KASIH TIADA BATAS

KASIH TIADA BATAS
bab 39. Alifia


__ADS_3

Sementara itu, di sebuah Universitas di kota B. Nampak seorang gadis cantik sedang mondar mandir diarea parkir. Sesekali ia menengok jam yang ada di tangannya. Nampak kekhawatiran , kegelisahan serta kecemasan tergurat jelas di wajahnya. Membuatnya larut dalam pemikirannya sendiri. Meskipun kini ia jadi pusat perhatian mahasiswa dan mahasiswi yang lain, namun ia tetap cuek dengan tingkahnya yang seperti orang kebingungan itu.


Bahkan ketika sahabat sekelas menyapanya. Ia tak menghiraukannya.


"Naya,,, kau kenapa seperti orang linglung gitu."


Namun tak ada tanggapan dari Naya, ia terus mondar mandir sambil menatap ke arah jalan raya.


"Astaghfirullah,,, anak ini,, ditanya malah diem aja, bikin orang ikutan senewen aja. Naya,,, ."


Dengan memegang pundak Naya dan suara sedikit tinggi ia memanggil Naya lagi.


"Iya Al,,, kenapa,,, ?"


Dengan perasaan tak bersalah dan wajah polosnya ia memandang ke arah sahabatnya itu.


Membuat Alifia hanya bisa membuang nafasnya kasar dengan tingkah Naya sekarang.


Dengan sedikit dongkol di hatinya, ia pun mencoba mencari tahu penyebab sahabatnya kayak gitu. Karena selama mereka bersahabat, Naya selalu ceria tak pernah ada hal yang membuatnya segelisah ini.


"Kamu ada masalah apa sih Nay,,, kenapa nggak berbagi sama aku, dari tadi cuma mondar mandir saja kayak orang linglung, pusing aku liatnya, noh,,, kamu sudah jadi pusat perhatian anak sekampus. Apa ini ada hubungannya dengan Dokter Rendra?"


Alifia menyeret pelan tangan sahabatnya itu dan mengajaknya duduk di bangku taman yang tak jauh dari tempat parkir kampus.


Naya tanpa penolakan pun mengikuti langkah sahabatnya itu. Kini mereka sudah duduk di bangku taman.


Alifia pun memberikan botol minuman air mineral, yang tadi sempat dibelinya di kantin sebelum masuk ke kampus.


Naya pun mengambilnya lalu membuka tutup botol itu dan meminumnya. Setelah meminum air itu, ia sedikit tenang lalu menatap wajah sahabatnya dengan perasaan bersalah.


"Terima kasih, dan maaf ya tadi sempat nyuekin kamu Al,,, aku sekarang cemas memikirkan nasib kakakku."


Tuturnya lirih.


"Emang kakakmu kenapa Nay,,, sampai kamu se setres ini?"


Naya pun mengambil nafas dalam dalam dan membuangnya agak kasar, seakan beban berat sedang di pikulnya saat ini.


"Kakak ku sudah melahirkan, dan ia mendapat seorang putra yang tampan seperti Papanya, tapi,,,,"

__ADS_1


Ucapnya terputus, dan kini kristal bening sudah bergulir dari matanya, jatuh membasahi pergelangan tangannya.


"Maaf Nay,,, jika aku sudah membuatmu sedih, jika tak sanggup menceritakannya sekarang, aku akan menunggu sampai kau sudah kuat hati untuk berbagi denganku semua kesedihanmu."


Alifia pun memeluk tubuh sahabatnya itu dari samping. Memang selama menjadi sahabat Naya, ia tak pernah menceritakan tentang kisah sedih hidupnya, hanya sesekali saat ia benar benar merindukan kakak dan adiknya, ia akan bercerita betapa bahagianya hidup mereka saat bersama.


"Sudah,,, sudah,,, jangan menangis lagi, ntar cantiknya ilang lo, kalau da gitu, gimana kalau Dokter Rendra melirik wanita yang lain, ntar kamu nyesel lo,,, he,,, he,,, he,,,"


Goda Alifia berusaha untuk membuat Naya melupakan kesedihannya.


Naya pun tersenyum disela sela tangisnya, sambil mencubit pinggang Alifia. Membuat gadis itu meringis kesakitan dengan ulah Naya.


"Awww,,, sakit sayang,,,"


pekiknya yang membuat perhatian seluruh anak kampus disekitar situ tertuju pada mereka.


Namun mereka tetap cuek dan melanjutkan becandanya. Naya menggelitiki pinggang Alifia, hingga ia kegelian dan menggeliatkan tubuhnya sambil tertawa. Naya pun ikutan tertawa, merasa puas sudah membalas perkataan Alifia yang menggodanya tadi.


