
Waktu terus bergulir, hingga tak terasa sudah hampir 3 minggu pernikahan Nara dengan Rama. Meski mereka terlihat baik baik saja seperti pasangan suami istri pada umumnya di depan Bu Ida dan yang lainnya. Namun di belakang sepengetahuan keluarga, mereka seperti orang asing. Sandiwara pernikahan yang mereka mainkan cukup di bilang sukses selama ini. Hingga semua anggota keluarga tak menyadarinya.
Seperti biasa, setiap bangun tidur, setelah mendengar suara adzan berkumandang, Nara segera bangun dari tidurnya, lalu membersihkan dirinya ke kamar mandi. Setelah mandi lalu mengambil air wudhu, Nara mengambil mukenanya. Sebelum ia memakainya. Dilihatnya Rama masih tertidur di sofa kamar. Perlahan Nara berjalan menghampirinya. Sejenak di tatapnya wajah yang teduh dalam lelapnya. Iya selama ini memang mereka tidur terpisah. Rama tak ingin menyentuh Nara tanpa persetujuan dan keikhlasan hatinya. Ia sangat mencintai Nara, tak ingin membuat jurang diantara mereka dengan keegoisannya.
"Mas Rama,,, bangun mas,,, sudah subuh, nanti terlambat waktu sholatnya." Nara berusaha membangunkan Rama hanya dengan kata kata saja. Namun Rama tak membuka matanya.
"Ya sudah,,, Nara sholat sendiri ya, nanti mas nyusul." lanjutnya kemudian. Nara pun melangkahkan kakinya dimana kini sajadah telah menunggunya.
Selesai sholat, Nara pun melangkahkan kakinya lagi berniat ke dapur untuk membuat sarapan. Namun matanya masih menatap kearah Rama yang masih terlelap. Ia pun menghentikan langkahnya, lalu berbalik kearah Rama.
Perlahan di sentuhnya tangan Rama, namun ia terkejut karena tubuh Rama terasa panas. Di sentuhnya kening Rama memastikan jika Rama benar benar demam sekarang.
"Ya Allah mas,,, kenapa tubuhmu panas sekali."
Tanpa basa basi lagi, Nara segera melangkahkan kaki nya ke dapur, mengambil air hangat dalam baskom kecil lalu kembali ke kamarnya. Langkahnya yang terburu buru membuat Bu Ida curiga. Karena nampak kecemasan di raut wajah Nara./
Karena takut terjadi apa apa, Bu Ida pun melangkah menuju kamar Nara. Di liatnya Nara sedang mengompres putranya. Senyuman pun tersungging di bibirnya.
"Semoga kalian bahagia nantinya, semoga cinta itu akan cepat hadir dalam hati Nara. Dan kalian bahagia menjalani pernikahan ini." Doa Bu Ida dalam hati, lalu pelan pelan menutup pintu kamar, melangkah ke dapur, membuat bubur untuk putranya.
Sementara Nara disibukkan dengan mengompres Rama dengan menggendong Rasya yang terus menangis minta ASI.
__ADS_1
"Sayang,,, jangan menangis lagi ya, minum yang banyak, biar kamu cepat besar, jadilah kebanggaan Bunda nantinya. Jadilah seperti Papa." Nara menyusui Rasya dengan penuh kasih sayang.
Tanpa disadari oleh Nara, Rama telah membuka matanya. Di lihatnya Nara yang sedang menyusui Rasya. Senyumnya pun mengembang saat menyadari adanya kain kompres yang ada di keningnya.
"Meski aku belum ada di hatimu, tapi aku bahagia dengan perhatianmu padaku." gumam Rama dalam hati sambil terus menatap ke arah Nara.
"Mas Rama sudah bangun? Mas sakit apa? Kita panggil Dokter Rendra ya?" Sambil melepas ASI nya dari Rasya yang sudah tertidur kembali.
"Nggak usah Nara, aku baik baik saja, cuma kelelahan saja, akhir akhir ini banyak pekerjaan yang menyita waktu juga tenaga aku. Sampai lupa tidak makan siang maupun malam. Ada tender baru yang harus aku sendiri yang turun tangan, tidak bisa diwakilkan pada asistenku."
Jawab Rama seraya bangun dari tidurnya, lalu bersandar di sofa.
