
Malam telah beranjak dari peraduannya, terdengar suara kokok sang jago yang menggugah semua orang untuk bangun dari lelapnya. Begitu juga dengan Nara, perlahan ia turun dari ranjangnya, menatap ke luar jendela yang sengaja terbuka. Angin yang berhembus menambah dingin nya pagi, menembus ke tulang tulang.
Sayup sayup terdengar suara adzan berkumandang, mengajak kaum muslimin muslimat untuk bertemu dengan sang pencipta. Nara pun melangkah ke kamar mandi membersihkan dirinya lalu menunaikan sholat subuh.
"Ya Allah jika memang ini jalan yang Kau ridhoi beri hamba kekuatan, kesabaran dan keikhlasan untuk menjalaninya. Jika memang yang terbaik untuk hamba maka satukanlah kami, jika memang tidak baik untuk hamba, maka jauhkanlah kami. Lindungilah hamba dan orang orang yang hamba sayangi dari kebaikan dan keburukan yang kami ketahui atau tidak, amiinn,,," potongan doa yang diucapkan Nara. Setelah itu ia melepas mukenanya, melipat , menaruhnya di tempat semula.
Nara menghela nafas pelan, melangkahkan kakinya ke luar kamar menuju pintu utama. Bu Ida yang baru keluar dari kamarnya pun menghampiri Nara yang kini duduk di kursi teras rumahnya sambil memandang kearah rumah Raffi.
"Kalau ingin menemui Rasya, pergi saja jangan tahan hatimu lagi, Ibu tahu, kau menolak menikah dengan Raffi karena Rama juga Cindy bukan? Kau tak mau melukai hati mereka lagi, tapi apa pernah kau pikir jika Rasya juga butuh orang tua yang lengkap. Jangan menuruti emosi sesaat yang akan membuat penyesalan seumur hidup. Kamu berhak bahagia sayang, hidup kalian masih panjang, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, bisa saja Raffi lelah menunggumu lalu mendapatkan penggantimu, begitu juga dengan Rama, seiring waktu ia pasti bisa menerima semua kenyataan, mungkin saat itu ia juga menemukan wanita pengganti dirimu. Namun Rasya, ia membutuhkan kalian berdua, orang tua kandungnya. Jangan menahan hatimu lagi demi kebahagiaan orang lain, pasti mereka juga mengerti akan keputusanmu kembali bersama Raffi. Apa lagi kebahagiaan kalian adalah bersama. Kamu tidak bisa menentang takdir, ikuti saja seperti air yang mengalir, pasti semua indah pada akhirnya." Bu Ida menggenggam tangan Nara dengan memandangnya penuh kasih.
"Ibu benar, tapi setidaknya Nara minta restu pada mereka berdua, karena selama hidupku akan terus berhubungan dengan mereka, aku tak mau ada amarah yang bisa membuat dendam di hati Ibu. Karena itu bisa menjadi penyebab kehancuran keluarga kami. Aku ingin keluargaku selalu rukun, tentram, damai saling mengasihi meski kami hanya saudara tiri."
Mendengar perkataan Nara, Bu Ida pun tersenyum sambil manggut manggut, seakan mengerti apa yang Nara rasa sekarang.
"Ya udah sayang,,, kenapa tidak kau hubungi saja mereka sekarang, minta restu pada orang tuamu juga, jangan sampai Raffi keburu kembali ke kota membawa Rasya bersamanya."
Bu Ida pun mengambil ponsel Nara yang berada di ruang tamu. Ia merasa kasihan melihat Nara yang terlihat murung sekarang, memilih kembali pada Raffi yang nantinya akan melukai hati dua orang yang juga penting dalam hidupnya.
"Ini sayang,,, hubungi mereka sekarang!" Bu Ida memberikan ponsel Nara yang diterima dengan berat hati oleh Nara.
__ADS_1
Nara sempat tertegun sesaat, bingung harus memilih kata apa yang nantinya tidak akan menyinggung Rama juga Cindy. Namun belum sempat ia menelpon, terdengar suara tangis Rasya yang membuatnya segera bangkit dari duduknya, berlari kecil kearah rumah Raffi. Ia sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada putra kesayangannya itu.
"Tokkk,, tokk,,, tokk,,," ia mengetuk pintu rumah Raffi. Namun tidak ada jawaban dari dalam.
