KASIH TIADA BATAS

KASIH TIADA BATAS
bab 41 rencana Rama


__ADS_3

Malam yang kian larut, bertabur bintang dan bermandikan cahaya bulan. Dengan semilir angin malam yang semakin menusuk ke tulang.


Membuatnya tak beranjak dari duduknya saat ini. Meski dengan memakai jaket tebalnya, namun dingin malam ini mampu menusuk ke dalam relung hatinya.


Sesekali buliran bening itu pun telah menetes membasahi kedua pipinya dan jatuh ke pangkuannya.


Terlihat jelas wajah serta matanya yang bengkak karena kebanyakan menangis. Sesekali semilir angin menyibakkan rambutnya yang tergerai indah.


Perlahan ia bersandar di bangku taman sambil menatap jauh kesana. Dimana bintang terang yang bernama Raffi berada. Karena ia pernah dengar mitos kalau orang yang sudah mati berubah menjadi bintang. Padahal dalam hati kecil dia menolak mitos itu, karena di agama pun tak disebutkan seperti itu.


Namun ia tak dapat membohongi hati kecilnya yang berharap mitos itu menjadi kenyataan.


Dan Raffi berada disana, sedang memandanginya, memberikan cahaya kasihnya untuk menentramkan hatinya yang gundah gulana saat ini.


"Kak,,, apa yang harus aku lakukan sekarang,,,"


Tuturnya lirih dengan derai airmata yang terus mengalir.


"Apa pun yang Kakak putuskan, kami akan mendukungnya."


Tiba tiba saja Naya juga Rana sudah duduk di samping kanan dan kiri Nara. Membuatnya terkejut akan kehadiran kedua adik kesayangannya. Ia pun segera menghapus airmatanya.


"Kenapa kalian belum tidur, ini sudah larut malam sayang."


Nara memberikan kecupan di kening kedua adiknya.


"Kakak kenapa juga belum tidur? Nanti kalo Rasya terbangun, kakak tidak akan bisa istirahat lagi. Ingat Kak,,, sekarang ada Rasya yang butuh perhatian juga kasih sayang kakak, aku tahu semua sulit bagi Kak Nara, tapi,,, Rasya juga butuh masa depan yang cerah Kak."


Naya pun menghempaskan punggungnya ke sandaran bangku. Nampak ia menghela nafas dalam dalam. Memang ia sudah tau semua apa yang telah terjadi dengan kakaknya, saat ia belum sampai di rumah kemarin.


Setelah ia dan Rendra beristirahat sebentar, mereka pun ngobrol sambil nungguin Rasya yang tertidur dengan pulasnya. Dan Nara menceritakan semuanya pada mereka berdua.


"Kak,,,aku tahu hati Kak Nara hanya untuk Kak Raffi. Tapi hidup akan terus berlanjut Kak, suatu saat nanti, seiring waktu mungkin rasa cinta itu akan hadir di hati Kakak untuk Kak Rama. Karena kita juga tak tahu jalan takdir kita. Mungkin ini yang terbaik untuk Kakak, rahasia Ilahi kita tak kan tahu kan Kak."


Naya berusaha untuk meyakinkan Nara tentang keputusan yang telah diambil oleh Nara. Naya percaya jika Rama bisa membahagiakan kakak nya itu, karena Naya tau, Rama begitu mencintai Nara. Setelah apa yang di dengarnya kemarin.


Nara menatap lekat kearah Naya, seakan ia tak percaya dengan semua yang telah di dengarnya barusan. Seperti orang tua saja Naya menasehatinya.


Sejenak timbul ide menggelitik dari Nara. Sambil menahan senyumnya, ia pun berkata,,,


"Dek,,, sudah berapa lama kamu jauh dari kakak,,, kenapa sekarang kamu udah nenek nenek dek,,, "

__ADS_1


sedangkan Rana yang mendengarnya pun tertawa terbahak bahak tau Naya dikatai jadi nenek nenek.


"Ka,, kak,,,"


Ucap Naya sambil cemberut kearah Nara.


"Ha,,, ha,,, ha,,, kan yang suka nasehati itu nenek nenek kan dek ,,,"


sambung Nara lagi sambil tertawa.


Naya yang mendengarnya semakin memajukan bibirnya, menatap kesal kearah Nara.


"Baik,,, mulai sekarang panggil aja aku nenek, tapi selepas itu aku akan selalu larang kakak untuk ini itu, harus nurut apa yang nenek bilang,, "


Dengan angkuhnya Naya bersedekap dada tersenyum penuh kemenangan. Naya serta Rana hanya terkekeh melihat ulah Naya.


