
Sementara itu di kota B nampak seorang wanita cantik sedang bersiap siap untuk menemui kekasih hatinya. Setelah memastikan penampilannya sempurna di depan cermin, ia pun segera turun dari kamarnya menuju ruang makan keluarganya.
Semenjak kematian Raffi, Cindy sering menginap di rumah orang tuanya, dengan alasan kalau di rumah mertuanya ia akan terus teringat pada suaminya, dan itu akan membuatnya semakin larut dalam kesedihan. Dengan alasan itu, ia bisa memperdayai Ibu Suri yang terlanjur menyayanginya dan tak menaruh curiga sedikit pun pada menantu kesayangannya itu.
Sudah hampir seminggu ini ia tak berjumpa dengan kekasih gelapnya. Karena Raka selalu menghindar tiap kali Cindy ingin menemuinya.
Entah kenapa, sikap Raka akhir akhir ini terasa dingin bagi Cindy. Oleh karena itu, ia ingin memberikan kejutan untuk kekasih gelapnya nanti. Karena hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun Raka.
Setelah selesai sarapan, Cindy pun pamit pada Mama dan Papanya.
"Ma,,, Pa,,, aku pergi dulu ya, mungkin tidak pulang nanti malam, mau ke puncak rayain ulang tahun Mas Raka."
Tuturnya sambil meminum air putih dari gelasnya, lalu membersihkan bibirnya menggunakan tissu.
Nyonya Tama hanya bisa memandangi putri sulungnya itu lekat lekat. Nampak terlihat jelas rona kesedihan di wajahnya. Sungguh ia merasa menjadi seorang ibu yang gagal untuk anak anaknya.
"Sayang,,, apa tidak sebaiknya kalian menikah saja, apa lagi sekarang kamu sudah tidak terikat pernikahan lagi setelah meninggalnya Raffi. Jadi kalian halal di mata agama juga hukum."
"Ma,,, aku nggak mungkin menikah lagi sebelum satu tahun Raffi meninggal, kalau aku nekat melakukan itu, maka warisan yang ditinggalkan Raffi untukku semuanya batal, Ma. Apa lagi setelah kehadiran anaknya, semua harta Raffi telah dialihkan atas nama anak itu.
Mama Lia juga berkata kalau anak itu nantinya aku yang akan merawatnya, jika Ibu dari anak itu tidak mau menikah dengan kembaran Raffi, bikin aku kesal saja."
Nampak rona kecewa juga kebencian tersirat dalam di mata Cindy. Sungguh ia juga merasakan sakit hati setelah tau bahwa Raffi memiliki anak dari wanita yang lain. Ingin rasanya ia membunuh wanita itu seketika saat kebenaran itu terungkap, namun ia bisa mengendalikan diri setelah perjanjian nikah kontrak itu dibacakan serta pembagian harta Raffi oleh pengacaranya.
Meskipun semua harta Raffi dialihkan pada anaknya, namun kelak ia yang akan mendapat hak asuh dari anak itu. Makanya ia bertahan dan masih mau menjadi janda Raffi.
"Tapi sayang, apa yang kamu lakukan sekarang itu bertentangan dengan ajaran agama kita, jangan menambah dosa lagi sayang, pikirkan itu, harta Papa sudah cukup untuk mencukupi kebutuhan hidupmu sehari hari, meski kau tak dapat warisan dari suamimu, pikirkan sayang,,, Mama mohon."
__ADS_1
Nyonya Tama tak dapat lagi membendung air matanya, ia pun bangkit dari duduknya lalu meninggalkan ruang makan masuk ke dalam kamarnya. Tuan Tama yang melihat kesedihan di wajah istrinya pun merasa bersalah yang teramat dalam. Karena telah memanjakan Cindy sedari kecil, menuruti semua kemauan putrinya itu, meski dengan jalan yang tak baik, sekarang semua berbalik menyerang ke arahnya sendiri.
Putri yang dulu di banggakan olehnya, sekarang seakan mencoreng aib ke keluarganya sendiri. Dengan nafas yang berat ia pun mencoba memberikan pengertian pada Cindy yang sudah terlihat memerah wajahnya karena marah dengan perkataan Mamanya.
"Sayang,,, cobalah mengerti apa yang kami inginkan. Kami tak menghalangi kebahagiaanmu, asal dengan cara yang halal, Papa harap kamu bisa memikirkan itu."
