muda itu sudah siuman, ayo Aki,,, cepetan,,,!"


Ibu itu menyeret paksa tangan suaminya yang sedang membelah kayu untuk .kayu bakar. Dengan terpaksa, ia pun meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti langkah istrinya.


"Pelan pelan aja Bu,,, dia juga gak bisa kemana mana."


Protesnya pada istrinya.

__ADS_1


Namun Ibu itu tidak menghiraukan ucapan suaminya. Dengan langkah cepat mereka menuju kamar yang ditempati oleh pria muda tadi.


Sesampainya di kamar, mereka berdua pun terkejut melihat pria muda itu sudah bersandar di depan jendela kamarnya. Sambil memandang ke luar jendela, dan dia pun terkejut saat melihat pasutri itu masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu sudah baikan, Nak? Kenapa tidak tidur saja, tubuhmu belum kuat untuk berdiri terlalu lama, ayo istirahat dulu!"


Ibu itu pun menuntun pria itu ke tempat tidur, sesungguhnya pria ini mampu untuk berjalan sendiri, tapi ia menghargai semua bentuk perhatian dan kasih sayang Ibu ini padanya, ia pun mengikuti semua ucapan Ibu ini.


Setelah mereka semua duduk di tempat tidur dengan posisi pria itu bersandar pada dinding yang terbuat dari bambu, dengan bantal sebagai penyangga punggungnya, sedangkan Ibu dan Aki duduk di tepi ranjang kanan dan kiri pria tersebut.


Mereka pun mulai berbincang bincang untuk pertama kalinya.


"Kamu dari mana asalnya, Nak? Namamu siapa?"


Tanya Aki sambil menatap lekat kearah pria itu.


tutur Raffi lembut pada kedua orang yang telah berjasa padanya saat ini.


"Nak Raffi hampir 7 bulan tidak sadarkan diri, saat itu kami menemukan tubuh Nak Raffi dengan baju pelampung di tepi pantai, kondisi Nak Raffi cukup parah, dengan obat ala kadarnya kami merawat Nak Raffi, dengan ijin Yang Kuasa akhirnya Nak Raffi bisa berangsur angsur pulih, dan alhamdulillah,,, kini Nak Raffi sudah sadar."


Tutur Aki yang diangguki oleh istrinya.


"Ceritakan pada kami, kenapa Nak Raffi bisa mengalami tragedi ini."


"Terima kasih Pak,,, Bu,,, sudah merawat saya selama ini, saya banyak berutang budi pada Bapak dan Ibu."

__ADS_1


Kata Raffi sambil menggenggam tangan Aki dan Ibu tadi.


Raffi pun menceritakan semuanya, yang ia pamit bekerja dan disuruh atasannya untuk pergi ke negara S, dan saat mengetahui istrinya yang sedang hamil terpeleset dan jatuh, ia jadi panik dan memutuskan untuk melakukan penerbangan meski cuaca buruk. Hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi. Tapi ia masih beruntung sempat memakai baju pelampung sebelum kecelakaan itu terjadi, begitu juga dengan penumpang pesawat yang lain. Raffi sengaja menyembunyikan identitasnya untuk keamanannya dan kenyamanannya nantinya.


"Jadi Nak Raffi sudah punya istri dan mau melahirkan?"


Tanya mereka berdua berbarengan, tersirat kegembiraan jelas di wajah keduanya. Raffi sampai tersenyum melihat keduanya yang kompakan.


"Iya Pak,,, Bu,,, dan saya sangat merindukan istri dan calon anak kami sekarang, apa saya bisa pulang sekarang juga Pak,,, Bu,,,?"


Raut kekecewaan dan kesedihan tergambar jelas di wajah kedua orang itu. Dan Raffi bisa menyadari semuanya.


"Kenapa Bapak dan Ibu bersedih?"


"Nak,,, kami ingin sekali melihat kamu segera berkumpul dengan istrimu, karena kami yakin, ia juga sedang menanti kedatanganmu dengan cemas, tapi,,,"


ucapan Aki terpotong dengan diamnya beberapa saat. Karena ia tak mau menghancurkan semangat Raffi.


"Tapi apa Pak,,?"


Tanya Raffi dengan lembut meski hatinya sudah gundah gulana dengan kenyataan yang akan dihadapinya nanti.


"Ini pulau terpencil Nak,,, dan hanya ada kapal pengangkut barang yang akan singgah, itupun untuk waktu 3 bulan sekali. Karena mereka akan mengangkut kayu milik perusahaan Aditama Group. Jadi untuk saat ini, Nak Raffi tidak bisa kemana mana, hanya bisa menunggu sampai kapal pengangkut itu datang. Dan itu kurang satu bulan lagi."


Nampak rona kesedihan terpancar jelas di wajah Raffi, kerinduannya pada Nara sudah tak tertahan lagi. Namun ia harus bersabar untuk menemui kekasih hatinya saat ini. Ia pun pasrah dengan keadaan, apa lagi tenaganya juga belum pulih benar.

__ADS_1


"Sabarlah sayang,,, sebentar lagi kita akan berkumpul kembali."


bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2