
Waktu adalah jawaban dari semua rasa. Seberapa banyak waktu yang kau butuhkan untuk melupakan masa lalu, dan berusaha berdamai dengan hatimu, ia akan sabar mendampingimu.
Mungkin begitulah pemikiran Rama, dengan seiring waktu, ia berharap Nara bisa melupakan cintanya pada Raffi, lalu membuka hati untuknya. Sampai saat itu tiba, ia akan bersabar berada di samping Nara. Memberikan semua kebahagiaan pada Nara sebanyak yang dia bisa.
Di sebuah ballroom sebuah hotel yang mewah. Nampak seorang pria tampan tengah duduk di depan para penghulu. Nampak rona bahagia tergurat jelas di wajahnya. Senyumnya selalu mengembang tatkala ada orang yang menyapanya.
Baginya, ini adalah hari yang sangat membahagiakan, karena hari ini ia bisa mempersunting wanita yang di cintainya. Meski ia harus bersabar dan berjuang untuk mendapatkan hati istrinya nanti. Namun dengan semangat membara serta keyakinan penuh, ia telah mempersiapkan hatinya.
Karena ia yakin, sedalam apa pun cinta Nara pada Raffi, seiring waktu mereka bersama, pasti bisa mengikis kenangan Raffi dan menguburnya dengan kenangan yang baru.
Sekeras apa pun hati Nara, ia yakin jika Nara bisa menjadi istri yang baik nantinya.
Semua tamu undangan pada berdatangan, mereka sudah tak sabar menyaksikan acara penting ini. Banyak dari mereka yang bergosip tentang Rama.
Mereka mengatakan jika Rama sangat beruntung menjadi putra keluarga Adytama. Apa lagi kini ia satu satunya penerus kerajaan bisnis Papanya. Dan menyesalkan kepergian Raffi yang meninggal di usia yang bisa dibilang masih muda.
Sementara itu di salah satu kamar di hotel itu nampak seorang wanita tak hentinya meneteskan airmata. Hatinya sungguh kacau sekarang, semua rasa berkecamuk dalam hatinya. Ingin rasanya ia lari dari semua kenyataan ini. Namun kesadaran atas masalahnya, membuat dia bertahan dan harus ikhlas menghadapi semuanya.
Kedua adiknya selalu setia mendampingi kakak tercinta mereka. Sesekali keduanya menghapus air mata yang terus mengalir dari kelopak mata kakaknya.
"Kak,,, hentikan tangis kakak, nanti riasan kakak luntur, pasti MUA itu akan marah jika berulang kali harus memperbaiki make up kakak. Rasya juga akan cerewet kalau kakak tidak tenang hatinya. Kasihan dia kalau nangis terus nantinya."
Tutur Naya seraya menghapus air mata Nara.
Bersamaan dengan itu, pintu kamar pun terbuka, masuklah sosok wanita yang sangat mereka kenal.
"Masya Allah sayang,,, kamu cantik banget, beruntung putra Ibu mendapatkan mu Nara, bersabarlah sayang, ikhlaskan semua, tanamkan di hatimu pernikahan ini hanyalah untuk mencapai ridhonya. Insya Allah kamu pasti bisa menjalaninya dengan ikhlas."
Tuturnya lembut dengan tersenyum hangat pada Nara.
"Insya Allah Bu, aku akan ikhlas menjalani pernikahan ini."
__ADS_1
Balas Nara yang juga tersenyum pada Bu Ida.
"Aku tahu semua pasti sulit bagimu, karena tak ada cinta dihatimu untuk Rama, tapi aku berdoa, semoga kalian selalu bahagia nantinya dan bisa melewati semua cobaan hidup sayang."
Bisik hati Bu Ida yang juga merasakan hatinya seperti disayat sembilu.
