
Mungkin bagi sebagian orang tidak akan mempercayai bahwa karma itu ada, begitu juga dengan Cindy. Ia beranggapan semua hanyalah kebetulan saja jika ada musibah yang datang. Jika adanya teguran dari Sang pencipta untuk hambanya, agar mereka lebih bijak dalam menyikapi hidup.
Berulang kali teguran telah ia abaikan, namun kini, ia benar benar menyesali semua perbuatannya terutama pada kedua orang tuanya juga mantan suaminya. Mungkin Yang Kuasa sudah memberikan hidayah serta rahmat Nya untuk Cindy. Hingga hati yang mulanya keras bagai batu, kini melembut kembali.
Dengan derai airmata ia melajukan mobilnya menuju puncak. Dengan harapan bisa menenangkan dirinya disana. Sekilas potongan potongan kenangan tentang semua perilaku buruknya pun terlintas di matanya.
Bagaimana sikap kasarnya pada kedua orang tuanya, pengkhianatannya pada Raffi, hingga ia harus menerima semua penghinaan yang telah dilontarkan orang yang dianggapnya sebagai sandaran hidup sekarang.
Perasaannya kini sedang berkecamuk tak karuan, antara hancur, marah juga merasa bersalah pada semua orang yang menyayanginya dengan tulus. Karena kekalutannya, ia pun tidak fokus dengan mengemudinya. Hingga ia tidak menyadari ada penyeberang jalan yang lewat, alhasil ia pun terkejut dan segera mengerem mobilnya. Namun semua terlambat, anak laki laki itu sudah terkapar bersimbah darah karena tertabrak Cindy.
"Ada kecelakaan disana,,,"teriak seseorang hingga mengundang perhatian banyak orang.
Hingga banyak yang berbondong bondong datang ke tempat kejadian. Dengan gemetar Cindy keluar dari mobil melihat keadaan orang yang ditabraknya.
"Pak, tolong bantu saya membawa anak ini ke Rumah Sakit, dia masih hidup, tolong saya."
Ucapnya panik sambil memegangi tubuh anak laki laki itu.
" Mbak ini Mbak Cindy bukan, istri dari almarhum Pak Raffi?"
Tiba tiba saja ada salah seorang dari sekian banyak orang yang mengerumuni Cindy dan anak itu mengenali Cindy.
"Iya Pak,,, saya Cindy,,, tolong bantu saya membawa anak ini ke Rumah Sakit sebelum semua terlambat, tolong Pak."
Pinta Cindy memelas, air matanya pun lolos dari pelupuk matanya. Sungguh ia merasa kacau sekarang, dia sungguh takut terjadi apa apa dengan anak kecil yang ditabraknya juga takut jika akan diamuk massa nantinya.
"Mbak jangan takut, saya akan membantu mbak, biar saya yang angkat anak ini mbak,,, karena mas Raffi sudah sangat baik pada keluarga saya semasa beliau masih hidup."
Tutur pria itu yang segera mengangkat tubuh anak laki laki yang sekitaran berusia 10 tahunan. Orang orang pun memberi jalan pada mereka.
__ADS_1
Cindy setengah berlari membukakan pintu mobilnya untuk pria dan anak itu. Setelah itu, ia segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya perlahan, meninggalkan tempat kejadian setelah semua orang memberikan jalan untuknya.
Dengan kecepatan penuh ia menuju Rumah Sakit Medika, di mana itu adalah Rumah Sakit keluarga Adytama.
Setengah jam perjalanan mereka sudah sampai. Dan perawat serta Dokter sudah menunggu mereka di depan UGD dengan kereta dorong dan alat medis yang di perlukan untuk pertolongan pertama. Karena Cindy di mobil tadi sudah menelpon ke pihak Rumah Sakit. Makanya semua sudah siap dengan kedatangan Cindy.
Mobil Cindy berhenti tepat di depan ruang UGD, pria itu pun segera turun yang disongsong oleh perawat dan Dokter yang telah menunggu mereka. Anak itu pun segera di bawa ke ruang operasi. Karena Cindy mengatakan adanya pendarahan di kepala.
Cindy pun turun dari mobilnya setelah memarkirkannya di parkiran khusus pemilik Rumah Sakit. Lalu melangkah ke dalam di mana pria yang membantunya kini sedang menunggu di depan ruang operasi.
