
"Sayang,,, aku sangat merindukanmu,,, maafkan aku,,," derai air mata membasahi pipi keduanya.
Mereka semakin mempererat pelukan mereka, melepaskan semua kerinduan yang selama ini menyiksa di hati mereka.
"Naya sayang,,, Rana sayang,,, kemarilah,,, peluk Bunda,,,!" Nara memanggil dengan isyarat tangannya agar kedua adiknya mendekat pada mereka.
Rana hanya bisa terpaku tak percaya, sedangkan Naya, ia berusaha melangkah pergi dari tempat itu. Namun langkahnya terhenti oleh seseorang.
"Apa kamu tega membiarkan Bunda mu semakin tersiksa dengan rasa bersalahnya dengan penolakanmu, aku tahu sayang, hatimu juga sakit dengan kepergiaannya. Tapi kau juga tahu pasti, jauh di lubuk hatimu, berharap ia datang kembali. Kenapa saat yang kau nanti telah datang, kini kau ingin melepas semuanya, hanya karena keras kepalamu itu, nanti kamu pasti menyesalinya." Ucap seorang pria separuh baya yang tak tahu itu sapa bagi Naya.
Mendengar perkataan pria di depannya membuat darah Naya bergejolak, ia pun menatap tajam ke arah pria itu.
"Siapa anda berani menilai saya, anda tak tahu seberapa luka yang telah dia beri pada saya, anda tak tahu penderitaan yang saya alami karena ulahnya, kenapa saya harus menerimanya, setelah semua kekacauan yang terjadi karena ulahnya, apa saya salah dengan penolakan saya,,,?"
Dengan nada tinggi Naya mengungkapkan semua isi hatinya. Diiringi air mata yang setia disetiap ucapannya.
Suasana pesta yang tadinya dipenuhi dengan senyum kebahagiaan, kini berubah menjadi ajang gosip diantara sesama tamu undangan. Banyak reporter yang berusaha mengabadikan momen ini, namun sayang, mereka harus terdepak keluar oleh anak buah Tuan Ayodyatama.
"Bijaklah dalam bersikap Nak, ingatlah ini hari bahagia kakakmu, apa kau tega merusaknya, lihatlah, dia bisa menerima Bunda mu kembali,
tapi mengapa kamu tidak bisa, apa kau juga tahu, betapa menderitanya Bunda mu selama ini jauh dari kalian. Dia hanya bisa melihat kalian dari kejauhan, menangisi kalian tiap malamnya, hingga airmatanya pun kering untuk tertumpah lagi menyaksikan penderitaan kalian. Tapi apa kau juga tahu, jika diam diam dia yang selalu membantu kalian. Meskipun hidupnya berkecukupan, apa kau tahu apa yang dia makan,,, dia makan seperti makananmu, dia juga menghukum dirinya tiap saat karena menelantarkan kalian, ia juga tidur di lantai meski ada tempat tidur yang nyaman bagi dia. Dia ingin merasakan penderitaan itu dengan kalian. Apa kau masih ingin menambah penderitaannya lagi?" Pria paruh baya itu menatap lekat kearah Naya yang masih berderai air mata.
"Jika dia juga tersiksa dan menghukum dirinya sendiri, kenapa tidak menemui kami sejak dulu, kenapa baru sekarang, setelah tahu Kak Nara menjadi menantu keluarga Adytama, lalu berpikir kembali pada kami, dan berusaha memanfaatkan kami agar bisnis kalian tak hancur kan? Heh,,,, menjijikkan,,," cetus Naya dengan senyum mengejek.
__ADS_1
"Plakkkk" tamparan keras mendarat ke pipi Naya. Membuat gadis itu meringis menahan sakit dengan memegangi pipinya.
"Kak,,, kakak menamparku karena pria ini, yang merebut Bunda kita,,,?"
Hatinya terasa hancur berkeping keping karena tamparan Nara.
Selama ini, ia tak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari kakaknya, tapi sekarang, demi orang asing kakaknya tega menampar dia di depan umum. Rasa sakit yang dirasakan pipinya tak sesakit luka hati yang Nara goreskan.
