
Langkah Nara terhenti karena suara Rama yang menghentikannya.
"Kamu tidak bisa kemana mana, apa lagi dengan seorang pria tanpa seizinku. Karena kamu adalah istriku,,," ucapnya lantang hingga menggema di teras depan rumahnya. Membuat semua orang menatap kearahnya tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Raffi yang mendengar perkataan Rama pun tidak terima. Ia pun menghampiri Rama setelah menyerahkan Rasya pada Nara.
"Apa yang kau katakan tadi? Coba ulangi!!" Geramnya menahan marahnya, tangannya sudah mengepal ingin sekali mendaratkan bogem mentah di wajah kembarannya. Karena telah berani mengucap kalau Nara adalah miliknya.
"Kenapa kau tak terima? Kenyataan memang begitu, Nara adalah istriku dan kamu hanyalah masa lalu bagi Nara." Rama melanjutkan kata katanya yang semakin menyudutkan Raffi.
"Pernikahan kalian tidak sah karena aku masih hidup dan tak merestui pernikahan ini.Jadi jangan bermimpi kalau kau menjadi suami Nara sekarang." Raffi semakin meninggikan kata katanya, jika saja di depannya saat ini bukan saudaranya, pasti dengan senang hati ia akan menghabisinya. Berani mengklaim Nara adalah istrinya, yang jelas jelas pernikahan itu sudah batal karena ia masih hidup.
"Meskipun kau masih hidup, tapi kontrak pernikahan masih berlaku bukan? Dan itu artinya Nara hanya menjadi istrimu selama setahun ini, setelah itu ia akan bebas dari kamu, dan kalian tidak memiliki hubungan apa apa lagi. Berarti pernikahanku dengan Nara itu sah, karena kau sudah kehilangan kuasamu pada Nara." Rama menatap tajam kearah Raffi. Sungguh ia tak ingin melepaskan Nara, meski ia tahu perasaan Nara hanya untuk Raffi. Tapi ia juga tak dapat pungkiri rasa yang ada dihatinya. Dan biarlah untuk kali ini dia egois untuk cintanya. Meskipun untuk itu dia harus membayar mahal nantinya. Namun demi bisa bersanding hidup dengan pujaan hatinya, ia rela meski harus menentang dunia sekali pun.
Raffi yang sedari tadi merasa di pojokkan oleh Rama, sudah tak dapat lagi menahan amarahnya. Sungguh ia ingin sekali membungkam mulut Rama selama lamanya.
"Kau tahu apa soal kontrak pernikahan kami, yang bisa memutuskan hanyalah aku bukan Nara ataupun kamu. Selamanya Nara akan menjadi istriku, dan itu sah menurut hukum dan agama. Dan kamu,,," kata kata Raffi pun ditekankan sambil menunjuk muka Rama.
__ADS_1
"Tidak bisa mengubah itu semua kecuali aku benar benar sudah tiada." Tatapan membunuh Raffi sudah terhunus kearah Rama.
Kini keduanya semakin bersitegang tak ada yang mau mengalah. Pertengkaran yang mulanya cuma beradu mulut pun berubah menjadi ajang perkelahian untuk keduanya. Semua orang merasa panik juga cemas, namun tak bisa berbuat apa apa.
Raffi mencengkram krah kemeja Rama lalu memberinya pukulan tepat di wajah tampannya juga perut Rama, saat ia berkata telah memiliki Nara seutuhnya. membuat pria itu terhuyung ke belakang. Sebagai seorang pria, harga diri Raffi seakan terinjak injak. Ia pun tak dapat menahan diri lagi dan akhirnya perkelahian itu terjadi. Karena Rama juga tidak mau tinggal diam.
Darah mulai mengalir dari sudut bibir keduanya. Membuat Nara cemas juga takut mereka akan lebih saling menyakiti lagi.
"Sudah,,!!! Cukup,,!!!Hentikan,,,!!!" Teriak Nara namun tidak dihiraukan oleh keduanya.
Semua orang terlihat pucat wajahnya melihat Raffi juga Rama yang masih saling baku hantam setelah menghajar para bodyguard keluarga nya.
"Berani beraninya kau menyentuh istriku,,,!!!" Dengan melayangkan bogem mentah kearah wajah juga perut Rama membuat ia terpental ke belakang dan jatuh. Namun segera ia berdiri lalu membalas pukulan Raffi.
"Tentu saja aku berani karena dia istriku,,,!!!" Ucapnya di tekankan agar Raffi sadar kalau Nara itu miliknya.
"Brengsekk,,, kubunuh kau,,,,!!" Teriak Raffi siap memukul Rama lagi, begitu juga Rama yang sudah menyiapkan bogem mentahnya.
__ADS_1
Saat mereka ingin saling memukul, tiba tiba saja Nara sudah berlari dan berdiri di tengah tengah keduanya. Beruntung mereka sigap lalu menarik pukulan mereka hingga memukul ruang yang kosong.
"Kau sudah gila,,,?Bagaimana kalau tadi kamu yang kena pukul bersama Rasya, apa tak kau pikir itu,,," teriak keduanya bersamaan. Dan lucunya, kata yang mereka ucapkan juga sama dan berbarengan. Membuat Nara yang menutup matanya tadi, kini membuka mata dan menoleh ke kiri dan ke kanan, tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Jantung semua orang yang tadinya ingin copot melihat kenekatan Nara, kini berubah menjadi menahan tawa karena tingkah Rama juga Raffi. Mereka tak berani berkomentar apa apa, takut memperburuk suasana.
"Kenapa kalian bisa kompakan, setelah tadi berantem?" Ceplos Nara yang terlontar begitu saja, namun segera menutup mulutnya saat menyadari ucapannya itu salah.
"Kalian seperti anak kecil, memang kalian pikir aku ini barang yang bisa kalian perebutkan. Aku punya hati, punya rasa, punya keinginan dan punya pilihan. Selama kalian terus bersikap seperti ini, aku tak ingin melihat kalian lagi. Dan aku bukan milik siapa pun lagi saat ini, aku ingin bercerai dari kalian berdua,,,!!"
Dengan nada yang lembut namun terasa menyakitkan bagi ketiganya, Nara pun melangkah menjauh dari keduanya. Bagai disambar petir di siang hari, Rama juga Raffi hanya bisa terpaku mendengar ucapan Nara. Seakan nyawa mereka telah terlepas dari raganya. Dan baru tersadar saat Nara sudah menaiki sebuah taxi dan meninggalkan rumah itu.
"Oh Tuhan lindungi putri dan cucu hamba,,," bulir bening pun tumpah lagi dari kedua mata yang sendu itu. Hingga tubuhnya lemas lalu terjatuh dalam pelukan suaminya.
"Ma,,, bangun,,, Ma,,," teriak Cindy dengan derai airmatanya.
bersambung ,,,,
__ADS_1