
"Mas Rama, biar aku yang gendong debay. "
Tutur Nara lembut sambil mengangkat kedua tangannya ingin meraih putranya.
"Apa kamu yakin, apa tubuhmu sudah kuat untuk melakukan itu, biar aku saja yang gendong, kamu pulihkan tenaga mu dulu. Sudah tiga hari ini kamu tak sadarkan diri pasca operasi kemarin. Lebih baik sekarang kamu istirahat dulu."
Tutur Rama menatap lekat kearah Nara yang terkejut mendengar perkataannya.
"Jadi selama tiga hari ini aku tak sadarkan diri, jadi debay belum pernah merasakan ASI ku sama sekali, buat kekebalan tubuh dia adalah ASI pertamaku. Maafkan Bunda sayang,,,"
Nara pun mengambil alih debay dari gendongan Rama dalam gendongannya. Ditatapnya lembut putra semata wayangnya, sekilas ia teringat akan mimpi dari tidur panjangnya. Air matanya pun tak dapat dibendungnya lagi mengingat nasib putrinya.
Dikecupnya lembut kening putranya, lalu menatap ke arah Rama yang juga menatapnya sendu.
"Jangan menangis lagi, semua sudah berakhir, yang terpenting sekarang fokus untuk membesarkan debay."
Rama pun mengusap lembut air mata Nara. Yang membuat Nara terkejut dengan perlakuan Rama padanya.
"Mas Rama maaf, tolong jangan lakuin ini lagi, nanti kalau ada orang yang melihat akan salah faham dengan hubungan kita. Mas mengerti kan maksudku."
"Maaf Nara, semua nya tadi gerak refleks ku, tak menginginkan air mata itu jatuh mengenai debay nantinya. Karena aku takut dia terbangun lagi, kasihan dari tadi dia menangis terus minta minum, setelah ku kasih ASI mu dia baru tertidur."
Nara yang mendengar penuturan Rama pun membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tak menyangka jika Rama berani sekali menyentuh tubuhnya saat ia tak sadar. Rama yang mengerti akan maksud dari tatapan Nara pun tersenyum. Lalu bangkit mengambil susu yang ada dalam botol bayi. Lalu memperlihatkan pada Nara.
"Selama ini debay minum ASI dengan menggunakan ini, anak ini cukup pintar, tak ingin berpisah dari Bundanya, makanya meskipun kamu tak sadarkan diri, tapi ASI mu produktif dengan lancar, hingga ibu bisa memompanya untuk debay karena ia tak mau minum susu formula."
Terang Rama yang membuat hati Nara lega mendengarnya.
"Anak Bunda memang pintar ya,, "
Nara mencium pipi putranya dengan gemas.
__ADS_1
Kebahagiaan jelas terpancar dari matanya.
"Mas Rama,,,"
"Hmmm,,,"
Balas Rama yang di panggil namanya oleh Nara tanpa beralih pandang dari putranya itu.
"Apa Ibu Suri masih marah Mas?"
Tanya Nara sambil melempar pandangannya kearah Rama yang kini berjalan ke arahnya setelah mengembalikan botol bayi pada tempat nya.
Dengan senyum yang dipaksakan, ia pun duduk kembali di kursi yang berada di samping Nara, lalu menatap lekat ke arah Nara.
"Beliau masih kekeh ingin memisahkan kamu dengan putramu. Surat perjanjian nikah kontrakmu dengan Raffi sudah jatuh ke tangannya. Dan sesuai perjanjian itu, maka kamu harus rela menyerahkan debay padanya. Dan sebagai gantinya uang 2milyar akan kau terima."
