
Tak terasa waktu terus saja bergulir, menyisakan luka hati terdalam bagi Nara, Raffi juga Rama. Setelah keputusan ketiganya untuk sepakat mengakhiri semua hubungan yang terjalin selama ini. Kini sebulan sudah Nara berada di desa, tempatnya membangun usaha kecil kecilannya. Meskipun perbedaannya sekarang dia tanpa ditemani oleh Naya juga Rana. Karena Rana ikut bersama dengan Bunda juga keluarganya pergi ke Paris, sedangkan Naya harus menyelesaikan studinya di kota B.
Sayup sayup terdengar suara adzan subuh yang menggema membangunkan setiap muslim dan muslimah untuk memenuhi kewajibannya, bertemu dengan Sang Khalik, perlahan Nara mengerjabkan matanya, membuka selimut yang menutupi tubuhnya, lalu melangkah ke kamar mandi membersihkan dirinya, setelah itu ia mengerjakan sholat subuh.
Selesai sholat dan berdoa, Nara pun mengambil Al Qur'an lalu membuka dan membacanya.
Sungguh, hati Nara menjadi begitu tenang setelah melantunkan ayat ayat suci. Tak berapa lama, terdengar tangis Rasya yang membuatnya harus menghentikan ngajinya. Setelah mengakhiri serta mencium kitab suci lalu menyimpannya. Nara segera membuka mukena dan melipatnya, menyimpan pada tempatnya.
"Anak Bunda sudah bangun ya,,," Nara mengangkat tubuh Rasya dalam gendongannya, lalu memberinya ASI agar tidak menangis lagi. Dengan rakusnya debay itu meminum air susu Bundanya.
Sekitar lima belas menit akhirnya Rasya tertidur lagi karena kekenyangan. Nara pun mencium kening Rasya lalu merebahkan kembali tubuh mungil itu di box bayinya. Untuk beberapa saat Nara memandangi wajah teduh putranya saat tertidur, sungguh mirip dengan Raffi. Membuat Nara mengulas senyum getirnya.
"Kak,,, kau sedang apa sekarang? Apa kau juga merindukan aku seperti aku yang tak bisa untuk berhenti mencintaimu. Aku sangat merindukanmu Kak Raffi." Buliran air mata itupun menetes untuk kesekian kalinya.
Sementara itu di sebuah rumah yang cukup sederhana yang berada tepat di depan rumah Nara. Nampak seorang pria tengah memperhatikan rumah Nara. Ia bisa mendengar tangis Rasya yang begitu kencang tadi, ia juga bisa melihat bayangan Nara yang beraktifitas di dalam sana. Senyuman menghiasi bibirnya saat melihat Nara membuka jendela pintu kamarnya. Memandang ke langit langit yang masih bertabur bintang.
"Aku tidak akan pernah melepasmu, karena kau juga Rasya adalah hidupku."
gumam Raffi sambil terus menatap wajah cantik Nara yang terlihat mempesona dengan rambut yang tergerai indah, sesekali rambut itu menutupi sebagian wajahnya terkena tiupan angin yang terasa dingin menusuk tulang. Raffi pun menatap bulan yang sama seperti yang ditatap Nara sekarang. Seolah bulan menjadi perantara akan kerinduan yang mereka rasakan.
__ADS_1
Iya disinilah Raffi sekarang menghabiskan hari harinya. Ia menjalankan bisnisnya di rumah sederhana ini, agar bisa terus dekat dengan Nara juga Rasya. Meski itu tanpa sepengetahuan Nara. Ia menjaga orang yang dicintainya dari jauh.
Saat Nara meminta untuk bercerai, Raffi menyetujuinya karena memang sudah setahun, dan sesuai dengan perjanjian, mereka harus berpisah, jika Raffi ingin kembali bersama Nara, maka ia harus melakukan ijab qobul lagi. Namun Nara tidak mengetahui akan hal itu. Ia merasa jika Raffi sudah benar benar ikhlas melepasnya. Hingga ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke desa bersama dengan Rasya untuk menenangkan dirinya.
"Nara,,, kau sudah bangun sayang,,," terdengar suara Bu Ida yang sedang mengetuk kamarnya. Nara pun melangkah membuka pintu kamarnya.
"Sudah Bu,,, baru saja selesai sholat dan menidurkan Rasya lagi." Ucapnya setelah membuka pintu kamarnya, melihat Bu Ida yang sudah membawa alat jahitnya.