Ia tahu seberapa besar Nara mencintai Raffi, dan pernikahan ini hanya akan melukai hati keduanya jika rasa itu tidak akan hilang dari diri Nara. Namun dia juga sadar, jika Rasya juga membutuhkan kasih sayang sesosok Ayah. Dan Rama adalah pilihan yang tepat untuk itu. Bagi Bu Ida, kebahagiaan Nara dan Rama itu yang utama, dan dia selalu berdoa agar Nara bisa membuka pintu hati untuk putranya, agar keluarga mereka selalu bahagia nantinya.
Tetes airmata pun mengalir dari pelupuk matanya. Namun segera ia menghapusnya.
"Nara, ingatlah sayang, jika syurga seorang istri itu ada pada keridhoan suami mu, sebanyak apa pun kamu beribadah, jika suamimu tak meridhoimu, maka semua hanya sia sia. Dan ingat selalu patuh padanya selama apa yang ia minta tidak bertentangan dengan agama kita. Ibu yakin, kamu pasti bisa menjadi istri serta Ibu yang baik nantinya. Dan ingat sayang,,, setelah kamu menikah, kubur semua kenangan masa lalu, berusahalah membuka hati untuk suamimu, sebisa mungkin lakukan semua untuk mendapat ridho Nya. Jangan sampai karena amarahnya, maka Allah juga akan murka pada kita. Hanya itu saja pesan Ibu, semoga pernikahan kalian ini mendapatkan ridhoNya. Menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah nantinya."
Tutur Bu Ida sambil memegang kedua tangan Nara, yang hanya bisa menatap kosong ke depan.
"Insya Allah,,, Nara akan mengingat semua nasehat Ibu."
Bu Ida pun tersenyum mendengar perkataan Nara, ia pun mencium kening Nara. Lalu mencium kening Naya dan Rana bergantian.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menyaksikan semuanya. Nampak tetes air mata jatuh dari sudut matanya.
Setelah MUA membenahi make up Nara yang terkena airmatanya. Kini mereka pun bersiap siap untuk pergi ke aula pernikahan.
Nara begitu cantik dengan kebaya modern berwarna putih, serta make up yang tipis membuat kecantikannya benar benar terpancar.
Di dampingi Bu Ida, Naya juga Rana. Ia melangkahkan kakinya menuju aula pernikahan.
Dalam tiap langkah, ia terus mengingat semua kenangannya bersama Raffi. Hatinya begitu sakit, hingga airmata pun menetes lagi dari kedua matanya. Namun segera Naya menghapusnya.
"Kak,,, disini banyak orang, hentikan tangismu jika kakak tak ingin ada masalah besar nantinya."
Bisik Naya yang menyadarkan Nara akan lamunannya.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun sampai, Bu Ida pun menyuruh Nara duduk di samping Rama. Semua mata terkagum akan kecantikannya, terutama Rama, tak bisa berhenti untuk memandangi calon istrinya dengan senyumannya. Nara hanya bisa menundukkan wajahnya.
"Baiklah semua sudah siap, mari kita mulai ijab qobulnya."
Kata penghulu pernikahan yang sudah mengulurkan tangannya pada Rama.
Rama pun menjabat tangan penghulu itu. Hingga proses ijab qobul pun di mulai.
Dengan sekali tarikan nafas, Rama berhasil mengucapkan ijab qobul dengan lantang dan lancar.
"Saksi sah"
"Sah"
jawab semua tamu undangan.
Airmata Nara pun menetes mendengar kata kata itu.
Karena mulai hari ini dia harus mengubur cintanya dalam dalam, memulai hidup yang baru bersama orang yang tak ia cintai, meski wajah mereka sangat mirip.
Rama pun berniat menyematkan cincin pernikahan mereka di jari manis Nara. Namun ada tangan yang menahannya, yang membuat Rama harus melihat kearah orang itu.
"Pernikahan ini tidak sah."
Nara yang begitu mengenali suara itu pun mendongakkan wajahnya.
Setelah melihat siapa yang ada di depannya saat ini, ia pun segera bangkit dari duduknya lalu berhambur dalam pelukannya.
"Aku sangat merindukanmu sayang,,, maafkan aku ,,,"
bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1