"Maafkan kakak dek,,, tapi kata katamu sudah keterlaluan, apa pernah aku mengajarimu seperti itu, apa pernah aku mengajarimu melupakan kasih sayang Bunda, tak menghormati orang yang lebih tua dari kita, apa pun yang terjadi, Bunda tetap Ibu kita, yang mengandung kita, melahirkan kita, merawat kita. Tolong jangan hukum dirimu sendiri juga Bunda lagi, demi kebahagiaan kita, lapangkan hatimu dek, aku tahu kau yang lebih merindukan Bunda dari kita bertiga. Amarah yang kau tunjukkan, jelas jelas itu kasih sayang yang kau miliki untuk Bunda. Jangan lari lagi dari kenyataan, kakak mohon,,," dengan derai air mata Nara memeluk Naya. Ia sungguh menyesali telah menampar Naya tadi.
"Maafkan Bunda sayang,,, apa perlu Bunda berlutut untuk mendapatkan maaf mu?"
Nyonya Tama sudah bersimpuh dihadapan Naya juga Nara, membuat keduanya pun bersimpuh memeluk Bundanya.
"Maafkan Naya,,, maafkan Naya,,," hanya kata kata itu yang terdengar disela sela isak tangis mereka.
Dengan senyum yang mengembang di bibir ketiganya, menatap pada Rana, membuka tangan mereka masing masing, Rana pun ikut berhambur ke pelukan mereka.
"Apa aku juga boleh bergabung dengan kalian?"
Suara Cindy memecah kemesraan mereka.
"Kemarilah sayang,,, mereka juga saudaramu, meski tidak se ayah." Ucap Nyonya Tama yang membuat Nara, Naya juga Rana terkejut.
__ADS_1
"Maksud Bunda,,,?" Tanya Nara yang hampir copot jantungnya saat tahu kalau Cindy istri pertama suaminya adalah saudaranya.
"Iya sayang,,, maafkan Bunda, karena kenakalan masa remaja Bunda, maka lahirlah kakak kalian, tanpa kalian ketahui, jadi Cindy adalah anak pertama Bunda, bukan Nara, maafkan Bunda, hukuman apa pun dari kalian akan Bunda terima,,, hikkss,,, hikkss,,," tutur Nyonya Tama penuh penyesalan.
"Itu adalah masa lalu Bunda, dan Nara yakin, pasti banyak kesulitan yang Bunda alami hingga semua cobaan ini terjadi, kami tak pantas menghukum orang yang telah memberikan kami kesempatan untuk melihat dunia ini, jangan ada lagi airmata, cukup sudah, mulai sekarang biarkan kami merasakan kasih sayang Bunda lagi." Nara mengusap lembut air mata Nyonya Tama.
Nara pun mengajak Bundanya berdiri, juga yang lain, lalu ia tersenyum ke arah Cindy, berjalan kearah kakak tirinya itu.
"Maafkan aku Kak,,, tanpa kusengaja dan sadari telah mengambil kebahagiaan kakak selama ini, maafkan aku,,, hikkss,,, hiikksss,,," dengan mengatupkan kedua tangannya di dada, Nara meminta maaf pada Cindy.
"Semua bukan salahmu, itu kesalahanku sendiri, andai aku bisa menjaganya, ia tak akan lari dari ku, maafkan aku juga Nara, sempat berpikir buruk untuk kalian hikkss,, hikkss,,," air mata Cindy tumpah mengingat semua perlakuan buruknya.
Mereka pun saling berpelukan, diikuti Nyonya Tama, Naya juga Rana.
Tuan Ayodyatama tersenyum melihat semua orang yang disayanginya merasakan kebahagiaan yang selama ini mereka impikan. Setitik air mata pun jatuh dari sudut matanya.
"Aku berjanji, akan mengubah air mata kalian dengan senyuman ke depannya. Akan aku jaga kalian dari sapa pun itu, termasuk keluarga Adytama." tekad Tuan Ayodyatama dalam hati.
Lalu ia pun ikut ambil bagian dalam adegan Teletubbies ini.
"Apa kalian masih ingin melanjutkan drama kalian?" Tanya Ibu Suri yang tiba tiba sudah berdiri agak jauh dari mereka. Disampingnya sudah ada Rama juga Bu Ida yang memandang ke arah mereka.
"Ya Allah,,, biarkan aku merasakan bahagia ini sedikit lebih lama lagi." Jerit hati Nara yang tahu apa yang akan terjadi nantinya.
__ADS_1
bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Terima kasih ku ucapkan tuk semua readers yang telah mendukung karya ini. Moga selalu diberi kesehatan dan keluasan rejeki dan berkah nantinya , amiinn 🤲