
Satu persatu tamu mulai memasuki ballroom hotel RA. Suasana pesta yang sangat meriah membuat semua tamu yang hadir ikut merasakan kebahagiaan atasan juga partner bisnis mereka.
Di panggung sana sudah berderet artis yang akan meramaikan pesta malam ini. Pesta peresmian hotel juga ulang tahun cucu pertama dari keluarga Aditama yang merupakan salah satu keluarga pemilik kedudukan tinggi di dunia industri di negara ini. Kerajaan bisnis yang menjangkau internasional. Kekayaan yang tidak habis mungkin sampai 7 turunan itulah pepatah bilang.
Di meja VVIP sudah duduk Nara, Naya, Rana, Cindy, Bu Ida, Nyonya Tama, juga ibu suri dari kerajaan bisnis keluarga Aditama siapa lagi kalau bukan Nyonya Lia. Sejak kejadian kedua putranya yang berniat saling membunuh untuk merebutkan wanita yang dulu sangat dibencinya. Kini wanita arogan itu sudah luluh bahkan menyayangi Nara seperti putrinya sendiri. Karena Nara lah yang membawa Rama kembali ke keluarganya. Jika bukan karena Nara, Rama tidak akan pernah memasuki keluarga itu, ia lebih memilih menjadi Rama putra ibu Ida dari pada Mama Lia. Meski ia juga menghormati Mamanya juga menyayangi wanita yang telah melahirkannya.
Sedangkan para pria sibuk menerima tamu bisnis mereka. Tidak terkecuali Raffi juga Rama beserta Papa dan mertuanya.
"Selamat datang Tuan Reyhan Wijaya, terimakasih atas kesediaan waktu luangnya menghadiri pesta kecil kami."
"Kamu itu Raf, masih aja formal saat seperti ini, mana keponakanku? Ni istriku da nggak sabar pingin gendong katanya sejak di mobil tadi!" Reyhan menarik pinggang istrinya hingga tubuh mereka mendempet, Yulia menoleh ke arah suaminya sambil tersenyum.
"Sayang,,, jangan terlalu, malu sama yang lain!" kelitnya berusaha menjauhkan tubuhnya dari suami mesumnya itu.
"Apa kamu mau aku hukum disini langsung, beraninya melihat pria lain saat aku di dekatmu, hmm ?" Geram Reyhan sambil mencium sekilas bibir istrinya, membuat Yulia memerah pipinya, antara malu juga marah pada suaminya. Karena di depan orang lain berlaku sesuka hatinya.
"Tenang kakak ipar, aku tidak melihatnya!" Raffi hanya terkekeh melihat pasangan suami istri berdebat di depannya. Mengingatkan ia pada istri tercinta yang usianya tidak jauh dari istri kakak angkatnya itu.
__ADS_1
Reyhan adalah orang yang membawanya dari pulau terpencil itu. Lalu menampungnya di rumah saat Raffi hilang arah mengetahui pernikahan istrinya dengan adik kembarannya.
Hingga ia mendapatkan kepercayaan diri lagi setelah Reyhan memberikan ia semangat mendapatkan kebahagiaannya juga wanitanya yang semula ingin ia lepaskan demi adik kembarannya. Namun melihat cinta Nara yang begitu besar untuknya, ia pun memperjuangkannya lagi. Meski menyakiti adik kembarannya. Kebahagiaan Nara yang terpenting untuknya. Setelah ia menyembuhkan luka diwajahnya akibat kecelakaan pesawat itu.
"Maaf ya Raf, kamu tahu sendiri kan bagaimana kakak gilamu ini, selalu saja berpikir negatif sama aku, padahal apa yang tidak aku beri untuk dia, hati juga nyawa semua miliknya, masih aja curiga, kadang pingin ku buat perkedel aja dia itu!"
Raffi tersenyum lebar melihat Yulia yang mencubit pinggang Reyhan hingga pria itu meringis kesakitan.
