KASIH TIADA BATAS

KASIH TIADA BATAS
bab 82


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mobil Rendra memasuki parkiran di mana apartemen Naya berada. Sesaat di pandanginya apartemen tersebut, sekilas kenangan saat ia harus tersiksa malam itu membuat lengkung di bibirnya, betapa bodohnya ia saat itu. Demi menjaga amanat yang diberikan Nara, ia mati matian menahan siksa yang sangat. Kini penyesalan itu muncul, andai saja ia nekat melakukan itu pada Naya, pasti saat ini kekasih hatinya sudah menjadi istri sahnya, karena tidak mungkin bagi Naya, Nara juga Raffi untuk menolak tanggung jawabnya. Meskipun harus mendapat hukuman terlebih dahulu dari Raffi juga Nara, tapi setidaknya ia masih bisa hidup bersama dengan pujaan hatinya.


Rendra pun membuang nafas dengan berat, sesaat di pejamkan matanya, terlihat jelas wajah kekasih sedang tersenyum padanya.


Perlahan senyum penuh misteri pun terlihat jelas di bibirnya," sayang,, aku datang,,,kita akan memulai hidup kita yang baru, meski jauh dari semuanya untuk saat ini, aku janji akan membahagiakanmu nantinya." Perlahan ia pun membuka matanya, tekadnya sudah bulat, ia sudah mempersiapkan semuanya jauh jauh hari, kali ini ia tidak mau gagal lagi.


Ia pun mengambil sesuatu dari dashboard mobilnya, lalu memasukkan ke dalam jaketnya, setelah itu ia keluar dari dalam mobil setelah memastikan semua aman. Dengan cepat ia melangkah menuju apartemen Naya. Setelah memasuki lift dan memencet tombol lantai yang dituju, ia pun menyandarkan punggungnya di dinding lift, seakan menyatukan seluruh kekuatan juga menghilangkan kecemasannya, jika aksinya di ketahui oleh penjaga Naya. Karena ia tahu, tidak akan mudah menghadapi sahabatnya itu. Mereka tumbuh bersama saat kecil, dan ia sangat mengetahui seberapa hebat kemampuan sahabatnya.


Tak berselang lama pintu lift sudah terbuka, Rendra pun segera melangkahkan kakinya cepat menuju apartemen Naya. Sesaat ia mencoba membuka kode apartemen tersebut, beruntung Naya tidak mengubahnya, hingga dengan leluasa ia bisa memasukinya. Karena yang tahu kode apartemen tersebut hanya Naya juga Rendra, mereka sepakat menjadikan hari jadian mereka sebagai kode apartemen tersebut.


Perlahan Rendra memasuki ruang tamu tanpa ada suara langkah kaki yang terdengar, di dalam seluruh ruangan tidak ada pencahayaan kecuali dapur juga kamar tidur Naya. Ia pun tersenyum melihat pintu kamar Naya yang sedikit terbuka, ia bisa memastikan jika kekasihnya itu ceroboh lagi, lupa untuk mengunci pintunya, mungkin dia berpikir tidak akan ada apa apa di apartemen sendiri. "Kamu tidak berubah sayang, tetap ceroboh seperti biasanya, he,,he,,he,," kekeh pelan Rendra sambil melangkah menuju kamar Naya lalu membuka pintu kamar tersebut.


Pemandangan yang begitu indah terpampang di matanya sekarang. Kerinduan itu pun tidak bisa di bendungnya lagi. Dengan cepat ia melangkah masuk lalu memeluk Naya dari belakang saat melihat Naya sedang bersiap naik ke tempat tidurnya.


"Aarrgghh,," teriak Naya terkejut refleks memukul mukul tangan yang tiba tiba memeluk tubuhnya. Ia berusaha berontak untuk melepaskan dirinya. Raut wajah Naya nampak ketakutan karena ada yang memasuki apartemen nya tanpa ijinnya. "Apa dia pencuri atau penculik yang ingin menghabisiku, Ya Tuhan tolong hamba,,," sekilas pikiran buruk itu pun muncul di benak Naya, membuatnya semakin ketakutan.


