KASIH TIADA BATAS

KASIH TIADA BATAS
bab 49 kerasnya hati Raffi


__ADS_3

Di kantor, Rama tidak konsen dengan semua kerjaannya, setelah memimpin meeting dengan klien barunya, ia segera bergegas pulang, setelah mendapat kabar dari anak buahnya kalau Raffi sudah kembali. Dan kini berada dalam rumahnya bersama Nara. Ia juga mendapat kabar kalau kaki Nara terluka karena kecelakaan.


Dengan kecepatan penuh ia mengendarai mobilnya, karena ada jalur khusus yang dibangun oleh keluarga Aditama sebagai akses mereka ke kantor. Makanya tak terjebak kemacetan yang sering terjadi di kota kota besar. Setengah jam perjalanan akhirnya Rama sampai di rumahnya.


Setelah memarkirkan mobilnya, ia pun turun hendak melangkah masuk ke dalam rumahnya. Namun kakinya terhenti melihat ada sebuah mobil mewah masuk ke dalam halaman rumah.


Setelah mobil terparkir sempurna, turunlah Nyonya Tama beserta dengan Cindy. Senyuman pun terlihat dari bibir ke duanya saat melihat kearah Rama.


"Tumben cepet amat kamu pulang dari kantor,,," basa basi Cindy saat berada di depan Rama sekarang.


"Siang Ma,,, " sapa Rama pada Nyonya Tama sambil mencium punggung tangan beliau.


"Aku juga baru datang Cin,,, habis meeting tadi,, silahkan Ma,,, cindy,,,," tutur Rama sambil mempersilahkan mertua dan kakak iparnya masuk dengan isyarat tangannya.


"Kamu tahu Mas Raffi sudah kembali, kan?" Tanya Cindy di sela sela langkah mereka.


Rama pun menghentikan langkahnya, menatap lekat ke arah Cindy, di pandanginya wajah cantik yang terlihat bahagia saat ini. Lalu pandangannya di alihkan pada Nyonya Tama yang terlihat murung. Ia bisa memahami perasaan seorang ibu yang mengkhawatirkan putri putrinya. Dengan kehadiran Raffi, pasti akan ada yang terluka salah satu diantara mereka. Rama pun mengambil nafas panjang, berusaha menenangkan hatinya sendiri yang kini tengah bergejolak, bagaimana nantinya ia akan kehilangan Nara.


Setelah masuk ke dalam ruang tamu, mereka disambut oleh Ibu Ida yang sedari tadi cemas karena Nara terluka kakinya, dan ia segan untuk pergi ke kamar Nara takut di tuduh mencampuri urusan mereka nantinya.


"Assalamualaikum Ibu,,," sapa Rama sambil mencium punggung tangan Ibu Ida.


"Waalaikum salam sayang,,, untung kamu sudah datang, sejak tadi aku menunggumu, kamu yang sabar ya Nak,,," Ibu Ida membelai rambut Rama saat mencium punggung tangannya.


"Ibu jangan khawatir, aku percaya pada Nara, ia pasti bisa mencari jalan keluar untuk masalah kami nantinya, bukankah kebahagiaan Nara yang kita harapkan." Diiringi senyuman yang tersungging di bibirnya, ia mencoba menenangkan hati Ibunya saat ini.


"Kamu memang lelaki yang baik Nak, beruntung putriku mendapatkan pria seperti kamu." Timpal Nyonya Tama memandang sendu ke arah Rama.

__ADS_1


"Andai Bunda tahu, aku juga takut kehilangan Nara, dialah hidupku sekarang, tapi aku tak mau hancur di hadapan kalian, biarlah semua aku yang menanggungnya sendiri." Bisik hati Rama yang terasa sakit bagai ribuan sayatan sembilu merobek hatinya saat ini.


"Di mana Nara sekarang Bu?"


"Ada di kamar bersama Nak Raffi, sedang mengobati kaki Nara, juga ada Dokter Rendra di dalam."


Rama juga Cindy yang mulanya terkejut mendengar Raffi dan Nara berada di kamar berdua, merasa lega saat tahu jika Dokter Rendra juga berada di kamar itu.


"Ma,,, ayo kita temui Nara juga Mas Raffi sekarang, aku sangat merindukannya." Tutur Cindy langsung melangkah ke kamar Nara tanpa persetujuan dari yang lain.