"Terima kasih atas bantuan Bapak, saya tidak bisa membayangkan bagaimana tadi kalau Bapak tak menolong saya, mungkin sekarang saya akan jadi bulan bulanan massa.
Terima kasih ya Pak, oh ya dari mana Bapak kenal saya dan mantan suami saya?"
Ucapnya ramah sambil menatap lekat ke arah pria di depannya sekarang. Cindy pun duduk di kursi tunggu depan ruang operasi. Sambil tersenyum ramah dan memberikan isyarat dengan tangannya, ia mempersilahkan pria itu untuk duduk di sampingnya.
"Silahkan duduk Pak,,,"
Pria itu duduk menjauh dari Cindy.
"Bapak belum menjawab pertanyaan saya, dari mana Bapak mengenal saya dan suami saya?"
Dengan sedikit kikuk, pria itu pun menjawab pertanyaan Cindy.
"Mas Raffi orang yang selalu memberikan donasi di Panti Asuhan saya Mbak, hampir dua minggu sekali kami selalu menerima donasi dari Mas Raffi lewat asisten pribadinya. Terkadang beliau sendiri yang datang ke panti asuhan dan bermain dengan anak anak di panti."
Kemudian Bapak itu yang diketahui Cindy bernama Pak Yusuf menceritakan semua tentang Raffi, bagaimana keinginan Raffi untuk memperoleh momongan, namun itu mustahil karena ia memiliki kekurangan, namun ia berharap adanya keajaiban dari yang Kuasa, sehingga ia di beri amanat seorang putra sebagai penerus keluarga.
Tetes air mata jatuh membasahi pipi Cindy, mengingat suami yang telah dikhianatinya, yang justru menyembunyikan kekurangannya di depan kedua orang tua mereka, hanya untuk melindungi dirinya dari kemarahan orang tua Raffi. Cindy mengetahui semua itu saat pengacara Raffi membacakan warisan yang ditinggalkan oleh Raffi.
__ADS_1
Dan mengetahui bahwa Raffi memiliki seorang putra dari wanita lain.
Pak Yusuf yang melihat Cindy menangis menjadi kasihan pada wanita di depannya. Ia bisa mengerti betapa sedihnya seorang istri yang ditinggalkan oleh suami untuk selamanya.
"Maafkan saya Non, bukan maksud saya membuka kesedihan Non lagi, saya juga merasa kehilangan sama seperti Non. Sebaiknya kita doakan Mas Raffi, semoga Allah memberikan tempat yang indah disisiNya."
Dengan nada yang penuh penyesalan dan kesedihan yang mendalam Pak Yusuf berusaha menguatkan Cindy yang terlihat rapuh saat ini.
"Bapak tidak bersalah kenapa harus minta maaf, justru saya yang berterima kasih karena Bapak telah mendoakan suami saya."
Tutur Cindy sambil menghapus airmatanya. Bertepatan dengan itu, nampak dari arah yang berlawanan nampak kedua orang tua Cindy tergesa gesa berjalan kearah mereka.
Nyonya Tama segera memeluk putrinya setelah sampai di tempat Cindy berada. Cindy pun segera bersimpuh di hadapan Mamanya dan meminta maaf dengan mencium punggung tangan Mamanya.
"Maafkan Cindy Ma,,, Cindy banyak berbuat dosa sama Mama dan Papa, maafkan saya Ma,,, hikkkss,,, hiikkksss,,,"
"Mama sudah memaafkan kamu sayang, sebelum kamu meminta maaf pada Mama, jadilah putri kami lagi, seperti dulu,,,,"
Nyonya Tama pun membawa tubuh Cindy dalam pelukannya, mereka pun menangis bersama.
Sesaat Cindy pun menatap kearah Papanya,,,"maukah Papa memaafkan aku, anak dan istri yang durhaka ini."
Dengan tatapan penuh penyesalan serta derai airmata Cindy melihat kearah Papanya.
Tuan Tama pun menghampiri putri dan istrinya yang masih saling berpelukan. Senyum pun mengembang dari sudut bibir pria paruh baya itu. Lalu memeluk kedua wanita yang sangat dicintainya sepanjang hidup.
"Alhamdulilah,, akhirnya putri Papa kembali lagi,,," bulir bening pun menetes dari pelupuk mata pria paruh baya itu.
"Kamu baik baik saja kan sayang,,,,"
__ADS_1
bersambung🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