Untuk sesaat ia bisa lupa akan kesedihannya. Namun saat mereka berhenti bercanda, kesedihan itu hadir lagi di hatinya.


"Nay,,, yakinlah,,, bahwa ditiap masalah selalu ada jalan keluarnya, harusnya kamu bahagia dong,,, keponakanmu sudah lahir, kenapa harus bersedih, kan keduanya sehat sehat aja kan? Kakak dan keponakanmu?"


Air mata Naya pun tumpah untuk kesekian kalinya. Hatinya terasa sakit bagai teriris iris oleh sembilu.


"Loh,,, kok bisa gitu Nay,,, kan kakakmu ibu kandungnya, dan ibu lebih berhak dari siapa pun."


Alifia pun mengambil tissu dari dalam tasnya dan di berikan pada Naya.


"Hapus air matamu, jangan sampai terlihat mahasiswa yang lain, malu tau, dikira kamu putus cinta ntar, jadi gunjingan dan gosip sekampus. Secara kan kamu primadona di kampus ini,,,"


tutur Alifia sambil tersenyum tipis menggoda Naya.


Naya pun mengambil tissu itu meski dengan cemberut. Sahabatnya ini selalu bisa buatnya tersenyum meski dalam keadaan apa pun.


"Makasih ya Al,,, kamu memang sahabat terbaikku, dan makasih udah buatku melupakan sedihku meski hanya sekejap. Oh ya,,, mungkin hari ini aku akan kembali ke kotaku dulu, melihat keadaan keluargaku, setelah ku kembali pasti akan ku ceritakan semua padamu. Karena yang terpenting sekarang adalah kakak dan keponakanku, biar Ibu Suri tak bisa menyentuh mereka."


Tutur Naya sambil melihat lekat kearah sahabatnya itu.


"Sama sama Nay,,, saat aku terpuruk kau juga selalu ada untukku, kamu tenang aja, selama kamu gak masuk kelas, aku akan mencatatkan semua pelajaran untukmu. Jadi kamu fokus aja menyelesaikan masalahmu, ya,,,"

__ADS_1


"Makasih Al,,, kamu memang sahabat terbaik di dunia,,,he,,,he,,,he,,,"


Kata Naya sambil memeluk sahabatnya itu. Dan mereka pun saling berpelukan.


"Ekhheeemm,,,"


Suara itupun mengejutkan mereka berdua, lalu melepas pelukan mereka.


"Kakak,,, sejak kapan datang, kenapa aku tidak tau?"


Naya memandang penuh tanya ke arah Rendra yang sudah berdiri di depan mereka sekarang.


"Bagaimana kau bisa menyadari kehadiranku, kalau kalian sudah berdua, pasti lupa sama yang lainnya."


Protes Rendra yang pura pura marah pada Naya.


"Drakor mulai deh,,, udah ah,,, aku masuk ke kelas dulu, Naya kamu hati hati ya, semoga selamat sampai tujuan, dan masalahmu cepat terselesaikan."


Alifia pun berdiri dari duduknya, menepuk pundak sahabatnya itu memberikan semangat.


"Makasih ya Al,,,"


dengan senyum yang menghiasi bibirnya Naya menatap kepergian sahabatnya itu.


"Masih mau disini terus, apa mau berangkat sekarang?"


Tutur Rendra yang membuat Naya cemberut.


"Harusnya kan aku yang marah, udah nunggu lama kayak orang ilang,,, eh ini,,, datang datang ngajak berantem."


Bisik hati Naya yang membuatnya semakin campur aduk rasa di hatinya.


Tanpa sepatah kata, Naya pun berdiri dari duduknya lalu melangkah ke tempat parkir di mana mobil Rendra berada.


Rendra yang mengerti Naya marah pun hanya tersenyum tipis, ia berharap Naya bisa melupakan kesedihannya dengan rasa marahnya pada Rendra. Itu jauh lebih baik, karena yang ada di pikiran Naya saat ini adalah dirinya, bukan masalah yang membuat mereka stress saat ini.


Setelah Naya masuk mobil, Rendra pun masuk ke dalam mobil, lalu perlahan meninggalkan tempat parkir kampus Naya. Yang sepanjang perjalanan tadi mereka jadi pusat perhatian anak kampus, apa lagi yang cewek cewek, mereka mengagumi ketampanan sosok Rendra yang begitu kharismatik.


"Liat Naya, suatu hari nanti, aku pasti bisa menggantikan posisimu di hati Rendra."

__ADS_1


bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2