Rama, Nyonya Tama juga Bu Ida mengikuti langkah Cindy dari belakang. Saat membuka pintu kamar, sejenak Cindy tertegun memandang pria yang kini membelakanginya. Air matanya pun mengalir, hatinya bergejolak, dengan berlari ia pun memeluk tubuh Raffi dari belakang. Di peluknya erat tubuh itu seakan tak ingin terpisah lagi.


Nara juga Raffi pun terkejut dengan semua yang terjadi. Raffi berusaha melepas pelukan Cindy saat melihat wajah Nara yang sedih. Ia tahu, Nara pasti sakit hati karena cemburu xi hatinya.


"Lepaskan aku Cindy,,,kita sudah berakhir mulai hari ini, ku bebaskan kau dari tanggung jawab seorang istri, raihlah bahagiamu sendiri, lepaskan aku!" Raffi mencoba melepas tangan Cindy yang memeluk tubuhnya dengan kasar.


Semua orang hanya bisa terpaku melihat keadaan Cindy yang rapuh saat itu. Mereka tak berani ikut campur urusan rumah tangga Raffi dengan Cindy, karena mereka tahu, wanita yang diinginkan Raffi hanyalah Nara.


"Kisah kita sudah berakhir saat kau mengkhianati pernikahan kita, juga saat aku menjadikan Nara sebagai istriku. Maka terimalah kenyataan itu. Lepaskan aku,,,!" Raffi masih bersikukuh dengan pendiriannya.


"Tidak mas,,, aku tidak mau,,, tolong beri kesempatan kedua kalinya padaku, demi cinta kita dulu yang pernah ada, maafkan aku,,," Cindy sudah berlutut di kaki Raffi, berharap suaminya itu akan memaafkannya.


Nara juga Nyonya Tama hanya bisa meneteskan air mata melihat Cindy saat ini. Jauh di lubuk hati Nara, ia kasihan dan tak tega melihat kakak tirinya berlutut di kaki Raffi. Ia pun mencoba turun dari tempat tidurnya.


Meski dengan menahan sakitnya. Ia melangkah ke arah kakak tirinya, menyuruhnya untuk berdiri.


"Kak,,, bangkitlah,, jangan seperti ini,, "

__ADS_1


"Tidak Nara, sebelum mas Raffi memaafkan aku dan menerimaku lagi aku akan terus berlutut di kakinya." tolak Cindy sambil menepus tangan Nara.


"Jika itu yang kamu inginkan, maka berlututlah seumur hidupmu, aku tidak akan merubah keputusanku." Raffi berusaha melangkah pergi namun tangannya di tahan oleh Nara.


Ia pun memandang kearah Nara yang juga berderai air mata,,,"maafkan Kak Cindy Kak,,, beri dia kesempatan lagi, jika Kak Raffi benar benar mencintaiku, lakukan itu untukku,,,"


Bagai tersambar petir Raffi mendengar permintaan Nara. Matanya menatap tajam wanita yang telah memberinya seorang putra itu.


"Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?"


Nara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan dari Raffi.


"Maafkan aku sayang,,, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu, karena hanya kamu yang ada di hatiku, jangan biarkan aku berbuat kesalahan dengan menyakiti Cindy lebih dalam lagi nantinya, coba kamu pikirkan itu." Jawab Raffi yang membelai rambut Nara dengan lembut, lalu melangkah ke luar kamar, namun langkahnya terhenti saat Nara berkata,,,


"Tapi aku sudah menikah dengan pria lain, aku juga mengkhianatimu, tak ada hak lagi bagimu untuk memilikiku,,,," suara Nara begitu lantang hingga menggema di seluruh ruangan itu.


Raffi pun berbalik, menatap tajam kearah Nara lalu mengalihkan pandangannya ke arah Rama.


"Pernikahan kalian tidak sah karena aku masih hidup dan tak mengijinkan adanya pernikahan ini, ingat itu,,," dengan menahan geram dan amarahnya Raffi meninggalkan kamar itu.


Nara pun jatuh terkulai di samping Cindy yang terus menangis. Mereka pun saling berpelukan.


"Sabarlah Kak,,, dia pasti memaafkan Kak Cindy,," hibur Nara yang juga hancur hatinya saat ini. Ia pun menatap ke arah Rama, yang memandangmya dengan sendu.


"Mas Rama,,,"lirihnya dengan derai air mata


bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2