KASIH TIADA BATAS

KASIH TIADA BATAS
bab 54


__ADS_3

Orang orang berbondong bondong pergi ke Balai Desa dengan terdakwa seorang pria yang sangat di kenal oleh Nara. Pria yang dulu selalu menemaninya di saat susah dan senangnya bersama dengan kedua adiknya. Pria yang sudah dianggap kakak sendiri oleh Naya juga Rana. Pria yang mencintai Nara saat pertama kali mereka berjumpa, namun juga pria yang tersakiti hatinya oleh penolakan Nara saat ia mengungkapkan isi hatinya, yang terasa hancur saat mengetahui Nara menikah dengan Raffi. Dan lebih terpuruk lagi saat tahu Nara menikah dengan Rama sebagai pengganti Raffi.


Karena kekecewaannya itu, ia memutuskan untuk mengurus bisnisnya di luar negeri. Dan baru kembali setelah mendengar hubungan antara Raffi, Nara juga Rama telah berakhir. Setelah mendapat info tentang Nara yang kembali ke desa. Bergegas Bima menyusulnya karena khawatir dengan keadaan Nara saat ini.


Kini keduanya hanya bisa saling berkomunikasi lewat mata saja. Setelah kejadian tadi, Bima tidak ingin membawa Nara masuk ke dalam masalahnya, makanya ia berpura pura tidak mengenali Nara.


Setelah sampai di Balai Desa, mereka segera disambut oleh perangkat desa setempat, termasuk juga Kepala Desa yang merupakan Ayah dari gadis yang bilang telah dilecehkan oleh Bima.


"Assalamualaikum,, Pak Kades,,, kami membawa pria brengsek ini yang berani berbuat tidak senonoh pada anak Bapak." Ucap mereka bersamaan.


Aparat desa menyuruh Bima, gadis itu yang bernama Mawar beserta para sesepuh desa duduk di kursi yang telah disediakan di sana. Sedangkan Nara hanya berdiri di pinggir bersama dengan warga yang lain.


"Sebenarnya apa yang terjadi Nduk?" Tanya Pak Kades yang terkejut ada ramai ramai dan melihat keadaan putrinya yang kusut dengan berderai air mata.


"Hikkss,,, hikkss,,, pria itu sudah melecehkan Mawar, Pak." tuturnya dengan sesenggukan lalu menundukkan wajahnya.


Pak Kades dengan menahan geramnya memandang tajam kearah Bima. Yang terlihat santai tanpa ada rasa takut sedikit pun di matanya. Justru ia memandang meremehkan pada Mawar yang kini duduk di sebelahnya yang sedikit berjarak.


"Apa kamu punya pembelaan anak muda?" Tanyanya dengan menahan marahnya. Orang tua mana yang tidak sakit hati melihat anak kesayangannya mengalami hal yang memalukan. Yang bisa berdampak buruk pada mentalnya nanti jika ia mengalami trauma.


Tanpa rasa takut, Bima kemudian membuka suaranya. "Saya tidak pernah melecehkan putri Bapak. Dia sendiri yang membuat dirinya malu. Karena keinginannya tidak tercapai, maka ia mencari cara untuk membalas sakit hatinya, yang justru makin mempermalukan dia sendiri.' Tutur Bima enteng sambil menyilangkan kedua tangannya bersedekap dada.


"Apa maksud kata katamu anak muda?" Tanya perangkat desa yang lain.

__ADS_1


"Kamu jangan mencoba menjelek jelekkan gadis di desa ini dengan berani memfitnahnya, kamu tahu, dia itu kembang desa ini, Putri Pak Lurah sendiri, orang no 1 di desa ini." Kata orang itu sedikit meninggi dan penuh penekanan.


Namun Bima tidak terpengaruh sama sekali. Ia hanya tersenyum tipis, "lalu apa saya harus mendukung kebohongan dia Pak, yang akan membawa saya dalam masalah yang tidak pernah saya lakukan."


Pria itu pun terdiam dengan menatap sinis kearah Bima.


"Apa kalian memiliki bukti yang bisa menunjukkan kalau perkataan kalian itu yang benar?" Tanya sesepuh desa itu yang menatap Bima juga Mawar secara bergantian. Sedangkan Pak Lurah mencoba meredam emosinya agar tidak menjatuhkan reputasinya di depan warganya sendiri jika ingin meluapkan marahnya pada sosok pria di depannya saat ini.