"Hah,,, Pa,,, " ucap Cindy dengan angkuhnya.
"Papa mencoba menceramahi Cindy sekarang, apa Papa tidak mengaca pada diri Papa sendiri, bagaimana cara hidup Papa selama ini, sudahlah Pa,,, kita nggak perlu munafik, Cindy bisa menentukan hidup Cindy sendiri, dan itu semua juga yang selama ini Papa contohin pada Cindy, Papa pikirkan itu."
Cindy pun bergegas pergi dari ruang makan dengan marah yang menggelora di hatinya. Sedangkan Papanya hanya bisa melihat kepergiannya dengan tetes air mata yang jatuh dari sudut matanya.
Hatinya terasa teriris mendengar perkataan dan perlakuan putri kesayangannya.
"Ini semua memang salahku, maafkan Papa sayang, mulai sekarang, Papa akan menjadi. orang yang baik, demi kamu juga Mamamu, orang yang sangat Papa cintai."
Dengan kecepatan penuh Cindy melajukan mobilnya menuju kantor Raka. Karena hari masih terlalu pagi maka tak terjadi kemacetan seperti biasanya. Jalanan masih sunyi lengang, hanya beberapa kendaraan saja yang berlalu lalang.
Di dalam mobil Cindy hanya bisa mengumpat umpat kedua orang tuanya.
"Semua karena salah Papa, jika Papa tak memaksa Cindy untuk memakan pil kontrasepsi awal pernikahan dulu, semua tak akan terjadi, dan aku pasti bahagia dengan Raffi juga anak anak kami, semua salah Papa,,, hikkss,,, hikkss,,, "
Dengan air mata berderai Cindy melajukan mobilnya hingga setengah jam perjalanan, sampailah ia di perusahaan sang kekasih berada. Setelah memarkirkan mobilnya, ia pun bergegas masuk ke dalam dan menuju lift khusus presdir. Setelah menekan angka yang dituju, akhirnya lift berjalan. lima menit kemudian lift sudah sampai di lantai teratas dimana kantor Raka berada.
Dengan jalan tergesa gesa sambil menyeka air matanya, Cindy melangkah keruangan Raka. Suasana kantor masih sepi karena karyawan belum pada masuk, tapi Cindy tahu jika Raka ada di ruangan kantornya, karena semalam dia bilang lembur ada tender besar yang butuh penanganan ekstra.
Akhirnya Cindy pun sampai di depan pintu kantor Raka. Namun belum sempat ia mengetuk pintu, dari dalam terdengar suara eragan dan rintihan kenikmatan. Bagai ditusuk ribuan panah hati Cindy mendengar suara kekasihnya yang memadu kasih dengan wanita lain.
__ADS_1
Dengan tangan yang bergetar dan derai airmata, ia pun membuka pintu ruangan itu yang tak terkunci.
Tubuhnya pun terhuyung ke belakang menyaksikan adegan di depan matanya. Raka yang menyadari kedatangan Cindy pun segera mengakhiri permainannya. Dengan cepat ia mengambil celananya dan memakainya.
Ia pun segera menghampiri Cindy dan berusaha untuk memeluknya, namun dengan kasar Cindy menepis tangan Raka.
"Dasar brengsek,,, inikah pembalasanmu padaku, setelah aku berikan semuanya padamu, brengsek kau,,hikkss,,hikkss,,,"
"Sayang,, dengarkan aku,, dia yang merayuku,,, aku,,, "
"Plakkk,,,"
tamparan keras mendarat di pipi Raka, membuatnya menghentikan ucapannya.
"Aku sudah tak percaya lagi padamu, mulai sekarang kau sudah mati bagiku,,,"
Cindy pun berbalik meninggalkan Raka yang masih memegang pipinya yang terasa panas.
"Pergilah,,, aku juga tidak butuh wanita mandul sepertimu, jangan kau pikir selama ini aku mencintaimu, aku hanya ingin uangmu saja, dengar itu, wanita sampah,,,"
teriak Raka saat Cindy masih berada di ambang pintu.
"Ya Tuhan,,, inikah karma untukku,, "
Bisik hati Cindy sambil terus melangkah meninggalkan tempat itu dengan derai air matanya.
bersambung🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1