
"Kau,,,," Raffi sedikit terkejut dengan kemunculan kembarannya yang kini berada tepat di hadapannya, yang tanpa rasa berdosa sudah tersenyum ke arah keduanya. Nara yang masih dalam gendongan Raffi pun turun lalu berbalik membelakangi Rama, membenarkan baju bagian depannya yang sudah berantakan akibat ulah Raffi. Setelah itu ia pun berbalik lagi dan tersenyum kearah Rama.
"Kapan Mas Rama pulang?" Sapa nya meski sedikit gugup karena merasa malu Rama telah melihatnya dalam keadaan seperti tadi.
Rama hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Nara. Justru ia malah melontarkan pertanyaan yang membuat hati Raffi kesal pada adik kembarannya itu.
"Aku lapar, boleh aku makan makanan di meja makan tadi Nara?" Tutur Rama memelas dengan ekspresi yang wajah yang sangat kelelahan.
Nara terdiam sebentar, ia tahu jika ia langsung menjawab iya, maka suaminya pasti akan marah kepadanya, karena masakan Nara hanya untuk dirinya juga Rasya serta Naya saja kalau datang, siapa pun tidak boleh makan makanan yang dibuat oleh Nara, ini sudah hukum yang ditetapkan oleh Raffi di rumah.
Rama yang melihat Nara nampak bingung pun mengerti, ia pun melihat kearah Raffi yang menatapnya tajam sejak tadi.
"Kak,,, please aku laper banget,,,."
"Kamu kan bisa minta tolong pada asisten rumah tangga,,," tutur Raffi santai sambil melangkah kearah ruang makan.
"Dasar kakak laknut, tega ngebiarin adik sendiri kelaparan." gerutu Rama yang mengekor Raffi dari belakang. Namun semua katanya tidak dihiraukan oleh Raffi. Ia terus melangkah kearah ruang makan.
Sampai di tujuan, mata Raffi terbelalak sempurna, ia pun menoleh kearah Rama yang sudah menahan senyumnya.
"Kau,,," kata Raffi sambil membelalakkan matanya pada Rama. Sejurus kemudian ia ingin mencengkram tubuh Rama namun tangannya meraih ruang kosong karena Rama sudah menghindarinya. Raffi yang merasa kesal pada adik kandungnya itu pun mengejar kemana pun Rama lari, hingga mereka berkejaran seperti anak kecil memutari meja makan.
Entah untuk berapa lama mereka saling berkejar kejaran hingga terhent,i mengatur pernafasan mereka yang sudah ngos ngosan.
"Sini kamu brengsek,,, kuhabisi kamu,,, awas saja kalau kamu tertangkap." geram Raffi sambil memegangi kepala kursi seraya mengatur nafasnya.
Tak kalah dari Raffi, Rama juga kehabisan nafasnya, berulang kali ia mengambil nafas lewat hidung juga mulutnya. Mengisi oksigen sebanyak mungkin ke paru parunya sebelum melanjutkan olah raga malamnya bersama Raffi.
__ADS_1
Saat mereka saling beradu mulut, Nara nampak keluar dari kamarnya setelah membersihkan dirinya terlebih dulu di kamar mandi. Ia merasa heran melihat Raffi juga Rama yang terlihat kelelahan dengan nafas yang ngos ngosan.
"Kalian kenapa? Habis olah raga ya?" Selidik Nara pada kedua pria yang mencintainya dulu. Karena sekarang, Rama sudah benar benar mengikhlaskan Nara untuk kakaknya. Karena ia sadar, cinta tidak bisa dipaksakan.
"Aku ingin menghabisi si brengsek itu sayang,,, pulang pulang hanya membuat aku jengkel saja,,," gerutu Raffi yang mulai berjalan mendekati Rama. Merasa dalam bahaya, Rama segera berlari dan bersembunyi di belakang Nara. Membuat Nara kebingungan melihat tingkah keduanya.
"Nara,,, tolong aku,,, singa itu ingin mencabikku hidup hidup." Rama memelas pada wanita yang dulu pernah dikunjunginya dengan seluruh jiwa raga, meski ia tidak bisa memungkiri jika rasa itu masih ada, dan menyimpan serta menguburnya dalam relung hati yang terdalam.
"Kak Raffi,,, sudah hentikan,,, kasihan Mas Rama, dia baru pulang pasti capek butuh istirahat, ini malah kakak ajak berantem." Bela Nara pada Rama yang membuat Raffi semakin geram pada adik kandungnya tersebut.
