
Suasana pesta yang tadinya sempat cukup meriah, kini terasa mencekam setelah kedatangan sepasang suami istri yang sedang menatap horor pada orang tua Bayu. Tak ada yang berani bersuara bahkan untuk menggerakkan tubuh mereka sedikit saja. Seakan menjadi patung hidup saat menyaksikan kejadian di depan mata mereka.
Meskipun mereka sudah tau sepak terjang Presdir itu, namun baru kali ini mereka menyaksikan secara langsung dengan mata kepala mereka sendiri. Para wartawan yang mulanya meliput acara pesta tersebut, kini hanya bisa menelan saliva mereka dengan kasar. Rasa takut menghantui mereka, dan bayangan mendapatkan bonus dari kerja keras mereka saat meliput , kini sudah menguap ke udara. Semua hanya sia sia.
Padahal tadi mereka yakin, akan bisa mencetak berita terhangat yang pasti akan menjadi trending topik hari ini bahkan mungki n untuk beberapa hari ke depan. Yaitu terkuaknya kisah cinta putra Presdir Hadinata, pemilik kampus ternama di kota B, juga pemilik perusahaan PT. Enggal Saras.
Yang tidak mendapat restu oleh kedua orang tuanya karena ternyata wanita itu hanyalah wanita miskin yang tidak tahu malu. Menjerat pria pria kaya dengan tubuhnya untuk mendapatkan harta mereka. Namun setelah tahu siapa keluarga gadis itu, jangankan membuat berita tentang penghinaan gadis itu, membuat berita pesta malam ini pun tak akan pernah bisa mereka lakukan. Karena sosok pria yang kini berada di depan Presdir Hadinata juga istrinya. Yang memandang keduanya dengan tatapan membunuh.
"Lepaskan tanganku,,, berani beraninya kamu mencampuri urusan keluarga kami." Mama Bayu berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan wanita cantik di depannya. Wanita itu pun melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar, hingga tubuh Mama Bayu sedikit terdorong ke belakang.
"Kau,,," suaranya tercekat karena sang suami sudah menarik tubuhnya ke belakang, menjauh dari tubuh Naya juga wanita yang berdiri di samping Naya sekarang.
"Pa,,,wanita itu telah kurang ajar padaku, kenapa. Papa melarangku memberi pelajaran padanya?" Karena dibutakan emosinya, hingga Mama Bayu tidak menyadari kalau semua orang kini terdiam juga mematung di tempat mereka masing masing.
"Berhenti Ma, jangan membuat masalah dengan Tuan Raffi. Wanita itu wanitanya Tuan Raffi." Bisik Tuan Hadinata lirih pada istrinya. Seketika tubuh Mama Bayu pun mematung menatap sosok yang disebutkan oleh suaminya. Amarah yang tadinya siap diledakkan, kini berubah menjadi rasa ketakutan yang teramat, karena ia juga tahu, bagaimana Raffi akan bertindak pada orang orang yang telah menyinggungnya. Bayangan kehancuran bisnis mereka sudah di depan mata. Ia pun gemetaran karena takutnya. Untung ada suaminya yang bisa menopang tubuhnya saat ingin luruh ke lantai karena terasa lemas.
"Dek,,, maafkan kakak datang terlambat, ini semua salah Kak Raffi, yang menyuruh kakak berganti ganti pakaian terus karena merasa terlalu seksi dan terbuka, hingga kakak memakai pakaian seperti ini, menyebalkan." Cerocos Nara tanpa rasa bersalah melihat wajah suaminya yang sudah memerah menahan malu juga marahnya. Karena ucapan sang istri yang bisa terdengar oleh orang orang di sekitar mereka. Ia sungguh tidak menyangka jika Nara akan bertindak seperti itu, kewibawaan nya akan hancur di mata para rekan bisnisnya. Ternyata seorang Raffi Aditama bisa seposesif itu pada seorang wanita.
Naya yang melirik ke arah Raffi hanya bisa menggigit bibir bawahnya agar tawanya tidak meledak melihat ekspresi kakak iparnya sekarang.
"Kak,,, kasihan Kak Raffi jika malu di depan rekan bisnis nya, karena ucapan Kakak." Bisik Naya begitu lirih hanya bisa di dengar oleh Nara. Mendengar perkataan Naya, membuat Nara tersadar lalu tersenyum kearah suaminya.
__ADS_1
"Maaf Kak,, aku keceplosan,,,kakak tau kan kalau aku sudah bertemu dengan Naya, semua ku anggap tidak ada. Maafkan aku ya,, " dengan wajah imutnya Nara menjewer kedua telinganya dengan kedua tangan yang menyilang.