"Tolong,,, tolong,,," dengan sekuat tenaga Naya berontak dan berteriak agar terlepas dari orang ini.

__ADS_1


Suara teriakan Naya begitu kencang sampe memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya membuat Rendra membekap mulut Naya dengan tangan kanannya. Beruntung apartemen ini kedap suara, hingga sekeras apa pun Naya berteriak, tidak akan terdengar dari luar.


"Sayang,,, ini aku, jangan takut." Bisik Rendra lembut di telinga Naya. Membuat gadis itu terpaku tak percaya dengan apa yang didengarnya.


Dirasa Naya sudah tenang dan bisa menguasai dirinya kembali, Rendra pun melepas bekapan tangannya.


"Kakak kenapa datang kemari, diam diam lagi,, seperti pencuri aja." Naya yang sudah membalikkan badannya menghadap kearah Rendra nampak marah sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Rendra ingin sekali memagut bibir itu yang terlihat lucu juga imut di mata Rendra.


"Memang aku pencuri, he,, he,, he,," kekeh Rendra sambil mencubit hidung Naya dengan gemasnya. Membuat Naya semakin mengerucutkan bibirnya, ngambek dengan ulah Rendra padanya.


"Kak,,, lepaskan,,, aku tidak bisa bernafas dengan baik." Tutur Naya lembut sambil mengusap punggung Rendra.


Rendra pun perlahan melepas pelukannya saat melihat wajah Naya yang memelas kearahnya.


"Maaf kan aku sayang,,," Rendra pun mencium kening Naya. Membuat gadis itu menatap penuh selidik kearah Rendra.


Ia bisa merasakan adanya kegundahan dalam hati Rendra dengan melihat tatapan matanya.

__ADS_1


"Kakak kenapa? Mengapa datang kemari malam malam, bukankah kita sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan kita sementara' waktu, hingga saatnya sudah tiba, aku bisa mencapai cita citaku dan merasa sepadan dengan kakak, minimal pantaslah berada di samping kakak. Meski sebenarnya itu sangat sulit untukku, karena selamanya aku tidak mungkin bisa sepadan dengan kakak, hi,, hi,, hi,," Naya pun terkikik sendiri dengan semua pernyataan nya.


Namun Rendra tidak bereaksi apa pun, ia hanya menatap sendu kearah Naya. Hingga kini kedua mata mereka saling beradu, menyelami betapa dalam rasa cinta yang ada di hati mereka masing masing.


Perlahan Rendra menyatukan kedua bibir mereka, Naya nampak terkejut, namun ia tidak bisa menolak saat Rendra semakin memperdalam ciumannya. Tidak bisa di pungkiri, kalau Naya juga sangat merindukan Rendra, hingga ia hanya bisa memejamkan matanya, sambil meremas jaket Rendra, menyalurkan kegugupan, ketakutan juga kebahagiaan yang datang secara bersamaan.


Ciuman Rendra yang begitu membuai Naya hingga ia tak menyadari jika saat ini ada sepasang mata yang melihat mereka berciuman. Hingga suara itu pun menghentikan aksi Rendra, lalu menoleh ke sumber suara dengan tatapan tajam menusuk.


"Apa kangen kangenannya sudah selesai, jika sudah pintu keluar terbuka lebar untuk anda Dokter Rendra." Dengan santainya B berdiri bersandar di pintu kamar Naya.


Wajah Naya nampak memerah karena malu pada B, telah kepergok sedang berciuman dengan Rendra, ia merasa khawatir kalau B akan melaporkan apa yang dilihatnya pada Raffi juga Nara.


"Ya Tuhan,,, apa yang aku lakukan tadi, pasti Kak Raffi juga Kak Nara akan marah besar padaku, bisa bisa aku tidak diperbolehkan magang di rumah sakit lagi, Ya Tuhan,,, tolong hamba,,,"lirih Naya yang bisa di dengar oleh Rendra. Namun ia tetap berekspresi dingin dengan kecemasan Naya. Fokusnya hanya pada pria yang kini ada di depannya.


"Dari mana dia bisa masuk ke apartemen ini,,," umpat Rendra dalam hati.


bersambung,,,, 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2