"Minggir sayang,,, biarkan aku memberi hukuman pada pria brengsek itu. Berani beraninya dia,,,"ucapan Raffi terputus mendengar Nara yang terus membela Rama.
"Jangan panggil dia pria brengsek, dia adik kandungmu kak,,, kalau sampai Mama mendengar ucapan kakak,,, beliau pasti sedih melihat kedua putranya bertengkar terus."
Tangan Nara menghalangi tangan Raffi yang ingin meraih tubuh Rama.
"Dengar kata istrimu Kak,,, Mama pasti sedih melihat kita berantem." Rama yang merasa di atas angin pun mulai mengejek pada kakak nya lewat senyuman. Raffi semakin mengepalkan tangannya melihat ekspresi Rama yang menertawakannya.
"Sayang,,, kamu lapar bukan, ayo kita makan, aku juga merasa lapar sekali habis marah marah." Ucap Raffi selembut mungkin agar istrinya percaya kalau ia sudah tak marah lagi.
Mendengar nada suara suaminya yang sudah melembut, Nara pun melangkah kearah meja makan di ikuti oleh Rama di belakangnya.
Saat Nara sampai di tepi meja makan, matanya membelalak sempurna, karena mendapati semua masakannya sudah habis tidak bersisa.
"Siapa yang sudah makan makananku,,,?" Kini nada suaranya sudah sedikit meninggi. Membuat Rama bergeser sedikit dari sampingnya agak menjauh, mencari jarak aman dari singa betina kalau nanti akan marah.
Hidup bersama dengan Nara meski hanya beberapa bulan, Rama sudah hafal betul karakter mantan istrinya tersebut.
__ADS_1
Nara memandang ke arah Raffi yang kini justru terlihat cuek, ia mengambil buah anggur lalu memakannya. " Lumayan pengganjal perut." celotehnya yang tak menghiraukan ekspresi istrinya yang sudah marah.
"Kak Raffi,,," geram Nara yang jengkel atas sikap suaminya.
"Iya sayang,,, nggak usah keluar tanduk, aku bisa mendengarmu bicara,,," dengan nada setengah berbisik membuat Nara semakin jengkel.
"Terserah,,, tidur saja di luar kamar nanti." Ucap Nara yang akan melangkah meninggalkan tempat itu, namun tertahan oleh tangan Raffi yang menariknya hingga ia jatuh ke pangkuan Raffi.
"Kenapa tidak kamu tanyakan saja pada adik ipar kesayangan mu itu." bisiknya sambil menggigit lembut telinga Nara. Membuat wanita itu malu dan marah dalam waktu yang bersamaan.
Rama hanya bisa menahan dadanya yang merasakan rasa cemburu juga bahagia dalam waktu yang bersamaan. Cemburu melihat kemesraan mereka, dan bahagia melihat wanita yang dicintainya merasakan kebahagiaan dalam rumah tangganya
"Eh mm,, aku pamit mau tidur dulu, capek,," kata Rama yang diiringi langkahnya ingin meninggalkan tempat tersebut. Namun Nara sudah menghentikannya.
"Mas Rama yang memakan masakanku?"
Rama yang melihat Nara menatapnya tajam kini hanya bisa menganggukkan kepalanya lemah.
Nara pun menghela nafasnya kasar.
"Mas Rama tega sekali, padahal Mas Rama tahu kalau aku kelaparan sekarang, Bagaimana ASI ku mau produksi dengan lancar bila asupannya tidak ada." Tutur Nara dengan lembutnya namun menyayat hati Rama. Ia merasa bersalah pada Nara. Niat hati hanya ingin mengerjai kakaknya, namun ia justru mengorbankan kan wanita yang harus menjaga nutrisinya demi anak semata wayang nya.
"Maafkan Mas Nara,,, aku hanya ingin mengerjai Kak Raffi tadi, tapi malah mengorbankan mu, duduklah sebentar, akan aku masakkan makanan kesukaanmu."
Rama dengan langkah gontai menuju dapur lalu mulai membuka kulkas, mengeluarkan udang juga cumi yang masih tersisa di sana. Segera ia membersihkan udang serta cumi tersebut dan mulai memasaknya, membuat udang dan cumi asam manis pedas kesukaan Nara.
Raffi tersenyum penuh kemenangan, akhirnya ia bisa memberi hukuman pada Rama. Karena ia selalu mencumbu Nara di ruang makan saat Rama sedang memasak.
__ADS_1
"Jangan main main denganku." lirihnya tersenyum penuh kemenangan.
bersambung 🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