"Bapak bisa melihat pakaian saya yang sobek juga luka memar di wajah saya ini Pak, ini bukti saat dia mau melecehkan saya." Mawar memperlihatkan dagunya yang mungkin lebam karena sakitnya pun masih terasa.


"Lalu kamu anak muda, apa punya bukti yang bisa kau jadikan untuk membela dirimu?"


"Jika diijinkan saya ingin mengambil sesuatu dari mobil saya Pak,,," tutur Bima dengan sopannya.


"Biar saya saja yang mengambilnya Pak, jika itu diijinkan." Tiba tiba Nara meminta ijin pada sesepuh desa. Sebagai sahabat yang telah menjalani suka duka bersama, Nara jelas tahu bagaimana Bima yang sebenarnya. Tidak mungkin Bima akan melecehkan seorang gadis, jika ia sangat menghormati kaum wanita. Dan Nara tidak mau tinggal diam melihat sahabatnya dalam kesulitan.


Orang orang menatap ke arah Nara. Mereka memandang penuh selidik kearahnya. Apa sebenarnya hubungan pria ini dengan Nara. Karena sedari tadi Bima sering mencuri curi pandang kearah Nara.


"Apa Mbak Nara mengenal pria ini?" Tanya salah satu penduduk yang ngerasa tak asing dengan wajah Bima.


Dengan senyum sedikit dipaksakan Nara pun menjawab pertanyaan orang itu." Iya,,, saya mengenalnya dengan baik,,,,"


Semua orang terkejut mendengar perkataan Nara. Bagaimana mungkin Nara mengenal pria brengsek itu, karena mereka tahu Nara adalah wanita baik baik, bagaimana mungkin mereka bisa saling kenal.

__ADS_1


"Baiklah,,, Mbak Nara saja yang mengambil apa yang dimaksudkan oleh pria itu di mobilnya." Kata sesepuh tadi.


Bima pun bangkit dari duduknya lalu berniat membisikkan sesuatu. Namun belum sempat ia mendekatkan bibirnya. Tubuhnya sudah di tahan oleh sebuah tangan. Ia pun segera menoleh ke belakang, begitu pun dengan Nara yang memandang kearah pria itu. Tubuhnya pun melemas, melihat tatapan tajam terhunus kearahnya juga Bima.


"Ini barang yang kau minta, biarkan Nara pulang, jangan tahan dia lagi lebih lama, karena Rasya membutuhkan Bundanya." Raffi menaruh laptop Rama di meja, dengan tatapan yang terus tertuju pada Nara. Tanpa menunggu perkataan dari Bima juga yang lain, Nara segera pamit pada semuanya.


"Maaf bapak bapak,,, saya pamit,,, assalamualaikum,,," Nara dengan menahan jantungnya yang seakan mau keluar dari tubuhnya saat melihat Raffi dengan tatapan marahnya, melangkah kearah motor maticnya yang diparkir tak jauh dari halaman Balai Desa.


Namun langkahnya terhenti saat melihat Bu Ida dan Rasya keluar dari mobil Raffi.


"Kesalahanmu bisakah dimaafkan, sudah menelantarkan Rasya demi laki laki itu." Bisik Raffi yang membuat tubuh Nara terpaku di tempat. Seakan ada ribuan beban yang menahan langkahnya untuk mendekati putra tercintanya.


"Maafkan Bunda sayang,,," Nara sudah menciumi seluruh wajah putranya setelah ia mencuci tangannya terlebih dulu. Saat ia ingin menggendong Rasya, tubuhnya ditahan oleh Raffi.


"Apa tidak salah kamu ingin menggendongnya." Ucapnya dingin yang mengambil alih Rasya dari tangan Bu Ida, karena saat ini Rasya memang sedang menangis.


"Mas,,," lirih Nara yang menatap penuh penyesalan kearah Raffi.


"Kau tahu apa akibatnya telah menelantarkan putraku meski hanya sebentar."


Tubuh Nara pun makin luruh mendengar perkataan Raffi.


"Jangan pisahkan kami,,,," lirih Nara yang kini telah berlinang air mata.

__ADS_1


bersambung,,,,,


__ADS_2