
"Jangan Kak,,, ku mohon,,," Naya terus berontak dalam kungkungan Rendra, tubuhnya gemetaran, sungguh ia merasa takut akan apa yang Rendra lakukan nantinya.
"Kak,,, kau sudah berjanji pada Kak Nara tidak akan menyentuhku sebelum halal, kemana sekarang perginya janji itu, kemana perginya Kak Rendra yang selalu memberiku keteduhan juga kenyamanan selama ini, ke mana dia sekarang,,, hikkss,,, hikkss,,, aku benci dengan mu Kak,,, bawa balik Rendraku yang dulu,,, jangan kau pisahkan kami,,," racau Naya yang sudah tersudut hingga otaknya sudah tidak bisa berpikir lagi, ia hanya mengeluarkan apa isi hatinya saat ini, berharap Rendra bisa tersentuh, menghentikan kegilaannya sekarang.
Rendra tersenyum sinis, dia semakin mendekatkan wajah mereka, " Rendra tidak pernah kemana mana, ia tetap disini,,," tunjuk Rendra ke jantung Nara.
"Kau tahu sayang,,, betapa sakitnya hatiku mendengar perkataanmu tadi, ku kira kau bisa mengerti aku selama ini, tapi nyatanya cemburu telah membutakan mata hatimu, kau menolak semua kebenaran yang terucap dari bibirku. Aku tahu, hanya dengan kata kau tidak akan mempercayaiku, maka ku tunjukkan dengan tindakan juga, jika aku benar benar hanya menginginkan dirimu bukan yang lain untuk pendampingku. Dan hanya dengan satu cara agar kau tak pergi dariku, yaitu mengandung benihku." Bisik Rendra lembut di telinga Naya yang membuat gadis itu semakin ketakutan dan gemetaran.
"Kak,,, jangan lakuin itu,,, aku tidak akan meninggalkan kamu, aku janji, tapi tolong jangan seperti ini, kau menyakitiku secara fisik juga mentalku. Aku mohon,,, hentikan,,, atau aku akan benar benar membencimu nantinya,, hikkss,,,hikkss,,," dengan derai air mata Naya berusaha melepaskan tangannya yang sudah di cengkram Rendra kuat di samping kanan kiri tubuhnya. Hatinya berkecamuk antara marah, benci, takut bercampur jadi satu sekarang. Pikirannya pun tidak bisa bekerja saat Rendra mencium bibirnya dan menarik baju Naya dengan kasar, hingga baju itu sobek bagian atasnya. Membuat gadis itu membelalakkan matanya, menggeleng ke kanan kiri untuk melepaskan ciuman Rendra. Air matanya semakin deras mengalir, sungguh tubuhnya semakin bergetar menahan takut juga marahnya.
Namun Rendra semakin tak terkendali, ia justru menyusupkan tangannya ke dalam baju Naya, membelai lembut tubuh yang masih terbungkus meski bajunya kini sudah berantakan tak beraturan lagi. Saat tangannya tepat berada di kedua aset berharga Naya. Ia pun melepaskan ciumannya. Memberikan kesempatan pada gadis itu mengambil nafas sebanyak banyaknya.
"Bagaimana rasanya saat harta berhargamu akan terenggut darimu tanpa seijinmu?" Kini tatapan Rendra kembali seperti dulu, tatapan yang melihat Naya penuh cinta dan kasih sayang, membuat Naya terkejut mendengar perkataan Rendra tadi.
Sejenak ia mengatur jantungnya yang sudah berdegup kencang, hampir saja meloncat keluar dengan ulah Rendra tadi, pikirannya kini mulai bisa diajak berkompromi saat melihat tatapan Rendra yang kembali seperti biasanya. Ia pun menghapus air matanya. Meski kekhawatiran itu masih ada. Dengan posisi mereka yang masih tidak menguntungkan bagi Naya. Namun ia mencoba untuk tenang sekarang.
"Maksud Kak Rendra apa?" Tunggu,,, tunggu,,, apa ini ada hubungannya dengan yang ku lihat tadi?"
Rendra tersenyum sambil menyibakkan rambut Naya yang menutupi sebagian wajahnya.
"Iya sayang,,, aku hanya ingin kau merasakan bagaimana perasaan dan kondisi wanita tadi yang hampir saja di perkosa oleh dua orang berandalan di pinggir jalan yang sepi. Untung aku tiba tepat pada waktunya."
__ADS_1
"Kak,,, jangan bilang kau melakukan semua ini agar aku tahu gimana rasanya jadi wanita itu sekarang?"