"Kak,,, buka pintunya,, aku mau melihat Rasya,,, Kak,, buka,,," tuturnya sambil terus mengetuk pintu, namun tetap tidak ada jawaban, justru tangis Rasya semakin keras, membuatnya semakin gelisah.
Ia pun melangkah kesamping rumah, mengetuk jendela kamar Raffi, takut Raffi masih terlelap tak mendengar tangis Rasya juga ketukannya tadi.
"Tokkk,, tokkk,, Kak,, buka pintunya, Rasya menangis terus!" Kini suaranya sedikit di tinggikan berharap Raffi mendengarnya. Namun tetap tidak ada sahutan dari dalam. Membuatnya semakin bingung juga cemas tak tahu harus bagaimana lagi.
"Kak Raffi,,, aku mohon,,, buka pintunya,,, aku tahu Kakak marah padaku, tapi tolong jangan hukum aku lewat Rasya, kasihan ia pasti kelaparan dari semalam belum menyusu sama sekali, aku takut dia dehidrasi Kak,,, ku mohon, biarkan aku masuk,,, hikkss,,,hikkss,,"kini Nara sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Ia terus mengetuk jendela kamar Raffi disertai derai air matanya.
"Aku tadi habis mandi, saat Rasya menangis aku masih mandi, jangan berpikir yang macam macam." Tutur Raffi lembut sambil menghapus air mata Nara. Memberikan Rasya pada Nara. Tanpa di duga oleh Nara. Raffi pun mengangkat tubuhnya masuk ke dalam kamar. Karena jendela itu terlalu rendah hingga bisa di lompati anak kecil sekali pun.
Jantung Nara seakan ikut terlepas karena terkejut Raffi mengangkat tubuhnya masuk ke dalam kamarnya.
"Neneni dulu Rasya, aku mau mengepak barangku juga Rasya bersiap siap ke kota, setelah asistenku sampai."
Tanpa menoleh kearah Nara yang menyusui Rasya, Raffi mengambil dan memakai bajunya di depan Nara. Membuatnya memalingkan muka. Sungguh ia malu dengan situasi seperti ini, namun Raffi terlihat santai saja. Ia berpikir sudah tidak ada yang perlu di malukan lagi, karena mereka sudah tahu tubuh masing masing. Namun melihat wajah Nara yang merona ia pun tersenyum tipis. Sekilas terbersit ide di pikiran Raffi. Ia pun tidak jadi memakai bajunya, malah asyik duduk di kursi depan Nara yang menyusui Rasya.
__ADS_1
"Kak,,, pakai bajumu, nanti masuk angin lo,,,"
Nara jadi salah tingkah sendiri melihat Raffi yang tak lepas menatap kearahnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan oleh Nara.
"Apa Rasya sudah tertidur?" Bisiknya lirih di telinga Nara yang baru menyadari jika Raffi sudah duduk disampingnya.
"Sudah Kak,,," jawab Nara sambil menundukkan wajahnya. Lalu meletakkan Rasya di box bayinya
"Biarkan putra kita tertidur lelap, sekarang saatnya untuk membantuku menidurkan yang sedari tadi sudah bangun melihatnya." Mata Raffi mengarah ke dua gundukan yang menyembul terlihat jelas karena piyama Nara sangat tipis. Tangannya sudah melingkar erat di perut Nara
"Kak ,, jangan,,, kita bukan muhrim lagi." Tolak Nara sambil melepas tangan Raffi yang melingkar di perutnya. Bukannya melepas tangannya, Raffi justru mengangkat tubuh Nara dan merebahkan di ranjangnya lalu menghimpitnya.
"Bagiku sekarang tidak ada halal dan haram, karena kau selalu halal untukku, karena aku tak pernah menceraikanmu, surat cerai itu palsu, hanya ingin membuatmu tenang, karena aku tak mau kau semakin jauh nantinya. Maafkan aku sayang,,,, tapi sekarang, aku sudah tidak bisa menahannya lagi."
Raffi segera menyobek piyama Nara yang membuatnya hampir berteriak, namun itu tak pernah terjadi, karena bibir merona itu sudah tertutup oleh bibir Raffi.
"Aku sangat merindukanmu istriku,,,"
bersambung ,,,,,,
__ADS_1