
Waktu terus berlalu, hingga tak terasa sudah hampir satu bulan pernikahan Rama dan Nara. Meski mereka melakukan sandiwara pernikahan di depan keluarga besar mereka. Namun tiap hari bersama, membuat Nara mulai ikhlas melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, selain bercinta tentunya. Karena dalam hati Nara masih ada Raffi di sana. Semua bisa di terima oleh Rama, ia bisa mengerti akan kesulitan Nara. Selama ia bisa melihat serta mendapat perhatian kecil dari Nara, sudah cukup baginya.
Seperti pagi ini, saat ia terburu buru mau berangkat ke kantor, ia lupa membawa berkas yang akan di gunakan untuk rapat siang nanti. Setelah selesai sarapan, Rama pamit pada Bu Ida juga Nara. Saat ia mau memasuki mobilnya, nampak Nara berjalan tergesa gesa ke arahnya. Melihat Nara menghampirinya dengan berkas di tangan, menghentikan Rama untuk melajukan mobilnya.
"Mas,,, berkas kamu ketinggalan, ini,," tutur Nara sambil menyerahkan berkas itu lewat kaca jendela mobil yang dibuka oleh Rama.
"Makasih ya istriku, kamu memang yang terbaik, terima kasih ya,," tutur Rama lembut sambil mengambil berkas itu dari tangan Nara.
Nara hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Rama barusan.
"Hati hati ya mas,,," balas Nara diiringi dengan senyumannya.
"Iya sayang,, " kelakar Rama sambil terkekeh pelan.
Candaan candaan kecil seperti itu selalu di buat oleh Rama. Untuk mencairkan suasana diantara mereka. Dan Nara sudah dapat memahaminya. Rama pun segera melajukan mobilnya, keluar dari gerbang rumah mewah yang kini mereka tinggali. Meski itu bukan rumah utama keluarga Aditama.
__ADS_1
Nara yang masih setia melihat kepergian Rama, segera melangkah masuk setelah mobil itu hilang dari pandangannya. Namun langkah kakinya terhenti, saat ia melihat dari pantulan kaca rumahnya. Nampak sesosok.pria sedang melihatnya dari jauh. Nara segera membalikkan tubuhnya, berusaha melihat sosok pria itu. Namun telah pergi dari tempatnya semula.
"Kak Raffi,,, apa benar itu kamu Kak,,,?" Lirih Nara yang terus mencari sosok itu hingga ia keluar dari gerbang rumahnya. Air matanya pun menetes membasahi pipinya.
"Kak Raffi,,, keluarlah Kak,,, aku mohon,,, Kak,,, aku tahu Kakak ada disini, ku mohon, keluarlah Kak,,,,!" Teriak Nara bagai orang kehilangan akalnya saat ini. Ia terus berjalan sambil berteriak memanggil nama Raffi. Hingga tanpa disadarinya, ia telah berada di tengah tengah jalan raya. Dengan derai air mata ia terus mencari sosok pria itu. Hingga ,,,,,
"Aaaakkhhhh,,,," teriak Nara saat tubuhnya disambar oleh seseorang hingga mereka jatuh bersamaan di tepian trotoar.
Meski terdapat luka di tangan serta kakinya, namun Nara tak merasakan itu semua. Matanya hanya tertuju pada pria yang ada di depannya sekarang. Tanpa rasa malu dilihat orang banyak, ia segera berhambur dalam pelukan pria ini. Tak ada kata yang terucap, hanya derai air mata yang terus membasahi pipinya.
Dalam dekapan pria itu ia curahkan semua rasa yang selama ini menyesak di dadanya. Pelukannya begitu erat, seakan ia takut untuk kehilangan kedua kalinya. Hingga mereka tersadar saat ada klakson mobil yang menyuruh mereka untuk minggir dari jalan raya.
"Maafkan kami Bu,,, istri saya hanya terbawa oleh perasaannya, karena kami telah berpisah cukup lama." Jawab pria itu sambil menggandeng Nara meninggalkan tempat itu.
"Kamu terluka sayang,,, maafkan aku,,," lirih Raffi di sela sela langkah mereka.
__ADS_1
Ia pun segera menggendong Nara, karena Nara terluka kakinya hingga jalannya terpincang.
"Kakak kenapa tidak langsung masuk ke rumah tadi, kenapa membuatku harus mencari Kakak seperti orang gila, kenapa Kakak tega sekali sama aku, hikksss,,, hikksss,," Nara memukul mukul pelan dada bidang Raffi.
"Karena aku tak tahu, apa aku masih berhak atas kamu atau tidak, karena aku tahu, kau telah menikahi saudara kembarku. Aku hanya ingin memastikan, apa aku masih ada di hatimu, berhak atas kamu, maafkan aku sayang." Raffi mencium kening Nara dengan lembut.
"Sekarang Kakak sudah tahu jawabannya kan? Tanpa harus aku kasih tau,,," air mata terus mengalir dari kedua belah matanya. Sungguh ia sangat bahagia hingga air mata itu tiada henti membanjiri pipinya.
"Hentikan tangismu sayang,,, hatiku sakit melihat air mata ini,,, senyumlah,,, aku merindukan senyummu." pinta Raffi sambil mencium bibir Nara sekilas.
Nara pun tersenyum diiringi tangisnya. Ia semakin memeluk tubuh Raffi dengan eratnya. Hingga mereka sampai di rumah.
Nara membantu Raffi membuka pintu utama, karena pintu gerbang sudah tertutup serta terbuka secara otomatis saat penghuni rumah ada di depannya.
Raffi pun memasuki rumah dengan menggendong Nara. Membuat seisi rumah terkejut, terutama Ibu Ida, hingga ia hanya bisa tertegun saat Raffi melewatinya, membawa Nara ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Ya Allah,,, cobaan apa lagi ini, kuatkan hati putra hamba ya Allah,,," lirihnya pelan dengan mata yang sudah berkaca kaca.
bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