"Nenek Naya,,, nenek Naya,,,,"


goda Rana sambil menggerak gerakkan kepalanya seperti berjoget ala India. Membuat Naya semakin kesal dan cemberut.


"Puas kalian ledekin aku,,,"


"Bunda,,, kamu dimana, kakak sama adikku mendzolimi aku, hikksss,,, hikksss,,,"


Nara serta Rana pun berhenti tertawa, kini mereka justru turut menitikkan airmata. Naya yang mulanya hanya ingin berakting tertindas, melihat kakak serta adiknya menitikkan airmata, menjadi merasa bersalah telah menambah kesedihan mereka.


"Kak,,, maafkan aku, bukan maksudku menambah beban kakak, maaf,,,"


Nara pun memeluk kedua adiknya tanpa bersuara. Mereka kini hanya terisak dalam pelukan kakaknya.


"Andai Bunda dan Ayah bersama kita, mungkin semua akan jauh lebih baik, Bunda,,, kau dimana?"


Jerit hati Nara.


Tanpa mereka sadari dua orang pria sudah melihat ketiganya dari teras rumah Nara.


"Apa kau yakin dengan keputusan yang kau ambil, Ram?"


Dengan bersedekap dada, Rendra melanjutkan pembicaraan mereka yang terhenti, karena fokus pada ketiga kakak beradik yang saling berpelukan di taman. Tatapannya pun tak mau lepas dari ketiganya.


Begitupun dengan Rama. Ia seakan tak ingin melewatkan setiap momen antara kakak beradik itu.

__ADS_1


"Mungkin ini jalan terbaik untuk Nara, aku akan merasa bahagia bisa menjaga mereka nantinya."


Balas Rama tetap di posisi yang sama.


"Bagaimana jika suatu hari nanti kau jatuh cinta pada Nara, apa kau akan memaksakan kehendakmu padanya, secara kalian sudah menjadi suami istri nantinya?"


Kini Rendra menatap lekat kearah Rama. Berusaha mencari kebenaran di mata pria tersebut.


Dengan tersenyum tipis Rama pun menatap kearah Rendra.


"Jangankan nanti, sekarang pun aku sudah mencintainya, namun aku sadar, di hatinya hanya ada Raffi. Dan aku tak akan memaksakan kehendakku padanya, selama dia belum mau menerimaku dengan hatinya, aku bisa pastikan itu."


Rendra yang mendengar jawaban Rama pun merasa lega. Karena ia tak mau jika Nara merasa terbebani lebih dalam lagi dengan pernikahan ini. Ia hanya ingin melihat Nara bahagia, karena itu juga akan berpengaruh pada kebahagiaan kekasih hatinya yaitu Naya, yang sampai sekarang masih marah padanya. Karena masalah kemarin belum clear mereka bicarakan.


"Apa sebaiknya kalian buat perjanjian pra nikah saja, sebelum kalian menikah. Aku hanya ingin membuat Nara merasa nyaman menjalani pernikahannya nanti."


Rendra pun akhirnya duduk dan bersandar di kursi, diikuti oleh Rama, karena mereka melihat ketiga kakak beradik itu bangkit dari duduknya dan melangkah ke dalam rumah.


"Itulah yang sedang ku siapkan sekarang Ren, setelah semuanya siap dan Nara menyetujuinya, kita kembali ke kota B. Mama sudah mengatur pernikahan kami lusa."


"Apa mas,,, lusa,,,?"


Mata Nara seakan mau keluar saat menatap kearah Rama. Tanpa sengaja ia mendengar perkataan Rama tadi.


"Iya Nara, lusa kita menikah, dan itu dipublikasikan oleh Mama, bukan pernikahan diam diam seperti yang kamu minta."


Tubuh Nara pun terhuyung ke belakang, untung dia tak jatuh karena Naya sudah menopangnya.


"Kak,,, kau tak apa apa kan?"


Naya yang cemas melihat Nara yang terdiam dengan tatapan kosong pun memapah tubuh kakaknya ke dalam kamar.


"Tinggalkan aku sendiri dek,,,"


tutur Nara lirih, Naya pun mengangguk dan mengajak Rana keluar dari kamar kakaknya.


Selepas kepergian kedua adiknya. Nara pun menangis sejadi jadinya meluapkan semua kesedihan nya dan semua rasa yang menyesak di dadanya saat ini.


"Kak,,, bantu aku lepas dari semua ini, aku tak sanggup jika harus menjadi milik orang lain, mengabdikan diriku untuk orang yang tak pernah aku cinta, aku tak ingin mengkhianati cinta kita, Kak,,,, pulanglah,,, aku mohon,,, hiksss,,, hikksss,,,"


bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2