KASIH TIADA BATAS

KASIH TIADA BATAS
bab 63


__ADS_3

Malam yang semakin larut namun tak membuat gadis ini berniat untuk meninggalkan tempat duduknya. Hembusan angin malam yang menyapu wajahnya seakan tak ia rasakan, meski dinginnya terasa menusuk ke tulang. Matanya menatap kosong ke arah rembulan yang memancarkan cahaya terindahnya. Disini, di bangku taman yang dibuatnya dulu kini Naya berada. Keindahan cahaya bulan berpadu dengan kerlipan bintang bintang yang menghiasi malam ini, seakan tak ada arti baginya. Tetes demi tetes buliran bening terus saja jatuh berderai membasahi pipi terjun bebas ke pangkuannya. Meski kemarin adalah hari yang sangat membahagiakan baginya, bisa melepas rindu pada Bunda juga adik tercinta meskipun hanya sebentar. Karena mereka langsung terbang lagi ke Paris karena mendapat kabar Tuan Ayodyatama sedang sakit, jadi mau tidak mau mereka harus segera kembali meski rindu masih bergelayut di kalbu mereka semua.


Tinggallah Naya yang akan tetap tinggal di desa selama seminggu ini. Tanpa disadari gadis itu, Nara sudah duduk di sampingnya, menatap pilu kearah adik kesayangannya. Ia seakan bisa merasakan apa yang di rasa oleh Naya sekarang.


"Bersabarlah dek,,, mungkin ini cobaan untuk percintaanmu, menguji sampai dimana kuatnya cinta kalian." Sebagai seorang kakak, ia hanya bisa memberi dukungan pada adiknya saat ini juga berusaha untuk menghibur hatinya agar bisa melupakan semua yang telah terjadi.


"Aku tak tahu harus bagaimana sekarang Kak,,, aku tidak mau egois,,, tapi hatiku benar benar sakit, kenapa cinta itu menyakitkan Kak?" Naya menangis dalam dekapan Nara. Sungguh ia tidak menyangka jika kisah cintanya akan berakhir seperti ini. Meskipun semua juga bukan mau Rendra, tapi justru dia yang membuat jurang diantara mereka.


"Kak,,, apa langkah yang aku ambil itu salah, sebagai calon dokter, kesembuhan pasien itu prioritas utama, tapi sebagai kekasih sungguh aku tak rela Kak,,," Naya semakin terisak dalam pelukan Nara.

__ADS_1


"Kakak juga tidak tahu apa yang telah kamu putuskan itu salah atau benar, tapi dalam cinta, terkadang ada suatu yang harus dikorbankan jika kita ingin mendapatkan ketenangan hati. Seandainya kamu tidak merelakan Rendra saat ini, pasti hatimu juga tidak akan tenang, pasti akan dihantui rasa bersalah jika sesuatu terjadi pada Alifia, dan kakak yakin, kamu akan merasa bersalah seumur hidupmu. Ingat dek,,, kebahagiaan kita tidak hanya bisa kita peroleh dari pasangan saja, tapi bisa dari mana pun itu, dan kakak percaya, kamu adalah gadis yang kuat, semua masalah ini akan berlalu seiring dengan waktu. Kakak percaya, kamu akan mendapatkan kebahagiaanmu nantinya. Ikhlaskan semua,,," Nara membelai lembut rambut Naya lalu menggenggam tangannya, mereka pun saling tatap.


"Liat kakak,,, sejauh apa penderitaan kakak kamu juga tahu, tapi kakak mencoba untuk bertahan dengan rasa yang tertinggal dengan kesetiaan cinta yang kakak yakini. Meski aku sempat ingin menyerah karena keadaan, namun sebelum itu terjadi, Allah telah mengembalikan dia lagi, karena kami memang jodoh, sebanyak apa pun cobaan yang akan memisah kami, tidak akan pernah bisa menggoyahkan cinta kami, bahkan rasa itu semakin dalam dari hari ke hari. Jika Dokter Rendra adalah jodohmu, meski kalian terpisah sekarang, yakinlah suatu saat nanti kalian pasti akan bersama lagi. Pasrahkan semua pada dzat yang mampu membolak balikkan hati."


Nara berusaha terus mengembalikan kepercayaan diri Naya, ia tak mau adiknya terpuruk terus karena masalah yang membuatnya harus memilih antara cinta dengan persahabatannya. Tanpa mereka sadari, Raffi telah berdiri di belakang mereka bersama dengan orang yang mereka bicarakan.


"Sayang,,, " panggil Raffi sambil menyentuh pundak Nara pelan. Nara pun menoleh ke belakang dan terkejut ada Rendra disana sedang menatap sendu bercampur rasa sedih juga bersalahnya.


"Dek,,, aku masuk dulu ya,,, bicarakan baik baik, aku percaya kamu sudah dewasa untuk menyikapi semua masalah. Apa pun keputusanmu, kakak akan selalu mendukungmu." Setelah mencium kening Naya dan menyibakkan rambut adiknya, Nara pun melangkah kearah Raffi juga Rendra.

__ADS_1


"Semangat bro,,," bisik Raffi lirih sambil menepuk pelan pundak sahabatnya, lalu melangkah ke dalam rumah dengan memeluk pinggang ramping istrinya.


"Kenapa kamu lama sekali sih sayang,,, kapan ada waktu untukku, adik Rasya juga sudah teriak teriak pingin cepat dibuat, biar cepat lahir ke dunia ini, ia juga sudah iri sama kakak nya,,," bisik Raffi lirih disertai kecupan singkat di bibir istrinya. Nara pun menunduk dengan wajah yang memerah karena malu dengan ucapan suaminya.


"Kakak genit,,," cubit Nara di perut Raffi yang membuat Raffi semakin bergairah untuk menghabisi istrinya malam ini. Semenjak mereka menikah kemarin, belum ada kesempatan bagi dirinya untuk melepaskan kerinduan mereka. Karena masalah Naya juga adanya bunda dan saudara Nara.


Raffi pun sudah tak bisa bersabar lagi, saat mereka sampai di dalam rumah, dengan cepat ia membopong tubuh Nara masuk ke dalam kamar mereka, tak lupa ia sudah menautkan bibirnya di bibir istrinya.


Sementara itu Naya yang menyadari kehadiran Rendra pun berniat meninggalkan tempat itu, namun langkahnya terhenti oleh pelukan Rendra yang begitu erat hingga ia tak bisa untuk bergerak sedikitpun.

__ADS_1


"Maafkan aku,,,"


bersambung,,,,,,


__ADS_2