Bagai tersambar petir disiang hari Nara mendengar semua penuturan Rama. Hatinya terasa sakit, dadanya begitu sesak seakan tiada udara yang mengisi ruangan itu. Air matanya kini terus mengalir membasahi pipinya. Sungguh ia tak akan sanggup dan rela jika harus berpisah dengan putranya. Lebih baik ia tak mendapat apa apa tapi tetap bersama dengan putranya. Buah cinta dari suami yang kini telah pergi meninggalkannya dalam penantian yang panjang.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tak mau jika harus berpisah dengan debay, Mas Rama. Lebih baik aku mati dari pada harus berpisah dengannya, dialah hidupku saat ini, hikkss,, hiikksss,,,"
"Tenanglah Nara, aku akan melindungimu sampai akhir hidupku nantinya."
Bisik hati Rama yang tak akan pernah terdengar oleh Nara.
"Ada 2 solusi untuk masalahmu saat ini, yang pertama, kau bekerja menjadi ibu ASI dan baby sister untuk putramu sendiri, dan yang ke dua kamu menikahlah denganku, agar tetap bisa berada di dekat putramu."
Nara memandang Rama tak percaya, bagaimana mungkin ia bisa menikah dengan Rama, itu tidak akan pernah terjadi. Namun sebelum bibirnya terbuka untuk menjawab kata Rama, pintu ruangan itu terbuka lebar.
Dan nampak Nyonya Besar keluarga Aditama masuk beserta dengan seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan dengan usia beliau yang sudah setengah abad.
Mereka berjalan beriringan menuju brankar Nara sekarang. Tepat di depan Nara, Tuan Aditama pun tersenyum lembut ke arahnya. Yang dibalas senyum ragu ragu oleh Nara.
__ADS_1
"Boleh aku menggendong cucuku, Nara?"
Tuturnya lembut sambil merentangkan tangannya, berharap Nara memberikan debay padanya
"Tuan,,, saya mohon,,, jangan pisahkan kami, saya bisa membesarkannya sendiri, saya jamin dia tak akan kekurangan suatu apa pun, tolong jangan pisahkan kami, dia nafasku sekarang Tuan,,, hiikksss,,, hikksss,,,"
Nara mendekap erat putranya dan tak ingin melepaskannya. Sungguh ia takut jika debay akan diambil dari gendongannya.
Tuan Aditama pun mengalah, ia pun berjalan mendekati Nara dan duduk disamping wanita yang telah memberinya cucu itu.
"Nak,,, dengarkan aku,,, secara hukum kamu lemah atas hak asuh anak ini, karena perjanjian yang kamu buat dengan Raffi. Tapi kami masih bisa menerimamu dalam keluarga kami dan ikut membesarkan putramu dengan syarat,,,,"
Tuan Aditama menghentikan perkataannya lalu memandang ke arah Rama. Yang diangguki oleh Rama sebagai persetujuannya.
"Syarat apa Tuan?"
Nara memandang penuh tanya kearah pria yang duduk di sampingnya sekarang.
Dengan senyum ramahnya, pria itu pun menjawab pertanyaan Nara.
"Dengan syarat kau menikah dengan Rama, dan membuatnya kembali pada keluarga Aditama, menjalankan bisnis kami sebagai pengganti Raffi yang telah meninggalkan kita.
"Duuaarr,,," bagai boom meletus Nara mendengar persyaratan itu. Sungguh ia tak dapat berpikir apa apa sekarang, hanya airmata yang terus mengalir dari kedua matanya.
"Apa yang harus aku lakukan, Kak,,,aku tak mau mengkhianati cinta kita, tapi aku juga tak sanggup jika harus berpisah dengan debay,,, apa yang harus ku lakukan kak,,,"
Bisik hati Nara yang terasa sesak di dadanya saat ini.
"Jangan lama lama mengambil keputusan, karena waktu sangat berharga buat kami, dan aku pikir kamu cukup pintar untuk memilih."
Sela Bu Suri ditengah tengah kebingungan Nara. Yang membuatnya semakin tertekan dengan keadaan ini.
__ADS_1
"Kak,,, kau dimana sekarang,,, aku membutuhkanmu,,,"
bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