
Setelah kejadian di pesta, Naya sudah tidak pernah bertemu dengan Bayu lagi. Baik di kampus maupun di rumah sakit tempat mereka magang. Seakan dunia telah menelannya hidup hidup, tiada kabar berita apa pun dari pria tersebut. Sebenarnya Naya tidak menyalahkan Bayu. Justru ia kasihan pada pria itu, terjebak antara keluarga dengan perasaannya. Dan ia tahu itu sangat sulit juga menyesak di dada. Mengingat Bayu membuat Naya membuang nafasnya dengan berat.
Ia pun berdiri dari duduknya memandang ke jalan raya, mencari sopir yang sudah ditugaskan oleh Raffi mengantar kemana pun ia pergi, merangkap menjadi pengawal pribadi Naya. Raffi tidak mau jika terjadi apa apa pada adik iparnya tersebut setelah kejadian di pesta malam itu. Meski awalnya terjadi perdebatan antara Raffi dengan Naya yang bersikukuh tidak mau dikawal oleh sapa pun, karena itu akan mengganggunya. Namun Raffi tetap bersikeras bahkan mengancam Naya jika tidak menurut apa katanya, maka ia akan memblokir semua akses Naya untuk bertemu dengan Nara juga keponakan tersayangnya, Rasya. Membuat Naya mau tak mau akhirnya menuruti keinginan Raffi meski dengan wajah yang cemberut.
"Kak,,, bantu aku meyakinkan Kak Raffi, aku akan baik baik saja tanpa pengawal, Kak,,," rengek Naya pada Nara saat itu. Namun semua harapannya sirna saat kakaknya sendiri juga menyetujui keputusan Raffi.
"Ini yang terbaik untuk kamu dek,,, kami tidak bisa menjagamu sendiri, kami tidak mau kejadian di pesta itu terulang kembali, kami hanya ingin menjagamu dari orang orang yang berniat tidak baik padamu, mengertilah kami sangat mengkhawatirkanmu." Ucap Nara lembut sambil menyelipkan sebagian rambut Naya ke telinganya.
"Naya,,, dengarkan aku,,, dulu ada Rendra yang kupercaya menjaga kamu, tapi sekarang aku tidak mau kamu berhubungan dengan Rendra lagi sampai ia benar benar membuktikan perkataannya padaku. Dan perlu kamu tahu, setelah kejadian malam itu nyawa kamu bisa terancam setiap saat, karena dunia sudah tahu jika kamu adik dari Raffi Wijaya, musuh bisnis kami akan mencelakai setiap bagian keluarga Wijaya, apa belum cukup alasanku memberikan bodyguard untukmu, itu masih wajar hanya seorang, apa kamu mau di kawal oleh 4 orang tiap pergi kemana mana?"
__ADS_1
Dengan santainya Raffi menyandarkan punggungnya di sofa sambil memeluk pundak istrinya yang kini memandang kearah Naya dengan perasaan cemas dan khawatir mendengar ucapan suaminya barusan. Ia pun teringat cerita dari Bu Ida saat menemukan Rama dulu. Membuatnya terbelalak lalu memandang kearah suaminya.
"Kak,,," ucap Nara terhenti karena Raffi sudah menutup bibir istrinya menggunakan telunjuknya. Ia tahu pasti akan kecemasan Nara, makanya sebelum istrinya itu keluar cerewetnya ia sudah menghentikannya.
"Tenanglah sayang,,, semua akan baik baik saja, aku akan menjaga keluarga kita dari mereka. Tanpa sepengetahuan kalian, aku juga telah menempatkan anak buahku di mana mana untuk menjaga kalian. Jadi,,, jangan terlalu di pikirkan, yang perlu kamu pikirkan sekarang hanya satu," memberi adik untuk Rasya," bisiknya lirih di telinga Nara yang membuat Nara menegang karena hembusan nafas Raffi terasa hangat di lehernya.
Raffi tersenyum tipis karena merasa bahagia bisa mengerjai istrinya. Melihat wajah Nara yang sudah memerah karena malu, ia pun segera mengangkat tubuh istrinya menuju kamar, tanpa menghiraukan keberadaan Naya di sana. Membuat Naya semakin kesal dengan ulah kakak iparnya itu.
"Naya,,, aku mendengarnya, hukuman kamu, jaga Rasya di kamarnya jangan sampe mengganggu kami,,, awas kalo sampe aku terganggu,,," tegas Raffi seolah olah mengancam Naya, padahal jauh di lubuk hatinya ia sangat bahagia akan adanya Naya di rumah, karena ia bisa leluasa menguasai tubuh istrinya. Karena tugas Nara diambil alih oleh Naya.
__ADS_1
"Kak Raffi,,," teriak kakak adik itu berbarengan tidak terima dengan perkataan Raffi. Alih alih menjawab keduanya, justru Raffi semakin mempercepat langkahnya menuju kamar pribadinya. Ia tidak menghiraukan wajah Nara yang terlihat cemberut sekarang.
Naya yang kesal pun melangkahkan kakinya menuju taman, menghilangkan kekesalannya dengan menghirup aroma bunga bunga yang sangat disukainya. Hingga tanpa ia sadari, seorang pria sudah berdiri di belakangnya. Lama sekali pria itu memandangi Naya yang seakan terlupa dengan sekitarnya. Hingga tiba tiba ia berhenti tersenyum saat mencium bunga mawar ditangannya. Sekilas kenangan mengusik hati dan pikirannya.
"Apakah kau masih ingat padaku Kak Rendra,,," lirihnya hingga air mata pun luruh membasahi pipinya. Hatinya terasa sakit akan kerinduan yang lama di pendamnya. Ia tahu jika sebentar lagi, lelaki yang mengisi hatinya akan bertunangan dengan sahabatnya sendiri, dan itu ia ketahui dari Raffi. Hatinya terasa sesak hingga buliran bening itupun semakin deras meluncur dari pelupuk matanya.
"Jangan menangis lagi,,,," suara lembut itupun menyadarkan Naya, ia pun segera menoleh ke belakang.
"Kau,,,,"
__ADS_1
bersambung🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