"Harusnya Mas juga perhatikan kesehatan Mas,,, meski kerjaan menumpuk, harusnya tetep makan jangan sampai telat, kan Mas Rama punya types juga. Kalau kambuh gimana? Justru kerjaan Mas akan terbengkalai semua. Bisa rugi dua kali lipat bukan?"
Hampir saja kain kompres itu terjatuh, namun ditahan oleh Rama, membuat tangan mereka saling bersentuhan. Nara merasa canggung, lalu melepaskan tangannya dari kening Rama.
"Aku nidurin Rasya dulu ya Mas,,," pamit Nara menghindari kegugupannya.
Rama hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menjawab perkataan Nara. Jauh di lubuk hatinya ia merasa sangat bahagia," Perlahan namun pasti, kau pasti akan membuka hatimu untukku, Nara. Dan hari itu sangat aku nantikan." Gumam Rama dalam hati diiringi lengkung tipis di bibirnya.
"Ya Allah,,, kenapa aku bisa salah tingkah saat bersentuhan dengan Mas Rama, apa aku sudah mulai menerima dia Ya Allah,,, tunjukkan pada hamba kebenaran hati ini." Bisik hati Nara saat berjalan ke arah box bayi Rasya. Pelan pelan ia pun menidurkan Rasya, lalu mencium kening putranya dengan lembut serta penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Tidurlah sayang,,, Bunda akan selalu menjagamu,,," lirih Nara.
Bersamaan dengan itu, pintu kamar mereka pun di ketuk dari luar. Nara segera melangkah ke arah pintu dan membukanya. Nampak Bu Ida sudah berdiri di luar kamar dengan membawa semangkuk bubur juga segelas teh hangat untuk Rama.
"Ibu tahu dari mana kalau Mas Rama sakit? Tadi biarkan Nara saja yang membuatkan bubur Mas Rama, Bu." Nara mempersilahkan Bu Ida masuk ke dalam kamarnya, menemui Rama yang masih terduduk bersandar di sofa.
"Tadi Ibu tak sengaja melihat kamu panik, karena takut terjadi apa apa, Ibu mengikutimu, maafkan Ibu sayang,,, bukan maksudku ingin mencampuri rumah tangga kalian. Tapi Rama itu putra Ibu, jadi aku juga mengkhawatirkan keadaannya. Lagi pula kamu juga sibuk harus mengurus Rasya, jadi Ibu yang membuatkan bubur untuknya. Maafkan Ibu ya sayang,,," Bu Ida membelai rambut Nara lembut.
Senyum pun mengembang di bibir Nara," justru Nara yang berterima kasih pada Ibu, sudah meringankan tugas Nara, karena tadi Rasya juga rewel banget, minta ASI terus, sudah kenyang, tidur lagi ,, he,, he,,he,,"
"Begitulah seorang Ibu sayang,, akan melakukan yang terbaik untuk anak anaknya. Karena Rasya sudah tertidur, sekarang waktunya kamu menjadi seorang istri yang baik, selesaikan tugasmu sayang,,, suapi suamimu sekarang,,," Bu Ida memberikan nampan bubur itu pada Nara.
Rama yang melihat isyarat dari Ibunya pun tersenyum tipis. Ia tahu jika Ibunya berusaha mendekatkan mereka, berharap Nara bisa melupakan masa lalunya, dan belajar menerima keberadaan Rama dalam hidupnya.
Dengan senyum yang di paksakan, Nara pun mengambil nampan itu. Lalu duduk di samping Rama. Perlahan ia pun menyuapi Rama,sedikit demi sedikit ia menyuapi Rama. Setelah terlebih dulu dia meniup bubur itu supaya cepat dingin.
"Ya Allah mimpi apa aku semalam, jika dengan sakit bisa mendekatkan kita, aku rela sakit tiap harinya sayang,,, " gumam Rama dalam hati, sambil menatap penuh kasih kearah Nara.
Nara yang mendapat tatapan seperti itu hanya bisa menundukkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan Rama. Namun akhirnya kedua tatapan itu pun saling bertemu, entah untuk berapa lama.
"Sebaiknya Ibu pergi, disini hanya jadi obat nyamuk Ibu." Bu Ida pun melangkah keluar dengan menahan senyumnya.
__ADS_1
"Ibu jangan pergi,,," cegah Nara yang tertahan karena tangan Rama sudah memberinya isyarat, membiarkan Bu Ida pergi dari kamar mereka.
bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