KASIH TIADA BATAS

KASIH TIADA BATAS
bab 46 bunga terakhir


__ADS_3

Rintik hujan yang mengguyur area pemakaman, tak menyurutkan langkah Nara mendekati pembaringan terakhir Raffi. Dengan membawa sekeranjang bunga serta setangkai mawar merah, ia berhenti tepat di samping pemakaman orang yang dicintainya. Perlahan ia pun berjongkok sambil mengusap batu nisan Raffi. Air mata tak dapat ia sembunyikan lagi. Mengalir menganak sungai membanjiri wajah nya yang terlihat pucat karena semalaman tak tidur.


"Kak,,, aku datang,,, maafkan aku kak tak bisa menepati janji kita." Bisik Nara dalam hati.


Tak berselang lama, Rama, Naya, Rendra juga Cindy pun turut mengelilingi makam Raffi. Setelah membacakan al fatehah dan doa, kini mereka mulai membersihkan makam Raffi, lalu menaburi makam itu dengan bunga yang mereka bawa.


"Maafkan atas semua kesalahanku sayang, andai waktu bisa di putar lagi, aku tak akan pernah mengkhianati cinta kita, aku selalu mencintaimu sayang,,,maafkan aku, tidurlah yang tenang di sana, karena aku akan menjaga putramu dengan baik, aku akan menyayanginya seperti putraku sendiri." Air mata Cindy tumpah dengan memegangi batu nisan Raffi. Dadanya terasa sesak, menyesali semua kesalahan yang pernah ia lakukan.


Nara yang melihat dengan jelas betapa terpuruknya Cindy saat ini pun melangkah menghampiri kakak tirinya. Dengan lembut ia pun membelai punggung Cindy, berusaha memberikan ketenangan untuknya.


"Percayalah Kak, disana Kak Raffi pasti tersenyum bahagia melihat kakak yang sudah berubah, ia pasti bisa beristirahat dengan damai melihat kita baik baik saja serta saling menjaga dan menyayangi satu sama lain." Meski dengan nada bergetar menyembunyikan kesedihannya, Nara mencoba menguatkan Cindy meski dia sendiri pun rapuh.


Naya tersenyum melihat kedekatan keduanya, sungguh ia tak menyangka jika permainan takdir akan membawa mereka sampai begini.


Di dekatinya kini kedua kakaknya, lalu memeluk keduanya dari belakang," Kak Raffi beruntung dicintai dua orang wanita sekaligus, dia pasti bangga dan bahagia melihat kalian saling menyayangi satu sama lain. Maka dari itu, tak perlu lagi ada air mata yang membuatnya bersedih disana."


Dengan tersenyum Naya menganggukkan kepalanya pelan, memberikan isyarat pada Nara juga Cindy agar tak larut dalam kesedihan mereka.


Cindy tersenyum kearah Naya meski air mata masih menetes dari sudut matanya. Setelah itu mengalihkan pandangannya pada Nara yang juga tersenyum melihat kearah Naya, meski air mata juga masih membanjiri pipinya. Sedangkan Rama juga Rendra, hanya terdiam menyaksikan ketiga wanita ini saling menghibur satu sama lain, berusaha melupakan semua kesedihan mereka.


"Beruntung aku memiliki saudara seperti kalian,,," kedua tangan Cindy memegang pipi Nara juga Naya, lalu mereka berpelukan. Mengangis bersama dalam senyum kebahagiaan dan kesedihan mereka.


Sudah hampir satu jam mereka berada di pemakaman Raffi. Hingga suara itu menyadarkan mereka untuk segera pergi dari pemakaman, jika tak mau baju mereka yang udah kering karena rintik hujan, menjadi basah karena akan turun hujan yang lebat.


Langit nampak hitam pekat dengan gemuruh guntur yang menggelegar membuat siapa saja takut mendengarnya.


"Ayo kembali, lain kali kita kesini lagi, mau turun hujan."Ajak Rama pada semuanya, yang diangguki oleh mereka semua.


"Kalian pergilah dulu, aku masih ingin disini sebentar lagi."

__ADS_1


Tanpa menunggu persetujuan dari semuanya, Nara sudah bersimpuh sambil menaburkan bunga di makam Raffi. Tinggal setangkai mawar yang diletakkan Nara ditengah batu nisan Raffi.


Selepas kepergian semuanya, air mata Nara pun membasahi gundukan tanah yang masih basah oleh air bunga yang disiramkan oleh Nara.