"Sayang,,, hentikan! Kau bisa membunuhku dengan tanganmu!"
"Kau berani?" Geramnya penuh penekanan.
Raffi yang melihat pertengkaran mulai tak wajar, berniat menengahi mereka. Namun ia dibuat bungkam oleh istri kakak angkatnya.
"Aku sedang marah ya, jangan dekati aku kalau tidak aku benar benar nekat, aku hanya ingin bertemu dengan keponakanku suamiku yang galak, apa tidak boleh, hmm? Ingat! Kamu masih ada hutang penjelasan untukku! Jangan bikin masalah baru, kalau tidak mau tidur di luar kamar selama sebulan! Bye,, aku ke Rasya dulu, aku sudah menemukan bocah gembul itu!" Tanpa rasa bersalah Yulia melenggang kearah meja VVIP dimana Nara berada. Tak menghiraukan Reyhan yang mengepalkan tangannya karena marah.
Andai ini bukan pesta Raffi, pasti sudah dia hancurkan. Jiwa mafianya berontak karena ulah istrinya.
__ADS_1
"Kak Rey,,, kau tidak apa apa? Kakak ipar?" Raffi menghentikan katanya, tau jika ada masalah serius diantara pasutri ini. Tinggal kurang lebih 3bln bersama mereka, ia tahu betul bagaimana sifat kedua orang itu.
Reyhan mengambil nafas dalam dalam lalu mengambil wine dari meja saji dan meminumnya dalam sekali tegak. Berusaha menenangkan hatinya. Ia menatap nanar istrinya yang kini bercengkrama dengan Rasya juga yang lain.
"Seseorang menjebakku tidur dengan wanita lain, mengirim foto bukti bukti aku tidur bersama wanita itu pada Yulia juga kakeknya. Membuat kakeknya marah besar dan menyuruh aku menceraikan Yulia. Beruntung Yulia masih ragu akan kebenaran bukti bukti itu, hingga kakeknya memberi waktu aku selama 2x 24 jam menemukan bukti jika aku tidak bersalah, namun jika aku gagal maka aku harus melepas Yulia. Kamu tahu sendiri kan Raffi, jika keluargaku dan keluarga Yulia punya dendam kesumat, karena cinta kamilah, kakeknya mau mengubur dendam itu!" Reyhan menghembuskan nafasnya dengan berat, seberat beban yang ditanggung saat ini.
"Aku tak menawarkan bantuan, karena ku yakin kak Rey udah bisa mengatasi masalah ini!" Ucap Raffi enteng menepuk bahu kakak angkatnya itu, memberi semangat.
"Kau tahu aku dengan baik Raf,, fokus saja pada keluarga juga kerjaan mu! Melihatmu bahagia itu sudah cukup bagiku." Kekehnya menepuk balik pundak Raffi lalu mereka minum bersama.
Sementara tak jauh dari mereka berdiri, nampak dua pasangan yang baru saja masuk ke dalam ballroom. Sepasang orang tua beserta anak juga calon menantu mereka. Langkah mereka terhenti saat melihat Tuan Ayodyatama juga Tuan Aditama. Sepasang suami istri itu terlibat pembicaraan yang serius dengan kedua pria yang merupakan sahabat mereka sejak di bangku SMA. Meninggalkan sepasang muda mudi yang terlihat mesra di depan mata orang lain, namun dalam nyatanya mereka bagai musuh bebuyutan.
"Ingat Kak Rendra, jangan temui Naya jika tidak mau aku membuka aib keluargamu!" Ancam wanita itu yang tersenyum begitu manisnya pada semua orang yang menyapanya. Mereka terus melangkah hingga sebuah suara menghentikannya. Rendra pun melepas tangan Lifia yang bergelayut di lengannya.
"Kak Rendra,,," lirihnya sambil berkaca kaca.
bersambung🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1