"Jangan tunjukkan wajah imutmu itu di depan orang banyak, kamu itu cuma milikku,,," bisik Raffi gemas dengan melingkarkan tangannya di perut Nara, membuat mereka semakin mendekat tak ada celah antara keduanya. Dengan tatapan mereka yang saling beradu.
"Ekhhmmm,,," deheman Naya menyadarkan aksi keduanya.
"Cukup Drakor di rumah aja,,, kasihani aku ,, please,,," tutur Naya memelas mendekati keduanya sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Tega teganya kakak juga kakak iparnya bermesraan saat dirinya sedang merana, begitu batin Naya.
Nara pun memeluk adik tersayangnya."Maafkan kakak,,, kamu baik baik saja kan?"
"Iya kak,,, aku baik baik saja, kata kata seperti itu sudah menjadi keseharian kita dulu, bukan? Dan aku sudah kebal dengan hinaan seperti ini, cuma aku tidak terima jika orang tua kita ikut dihina, meskipun kenyataannya,,," Naya menggantungkan katanya. Rasa perih itu menjalar di lubuk hatinya, teringat kedua orang tua mereka yang telah meninggalkan ketiganya saat masih kecil. Tanpa terasa buliran bening itu pun mengalir dari kedua sudut matanya.
"Tuan Hadinata, bagaimana kau akan bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan oleh istrimu." Ucap Raffi tanpa melepaskan tatapannya dari Nara, hatinya terasa sakit melihat air mata yang keluar dari manik mata istrinya.
Tuan Hadinata mencoba menelan salivanya yang terasa tercekat di tenggorokannya. Hingga sukar sekali untuk berbicara. "Tu,,, Tuan Raffi ,,, tolong maafkan kesalahan istri saya, dia tidak tahu jika gadis itu adalah kerabat anda Tuan." Dengan tubuh yang gemetaran, Papa Bayu menunduk hormat pada Raffi
"Oh,,, jadi kalau Naya bukan kerabatku, maka istrimu itu bole menghinanya?" Lanjut Raffi yang membuat keduanya semakin frustasi, takut harta mereka akan melayang dalam hitungan menit aja.
"Bu,,, bukan begitu Tu,, Tuan Muda,,, istri saya memang bersalah, tolong bermurah hatilah memaafkan kami." Tuan Hadinata memberi isyarat pada istrinya agar meminta maaf pada Raffi.
"Ma,, maafkan kesalahan saya Tuan Raffi, saya khilaf,,," dengan tubuh yang masih gemetaran dengan wajah yang masih tertunduk Mama Bayu memberanikan diri meminta maaf pada investor terbesar di perusahaan suaminya tersebut.
__ADS_1
"Mintalah maaf pada gadis yang telah kau sakiti hatinya, juga pada istriku, karena dia lah yang membesarkan adik adik mereka dengan tiap tetes keringatnya, dan kamu berani beraninya menghina mereka. Nasib kalian ditangan mereka berdua saat ini."
Meskipun dengan nada yang terkesan dingin, namun mata penuh cinta itu tetap mengarah pada bidadari hatinya.
Mama Bayu yang mulanya merasa enggan untuk meminta maaf kepada Naya, namun karena dorongan dari seluruh keluarga akhirnya ia pun meminta maaf pada gadis yang telah di hinanya tadi, meski dengan raut wajah yang memerah menahan malu juga marahnya.
Penghinaan ini tidak akan pernah ia lupakan, dan rasa benci kepada Naya semakin besar.
Namun demi tidak kehilangan harta, ia pun merendahkan harga dirinya dengan bersimpuh meminta maaf karena itulah yang diinginkan oleh Raffi.
Naya juga Nara yang tersentuh hatinya dengan permohonan maaf itu, ingin membantu Mama Bayu untuk berdiri, namun tangan mereka di cekal oleh Raffi.
"Jangan mengotori tangan kalian, ayo kita pergi dari tempat yang menjijikkan ini." Sorot tajam Raffi masih tertuju pada Mama Bayu.
"Jangan harap aku akan melepaskan keluarga kalian." Mungkin itulah arti dari tatapan itu. Membuat tubuh Mama Bayu gemetaran menatap mata singa yang terluka itu.
Sebelum Raffi melangkah menjauh dari tempat itu. Ia sempat menatap ke arah Rendra. "Aku tunggu penjelasanmu."
"Matilah aku,,, " bisik dalam hati Rendra.
bersambung ,,,,,
__ADS_1