" Kak,,, aku sudah menikah dengan kembaran Kakak, Rama sekarang sudah sah menjadi suamiku, namun percayalah Kak, dihatiku hanya ada nama Kak Raffi, meski kini ku harus mengabdikan hidupku pada suamiku. Kak,,, aku tahu, mungkin disana kau juga akan merestui kami, bantu aku melewati semua ini Kak,,, aku tak bisa berpura pura mencintai Mas Rama, namun bakti seorang istri, mengharuskan aku untuk mengabdikan jiwa ragaku padanya. Maafkan aku Kak,,, jika aku harus mengkhianati cinta kita demi Rasya anak kita. Selamat tinggal kasih,,, selamanya kau akan tersimpan di relung hatiku yang terdalam. Restui aku Kak,,,hikkss,,, hikksss,,," Tangis Nara menyertai tiap kata yang terucap lirih dari bibirnya.


Tetes demi tetes air hujan mulai turun, Namun Nara masih belum mau beranjak dari makam Raffi, hingga sebuah payung melindungi tubuhnya dari air hujan. Ia pun mendongakkan kepalanya. Nampak Rama tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


Meski dengan berat hati, Nara pun menyambut uluran tangan Rama, bangkit dari duduknya lalu melangkah meninggalkan makam Raffi bersama dengan Rama.


Nara berusaha untuk menyembunyikan air mata dari suaminya, namun sesak di dada tak bisa membendung lagi semua kesedihannya.


'Menangislah,,, jika itu bisa membuatmu lebih baik nantinya, luapkan semua beban di dadamu, namun setelah itu, kau harus kuat dan tegar menjalani hidupmu ke depannya." Lirih Rama yang merengkuh kepala Nara menyembunyikannya di dada Rama. Nara pun menangis sepanjang langkah mereka dalam dekapan Rama.


Suasana terasa hening saat mobil yang mereka tumpangi berjalan memecah jalan raya yang nampak sepi. Karena hujan turun dengan derasnya disertai petir yang menggelegar. Rama yang duduk di belakang bersama Nara juga Cindy, memandang ke arah luar jendela mobil. Melihat pemandangan di luar sana. Sedangkan Cindy serta Nara terlarut dalam buai lamunan mereka. Hingga terdengar suara merdu menyanyikan sebuah lagu yang membuat Nara semakin teriris hatinya.


🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶


Menjadi cinta tinggallah kenangan


Berakhir lewat bunga


Seluruh cintaku untuknya,,,,


Bunga terakhir,,,


Kupersembahkan kepada yang terindah


Sebagai suatu tanda cinta untuknya

__ADS_1


Bunga terakhir,,,


Menjadi satu kenangan yang tersimpan


Takkan pernah hilang tuk selamanya


Betapa cinta ini


Sungguh berarti tetaplah terjaga


Selamat tinggal kasih


Kutelah pergi selamanya,,,


🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶*


...Penggalan lagu bunga terakhir dari Beby Romeo yang di nyanyikan begitu merdu oleh Rama. Membuat semua orang yang berada dalam mobil menatap ke arah Nara yang sudah bersandar di kursi mobil sambil memejamkan matanya. Air mata terus mengalir dari sudut matanya. Hingga ia merasakan ada tangan yang menghapus air matanya....


"Maafkan aku, bukan maksudku menambah kesedihanmu, maafkan aku, mulai sekarang kita tak perlu mengungkit masa lalu, fokus ke masa depan Rasya." Rama menatap penuh penyesalan sambil menghapus air mata Nara.


Hingga mereka saling beradu pandang untuk beberapa saat. Hingga,,,


"Ekhhmmm,,, kalau mau romantis romantisan tunggu sampai rumah, puaskan di kamar kalian sendiri. Disini ada jomblo yang iri melihat kemesraan kalian, tolong hargai kakakmu yang jomblo ini,,," Cindy memecah suasana yang terkesan romantis itu. Membuat semuanya tertawa bersamaan. Nara pun tersenyum malu dengan menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan pipinya yang terasa panas karena malunya.


"Aku yakin, bisa menggantikan posisi Raffi di hatimu Nara, aku akan berjuang untuk itu." Tekad Rama dalam hatinya yang tersenyum melihat wajah Nara yang memerah karena malu.


"Kak,,,Raffi,,," jerit hati Nara


bersambung 🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2