"Ibu mau jahit lagi?" Tanya Nara sambil menutup pelan pintu kamarnya, takut jika Rasya terbangun dari tidurnya.
"Iya sayang,,, hari ini pesanan dari pelanggan pelanggan kita harus diantar, dan karyawan kita kewalahan menyelesaikan semuanya, jadi Ibu mau bantu juga,,," Bu Ida kini sudah duduk di belakang mesin jahitnya dan memulai pekerjaannya.
"iya sayang,,, kamu tenang saja,,, Ibu juga tidak mau jika harus berpisah dari cucu kesayangan Ibu,,," ucapnya sambil terus menjahit baju.
Memang kini Ibu Ida ikut tinggal bersama dengan Nara, setelah membicarakan semua dengan Rama, akhirnya Rama setuju dengan syarat Ibunya harus baik baik saja, jika sakit,,, maka Rama akan menjemputnya kembali.
Ibu Ida tidak mau meninggalkan Nara sendiri disaat ia sedang rapuh, Rama juga merasa lebih tenang dengan adanya Bu Ida disamping Nara.
Sedangkan Rama memutuskan menjalankan bisnis keluarganya yang berada di Paris untuk melupakan Nara juga cintanya. Karena ia tahu, selamanya tidak akan bisa memiliki Nara lagi. Karena ia tahu alasan Raffi menceraikan Nara hanya untuk memulai semuanya dari awal. Sebagai saudara kembar Raffi, ia tidak bisa untuk melukai hati saudaranya juga memaksakan kehendaknya pada Nara. Karena bahagia Nara itu segalanya bagi Rama. Dan bahagianya hanyalah Raffi, cinta pertama juga terakhir bagi Nara. Dan Rama tidak ingin menjadi penghalang untuk mereka. Meski ia juga tersakiti karenanya. Namun ia percaya, Tuhan telah mempersiapkan jodoh terbaik untuknya.
__ADS_1
Setelah selesai mengepak semua pesanan, Nara pun melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia mulai memasak sebelum jagoan kecilnya bangun, karena ia tidak akan bisa apa apa lagi saat Rasya sudah terbangun nantinya. Setelah membuka kulkas, ternyata persediaan bahan makanan mereka sudah menipis, ia pun menutup kembali kulkas itu dan melangkah ke kamarnya mengambil beberapa lembar uang.
"Bu,,, Nara pergi ke pasar dulu ya,,, nanti kalau Rasya bangun tolong Ibu kasih susu yang sudah Nara taruh di tempat biasanya, bahan makanan kita menipis,,," tuturnya sambil memakai hijab dan mengambil kunci motornya.
"Iya sayang,,, hati hati ya,,," balas Bu Ida yang masih sibuk dengan menjahitnya.
Perlahan Nara mulai mengendarai motor maticnya menuju pasar. Sesampainya di pasar, ia segera memarkirkan motornya lalu masuk dan membeli semua kebutuhan yang diperlukannya. Kurang lebih satu jam ia berputar putar di pasar membeli ini itu akhirnya ia kembali ke parkiran mengambil motor maticnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat ada sosok yang sedang dikenalnya sedang dikerumuni oleh banyak orang. Ia pun melangkah mendekati kerumunan itu.
"Pria ini sudah melecehkan saya Pak,,, hikkss,,,hikkss,,," kata seorang wanita muda yang Nara tahu itu adalah anak Kepala Desa.
Orang orang yang mempercayai ucapan gadis itupun berniat untuk memukuli pria yang dituduh melecehkan gadis tadi. Sedangkan pria itu sudah bersumpah tidak melakukan apa pun pada gadis itu.
Namun orang orang tidak percaya karena melihat baju gadis itu sudah berantakan bahkan sobek bagian bahunya, rambutnya pun sudah acak acakan seperti orang habis bertengkar.
Saat orang orang itu ingin memukuli pria tadi, Nara segera menyibak kerumunan orang itu lalu berdiri tepat di depan pria tadi.
"Saya percaya pria ini tidak melakukan hal sekeji itu, tolong biarkan dia memberikan pembelaan diri dulu, setelah itu terserah pada semua, lebih baik kita bawa ke balai desa saja, biar kepala desa yang memutuskan semuanya. Tolong jangan main hakim sendiri."
Orang orang yang sudah mengenal Nara pun manggut manggut dan menyetujui usul Nara. Akhirnya mereka semua pergi ke Balai Desa.
__ADS_1
bersambung,,,,,