Rendra tersenyum mendengar perkataan Naya, lalu membelai pipi yang sedikit cubby itu.
"Terpaksa aku harus melakukannya, untuk meredam marahmu nantinya. karena percuma saja aku jelaskan panjang lebar pasti kamu tidak akan percaya, ujung ujungnya kita akan berdebat panjang nantinya. Hanya dengan mengalihkan pikiranmu, kita bisa menyelesaikan masalah tadi." Rendra seakan tak berdosa telah membuat Naya ketakutan setengah mati, justru kini ia dengan santainya mempermainkan rambut Naya. Membuat gadis itu mendengus kesal akan ulah Rendra padanya tadi.
"Lain kali jangan seperti ini lagi ya Kak,,, aku benar benar takut, tega Kakak membuatku seperti ini,,, " dengan cemberut Naya memukul mukul dada Rendra yang membuat pria itu terkekeh pelan.
"Maafkan aku,,, sudah membuatmu menangis,,, tapi hanya dengan cara ini aku bisa meredam marahku padamu, berani sekali tangan ini menyentuh tubuh pria lain, dan bibir ini berani sekali tersenyum manis pada pria lain." Rendra pun mengambil tangan Naya lalu menciumnya, juga bibir mungil itupun tak lepas dari kecupannya.
"Semua juga karena Kakak,,," potong Naya yang menoleh ke samping menghindari tatapan Rendra.
"Kak,,, jangan macem macem ya,,, aku,,, aku,,, akan bunuh diri kalau Kakak nekat." Ancam Naya yang kini kembali menciut nyalinya melihat ulah Rendra.
Rendra hanya terkekeh melihat reaksi Naya, sungguh ia puas sudah mengerjai gadis yang selalu membuatnya pusing dengan ulahnya selama ini, yang selalu mengusilinya. Kini ia puas bisa membuatnya tak berdaya.
"Kenapa tertawa, puas sudah mengerjai ku habis habisan,,,"gerutu Naya sambil cemberut.
"Sudah dong ngambeknya, nggak mau ni aku jelasin yang tadi, ya udah,,," Rendra pun beranjak dari tubuh Naya, duduk di tepi tempat tidur gadis itu. Sebenarnya sebagai seorang pria normal ia tak dapat pungkiri jika dirinya ingin lebih dari gadis itu, tapi ia tak mau melanggar janjinya sendiri, juga tak ingin membuat jurang yang lebih dalam lagi diantara mereka berdua.
Naya pun bangkit dari baring nya lalu bersandar ke kepala ranjang dengan bantal sebagai penyangga tubuhnya. Menatap penuh kasih kearah Rendra yang juga sedang menatapnya sekarang.
__ADS_1
"Ceritakan padaku Kak apa yang sebenarnya terjadi,,,"
Rendra pun menggenggam tangan Naya erat sekali, kemudian ia mulai bercerita dari awal sampai akhir saat ia memeluk wanita itu masuk ke dalam mobilnya.
"Kau tak tahu kan sayang,,, siapa sebenarnya wanita itu,,, yang kau lihat hanya seorang wanita, tapi yang sebenarnya, kau sangat dekat dengan wanita itu, mungkin kalau kau tahu yang terjadi dari awal, kau pasti tak ingin meninggalkannya saat ini."
Mendengar penuturan Rendra, Naya pun mengernyitkan alisnya, ia berpikir siapa wanita malang itu, yang hampir terenggut kehormatannya oleh berandalan di jalan. Sesaat kemudian ia menatap horor pada Rendra.
"Kak,,, jangan bilang dia Alifia,,," tuturnya dengan nada gemetaran tak bisa membayangkan jika wanita itu adalah sahabatnya sendiri. Namun Rendra hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ya Allah,,, haruskah aku cemburu dengan sahabatku sendiri,,, ataukah harus bersyukur memiliki kekasih yang begitu menjagaku juga orang orang yang kukasihi,,," rasa bersalah pun menggelayuti hati Naya saat ini.
"Terima kasih untuk semuanya Kak,,, maaf kan aku yang buta dengan rasa cemburuku." Naya pun memeluk Rendra dengan eratnya.
"Sayang,,, jangan menggodaku,,, kau lihat kan ,, kau membangunkan yang lainnya." lirih Rendra yang membuat Naya terkejut, lalu spontan berlari ke kamar mandi dan menguncinya.
"Pulang sekarang atau aku tak akan keluar dari sini." Teriak Naya yang menahan dadanya, ia pun tersenyum mengingat kata Rendra.
"Maaf,, harus menyiksamu malam ini,,,"
bersambung,,
__ADS_1