
Cuaca yang mulanya cerah, kini tiba tiba berubah menjadi mendung, langit seakan turut bersedih, ingin sekali menumpahkan air matanya ke permukaan bumi. Seperti wajah wajah yang kini diliputi mendung dalam hati mereka.Tak ada yang bersuara, mereka seakan larut dalam pemikiran masing masing.
Hingga suasana sunyi itu terpecah akan tangisan seorang baby. Nara segera beranjak dari duduknya. Dengan tergesa gesa ia melangkahkan kakinya menuju kamar di mana putra semata wayangnya kini berada. Segera ia menggendong dan menyusui Rasya.
"Kamu pasti lapar kan sayang,,," lirihnya sambil menciumi tangan mungil Rasya.
Sedangkan di ruang keluarga, nampak Tuan Aditama, Nyonya Lia, Ibu Ida, Tuan Ayodyatama, dan Nyonya Tama sedang memandangi putra putri mereka secara bergantian. Otak mereka seakan buntu untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh putra putri mereka.
Sesekali Tuan Aditama memijit keningnya, ia tak mau mengambil langkah yang salah, yang bisa memperburuk keadaan.
"Raffi,,, apa keputusanmu sudah bulat ingin menceraikan Cindy?"
Tuan Aditama memulai pembicaraan diantara mereka.
"Iya Pa, aku akan tetap menceraikan Cindy, karena aku tak mau menyakiti hati kedua wanita yang pernah dan yang mengisi hidupku saat ini lebih dalam lagi. Sesungguhnya aku telah menceraikan Cindy sebelum aku bertemu dengan Nara, semua berkas perceraian kami ada di tangan pengacaraku. Karena kecelakaan yang membuatnya hilang ingatan saat itu, maka aku masih belum memberikan surat cerai itu padanya, menunggu sampai ingatannya benar benar pulih, dan mulai saat itu kami sudah tidak berhubungan sama sekali. Baru saat aku bertemu dengan Nara, hasrat itu muncul lagi. Apa lagi setelah kutahu dia princess kecilku, selamanya tak akan ku lepaskan, Pa."
Raffi pun menjelaskan keadaan rumah tangganya selama ini dengan Cindy. Semua orang yang mendengar penuturan Raffi terkejut dengan perilaku Cindy saat itu. Namun tidak dengan kedua orang tuanya. Ibu suri yang merasa dikhianati oleh menantu kesayangannya hanya bisa menatap tajam kearah Cindy. Hilang sudah tatapan yang teduh penuh kasih yang dulu di lihat oleh Cindy, berganti dengan tatapan penuh amarah juga kebencian di sana. Cindy hanya bisa menangis dalam pelukan Mamanya.
__ADS_1
"Saya akui memang putri saya bersalah telah mengkhianati kepercayaan kalian, tapi sekarang dia sudah insaf. Dan kembali ke jalan yang benar, jadi saya mohon tolong maafkan semua kesalahan putri saya. Jika Raffi memang ingin menceraikannya, maka kami tidak akan keberatan menerima itu semua. Apa lagi salah satu putri kami juga menjadi istri Raffi dan bunda dari putranya. Kami juga inginkan kebahagiaannya. Cukup sudah penderitaannya selama ini, ia berhak bahagia dengan cintanya, iya kan sayang ,,,," Tuan Ayodyatama membelai lembut rambut Cindy yang berada dalam pelukan istrinya.
Beliau berharap Cindy bisa berbesar hati menerima semua kenyataan yang ada.
"Sayang,,,bukannya kami membela Nara, coba kamu pikirkan, selama ini dia juga menderita kehilangan cinta Mama juga suami yang dicintainya. Apa lagi dia juga diusir saat mengandung putranya. Hingga hidup menderita di desa itu. Apa sebagai Kakak kau tidak bisa merasakan penderitaannya selama ini. Darah Mama kalian mengalir di dirimu juga Nara. Papa yakin, sifat Mama pun ada di diri kalian. Sayang,,,ikhlaskan mereka, suatu saat nanti kamu pasti dapat kebahagiaanmu dari yang lain."
Cindy yang sedari tadi hanya diam sambil menangis dalam pelukan Mamanya, kini membalikkan tubuhnya mengarah pada Papanya.
"Cindy memang salah Pa,,, dan kesalahan Cindy memang sudah menggunung. Jika dengan melepas Mas Raffi bisa mengurangi rasa bersalah Cindy, maka aku ikhlas Pa. Namun aku tak mau tinggal di negara ini lagi, Cindy mau ke Paris. Meneruskan kuliah dan meraih impian Cindy menjadi desainer terkenal nantinya. Apa Papa mengizinkanku pergi Pa?" Dengan derai air mata Cindy mengutarakan semua isi hatinya.
Hati Nyonya Tama bagai teriris sembilu mendengar penuturan putrinya. Begitu pun Tuan Ayodyatama, berat rasanya untuk melepas kepergian Cindy. Tapi inilah jalan terbaik untuk kedua putrinya. Membiarkan mereka tak saling bertemu, hingga waktu bisa mengobati luka keduanya.
Nyonya Tama berusaha mengubah keputusan Cindy sekarang, karena ia takut terjadi apa apa dengan putrinya saat jauh dari pantauan mereka. Mengingat emosi Cindy yang suka berubah ubah.
"Itu keputusan Cindy Ma, jika Mama tak tega membiarkan Cindy sendiri, kan kita bisa tinggal bersama disana." Dengan mengusap air matanya, Cindy berusaha tersenyum lalu menghapus lembut air mata Mamanya.
"Jika itu maumu, maka Papa akan mengurus semuanya sekarang." Tuan Ayodyatama pun mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Kenapa kau begitu egois Kak Cindy,,, dulu kau memisahkan kami dengan Bunda. Kini kau akan mengulanginya lagi. Disaat kami baru saja merasakan kasih sayangnya, kenapa tak kau pikirkan perasaan Rana juga Naya Kak,,," tiba tiba saja Nara keluar sambil menggendong Rasya yang terus menangis tak mau diam.
Melihat Rasya yang terus menangis, Raffi pun berdiri dari duduknya, lalu menggendong Rasya, dan dalam gendongan Papanya, akhirnya Rasya berhenti dari tangisnya.
Semua orang hanya terpaku melihat kearah mereka bertiga. Karena semua tahu, jika Rasya sudah menangis tak mau berhenti hanya lukisan Raffilah yang bisa membuatnya terdiam.
Ternyata ikatan batin antara Ayah dan anak ini sulit untuk di pungkiri.
Nara yang melihat Rasya sudah tenang pun mencium kening putranya, lalu melangkah kearah Cindy juga Bundanya.
"Kenapa Kakak tega sekali pada kami Kak,,,kami juga butuh Bunda, apa lagi Rana, dan Kak Cindy tau itu dengan pasti."
Nara menatap tajam kearah Cindy juga Bundanya yang terdiam mendengar perkataan Nara. Sungguh hatinya terasa sakit dengan keputusan Cindy saat ini, biarlah dia dikatakan egois demi adik tercintanya yang butuh kehadiran Bundanya.
"Jika Kak Cindy bersikeras dengan keputusan Kakak, maka aku juga akan bersikeras dengan keputusanku. Aku juga akan pergi meninggalkan kalian semua. Biar hidup kalian damai, karena sumber masalah disini adalah aku,,," tanpa menunggu apa pun, Nara sudah melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu yang diikuti oleh Raffi dan Rasya dalam gendonganya.
"Berhenti,,,,!"
__ADS_1
bersambung ,,,,